〖Marriage
With A Boss〗
CHAPTER 2
Kami berdua sedang berjalan dilorong sebuah kantor yang kuyakini
disinilah tempat perusahaan Yamaha itu. Suho melangkah dengan ringan sambil menggenggam
tanganku erat-erat. Kami sedang berjalan bersama diantara para pengurus yang
rata-rata ber-jas dan berpenampilan rapi. Ini pertama kalinya diriku berada
diantara orang-orang penting seperti ini.
Beberapa diantara mereka tersenyum, menyapa, lalu membungkuk didepan
Suho Oppa. Dan sebagiannya lagi terlihat memandangiku dari ujung kaki hingga
kepala sampai-sampai membuatku tidak nyaman. Sepertinya Suho Oppa sangat
dihargai disini. Itu terbukti ketika kami memasuki sebuah ruangan bertuliskan
‘Ruang Administrasi’ dimana didalamnya terdapat banyak sekali orang berseragam
yang sedang disibukkan dengan kertas-kertas yang entah apa itu, dan mereka
langsung membungkuk sopan sambil mengucapkan selamat pagi bersama-sama.
Sedangkan aku? Aku hanya mematung dengan wajah paling cengo diseluruh dunia.
Hingga pada akhirnya kami keluar juga dari perusahaan menuju sebuah
elevator di ujung lorong. Aku terus saja mengekor dibelakang tubuh Suho Oppa
dengan mulut yang terbungkam. Bagaimana lagi? Aku sama sekali tidak tahu harus
bicara apa. Rasanya sangat malu untuk membuka mulut. Ini semua membuatku
sedikit minder dan berfikiran bila aku salah telah mensetujui untuk pura-pura
menjadi pacarnya. Berada di lingkungan seformal ini nyaris membuatku tidak
mampu bernafas bebas. Bagaimana jika orang tuanya mengundangku berkunjung atau
mengajakku makan malam bersama-sama. Aku akan sangat membutuhkan sebuah kelas
khusus tata cara menjadi tuan puteri =o=.
Pintu lift tertutup dengan perlahan menyisakan sebuah kecanggungan
yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kulirik namja itu melalui sudut mataku.
Dia tampak tenang-tenang saja dan membenarkan jas yang sedikit terlipat
dibagian lengannya. Kenapa namja itu begitu tenang sedangkan aku gugup dan
merasa tertekan?
“Kau kelas berapa?” tanyanya berhasil membuat lamunanku pecah dan
buyar seketika. Suho Oppa menatapku dengan kedua matanya yang jernih.Dia
terlihat tampan sekali walau belum mandi =o= Lalu bagaimana keadaanku sekarang?
pasti sangat berantakan!
“Aku... aku kelas tiga di SMA Deok Chang.” balasku seadanya karena
memang itulah yang sedang terlintas dipikiran. Menyadari ketampanannya yang
terlalu overdosis itu membuatku lupa akan apa saja yang selama ini tersimpan
hingga menjamur didalam memori otakku.
“Wah, kau pasti siswa pintar! Kudengar sekolah itu memiliki reputasi
yang paling tinggi diantara sekolah lainnya.”
Yap benar apa katanya. Sekolahku memang sangat terpandang. Tetapi
diriku? Sepuluh besar saja aku tidak pernah =o= “Hehe...” aku hanya meringis
dan menggaruk kepala. Suho Oppa tersenyum kecil lalu menunduk.
‘Tring”
Pintu lift terbuka dan aku keluar beriringan dengannya. Kami sampai
di basement. Suho Oppa berjalan mendahuluiku menuju sebuah mobil hitam yang
terlihat paling menonjol diantara yang lainnya. Ne! Ne! Aku ingat mobil itu!
Aku sudah memasukinya ketika mabuk kemarin. =o=
Sirine mobil itu terdengar hingga menggema keseluruh dinding
basement. “Masuklah.” ajaknya lalu membuka pintu dan masuk kedalam. Tanpa
banyak bicara aku ikut masuk dan duduk disamping seat pengemudi. Mobil ini
begitu wangi dan tampak terawat. Seatnya sangat empuk dan ACnya terasa menusuk
pori-pori kulit. Baik, aku memang kampungan.
Suho Oppa memutar kontak dan menyalakan mesin. Beberapa detik
kemudian mobil berjalan keluar dari ruangan pengap ini.
“Dimana rumahmu?”
“Eh?” aku merasa cengo.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Rumahku? Um, kau bisa turunkan aku didekat perempatan lima. Aku bisa
berjalan sendiri selanjutnya.”
“Kau yakin?” Suho Oppa memutar kemudi.
“Ne, tidak akan jauh kok.”
Dia tidak membalas ucapanku dan lebih memilih untuk diam. Tidak lama
kemudian mobil berhenti ditempat yang kumaksudkan tadi. Dengan segera aku
keluar namun sebelum itu Suho Oppa menahan diriku.
“Nayoung.”
“Ne Oppa?” aku menunduk dan sedikit melongokkan kepala kedalam mobil.
“Bisa kau beri aku nomor teleponmu?” tanyanya sambil menyodorkan
sebuah ponsel. Ponsel hitam keluaran terbaru yang pastinya itu miliknya. Aku
menerima pemberiannya lalu mengetikkan beberapa digit nomor pada keypad. “Ini.”
“Baiklah, aku akan menghubungimu jika butuh sesuatu. Oh ya, maaf
membuatmu bolos sekolah hari ini.” ucapnya enteng.
Aku menggaruk kepala lagi. Mengapa dia yang minta maaf? Bukankah aku
yang salah? Aku kan yang menyebabkan ini semua berantakan. “...Ini semua..
salahku. Kau tidak perlu minta maaf.” aku meringis.
“Apakah perlu kukirimkan surat kesekolahmu? Aku rasa ini belum
terlambat untuk menyampaikan ijin tidak hadir.” namja itu mengangkat tangan
kirinya dan memandang arloji warna silver yang melingkar disana.
Aku semakin terpukau dengan kemurahan hati namja ini. Apakah dia
benar seorang manusia? Apakah dia bukan jelmaan pangeran atau putra raja dari
jaman dahulu? Mengapa begitu baik padaku? Aku kan jadi malu =o=
“Tidak perlu... Um, terimakasih telah mengantarku. Sampai jumpa” aku
membungkuk dan segera berlari sebelum namja itu menahanku lagi dan mengatakan
hal-hal lain yang akan semakin membuatku tergila-gila padanya.
Suho
Nama itu terdengar begitu indah ditelingaku.
〖Marriage
With A Boss〗
Keesokan harinya di SMA Deok Chang
Seperti biasanya, ketika istirahat aku hanya duduk di bangku sambil
membaca komik atau membolak-balik buku catatan tanpa membacanya. Aku tidak
pernah punya sahabat atau teman dekat. Aku juga tidak tahu kenapa diriku
dilahirkan dengan sifat yang begitu individualis. Punya temanpun mereka hanya
sekedar ‘teman’ yang akan menyapa atau meminjamkan pensil dan membagi bekal.
Bukan teman yang bisa menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan atau
bersepeda berdua. Yah, setidaknya aku tidak punya musuh... tapi aku hanya punya
‘RIVAL’.
Seorang gadis yang tidak cantik –tapi aku juga tidak bisa menyebutnya
jelek- =o= Dialah yang selama ini selalu kujuluki nenek sihir ompong. Jung
Krystal. Setiap kali aku mengingat atau mendengar nama itu hatiku langsung
panas dan membakar hingga mukaku memerah. Aku sangat bernafsu untuk memukul
wajah yeoja itu dan mematahkan hidungnya.
Krystal telah merebut namja yang beberapa bulan menjadi kekasihku
–dan ternyata sekarang berkhianat =o= Jongin. Aku mantan pacar Jongin sejak dua
hari lalu dan akhirnya nenek sihir itu merampasnya tanpa permisi. Sangat
menyebalkan bukan? Jongin itu cinta pertama sekaligus cinta terburuk yang tidak
akan pernah kuungkit lagi. Namun, betapa bodohnya aku. Kemarin aku kehilangan
kendali dan memutuskan untuk mabuk hanya karena kebersamaan mereka yang selalu
menghantuiku sampai-sampai aku mimpi buruk. -,,-
Mari kembali ke cerita.
Jadi sekarang, disinilah aku... duduk di bangku sambil menumpukan
dagu diatas meja dan memandangi gambar-gambar pada komik. Aku hanya seorang diri
sedangkan yang lainnya asik bersenda gurau entah membicarakan hal apa.
Author Point-Of-View
Disisi lain...
Sebuah mobil jaguar tampak terparkir didepan gerbang SMA Deok Chang.
Dan selanjutnya muncullah seorang namja ber-jas dari mobil tersebut. Dia menutup
pintu kembali dan menatap lurus tepat ke arah bagian dalam gerbang sekolah.
Seulas senyuman tampan terpajang di bibirnya yang merah merona itu.
Kalian pasti sudah tahu persis siapa dia. =o=
Suho melangkah memasuki halaman sekolahan. Beberapa siswa dan siswi
yang melihat kedatangannya langsung saling berbisik-bisik. Sedangkan ada
sebagian siswi yang tampak kegirangan melihat namja setampan itu. Namun
salahkan Suho yang terlalu cuek dan memiliki sifat gengsi yang tinggi. Dia
terus saja berjalan masuk tanpa menghiraukan yeoja-yeoja muda yang terus saja
memandanginya sambil menjerit-jerit kecil kepada yeoja-yaoja lain.
Suho masuk ke gedung sekolahan dan berjalan santai melewati loby.
Disana terlihat beberapa anak laki-laki yang bermain bola dan gadis-gadis lainnya.
Seperti hal yang telah terjadi tadi, yeoja-yeoja itu juga terkagum dengan wajah
rupawan Suho. =o=
Suho menebarkan pandangannya lalu mendekati seorang yeoja dengan
rambut lurus yang diikat dua. Yeoja itu langsung salah tingkah.
“Dimana letak lorong kelas tiga?” tanya Suho santai.
“Di...di..disana!” gadis itu tergagap seketika sambil menunjuk arah
timur dengan lengannya yang kaku.
“Terimakasih.” Suho tersenyum, lantas pipi gadis itu menjadi memerah
dan beberapa teman-temannya langsung menghampirinya sambil mengucapkan beberapa
ocehan khas remaja dengan heboh.
Suho meneruskan perjalanannya menuju kelas ‘pacar’ nya.
Namja itu menaiki tangga dan mendapat sambutan hangat dari
siswi-siswi lainnya. mereka semua sama. Mudah sekali terpikat dengan Suho.
Laki-laki berjas hitam itu menge-cek satu persatu ruang kelas tiga dan dia
langsung tersenyum manis begitu mendapati seorang yeoja dengan rambut lurus
yang digerai dan poni tebalnya sedang membolak-balik komik.
Tanpa tedeng aling-aling, Suho memasuki kelas. Jeritan lirih
terdengar bersahutan dari mulut para siswi begitu tahu Suho sedang menatap
Nayoung. Kemudian namja itu menapakkan tangannya keatas bangku sambil memanggil
nama gadis itu.
“Nayoung.” panggilnya.
Nayong mengangkat kepala dan langsung terjungkal ke sandaran kursi
begitu mendapati ‘pacarnya’ disana. mata gadis itu membulat maksimal. Dia
sangat tidak menduga bila Suho benar-benar akan datang kemari. Ini masih jam
sekolah =o=
“Yak, apa yang kau lakukan disini?” Nayong berbisik sambil melirik sekitar
yang riuh akan celotehan teman-temannya. Kini mereka berdua sedang menjadi
topik utama.
Suho tersenyum.
“Menjemputmu.” jawabnya enteng.
“Mwo?” alis Nayong berkerut seketika. Apakah dia sedang bercanda?
“Ayo ikut aku.” Suho menggenggam tangan kanan Nayong dan hal itu
berhasil membuat si yeoja mati-matian melepaskan tangannya. Apakah Suho tidak
mengerti? Dia sudah membuat Nayong malu dihadapan teman-temannya. Apa kata yang
lain jika hal ini diketahui guru?
“Aku tidak bisa. Aku harus sekolah.”
“Kita bisa tunda sekolahnya.”
“Apa?”
“Ayolah... aku sangat membutuhkanmu.” namja itu mulai memohon.
“Tapi aku... aku minta sekarang kau pergi dari sini. Aku tidak bisa
pergi ketika jam sekolah.” nada bicara Nayong meninggi sampai-sampai hiruk
pikuk dikelas itu tergatikan dengan kesunyian dalam sekejap.
Suho dan Nayong berpandangan lama.
“Kau bisa. Ayo.” Suho meraih tangan gadis itu lagi dan kini sukses
membawa tubuh kecil Nayoung ikut bersamanya.
“Suho Oppa...” bisik Nayoung ketika mereka menyusuri lorong dan
mendapat tatapan penasaran dari seluruh siswa maupun siswi.
Suho hanya diam dan terus menarik lengan Nayoung tanpa ampun. Dia
sangat membutuhkan gadis itu sekarang.
Dan,
Dari sudut pandangnya Nayong melihat seorang gadis dengan pawakan
tinggi dan rambut bergelombang tengah memandanginya dengan mata berkilat tajam.
Krystal. Mungkin gadis itu juga penasaran siapakah namja tampan yang sedang
menarik paksa Nayoung.
Mulai saat itulah, Nayoung menyadari bila membolos pelajaran sekali
saja bukan hal yang buruk. Apalagi Suho yang membawanya. Dia bisa bermain api
dengan Krystal. Haha, ya...! Seru sekali membuat Krystal jengkel.
〖Marriage
With A Boss〗
Nayoung’s POV
“Apa yang terjadi sampai-sampai kau menjemputku seperti ini? Apa kau
tidak lihat bagaimana teman-teman memandangiku tadi? Itu sangat memalukan?” aku
melipat tangan sambil mengerucutkan bibir dengan sebal. Suho melirikku dengan
segala kesempurnaan yang ada dalam dirinya. Dia tampak begitu sempurna dengan
jas abu-abu gelap dan dasi hijau yang dia kenakan. Dan itu semua membuatku
bertanya-tanya sebenarnya berapakah usia namja ini.
“Kau akan tahu nanti.” sudut bibir Suho terangkat sebelah dan perlu
kuakui itu terlihat sangat menawan.
“Huffft...” aku menghembuskan nafas sambik membuang muka kejendela.
Semoga saja teman-teman tidak terlalu kejam padaku dan melaporkan ini kepala
Nyonya Ah –Guru Konseling- yang menjengkelkan itu. Namun harapan untuk selamat
dari wanita tua itu hanya sekitar sepuluh perseribu -,,-. Perlu kuingatkan
lagi, aku tidak punya teman yang dekat dan mungkin bisa menyembunyikan aibku.
Mereka semua hanya sekedar kenalan dan teman yang sama-sama menghirup udara
yang sama dalam sebuah ruangan kelas. Tidak lebih. Jadi, kurasa besok aku harus
mengenakan masker dan pura-pura terbatuk untuk kabur ke ruang UKS. Yah,
satu-satunya cara lolos dari hukuman mengelilingi lapangan kasti adalah sakit
-,,-.
“Kita sampai.” Suho menginjak rem dengan tiba-tiba sehingga membuat
tubuh kerempengku sedikit terhuyung kedepan. Kenapa sudah sampai? -..- Apakah
karena aku yang terlalu lama melamun ya?
“Eh?” aku terbingung.
“Ayo turun! Kita tidak punya banyak waktu!” dia keluar terlebih
dahulu.
Kulongokkan kepalaku keluar jendela dan berusaha mengintip tempat
macam apa yang membuatnya harus menculikku dan membawaku kesana. Tidak!
Kumohon! Kuharap aku tidak salah lihat!
Itu adalah sebuah salon mewah yang biasa dikunjungi yeoja-yeoja papan
atas disekolahanku. Dulu aku sangat ingin pergi dan merawat kuku disana sebelum
aku mengenal Kyistal yang ternyata juga sering kesitu. -,,-
Jadi hari ini aku akan ditraktir perawatan oleh Suho begitu? Kuharap
ini bukan mimpi! ^-^ Tapi mengapa dia membawaku kesana?
‘Brak!’ tiba-tiba jendela kaca disampingku bergebum. Dan ketika aku
menoleh tampaklah wajah putih Suho menempel di kaca seperti ikan pari. Dia meneriakiku
dari luar untuk segera keluar. Oh bodoh! Kenapa aku melamun terus? >,,<
Kami memasuki tempat berbau wangi itu. Bisa kuhirup aroma hairspray
rasa mint yang menguap kemana-mana dan parfum mahal. Ini semua bagaikan surga
untukku. Orang tuaku saja tidak pernah membawaku ketempat semacam ini, dan
Suho... padahal kami baru saja berkenalan kemarin -,,-
Aku yang masih mengenakan seragam kotak-kotak hijau tua hanya mampu
mengekor dibelakang Suho, berharap seorang guru tidak sedang datang kemari lalu
meneriakiku ‘Hei! Bukannya kamu siswa Deok Chang?’ lalu semuanya akan menoleh
padaku dan melaporkanku pada Nyonya Ah. Okey, hentikan! Itu sangat memalukan.
“Bersihkan gadis ini.” ujar Suho terdengar penuh wibawa kepala
seorang yeoja yang memiliki tahi lalat besar diujung hidungnya. Dan sekilas,
hal itu mengingatkanku pada kotak makan Jin Hyun –temanku- yang bergambar
Mickey Mouse. -,,-
“Pastikan tidak ada setitik nodapun di kukunya, dan.... berikan dia
dress.” tambah namja itu sambil melirikku. Aku menunduk seperti seorang adik
yang patuh. Semoga saja yeoja pelayan berhidung Mickey Mouse itu tidak befikir
bila aku ini kekasihnya.
“Baiklah Tuan,” dia membungkuk dengan sopan.
“Aku akan menunggu, kuharap ini semua bisa selesai kurang dari
tigapuluh menit.” ucap Suho sambil melihat arloji besarnya yang sempat kukagumi
dan kutafsirkan berapa harganya. -..-
“Mari Nona.”
Kemudian wanita tersebut menggiringku paksa kesebuah ruangan dibalik
gordain gambar bunga-bunga.
〖Marriage
With A Boss〗
Dan sekarang.
Aku hampir tidak percaya bila gadis yang sedang berdiri dipantulan
cermin itu adalah sosokku sekarang. Aku dengan rambut kecokelatan dan rambut
lurus dengan poni indah yang melengkung secara serempak menyembunyikan dahiku.
Inikah aku? Nayoung?
Aku tidak memakai make up. Hanya dibersihkan dan dilapisi bedak tipis
dan lipbalm. Yah, dandanan sewajarnya namun sudah membuatku terlihat lebih
bersinar.
Haha. Lucu sekali. Diriku yang kumal dengan dandanan serba tidak rapi
itu hilang seketika usai limabelas menit berada dibalik gordain –motif
bunga-bunga- lalu keluar lagi dengan penampilan bak puteri raja. Ini seperti
ketok magic.
“Anda bisa keluar sekarang Nona.” ucap wanita pelayan bertahilalat
tadi. Aku membungkuk dan berterimakasih. Kemudian melangkah dengan bimbang
menemui Suho Oppa. Masih baik wanita tadi tidak memberiku sepatu hak. Karena
memang aku bukan yeoja penggila dandan yang akrab dengan sepatu mewah berhak
tinggi. -,,-
“Oppa.” panggilku lirih. Suho Oppa tersenyum begitu mendapati diriku
yang sudah berdiri beberapa meter dari tempatnya menunggu. Alis namja itu
terangkat dan kedua bola mata jernihnya seolah berkata ‘Jangan katakan kalau
dirinya Nayong!’. Aku segera membalas senyumannya dan berjalan dengan malu-malu
mendekat.
“Aku cantik?” tanyaku dengan nada yang seakan haus pujian -,,-
ayolah! Aku sangat ingin mendengar kata-kata itu darinya.
Suho Oppa berdiri dan mendekatiku. Senyum ala pangeran itu terus
terpajang disana. Dia membuka mulu dan kuharap itu sebuah kalimat pujian.
“Nayoung, akhirnya selesai juga! Kau tidak tahu seberapa lama aku menunggumu!”
ujarnya.
‘Blaaam!!’ petir langsung menyambarku begitu saja. Tidak bisakah dia
memujiku. Aku sudah siap menerima pujian dan ungkapan darinya. Tapi mengapa itu
yang dia ucapkan. -___- Untuk sesaat aku sangat kecewa.
“Ayo pergi! Aku sudah membayar salon. Kita harus menemui Omoni dan
Aboji segera!” Suho Oppa menarik tanganku paksa. Apa katanya Omoni? Aboji?
Orang tuanya? Jadi aku-
“Tunggu, jadi kita-“
“Ne.” jawabnya sebelum aku merampungkan ucapan. Ini pertama kalinya
dia bersikap tidak sopan pada orang. Sepenting itukah acara pertemuan ini?
Kenapa sangat tiba-tiba? Aku bahkan belum belajar apa-apa kan? Ottokhae?
“Kau benar-benar akan membawaku ke orang tuamu? Jangan bergurau.”
“Pernahkan aku bergurau? Bisakah kau cepat sedikit? Mereka sudah
menunggu dirumahku. Nanti kau akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Sesaat kutatap punggung ratanya yang kian menjauh dan sedetik
kemudian aku sadar bila ini semua juga karena kesalahanku. Jadi, baiklah. Aku
akan ikuti apa saja yang dia minta.
〖Marriage
With A Boss〗
Kami sampai disebuah rumah megah sebesar monster. Terasnya yang
begitu luas mengingatkanku pada sebuah dongeng yang pernah kubaca
diperpustakaan ketika aku masih setinggi satu setengah meter. Dongeng tentang
kerajaan. Aku masih ingat persis deskripsi singkat tentang bentuk istananya,
dan kurang lebih seperti itulah rumah monster ini.
Jendelanya begitu banyak dan luas membuatku berfikir butuh berapa
pembantu untuk membersihkannya. Belum lagi rerumputan dan porselinnya. Pasti
sangat banyak pelayan yang dipekerjakan disini.
Suho menggenggam pergelangan tanganku hingga bisa kurasakan tangannya
yang berkeringat dingin. Namja ini terus
menarikku melewati jalur di pekarangannya yang bersih. Dia menggenggamku begitu
kuat seakan-akan aku ini hewan peliharaan yang bisa kabur kapan saja. =o=
Aku semakin gugup. Apa yang harus kukatakan pada orang tua nya? Aku
belum mempelajari apapun. Ini bagaikan sebuah kejutan.
To be continued…
Gomawo udah baca ne~ mian banget author ga
bisa lepas dari yang namanya typo.

0 comments:
Post a Comment