〖Marriage
With A Boss〗
Judul : Marriage With A Boss
Author : Jihan Kusuma
Cast : Kim Joon Myeong as Suho, Moon Nayoung, and the
others
Genre : Romance,and a lil bit comedy xD –maybe
Rate :PG-14
Cuap-cuap Author : Terkesan banget para silent readers
ternyata langsung bilang ke akun twitter dan fb buat ngelanjutin ini ff. Jadi
ga sia-sia deh usaha mikir keras buat kelanjutannya xD haha. Oke ini aja. Baca
bismillah dulu sebelum baca >//< Ready, set, GO! ^-^
CHAPTER 3
“Namanya Nayoung.”
Sepasang suami isteri ala bangsawan era sembilanpuluh-an itu sekarang
sedang duduk tepat diseberangu dan Suho Oppa. Kedua orang itu terlihat sangat
bahagia melihatku –aku juga tidak tahu kenapa mereka sangat senang =o=
“Jadi dialah gadis itu.” tambah Suho dengan sopan.
Aku melirik kedua bangsawan itu melalui sudut mata. Jujur sedari tadi
aku merasa tidak berani untuk melihat wajah orang tua Suho. Ruangan seluas ini
entah mengapa membuatku malah semakin sesak dan tidak bebas bergerak. Aku takut
bergerak bahkan untuk sekedar mengembangkan dada –untuk bernafas. Tidak bebas.
“Sesungguhnya, Aboji sangat senang mendengarmu memiliki kekasih.
Koran tadi pagi sangat mengejutkanku ketika melihat ada gambar kalian disana.
Akhirnya puteraku mencintai seorang gadis. Kau normal.”
TWEWW WEW WEW~~
Kedua mataku terbelalak begitu mendengar kalimat terakhir yang keluar
dari mulut Aboji. Normal? Jadi selama ini mereka tidak menganggap Suho Oppa
namja normal begitu? =o= Apa maksudnya?
Suho Oppa meraih tanganku dan menggenggam tanganku erat-erat. Dia
menoleh padaku dan menujukkan sebuah senyuman yang sudah pasti itu senyum palsu
-,,- Aku membalasnya dengan senyuman konyol yang kuyakini akan membuat bayi
usia enam bulan muntah bila melihatku. Aku bukan tipe orang yang bisa
menyembunyikan ekspresi. Jadi kemungkinan besar akan susah bagiku untuk menjalankan
sandiwara jenaka ini.
“Ne, aku mencintainya.”
Ujar Suho Oppa dengan gaya romantis yang membuatku ingin meleleh
sekarang juga. Mata namja itu berbinar mengarah tepat dikedua pupilku sehingga
membuat jantung ini berkontraksi kian cepat. Tidak kukira melakukan akting akan
sesusah ini. =o=
Aku menunduk dan mengulum senyum. Kedua orang itu ikut tersenyum
melihat kemesraan kami. Kenapa mereka sangat bahagia melihat Suho Oppa memiliki
pacar? Apakah namja ini memang tidak pernah berpacaran sebelumnya? -,,- Aku
takut bila itu benar. Memangnya apa yang kurang dari Suho Oppa sampai-sampai
tidak ada gadis yang mau dengannya? Ataukah Suho Oppa lah yang menolak
gadis-gadis itu? Ini semua masih menjadi sebuah pertanyaan.
“Kurasa kau gadis yang beruntung. Kau gadis pertama yang berhasil
membuat puteraku jatuh cinta. Kau pasti gadis yang sangat hebat.” Omoni
menimpali dengan ekspresi paling sumringah yang pernah kulihat. Jadi benar
begitu? Ternyata benar dugaanku. Suho Oppa belum pernah pacaran. =o=
“Ti-tidak juga...” aku tersenyum kecut. Oh betapa mengerikannya
wajahku sekarang? Aku tidak tahu harus mengeluarkan reaksi semacam apa.
“Iya, dia memang gadis yang sangat hebat. Aku juga tidak tahu apa
yang membuatku jatuh hati padanya Omoni.” tiba-tiba lengan namja itu merengkuhku
dan merapatkan tubuh kami. Kenapa cobaan ini berat sekali ya Tuhan? =o= Aku
melirik Suho Oppa dengan tatapan yang seolah berkata ‘Apa yang kau katakan
huh?’ Dan sedetik kemudian gigi rapi Suho Oppa terpampang menutupi pandangan
dengan kedua matanya yang menusukku dalam-dalam. Dia seakan-akan membalas
‘Tenang saja, ikuti permainan ini.’ Lalu dengan bodohnya aku juga membalas
senyum lebar itu. =o=
“Wah romantis sekali ya!” ujar Omoni. “Memangnya sudah berapa lama
kalian pacaran? Mengapa Suho tidak pernah bercerita tentangmu?”
“Sebenarnya kami sudah lama berpacaran dan aku sering berkunjung
kerumahnya dan bertemu kedua orang tuanya. Mereka sangat ramah dan baik hati.
Sungguh keluarga kecil yang bahagia.” tanpa aba-aba namja itu berceloteh
tentang sesuatu yang sangat tidak benar untuk diungkapkan. Orang tuaku di
Jin’an dan aku tinggal di kontrakan sendiri. =o= Sebenarnya apa isi kepalanya?
Kenapa dia sangat tidak perhitungan? Dan sekarang aku mulai meragukan berapa
IQ-nya.
Aku mencubit pinggang Suho Oppa karena sebal. Sontak namja itu
menggeliat kecil dan melempar pandangan padaku. Tidak bisakah dia berfikir dulu
sebelum berkata? Dia kembali tersenyum selebar mungkin padaku dan bodohnya aku
membalas itu semua. Suho Oppa memelukku lagi dan membangun suasana romantis
yang tadi sempat pecah. Kenapa dia sangat pandai berpura-pura? =o= Aku harus
memarahinya nanti.
“Haha benarkah? Jadi dia sering berkunjung dan menemui orang tuamu?”
Aboji bertanya padaku. “I-iya. =o=” aku mengangguk dengan ragu.
“Ternyata putera kita ini memang sudah besar.” tampak Aboji dan Omoni
saling melempar senyuman satu sama lain. “Mungkin kapan-kapan kita juga harus
bertemu dengan orang tuanya dan membicarakan tentang hubungan mereka. Bukankah
mereka sudah lama berpacaran, jadi kita bisa tunangkan secepat mungkin.”
celetuk Omoni selanjutnya.
“Mwo?” Aku dan Suho Oppa terperanjat dari posisi duduk. Kumohon apa
yang dia katakan tidak benar. Aku memang senang bisa mengenal namja setampan
Suho dan bisa dekat dengannya, tapi, bukan berarti sebuah hubungan palsu. Itu
bukan ide yang bagus.
“Kalian saling cinta kan? Sebaiknya segera ditunangkan!” ^-^
“Tapi kurasa kami butuh sesiapan Omoni. Kalian tidak bisa mengambil
keputusan secepat ini.” bantah Suho Oppa.
“Kenapa kau tiba-tiba meledak seperti itu? Seharusnya kau senang bisa
segera tunangan. Ayolah, kau kan bukan anak-anak lagi seharusnya kau mengerti
jika usiamu sudah matang untuk menikah.”
Kenapa jadi membicarakan masalah menikah? =o=
“Tapi Omoni...,”
“Sudahlah Suho, menurut saja pada orang tua. Kami tahu yang terbaik
untukmu” ^-^
“Tapi kan,” =o=
“Iya kau pasti akan senang.” ^-^
Kurasakan perutku terasa bagai terperas dan aku sembelit sekarang.
Aku tidak menyangka bila hal ini akan terjadi. Bertunangan dengan seorang namja
tampan dari keluarga kaya raya yang baru saja kukenal dan aku sama sekali tidak
mencintainya. Kedengarannya sebuah rezeki. Tapi, aku benar-benar tidak siap
untuk ini.
“Apa pekerjaan Appamu Nayoung?” tanya Omoni padaku dengan lemah
lembut.
Kurasakan kepalaku gatal dan aku menahan diri untuk tidak
menggaruknya. “Appa... hanya bekera sebagai pelukis.” =o= jawabku.
“Wah, seniman ya? Jadi kau puteri seorang seniman!”
“Iya.” =o=
“Kalau begitu kau juga pandai melukis?”
“Um, hanya sedikit. Aku tidak pandai menggunakan cat air.”
“Keren sekali... kurasa kau harus membuatkan sebuah lukisan untuk
dipajang disini.” ^-^ Aboji menambahkan.
Kepalaku semakin pusing mendengar ini semua. Kulirik Suho Oppa dan
dia malah tersenyum lebar sambil mengelus kepalaku. Aku membalasnya dengan
menarik kedua sudut bibirku tanpa niat melakukannya.
“Kalau Eommamu? Apakah dia seorang seniman juga?” tanya Aboji.
“Aniya, Eomma mengelola restoran Dobokki sendirian.”
“Pasti kau juga pandai memasak! Bukankah begitu?” ^-^
“Eh,... i-iya.” =o=
“Aku sangat tidak sabar mencicipi Dobokki buatan calon menantu.” ^-^
Jujur. Aku butuh kantung muntah sekarang juga. Enzim-enzim dalam
lambungku terasa terkocok tidak karuan usai mendengar kata ‘menantu’. Kenapa
sandiwara ini begitu menyiksa batin?
〖Marriage
With A Boss〗
“Kau
puas?” tanyaku sedikit membentak ketika kami sudah berada dalam mobil dan
perjalanan mengantarku pulang. Namja menyebalkan ini menatapku dengan heran.
“Apa maksudmu puas?” tanyanya dengan muka tanpa dosa yang semakin membuatku
ingin membakar mobil ini. Kuhembuskan nafas dan berusaha merangkai kata serta
menata lagi emosi yang tadinya berantakan. “Apa kau tidak sadar kata-kata yang
tadi kau lontarkan pada mereka itu sangat tidak layak untuk didengar.
Orangtuaku tinggal di Jin’An dan kau berkata kalau kau pernah menemui mereka?
Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu? Aku sudah menginjinkanmu untuk berbohong
dan membuat mereka percaya bila aku ini kekasihmu, namun... sebuah kesalahan
jika kau sebut-sebut orang tuaku. Mereka tidak ada urusannya dengan ini semua.”
Dadaku
naik turun begitu kalimat-kalimat panjang tersebut usai. Demi apapun aku ingin
melemparkan bom kedalam mobil ini dan membiarkannya meledak bersama aku dan
Suho Oppa didalamnya.
“Tapi,
aku hanya ingin meyakinkan mereka.” kudengar nada bicara namja itu mengecil.
“Tapi
kenapa harus orang tuaku?!” kini aku membentak dan berhasil menciptakan
keheningan diantara kami. Kami hanya berpandangan satu sama lain untuk beberapa
detik.
Oke.
Besok
Omoni Suho menundangku untuk makan siang bersama dan itu sebuah hal gila.
Bisa-bisa segala tentang diriku semakin terkuak dan aku akan semakin dekat
dengan keluarga Suho. Kalau itu terjadi, besar kemungkinan jika kami
benar-benar akan ditunangkan. =o=
“Turunkan
aku disini.” perintahku kaku.
Kucongkel
gagang pintu dan mendorong-dorongnya seolah-olah aku benar-benar ingin lompat
dari mobil berkecepatan sedang ini lalu mengakhiri hidup. “Apa yang kau
lakukan?” tanyanya segera.
“Turunkan
aku.”
“Tidak,
jangan ditarik.” =o=
“Aku
mau pergi!” -,,-
“Aku
mohon. Jangan pergi. Nanti pintunya rusak.” =o=
“Kalau
begitu hentikan mobilnya!”
“Tidak
akan.”
“Atau
gagang pintumu patah dan aku kabur?” ancamku.
Suho
mendecih lalu mengurangi kecepatan mobil ini. Tak lama kemudian kami menepi dan
berhenti di samping trotoar. Segera aku keluar dari pintu dengan raut cemberut.
Aku melangkah cepat menjauhi mobil Suho dan berjalan mensetujui bisikan emosi
yang sedari tadi meledak-ledak.
“Nayoung!
Nayoung!” teriak Suho Oppa sambil menjalankan mobil secara perahan disamping
tubuhku. Dia melongokkan kepala kejendela. Aku tidak menggubris panggilannya
dan bersikap seolah tidak dengar.
“Nayoung...
kita bisa atur ini semua. Percayalah padaku.” tambahnya semakin membuatku
mencepatkan langkah.
“Ayolah,
kita bisa atasi ini berdua. Kita bisa bersandiwara didepan orangtuamu juga.”
cetusnya berhasil membuat kedua mataku melebar. Langkahku berhenti. Kutatap
mata Suho Oppa dan dia bergidik melihat kedua mataku yang seolah merah
membakar. Dia tampan, dia kaya, dia direktur, tapi kenapa dia bodoh? =o=
“Dan
semakin membuat semua yakin jika kita memang pasangan kekasih begitu?” tanyaku
ketus.
“Itu
bisa dipikirkan nanti. Ini semua demi perusahaan dan demi orang tuaku, mereka
sudah terlanjur membaca koran hari ini dan mengetahui ini semua.”
“Tapi
itu ide bodoh.”
“Tidak,
ini ide cemerlang.”
“Pokoknya
aku-“ kalimatku terputus ditengah jalan begitu kulihat dua orang sesusiaku
mengenakan seragam sekolah. Mereka memandangku dengan tatapan penuh tanya.
Dan... aku kenal mereka. Jongin dan Krystal. Sepertinya pasangan baru itu
sedang berkencan usai jan sekolah selesai.
Aku
langsung terpaku ditempat sambil bertukar pandang pada mereka.
“Hei,
ayo cepat naiklah. Kita bisa bicarakan ini!” teriak Suho Oppa yang dengan
mudahnya langsung memecah suasana. Bisa kulihat Jongin dan Krystal termangu
begitu melempar pandangan kearah ‘pacarku’ =o= mungkin mereka terkejut mengapa
aku bisa berkencan dengan seorang Ajusshi yang kaya raya. Tapi bisa saja mereka
sedang berfikir lain.
“N-ne.”
tanpa basa-basi seperti tadi, aku langsung saja menurti apa kata Suho Oppa.
Mengapa aku jadi penurut begini? Haha, oke! Mungkin sekaranglah saatnya untuk
bermain api didepan Jongin.
‘Brak’
kututup pintu dengan kasar.
“Kuharap
kita bahas ini besok, antar aku pulang sekarang juga.” ujarku ketus.
“Kenapa
begitu?”
“Aku
butuh pendinginan otak. Kejadian hari ini sudah membuat lendir otakku
mendidih.” cibirku sambil melipat tangan.
Namun,
Apa
yang kuterima? Suho Oppa malah tertawa dan itu semakin membuatku jengkel
padanya. Apakah ada yang lucu disini? =o= Kurasa dia mulai gila.
〖Marriage
With A Boss〗
Hari
ini, kuputuskan untuk membolos sekolah. Yah... aku hanya tidak ingin kejadian
konyol semacam kemarin terulang lagi. Suho Oppa menculikku dan membuat seluruh
isi sekolahan gempar. Lagi pula, apabila aku menunjukkan batang hidungku
disekolah untuk pagi ini pasti teman-teman akan menghujaniku dengan beribu
pertanyaan yang bisa membuat isi perutku tertuangkan seketika. Aku hanya tidak
ingin berbohong.
Aku
sedang terdiam di meja belajar sambil memandangi foto kecilku bersama Eomma.
Rasanya tidak tega berdusta pada wanita yang paling kucintai itu. Aku tersenyum
miris. Dan tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Suho
Oppa.” gumamku malas lalu membanting benda itu keatas lipatan selimut tebal
yang tergeletak diatas ranjang. Untuk sesaat berda itu berhenti berbunyi. Dan
dalam hitungan detik bisa kudengar suara ringtone.
“Aish,
ada apa lagi ini?!” pikirku sambil menutup kedua telinga dengan risih.
To
be continued...

0 comments:
Post a Comment