Tuesday, September 24, 2013

Fanfiction Dark Eyes - Chap 5

Posted by Unknown at 12:54 AM
DARK EYES




Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog
Desclimer : Its just a fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
chap 5
EXO’s Dorm 7 PM
Your POV
Detak jantung ini benar-benar membuatku bimbang. Kupejamkan mata sambil mencerna segala sesuatu yang beradu dalam kepala. ‘Aku tidak boleh menoleh.. itu hanya angin! Bukan apa apa.. Mina!! Percayalah! Kau pemberani…’ sesuatu dalam otakku memerintahkanku agar tidak peduli. Dengan segera kulangkahkan kakiku meninggalkan lorong dan melupakan apa yang kualami barusan. Dan benar saja, sesuatu tadi dengan mudahnya menghilang dari atas kulitku usai keluar dari lorong menyebalkan tersebut.
“Hsh..hshh….” nafasku terengah. Aku ingin pingsan sekarang tapi tubuhku memaksaku agar terus berdiri.
“Brak..brak…brak…” suara gaduh dari loteng terus menggema. Kusorotkan senter kesegala arah dengan panik. Sampai kutemukan sebuah tangga dibelakang lemari. Tangga itu hanya tersusun dari kayu kayu yang mulai termakan waktu, tak jauh beda dari lantai pelapis dapur. Tanpa pikir panjang aku mendekatinya dan mulai memanjat tangga itu.
‘Tap..tap..tap..tap…’ kaki kakiku melangkah dengan pelan. Suara rintik hujan semakin jelas terdengar dan menggema. Kuarahkan senter keatas tepatnya ketempat kegelapan mulai menelan tubuhku dari kepala hingga kaki. Sampailah aku di loteng. Debu beterbangan dan ada beberapa titik atap yang bocor sehingga air meluncur dari sana. Cahaya senterku menelusuri dari sisi kesisi atap. Kali pertama aku menemukan tempat seberantakan ini. Meja patah, kursi yang dimakan rayap, botol botol anggur tersusun dengan tidak rapih juga barang barang rosok lainnya ikut meramaikan tempat ini.
“Brak..brak..brak…”
“Tolongg…”
Terdengar suara dan hal itu benar benar membuatku kaget –mungkin karena aku terlalu mengagumi loteng ini sampai lupa apa misiku kemari.
“Tolong…aish, sepertinya benar-benar tidak ada orang…” suara lain terdengar.
“Tapi tadi jelas sekali aku mendengar langkah kaki.. tidak mungkin telingaku ini menipu..” suara dengan nada lebih menly menyahut begitu.
Aku semakin yakin bila memang ada seseorang atau beberapa orang disini… dan tanpa perintah kakiku berjalan maju melewati ruang kosong yang sangat minim. Cahaya senter kusorotkan lurus kedepat, yaitu kesebuah pintu hijau. ‘Aku yakin suara itu berasal dari sana…’
“S-siapa didalam?!” teriakku keras.
“Ah, ada seseorang disana… iyya benar… Tolong.. tolong kami.. ini aku Lay!! Iya, ini aku Xiumin!! Bukankan pintu, aku mohon… iya..! Aku juga mohon…” pintu kembali digedor gedor dengan tidak santai. Bising sekali.
“Iya,.. ini aku Mina..!”
“Mina, ah kenapa kau bisa kemari?!... hei, jangan tanyakan itu dulu, biarkan dia membukakan pintu.. aku benci tempat ini.. Ais, dasar bakpao..! Mina… aku mohon buka pintu ini dengan cara apapun.. disini gelap! Iya, disini gelap!!”
“Ne, disini juga gelap oppa… tunggu ne.. pintunya terkunci…” balasku sambil kesusahan mencongkel gembok. “Aish… siapa juga yang mengurung mereka disini…” gumamku sambil menggertakkan gigi.
“Bisa tidak?!” tanya salah satu dari mereka yang kuyakini Xiumin oppa.
“Akh… ini terkunci… aku butuh kunci… kenapa juga kalian bermain main didalam sana? Kekanak kanakan sekali, apalagi ini sedang hujan deras…! Baiklah, akan kucarikan sesuatu…” aku mondar mandir sambil menyorotkan cahaya senter ke lantai yang (sekali lagi kukatakan) dipenuhi barang barang sampah.
“Aduh…apa yang harus kulakukan…?” gumamku sambil bingung sendiri. Dulu ketika eomma menghukumku dan mengunciku di gudang, dengan mudah aku bisa kabur dengan cara mengorek lubang gembok dengan kawat… tapi apakah cara itu bisa berhasil sekarang?
Dan Tuhan ternyata masih menyayangiku. Ada segulung kawat yang mungkin sudah berkarat tapi kuyakini dapat digunakan. Sebuah senyuman terukir dibibirku dan dengan segera aku melangkah cepat kearahnya. Namun,
“Bruaaakkkk….” “AAAA…!”
Lantai loteng yang terlalu tua runtuh sehingga aku terperosok masuk ke lantai satu. “Mina!! Mina?! Apa yang terjadi?” suara YiXing oppa terdengar lirih dari bawah.
Oh tidak, ini ruangan apa? Kenapa gelap sekali? Aku dimana? Kuamati sekitar dan gelap gulita, tidak ada apa-apa. Senterku? Dimana senterku? Kuraba lantai yang terasa seperti kayu –atau memang benar kayu juga. Tetapi sebuah cairan yang terasa seperti lendir berhasil tersentuh oleh jemariku. Kudekatkan tanganku ke hidung dan yaks, baunya tidak sedap… seperti, seperti… darah?!
Bisa kurasakan nafasku yang mulai patah-patah disertai keringat dingin. Jantungku berdetak terlalu cepat sampai-sampai nyaris meloncar keluar dari tulang rusukku.
Kemudian jemariku merambat lagi ke lain arah dan akhirnya kutemukan senterku. Segera kunyalakan senter itu dak mengarahkannya kesekitar ku.
‘Oh tidak.. tidak…. apa ini? Kenapa…,’
Aku melihat Baekhun oppa yang terbaring diatas lantai dengan mata terpejam. Bekas darah mengering disekitar matanya seolah dia baru saja menangis mengeluarkan darah. Kututupi mulutku dengan tangan, bibirku bergetar.. air mataku mengalir sambil menggelengkan kepala menahan ngeri. Cahaya senter kuarahkan ke sisi lain dan betapa aku tidak percaya, Kyungsoo oppa… dia juga dengan keadaan yang sama… Lalu di lain sisi tampak ceceran darah dengan tangan patah disekitarnya, pecahan tulang, kaki, dan tulang rusuk, akupun tidak tahu itu bagian tubuh siapa… itukan benar-benar mereka? Tapi mengapa bisa begini? Mengapa?....
Aku ingin keluar dari tempat ini, tapi kakiku rasanya menempel kuat pada lantai. Aku tidak bisa bergerak. Tidak, ternyata jantung berpacu terlalu keras sampai sampai aku tidak kuasa dan senter dalam genggamanku jatuh. Dada ini kembang kempis dan tubuhku lunglai hingga lutut melemas. Aku terjatuh, tubuhku terduduk diatas lantai berdebu.
“Mina?!! hei! Hwang Mina!! Apa yang menimpamu?!!” teriak suara dari atas tetapi tidak kuhiraukan.
Lambungku terasa tertekan kuat menghantam usus. Rahang bawahku bergetar merasakan sensasi aneh dari punggung. Hangat seperti ada orang lain yang berdiri tepat dibelakangku. Hatiku panas dingin hingga oksigen terasa menipis dan mungkin sebentar lagi akan habis. Aku tidak berani menoleh dan tidak bergerak tetap dalam posisi seperti ini.
“Hssh..hs..hs..hs..” Bodoh! Bodoh! Kenapa sekarang dadaku naik turun dengan hebat seperti ini dan nafasku menimbulkan suara aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Mataku melotot tanpa kusadari. Aku bimbang, haruskah aku menoleh kebelakang? Siapa itu? Siapa?....
Tiba-tiba rambutku dijambak kuat oleh sesuatu tak dikenal itu. Gigiku menggertak dengan kuat. “Akh…ahh..k…..” aku meringis menahan rasa sakit yang luar biasa. Rasanya rambutku akan tercabut sampai akar, sampai kulitku mengelupas. Ahh.. perih perih sekali. Sesuatu tadi tidak menghiraukan jeritan dan eranganku dia terus menggenggam rambutku dan menarikku agar melangkah mengikutinya.
“Assh… hentikkhhan..akhh… ini sakhiitt… auh…!!” teriakku keras.
Sesuatu tersebut menjambak rambutku yang ada disisi lain sehingga kini kedua tangannya benar-benar meremas seluruh rambut dikepalaku. “AKhh…” pekikku. Kulit kepala panas dan bagai tercabut kuat.
“Blamm…” tiba tiba kepalaku didorongnya kuat-kuat sehingga menabrak dinding ruangan misterius ini. “Ashh..!” pekikku keras.
‘Dug..!’ dibenturkan lagi kali ini tepat di dahiku.
“Akhh..!!” sungguh rasanya sangat sakit. Pusing dan aku bisa rasakan tulang dahiku nyaris retak. Aku tidak pernah merasakan sesakit ini sebelumnya. Tanganku berusaha memberontak. Tubuhku menolak dengan keras, tapi sangat tak kusangka tenaganya begitu kuat melebihiku. Sakit!.... aku tidak berdaya… rambutku, kulit kepalaku, kepalaku… darah…
‘DUG!! DUG…”
“AKKHH… AHHK… SAKHIT…AKH….”
Sesuatu yang hangat mengalir dikepalaku. Darah. Darah dari dalam kepala ini keluar. Tuhan! Kepalaku bocor. Aku ingin muntah, aku terlalu pusing, perih, terbelah, terasa retak, dan aku masih berdoa agar terus hidup. Tetapi rasa ini terlalu sakit. Ah…
‘Dug…!!!’
‘Dug’
‘Dugh…’
Dia membawa badanku menjauh dari sisi dinding kemudian melemperku hingga tubuh lemah ini tersungkur dengan mengenaskan diatas lantai.
‘Iskk..iskhh..hikss…’ aku terisak sambil memegangi kepalaku yang berdarah. Rasanya seluruh tenaga terkuras seiring darah yang mengucur semakin banyak.

NORMAL POV
Kai yang tidak mendapatkan hasil apa apa tentang Kyung Soo hanya mampu kembali dengan raut kusut. Diparkirkannya sepeda motor dihalaman yang becek. Tetapi ekspresinya langsung berubah ketika melihat sebuah sedan terparkir ditengah hujan dihalaman dorm.
“Mina…” gumamnya dengan hati yang bergejolak. Namja itu segera masuk dan melepas mantel hujannya sehingga menunjukkan lengannya yang indah karena dia memang sedang mengenakan kaos tanpa lengan. Namun terdengar teriakan  seorang yeoja. Suara itu merintih kesakitan dan menjerit jerit dengan keras.
Tampak dua orang namja lain. Chen dan Tao tengah kebingungan disana. Mereka berdua juga sedang mencari cari dimana asal suara itu
“Mina? Mina dimana?!” tanya Kai.
“Akhr…sakit…SAKIT… akhh…!” suara tadi menjerit dengan histeris. Tao dan Chen tidak menjawab dan malah berlari menaiki tangga. “Sesuatu terjadi..!” Kai sadar, itu…itu suara kekasihnya. Dia yang tidak mengerti apa apa langsung mengekor dibelakang hyungnya.
“Mina!!” panggil Chen sambil berjalan melewati tumpukan rosok.
“Aggh!!! aaah….!” Mina berteriak dari dalam lubang dan hal itu berhasil membuat ketiga namja tadi menemukannya.
“Mina…! Kau didalam!!?....”teriak Kai sambil mengamati lubang di lantai loteng yang gelap gulita tanpa penerangan setitikpun.
“AAgggh,…!” lagi lagi gadis itu menjerit kesakitan.
Kai langsung melototkan mata. “Pintu putih….” gumamnya lirih, teringat pada sebuah ruangan misterius dibalik pintu warna putih yang terkunci itu.
“Bruakk..bruak… Kai!! Kau kah itu?” terdengar suara lain dari dalam pintu hijau. Ah, membingungkan sekali situasi ini. Seorang yeoja berteriak dari dalam lubang dan ada seseorang lain yang terjebak dalam ruangan aneh.
Chen bangkit dan menggedor pintu itu. “Lay!!? Itu suaramu?”
“Ne ini aku!!”
“Dengan aku Xiumin!! Apa yang terjadi dengan Mina? Kami terkunci!!”
Disela sela percakapan itu Kai langsung turun. Dengan tergesa dia menuruni tangga dan mencari sesuatu dilemari dapur dengan panik. Dia membuka laci, lalu lepari atas, lemari bawah.. sampai akhirnya ditemukannya sebuah kapak dengan ukuran yang tidak terlalu besar.
Kai menyeret kapak itu sehingga menimbulkan suara gesekan besi kapak dengan lantai kayu. Tampak garis bekas bidang miring pada kapak itu di sisi lantai, dan hal itu sudah membuktikan betapa tajamnya benda yang sedang dia bawa.
Dengan raut penuh tekad Kai memasuki lorong letak jajaran kamar mandi yang gelap dan hanya diterangi oleh sebuah lilin. Dia melangkah pasti kedepan pintu putih.
“Ah…agrrhhh.. sakith…..!!” teriakan tadi terus berkumandang dalam kepalanya. Kai sendiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada kekasihnya dan bagaimana bentuk Mina sekarang.
Namja itu mengangkat kapak yang berat lalu menghujamkannya pada pintu putih.
‘Duaghh…!!’ hebat! Pintu tersebut belum juga retak. Lagi… ‘Duagg!!!’ ‘Krek…’ satu sisinya mulai pecah dan mungkin sekali hantaman lagi akan berhasil membobol. ‘Bruakkk….’ Dan benar saja! Pintu itu sukses berlubang.
“AAhhhhh…!!!” teriak Mina dari dalam.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Kai sukses meruntuhkan pintu itu. Dan secepatnya di memasuki ruangan gelap tersebut. Terdengar isakan seorang gadis yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri.
“Mina…?” panggil Kai lirih sambil menebar pandangannya disela sela kegelapan. Ada sedikit sekali cahaya, sedikit sekali… berasal dari lubang dari atas plavon tempat jatuhnya Mina tadi.
“Oppa!” Mina yang menyadari kehadiran Kai langsung memeluk pacarnya dengan erat. Air mata mengucur deras dari kedua mata sayunya. Darah masih membanjiri luka ditengkoraknya bercampur dengan keringat. Gadis itu memeluk Kai sangat erat seolah tidak mau kelihangan orang dia cintai itu. “Oppa…oppa…. iks…” isaknya sambil membenamkan wajahnya di dada Kai yang hangat, sehingga suara tangisannya teredam disana.
Kai merasa sangat bersalah, Kai juga memeluk Mina seerat mungkin tidak mau membiarkan gadis itu terluka lagi. Sebutir air mata turun dari mata elang namja tersebut.
“Mian..hae…” ucapnya dalam.
“Oppa…,” Mina tidak menjawab dan air matanya malah menjadi-jadi. Hidungnya perih dan panas, tidak.. seluruh tubuhnya diliputi rasa panas dan dingin dalam bersamaan. Dan gadis itu akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap mata Kai. Tampak guratan tekad didalam bola mata kekasihnya, tapi dia terlambat… Mina sudah terluka, Mina terluka lebih parah.
“Mina?...Mina…? Kenapa, ini…” Kai gelagapan setelah mendapati darah menetes dari dahi pacarnya. Kai langsung menangkup kedua pipi Mina dalam genggamannya dan menatap gadis itu lekat-lekat. Kai menangis… tetapi Mina memeluk leher kekasihnya, keberadaan Kai sekarang sudah membuatnya tenang tapi tetap saja… keadaan gadis itu jauh lebih memprihatinkan….
To be continued….
Huwee… *ikutan nangis*
Hanya itu saja yang bisa author katakan ._. Gomawo… *review ne!!^^]/

2 comments:

Sri mahendra on October 7, 2013 at 3:15 AM said...
This comment has been removed by the author.
Sri mahendra on October 7, 2013 at 3:36 AM said...

keren ^_^/
ijin kopas buat koleksi ya kak?!

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei