DARK EYES
Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog
Desclimer : Its just a fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
chap 4
EXO’s Dorm 6 PM
Straight mode off
Your POV
‘Brak…’ kututup pintu mobil dengan keras. Seperti pembicaraanku dengan Kai tadi di telepon aku akan datang dan makan malam bersama member EXO yang lain. Setelah pintu benar-benar tertutup secepatnya aku berlari ke gedung. Air hujan yang menyebalkan menimbulkan becek di pekarangan sehingga membuatku harus hati-hati dalam mengambil langkah.
Kupencet bell namun tidak terdengar suara apapun. Kudekatkan dahi kejendela dan baru saat itulah kusadari listrik sedang padam. Dari luar hanya tampak beberapa titik cahaya yang mungkin berasal dari lilin. ‘Hm, sepi sekali…’
Dan mulai kugedor gedor pintu kayu tersebut.
‘Dok dok dok…’ “Permisi….” ‘Dok dok dok dok…’
Tak lama kemudian pintu terbuka dengan suara khas yang menandakan bila ini merupakan bangunan tua. Sehun. Dia yang membukakan pintu.
“Ah, oppa…. ternyata kau. Kenapa sepi sekali? Dimana Kai oppa?” tanyaku sambil melirik keatas bahunya yang tinggi dan rata. Gelap dan sunyi seolah olah hanya Sehun oppa yang berjaga disini.
“Masuklah dulu, dia sedang pergi.” Sehun oppa tersenyum tiga jari lalu mempersilahkanku masuk keruang tamu yang kelam dan dingin.
Aku duduk diatas sofa yang entah warna apa karena gelap telah benar-benar menelan segala sesuatu yang ada diruangan ini. Kakiku bergerak tak nyaman tidak tahu karena apa. Dingin mungkin, atau basah? Aku sendiri bingung.
“Sepertinya yang lain juga tidak ada disini?” tanyaku lirih. Sehun oppa yang tadinya duduk dengan tenang langsung menatapku dingin. ‘Kenapa dia memandangku seperti itu? Apakah ada sisa makanan yang menempel di wajahku? Ataukan ada sesuatu menyangkut diatas rambutku?’ tiba tiba jantungku berdetak dengan tak bersahabat.
“Oppa?...” gumamku kikuk.
“Ne, mereka juga pergi.” jawab orang itu datar.
‘Sebenarnya apa yang terjadi pada Sehun oppa? Dia tampak tidak sehat dan pucat pasi.’ aku jadi tak nyaman dan semakin canggung. Ada yang tidak beres ditempat ini. Pikiranku mulai melayang kemana mana tapi berusaha kutahan. Walau bagaimanapun, aku harus tetap berfikir positif.
“Mina!” tiba tiba seseorang berteriak memanggil namaku dari luar rumah. Sontak aku langsung memalingkan muka.
Disana, didepan pintu. Chen dan Tao oppa tengah membawa seseorang yang tampak pingsan dibahu mereka. Mataku melebar dan mulai sadar bila orang yang sekarat itu tidak asing. Chanyeol oppa.
“Kau disana dengan siapa?” tanya Chen oppa sambil mengambil langkah melewati ambang pintu dengan teramat hati-hati.
“Sehun opp….,” jawabku terpotong. Sehun oppa, kemana dia? Bukankah dia tadi duduk disitu? Lalu sekarang kemana? Rasanya kepalaku terkena serangan panik secara mendadak.
“Agh…” Tao dan Chen oppa meletakkan tubuh Chanyeol oppa yang memprihatinkan diatas sofa. Setelah itu ganti mereka berdua yang terkapar kelelahan di sofa yang lain tepatnya tempat diamana tadi Sehun oppa duduk.
Kulirik Chanyeol oppa yang terbaring tak berdaya disampingku. matanya terpejam rapat. Wajahnya dihiasi noda merah yang, oh Tuhan! Jangan bilang bila itu darah, dan tubuhnya basah kuyup karena hujan. Lalu mataku bergerak turun ke badannya. Hatiku perih, ini kali pertama aku melihat orang dengan pakaian secompang camping ini. Tangannya berdarah dan ada beberapa cakaran entah dari binatang atau monster. Jarinya… Tuhan, sekarang aku tidak kuat lagi. Seluruh ujung jarinya berdarah dan kuku kukunya patah dengan mengenaskan.
Kakinya.
Kututupi mulutku dengan tangan sebelum aku berteriak histeris mendapati celana bagian bawahnya yang bersimbah darah. Tampak bekas aliran darah di kaki kanannya. Dan tunggu, kaki kanan itu lebih panjang dari kaki kiri Yeol oppa… jadi,
“Hiks….hiks….” isakku dalam dalam. Aku menutupi mulut dengan kedua tangan. Aku mengerti, ini bukan situasi yang baik-baik saja. Ini bukanlah saat kita harus makan bersama dengan penuh kegembiraan. Sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Isk…issk….” kudengar isakan lain dan itu berasal dari Tao oppa. Air matanya berlinang lembut sambil menatap Chanyeol oppa. Isakan kami menyatu dengan rintik hujan yang kian deras. Hatiku panas…tidak seluruh badanku terasa memanas dalam hitungan detik. Bisa kurasakan kakiku kedinginan tapi bagian dalam tubuhku benar-benar terbakar. Perih,… perih itu tumbuh dalam dada dan merambat hingga pernafasanku hampir tersumbat. Kutarik oksigen dengan susah payah, tapi… yang muncul hanya isakan dan isakan.
Chen oppa bangkit lalu mendekatiku. Disini hanya dia yang satu satunya tidak menangis. Kusembunyikan wajahku yang basah oleh air mata dengan kedua tanganku. Namja berpawakan kecil itu memeluk pundakku dan mengelusku dengan penuh pengertian. Dia berusaha menenangkanku, tapi kenapa? Air mataku mengalir lebih deras .. ini bahkan lebih menyesakkan.
Kuatur nafasku kembali dan mengangkat wajah. Kupandang Chen oppa yang menunduk dalam dalam. Dia mulai menangis. Air mata itu menuruni pipinya tanpa isakan, tanpa suara, berbeda dariku dan Tao oppa. Kini kusadari betapa jantan dan teguhnya namja ini.
“Apa…apa yang terjadi?” tanyaku dengan nada parau. Chen masih menunduk, dia menggeleng lemah. Apa maksudnya? Dia tidak tahu?
“Sebaiknya kita bawa Chanyeol ke kamar. Tadi kami menemukannya dijalan dengan keadaan setengah sadar. Dalam perjalanan dia pingsan. Dia masih hidup.” ujar Chen oppa sambil bangun dari duduk.
Tao dan Chen oppa meraih kedua lengan Chanyeol oppa dan menuntunnya masuk kedalam kamar. Aku tidak tinggal diam, kututup pintu yang masih terbuka dan menyusul mereka ke kamar.
Sebelumnya, kulirik sofa yang tadinya diduduki Sehun oppa dengan tatapan minterius. ‘Ada yang tidak beres denganmu…’
NORMAL POV
“Kita harus bagaimana sekarang?” bisik Lay berusaha selirih mungkin pada Xiumin yang masih setia berdiri sambil memeluk dirinya sendiri.
“Aku juga tidak tahu… aduh, sebenarnya kemana Sehun tadi? Ah kenapa perasaanku berubah tidak enak ya…” balas Xiumin sambil meraba tengkuknya yang dingin.
“Sepertinya kita harus cepat-cepat cari penerangan.” perlahan tangan Lay merambat di dinding untuk menemukan sesuatu yang mungkin bisa dia gunakan. Xiumin terus saja menggenggam kaos yang Lay kenakan sambil melangkah mengikut.
“Awas Lay…awas…”
“Ciit…”
“AA…!”
Terdengar benda jatuh. Mungkin besi atau kayu.
“Hei, itu cuma tikus. Jangan menarik kaosku seperti itu, dan berhentilah berteriak seperti wanita…!” ucap Lay sambil menarik kaosnya yang mulai kusut. Padahal Lay sendiri kini tengah diliputi oleh ketakutan yang luar biasa. Bahkan dia mampu mendegar detak jantungnya sendiri. Xiumin kembali memeluk diri sendiri dengan raut padam.
Sesekali kedua orang itu nyaris jatuh karena tersandung. Benda-benda tak berguna itu memang memenuhi ruangan dan membuat mereka sulit mencari jalan untuk menapakkan kaki.
Dengan tangan gemetar Lay mengambil sesuatu yang berkilat dan ternyata itu botol.
“Apa yang kau pegang itu?” tanya Xiu. “Ini sebuah botol, tapi entah apa isinya..” Lay membuka tutup botol itu dan mencium aroma yang muncul dari dalam botol. Dia tersedak sebentar sebelum menyadari bila cairan itu adalah minyak, lebih tepatnya minyak tanah. “Hei, ini minyak!! Kita bisa gunakan ini!!! Cari kayu… cari kayu.” pinta Lay tampak sangat senang.
“Ne, coba kucari… tunggu ne.” Xiumin memberanikan diri melangkah jauh dari Lay dan dia mulai berjongkok meraba-raba lantai ditengah kegelapan. Pada mulanya tangan Xiumin hanya menyentuh debu dan beberapa paku, lalu besi, sampai akhirnya dia menggenggam sebuah kayu dengan diameter besar.
“Aku menemukannya! Ini…ini…”
Mereka berdua mulai merancang sendiri obor dengan bahan seadanya. ‘Krekk…’ Lay menyobek kaosnya sedikit dan menggulungnya dibagian atas kayu. Lalu sedikit siaraman minyak tanah.
“Korek… aduh… kita butuh api!....” bisik Lay sambil menepuk dahinya.
“Mungkin ada korek disini, kalau ada minyak tanah pastinya ada korek.. Ah mari kita cari lagi…”
‘Tep..tep..tep…’ terdengar sebuah langkah dari luar. Semakin lama suara langkah itu semakin dekat dan membuat kedua namja itu membulatkan mata. Lantai kayu atap tersebut berderit seiring langkah tersebut.
Lay dan Xiumun berpandangan sesaat sambil terdiam mendengar suara itu, senyuman kecil mengembang dibibir mereka seolah sama-sama berteriak dalam hati ‘Ada orang diluar…!!’
Lay dan Xiumin langsung menggebrak pintu keras-keras sambil berteriak. “Hei yang diluar!! Bukakan pintu… bukakan tolong!...” “Bruak bruak bruakk….” “Tolong kami terkunci… tidak bisa keluar. Aku mohon siapapun itu…!”
Tapi suara langkah itu menghilang, entah di pemilik kaki yang berhenti melangkah atau sudah pergi.
“Hei… aku tahu kau disana… bukakan tolong… bukakan pintu….!” seru Xiumin.
Namun, langkah tadi benar-benar sudah tidak terdengar.
Your POV
Tao dan Chen oppa sudah membersihkan darah dan noda noda di tubuh Chanyeol oppa. Mereka juga sudah mengganti pakaiannya dengan yang baru. Sungguh, aku bahkan tak menyangka bila ternyata tulang kering Chanyeol oppa patah. Tidak, bukan patah seperti sengaja dipotong oleh benda tajam tapi seperti kayu yang sengaja dipatahkan dengan tangan kosong.
“Brak..brak..brak…!!” sesuatu yang gaduh terdengar dari atap. Aku, Chen, dan Tao oppa saling memandang. Terdengar seperti seseorang yang memukul mukul atap dengan benda keras semacam kayu, mungkin.
“Apa itu?” tanyaku pada Chen oppa. Tetapi namja itu juga menatapku dengan ekspresi penuh tanya.
“Bruakk…bruak…”
Tidak, suara tadi terdengar semakin parah dari sebelumnya. Aku segera bangkit dari duduk dan bermaksud menghampiri sumber suara tadi tetapi dengan cepat Chen oppa menahan tanganku.
“Kau mau kesana?” tanyanya sambil berbisik lirih.
“Aku…, aku harus memeriksanya.” jawabku entah mengapa tergagap.
“Bisa saja itu petir.” sahut Tao oppa.
“Brakk…brakk..brak..brakk….” dan suara bising itu terdengar tidak menyenangkan.
“Tidak, itu tidak mungkin petir.” aku menggeleng dengan cepat, tak tahu karena apa perasaanku tidak enak. Ada sesuatu yang memerintahku agar kesana. “Aku pinjam senter.”
“Ini.” tampak ekspresi ragu dimuka Chen oppa. Tapi aku berusaha menenangkannya.
“Aku akan hati-hati…” celetukku seraya tersenyum. Dan dengan langkah kecil aku keluar dari pintu kamar.
Kudapati tiga buah lilin dengan cahaya temaram diatas meja makan. Tercium aroma api yang samar. Untuk sesaat aku bingung harus melangkah kemana, ini baru pertama kali aku datang ke dorm. ‘Dimana letak tangganya?’ pikirku sambil menyorotkan cahaya senter dari sisi ke sisi. Yang terlihat hanya lemari tua dan dinding dengan cat yang mulai mengelupas.
Kulangkahkan kakiku keatas lantai kayu dan seketika timbul suara derit mengganggu. ‘Tep..tep..tep…’ aku mulai bingung harus memulai dari mana. Kuputari meja makan dan meraba dinding, mungkin dengan begini aku akan menemukan pintu. Dan benar, kudapati ambang pintu disalah satu sisi. Kusorotkan cahaya senter kesana. Terpampang sebuah lorong sempit dan tiba tiba saja kakiku menuju kesana.
Sedikit licin dan pesing. Ada empat pintu. Dua pintu di sisi kiri dan dua pintu sisanya di kanan. Lalu ada sebuah pintu lagi di ujung lorong. ‘Krieet…’ kubuka salah satu pintu dan ternyata hanya kamar mandi kecil dengan seperangkat alat buang air. Jorok dan menjijikkan –oke itu dua kata yang memiliki makna sama tapi kurasa sangat cocok untuk mendeskripsikan betapa kumuhnya tempat ini. Aku mundur dan kembali menapakkan kaki lebih jauh masuk ke lorong tanpa ragu. Bau pesing semakin tercium, tidak… aroma ini mengingatkanku kepada sesuatu yang busuk. Bau muntah mungkin, atau bisa jadi isi perut dari bangkai hewan. Kututupi mulutku dengan tangan sambil terus memberanikan diri melangkah dan terus melangkah.
‘Krieet….’
Deg deg deg
‘Mengapa ini? Mengapa jantungku berdebaran? Sebenarnya ada apa dengan tempat ini?’ Sama, hanya kamar mandi yang tampak sama sekali tak terurus. Aku sendiri heran mengapa member EXO dengan pasrahnya menempati tempat bekas lagi kumuh seperti ini.
Tidak lagi, oh jangan…. bau tidak sedap tadi kembali menyeruak kedalam rongga hidungku dan mencemari pernafasan. “Uhuk…uhuk uhuk…~” aku terbatuk begitu parah sampai sampai harus berpegangan pada sisi dinding. Sebenarnya aroma apa ini? Apakah ada sekumpulan bangkai tikus yang terabaikan hingga tumbuh belatung? Oke, itu terlalu menjijikkan. Benar benar kunjungan pertama yang tidak bisa dibilang baik.
“Braak..brak….brakk….” suara itu terdengar lagi. Kali ini terdengar seperti diatasku –tepatnya diatas plavon lorong.
Kuputuskan untuk keluar dengan segera dan memanjat sesuatu untuk naik ke atas. Lagi pula berada dilorong ini sama saja dengan berniat memutuskan saluran pernafasan. Tetapi… ‘Hap…’ sesuatu yang dingin dan basah terasa hinggap dipundakku.
DEG
Jantung semakin berpacu tak beraturan disertai nafasku yang tersendat. Sontak langkahku terhenti dan aku bimbang. Aku sangat bimbang…. haruskan aku menengok kebelakang? Apakah aku harus diam menunggu sesuatu itu menghilang?
GLEK
Susah bagiku untuk mengatur nafas sambil menenggak liur, nyaris saja aku tersedak air liur sendiri. Sesuatu yang dingin itu merambat ke leherku dan saat ini rasanya benar-benar dingin… seperti es yang meleleh diatas kulitku. ‘Tuhan…apa ini…?’ Dan pada detik itu juga kurasakan oksigen menipis tanpa sebab…
To be continued….
Ayo semua…. tahan nafasnya, kedip kedip lima kali. Senyum…. tarik nafas… buang nafas… tarik lagi…. gausah dibuang… XD
Gimana ini? Hayu? Jadi pengen tau ekspresi pembaca satu-satu ._. Adakah yg gigitin jari? Atau baca sambil ngupil? Atau pernah waktu mbaca malah dikagetin dan jadinya sebel banget?... Buahaha….
Apapun ekspresi kalian, yang udah baca… WAJIB COMENT….
Semoga ada respons^^]/
Tuesday, September 24, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
Annyeong!! Hello Jihan, I'm back! Pirdu si tukang rusuh yang bawel balik lageee.... Btw, ini cerita mengerikan tapi gue malah seneng-seneng sih?
Sebenernya aku udah ketik komen di chap 1, 2, 3, tapi ilang.. Jadi, maaf ya, komennnya di chap empat ajah!! Maklum, kalo mau ngenet aku selalu numpang wifi dulu.. Keke.. #poorFirda
Ini, sekali lagi aku bilangin, ini THRILLER!!! Aku bakal bilang gini terus sampe kamu ganti genre diatas itu!! Beneran Jihan, Ini thriller!! #readerbawel
Nggak seru! Nggak ada yang mati! #ebuset #laknat
Chanyeollie masih idup lagi! Cepetan, han.. Bikin mati semua member EXO, biar cepet selesai.. #digebuk Hantunya keburu bosen di tubuh Sehun tuh! Dia lapor aku tadi.. (?)
Segini dulu yah, komenku.. Terimakasih udah dibolehin numpang rusuh.. Komen nggak penting ini sumpah nyampah banget!!
At last but not least, fighting!!
NB : Yatuhan, itu kenapa nggak bisa kasih nama di kotak komen aku sih? Aku nggak ngerti caranya.. Terpaksa pake Anonymous.. Ajarin kapan-kapan!
Post a Comment