Thursday, November 28, 2013

Marriage With A Boss Chap 2

Posted by Unknown at 9:14 PM
Marriage With A Boss

CHAPTER 2
Kami berdua sedang berjalan dilorong sebuah kantor yang kuyakini disinilah tempat perusahaan Yamaha itu. Suho melangkah dengan ringan sambil menggenggam tanganku erat-erat. Kami sedang berjalan bersama diantara para pengurus yang rata-rata ber-jas dan berpenampilan rapi. Ini pertama kalinya diriku berada diantara orang-orang penting seperti ini.
Beberapa diantara mereka tersenyum, menyapa, lalu membungkuk didepan Suho Oppa. Dan sebagiannya lagi terlihat memandangiku dari ujung kaki hingga kepala sampai-sampai membuatku tidak nyaman. Sepertinya Suho Oppa sangat dihargai disini. Itu terbukti ketika kami memasuki sebuah ruangan bertuliskan ‘Ruang Administrasi’ dimana didalamnya terdapat banyak sekali orang berseragam yang sedang disibukkan dengan kertas-kertas yang entah apa itu, dan mereka langsung membungkuk sopan sambil mengucapkan selamat pagi bersama-sama. Sedangkan aku? Aku hanya mematung dengan wajah paling cengo diseluruh dunia.
Hingga pada akhirnya kami keluar juga dari perusahaan menuju sebuah elevator di ujung lorong. Aku terus saja mengekor dibelakang tubuh Suho Oppa dengan mulut yang terbungkam. Bagaimana lagi? Aku sama sekali tidak tahu harus bicara apa. Rasanya sangat malu untuk membuka mulut. Ini semua membuatku sedikit minder dan berfikiran bila aku salah telah mensetujui untuk pura-pura menjadi pacarnya. Berada di lingkungan seformal ini nyaris membuatku tidak mampu bernafas bebas. Bagaimana jika orang tuanya mengundangku berkunjung atau mengajakku makan malam bersama-sama. Aku akan sangat membutuhkan sebuah kelas khusus tata cara menjadi tuan puteri =o=.
Pintu lift tertutup dengan perlahan menyisakan sebuah kecanggungan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kulirik namja itu melalui sudut mataku. Dia tampak tenang-tenang saja dan membenarkan jas yang sedikit terlipat dibagian lengannya. Kenapa namja itu begitu tenang sedangkan aku gugup dan merasa tertekan?
“Kau kelas berapa?” tanyanya berhasil membuat lamunanku pecah dan buyar seketika. Suho Oppa menatapku dengan kedua matanya yang jernih.Dia terlihat tampan sekali walau belum mandi =o= Lalu bagaimana keadaanku sekarang? pasti sangat berantakan!
“Aku... aku kelas tiga di SMA Deok Chang.” balasku seadanya karena memang itulah yang sedang terlintas dipikiran. Menyadari ketampanannya yang terlalu overdosis itu membuatku lupa akan apa saja yang selama ini tersimpan hingga menjamur didalam memori otakku.
“Wah, kau pasti siswa pintar! Kudengar sekolah itu memiliki reputasi yang paling tinggi diantara sekolah lainnya.”
Yap benar apa katanya. Sekolahku memang sangat terpandang. Tetapi diriku? Sepuluh besar saja aku tidak pernah =o= “Hehe...” aku hanya meringis dan menggaruk kepala. Suho Oppa tersenyum kecil lalu menunduk.
‘Tring”
Pintu lift terbuka dan aku keluar beriringan dengannya. Kami sampai di basement. Suho Oppa berjalan mendahuluiku menuju sebuah mobil hitam yang terlihat paling menonjol diantara yang lainnya. Ne! Ne! Aku ingat mobil itu! Aku sudah memasukinya ketika mabuk kemarin. =o=
Sirine mobil itu terdengar hingga menggema keseluruh dinding basement. “Masuklah.” ajaknya lalu membuka pintu dan masuk kedalam. Tanpa banyak bicara aku ikut masuk dan duduk disamping seat pengemudi. Mobil ini begitu wangi dan tampak terawat. Seatnya sangat empuk dan ACnya terasa menusuk pori-pori kulit. Baik, aku memang kampungan.
Suho Oppa memutar kontak dan menyalakan mesin. Beberapa detik kemudian mobil berjalan keluar dari ruangan pengap ini.
“Dimana rumahmu?”
“Eh?” aku merasa cengo.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Rumahku? Um, kau bisa turunkan aku didekat perempatan lima. Aku bisa berjalan sendiri selanjutnya.”
“Kau yakin?” Suho Oppa memutar kemudi.
“Ne, tidak akan jauh kok.”
Dia tidak membalas ucapanku dan lebih memilih untuk diam. Tidak lama kemudian mobil berhenti ditempat yang kumaksudkan tadi. Dengan segera aku keluar namun sebelum itu Suho Oppa menahan diriku.
“Nayoung.”
“Ne Oppa?” aku menunduk dan sedikit melongokkan kepala kedalam mobil.
“Bisa kau beri aku nomor teleponmu?” tanyanya sambil menyodorkan sebuah ponsel. Ponsel hitam keluaran terbaru yang pastinya itu miliknya. Aku menerima pemberiannya lalu mengetikkan beberapa digit nomor pada keypad. “Ini.”
“Baiklah, aku akan menghubungimu jika butuh sesuatu. Oh ya, maaf membuatmu bolos sekolah hari ini.” ucapnya enteng.
Aku menggaruk kepala lagi. Mengapa dia yang minta maaf? Bukankah aku yang salah? Aku kan yang menyebabkan ini semua berantakan. “...Ini semua.. salahku. Kau tidak perlu minta maaf.” aku meringis.
“Apakah perlu kukirimkan surat kesekolahmu? Aku rasa ini belum terlambat untuk menyampaikan ijin tidak hadir.” namja itu mengangkat tangan kirinya dan memandang arloji warna silver yang melingkar disana.
Aku semakin terpukau dengan kemurahan hati namja ini. Apakah dia benar seorang manusia? Apakah dia bukan jelmaan pangeran atau putra raja dari jaman dahulu? Mengapa begitu baik padaku? Aku kan jadi malu =o=
“Tidak perlu... Um, terimakasih telah mengantarku. Sampai jumpa” aku membungkuk dan segera berlari sebelum namja itu menahanku lagi dan mengatakan hal-hal lain yang akan semakin membuatku tergila-gila padanya.
Suho
Nama itu terdengar begitu indah ditelingaku.
Marriage With A Boss
Keesokan harinya di SMA Deok Chang
Seperti biasanya, ketika istirahat aku hanya duduk di bangku sambil membaca komik atau membolak-balik buku catatan tanpa membacanya. Aku tidak pernah punya sahabat atau teman dekat. Aku juga tidak tahu kenapa diriku dilahirkan dengan sifat yang begitu individualis. Punya temanpun mereka hanya sekedar ‘teman’ yang akan menyapa atau meminjamkan pensil dan membagi bekal. Bukan teman yang bisa menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan atau bersepeda berdua. Yah, setidaknya aku tidak punya musuh... tapi aku hanya punya ‘RIVAL’.
Seorang gadis yang tidak cantik –tapi aku juga tidak bisa menyebutnya jelek- =o= Dialah yang selama ini selalu kujuluki nenek sihir ompong. Jung Krystal. Setiap kali aku mengingat atau mendengar nama itu hatiku langsung panas dan membakar hingga mukaku memerah. Aku sangat bernafsu untuk memukul wajah yeoja itu dan mematahkan hidungnya.
Krystal telah merebut namja yang beberapa bulan menjadi kekasihku –dan ternyata sekarang berkhianat =o= Jongin. Aku mantan pacar Jongin sejak dua hari lalu dan akhirnya nenek sihir itu merampasnya tanpa permisi. Sangat menyebalkan bukan? Jongin itu cinta pertama sekaligus cinta terburuk yang tidak akan pernah kuungkit lagi. Namun, betapa bodohnya aku. Kemarin aku kehilangan kendali dan memutuskan untuk mabuk hanya karena kebersamaan mereka yang selalu menghantuiku sampai-sampai aku mimpi buruk. -,,-
Mari kembali ke cerita.
Jadi sekarang, disinilah aku... duduk di bangku sambil menumpukan dagu diatas meja dan memandangi gambar-gambar pada komik. Aku hanya seorang diri sedangkan yang lainnya asik bersenda gurau entah membicarakan hal apa.
Author Point-Of-View
Disisi lain...
Sebuah mobil jaguar tampak terparkir didepan gerbang SMA Deok Chang. Dan selanjutnya muncullah seorang namja ber-jas dari mobil tersebut. Dia menutup pintu kembali dan menatap lurus tepat ke arah bagian dalam gerbang sekolah. Seulas senyuman tampan terpajang di bibirnya yang merah merona itu.
Kalian pasti sudah tahu persis siapa dia. =o=
Suho melangkah memasuki halaman sekolahan. Beberapa siswa dan siswi yang melihat kedatangannya langsung saling berbisik-bisik. Sedangkan ada sebagian siswi yang tampak kegirangan melihat namja setampan itu. Namun salahkan Suho yang terlalu cuek dan memiliki sifat gengsi yang tinggi. Dia terus saja berjalan masuk tanpa menghiraukan yeoja-yeoja muda yang terus saja memandanginya sambil menjerit-jerit kecil kepada yeoja-yaoja lain.
Suho masuk ke gedung sekolahan dan berjalan santai melewati loby. Disana terlihat beberapa anak laki-laki yang bermain bola dan gadis-gadis lainnya. Seperti hal yang telah terjadi tadi, yeoja-yeoja itu juga terkagum dengan wajah rupawan Suho. =o=
Suho menebarkan pandangannya lalu mendekati seorang yeoja dengan rambut lurus yang diikat dua. Yeoja itu langsung salah tingkah.
“Dimana letak lorong kelas tiga?” tanya Suho santai.
“Di...di..disana!” gadis itu tergagap seketika sambil menunjuk arah timur dengan lengannya yang kaku.
“Terimakasih.” Suho tersenyum, lantas pipi gadis itu menjadi memerah dan beberapa teman-temannya langsung menghampirinya sambil mengucapkan beberapa ocehan khas remaja dengan heboh.
Suho meneruskan perjalanannya menuju kelas ‘pacar’ nya.
Namja itu menaiki tangga dan mendapat sambutan hangat dari siswi-siswi lainnya. mereka semua sama. Mudah sekali terpikat dengan Suho. Laki-laki berjas hitam itu menge-cek satu persatu ruang kelas tiga dan dia langsung tersenyum manis begitu mendapati seorang yeoja dengan rambut lurus yang digerai dan poni tebalnya sedang membolak-balik komik.
Tanpa tedeng aling-aling, Suho memasuki kelas. Jeritan lirih terdengar bersahutan dari mulut para siswi begitu tahu Suho sedang menatap Nayoung. Kemudian namja itu menapakkan tangannya keatas bangku sambil memanggil nama gadis itu.
“Nayoung.” panggilnya.
Nayong mengangkat kepala dan langsung terjungkal ke sandaran kursi begitu mendapati ‘pacarnya’ disana. mata gadis itu membulat maksimal. Dia sangat tidak menduga bila Suho benar-benar akan datang kemari. Ini masih jam sekolah =o=
“Yak, apa yang kau lakukan disini?” Nayong berbisik sambil melirik sekitar yang riuh akan celotehan teman-temannya. Kini mereka berdua sedang menjadi topik utama.
Suho tersenyum.
“Menjemputmu.” jawabnya enteng.
“Mwo?” alis Nayong berkerut seketika. Apakah dia sedang bercanda?
“Ayo ikut aku.” Suho menggenggam tangan kanan Nayong dan hal itu berhasil membuat si yeoja mati-matian melepaskan tangannya. Apakah Suho tidak mengerti? Dia sudah membuat Nayong malu dihadapan teman-temannya. Apa kata yang lain jika hal ini diketahui guru?
“Aku tidak bisa. Aku harus sekolah.”
“Kita bisa tunda sekolahnya.”
“Apa?”
“Ayolah... aku sangat membutuhkanmu.” namja itu mulai memohon.
“Tapi aku... aku minta sekarang kau pergi dari sini. Aku tidak bisa pergi ketika jam sekolah.” nada bicara Nayong meninggi sampai-sampai hiruk pikuk dikelas itu tergatikan dengan kesunyian dalam sekejap.
Suho dan Nayong berpandangan lama.
“Kau bisa. Ayo.” Suho meraih tangan gadis itu lagi dan kini sukses membawa tubuh kecil Nayoung ikut bersamanya.
“Suho Oppa...” bisik Nayoung ketika mereka menyusuri lorong dan mendapat tatapan penasaran dari seluruh siswa maupun siswi.
Suho hanya diam dan terus menarik lengan Nayoung tanpa ampun. Dia sangat membutuhkan gadis itu sekarang.
Dan,
Dari sudut pandangnya Nayong melihat seorang gadis dengan pawakan tinggi dan rambut bergelombang tengah memandanginya dengan mata berkilat tajam. Krystal. Mungkin gadis itu juga penasaran siapakah namja tampan yang sedang menarik paksa Nayoung.
Mulai saat itulah, Nayoung menyadari bila membolos pelajaran sekali saja bukan hal yang buruk. Apalagi Suho yang membawanya. Dia bisa bermain api dengan Krystal. Haha, ya...! Seru sekali membuat Krystal jengkel.
Marriage With A Boss
Nayoung’s POV
“Apa yang terjadi sampai-sampai kau menjemputku seperti ini? Apa kau tidak lihat bagaimana teman-teman memandangiku tadi? Itu sangat memalukan?” aku melipat tangan sambil mengerucutkan bibir dengan sebal. Suho melirikku dengan segala kesempurnaan yang ada dalam dirinya. Dia tampak begitu sempurna dengan jas abu-abu gelap dan dasi hijau yang dia kenakan. Dan itu semua membuatku bertanya-tanya sebenarnya berapakah usia namja ini.
“Kau akan tahu nanti.” sudut bibir Suho terangkat sebelah dan perlu kuakui itu terlihat sangat menawan.
“Huffft...” aku menghembuskan nafas sambik membuang muka kejendela. Semoga saja teman-teman tidak terlalu kejam padaku dan melaporkan ini kepala Nyonya Ah –Guru Konseling- yang menjengkelkan itu. Namun harapan untuk selamat dari wanita tua itu hanya sekitar sepuluh perseribu -,,-. Perlu kuingatkan lagi, aku tidak punya teman yang dekat dan mungkin bisa menyembunyikan aibku. Mereka semua hanya sekedar kenalan dan teman yang sama-sama menghirup udara yang sama dalam sebuah ruangan kelas. Tidak lebih. Jadi, kurasa besok aku harus mengenakan masker dan pura-pura terbatuk untuk kabur ke ruang UKS. Yah, satu-satunya cara lolos dari hukuman mengelilingi lapangan kasti adalah sakit -,,-.
“Kita sampai.” Suho menginjak rem dengan tiba-tiba sehingga membuat tubuh kerempengku sedikit terhuyung kedepan. Kenapa sudah sampai? -..- Apakah karena aku yang terlalu lama melamun ya?
“Eh?” aku terbingung.
“Ayo turun! Kita tidak punya banyak waktu!” dia keluar terlebih dahulu.
Kulongokkan kepalaku keluar jendela dan berusaha mengintip tempat macam apa yang membuatnya harus menculikku dan membawaku kesana. Tidak! Kumohon! Kuharap aku tidak salah lihat!
Itu adalah sebuah salon mewah yang biasa dikunjungi yeoja-yeoja papan atas disekolahanku. Dulu aku sangat ingin pergi dan merawat kuku disana sebelum aku mengenal Kyistal yang ternyata juga sering kesitu. -,,-
Jadi hari ini aku akan ditraktir perawatan oleh Suho begitu? Kuharap ini bukan mimpi! ^-^ Tapi mengapa dia membawaku kesana?
‘Brak!’ tiba-tiba jendela kaca disampingku bergebum. Dan ketika aku menoleh tampaklah wajah putih Suho menempel di kaca seperti ikan pari. Dia meneriakiku dari luar untuk segera keluar. Oh bodoh! Kenapa aku melamun terus? >,,<
Kami memasuki tempat berbau wangi itu. Bisa kuhirup aroma hairspray rasa mint yang menguap kemana-mana dan parfum mahal. Ini semua bagaikan surga untukku. Orang tuaku saja tidak pernah membawaku ketempat semacam ini, dan Suho... padahal kami baru saja berkenalan kemarin -,,-
Aku yang masih mengenakan seragam kotak-kotak hijau tua hanya mampu mengekor dibelakang Suho, berharap seorang guru tidak sedang datang kemari lalu meneriakiku ‘Hei! Bukannya kamu siswa Deok Chang?’ lalu semuanya akan menoleh padaku dan melaporkanku pada Nyonya Ah. Okey, hentikan! Itu sangat memalukan.
“Bersihkan gadis ini.” ujar Suho terdengar penuh wibawa kepala seorang yeoja yang memiliki tahi lalat besar diujung hidungnya. Dan sekilas, hal itu mengingatkanku pada kotak makan Jin Hyun –temanku- yang bergambar Mickey Mouse. -,,-
“Pastikan tidak ada setitik nodapun di kukunya, dan.... berikan dia dress.” tambah namja itu sambil melirikku. Aku menunduk seperti seorang adik yang patuh. Semoga saja yeoja pelayan berhidung Mickey Mouse itu tidak befikir bila aku ini kekasihnya.
“Baiklah Tuan,” dia membungkuk dengan sopan.
“Aku akan menunggu, kuharap ini semua bisa selesai kurang dari tigapuluh menit.” ucap Suho sambil melihat arloji besarnya yang sempat kukagumi dan kutafsirkan berapa harganya. -..-
“Mari Nona.”
Kemudian wanita tersebut menggiringku paksa kesebuah ruangan dibalik gordain gambar bunga-bunga.
Marriage With A Boss
Dan sekarang.
Aku hampir tidak percaya bila gadis yang sedang berdiri dipantulan cermin itu adalah sosokku sekarang. Aku dengan rambut kecokelatan dan rambut lurus dengan poni indah yang melengkung secara serempak menyembunyikan dahiku. Inikah aku? Nayoung?
Aku tidak memakai make up. Hanya dibersihkan dan dilapisi bedak tipis dan lipbalm. Yah, dandanan sewajarnya namun sudah membuatku terlihat lebih bersinar.
Haha. Lucu sekali. Diriku yang kumal dengan dandanan serba tidak rapi itu hilang seketika usai limabelas menit berada dibalik gordain –motif bunga-bunga- lalu keluar lagi dengan penampilan bak puteri raja. Ini seperti ketok magic.
“Anda bisa keluar sekarang Nona.” ucap wanita pelayan bertahilalat tadi. Aku membungkuk dan berterimakasih. Kemudian melangkah dengan bimbang menemui Suho Oppa. Masih baik wanita tadi tidak memberiku sepatu hak. Karena memang aku bukan yeoja penggila dandan yang akrab dengan sepatu mewah berhak tinggi. -,,-
“Oppa.” panggilku lirih. Suho Oppa tersenyum begitu mendapati diriku yang sudah berdiri beberapa meter dari tempatnya menunggu. Alis namja itu terangkat dan kedua bola mata jernihnya seolah berkata ‘Jangan katakan kalau dirinya Nayong!’. Aku segera membalas senyumannya dan berjalan dengan malu-malu mendekat.
“Aku cantik?” tanyaku dengan nada yang seakan haus pujian -,,- ayolah! Aku sangat ingin mendengar kata-kata itu darinya.
Suho Oppa berdiri dan mendekatiku. Senyum ala pangeran itu terus terpajang disana. Dia membuka mulu dan kuharap itu sebuah kalimat pujian. “Nayoung, akhirnya selesai juga! Kau tidak tahu seberapa lama aku menunggumu!” ujarnya.
‘Blaaam!!’ petir langsung menyambarku begitu saja. Tidak bisakah dia memujiku. Aku sudah siap menerima pujian dan ungkapan darinya. Tapi mengapa itu yang dia ucapkan. -___- Untuk sesaat aku sangat kecewa.
“Ayo pergi! Aku sudah membayar salon. Kita harus menemui Omoni dan Aboji segera!” Suho Oppa menarik tanganku paksa. Apa katanya Omoni? Aboji? Orang tuanya? Jadi aku-
“Tunggu, jadi kita-“
“Ne.” jawabnya sebelum aku merampungkan ucapan. Ini pertama kalinya dia bersikap tidak sopan pada orang. Sepenting itukah acara pertemuan ini? Kenapa sangat tiba-tiba? Aku bahkan belum belajar apa-apa kan? Ottokhae?
“Kau benar-benar akan membawaku ke orang tuamu? Jangan bergurau.”
“Pernahkan aku bergurau? Bisakah kau cepat sedikit? Mereka sudah menunggu dirumahku. Nanti kau akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Mwo?
Sesaat kutatap punggung ratanya yang kian menjauh dan sedetik kemudian aku sadar bila ini semua juga karena kesalahanku. Jadi, baiklah. Aku akan ikuti apa saja yang dia minta.
Marriage With A Boss
Kami sampai disebuah rumah megah sebesar monster. Terasnya yang begitu luas mengingatkanku pada sebuah dongeng yang pernah kubaca diperpustakaan ketika aku masih setinggi satu setengah meter. Dongeng tentang kerajaan. Aku masih ingat persis deskripsi singkat tentang bentuk istananya, dan kurang lebih seperti itulah rumah monster ini.
Jendelanya begitu banyak dan luas membuatku berfikir butuh berapa pembantu untuk membersihkannya. Belum lagi rerumputan dan porselinnya. Pasti sangat banyak pelayan yang dipekerjakan disini.
Suho menggenggam pergelangan tanganku hingga bisa kurasakan tangannya yang berkeringat dingin.  Namja ini terus menarikku melewati jalur di pekarangannya yang bersih. Dia menggenggamku begitu kuat seakan-akan aku ini hewan peliharaan yang bisa kabur kapan saja. =o=
Aku semakin gugup. Apa yang harus kukatakan pada orang tua nya? Aku belum mempelajari apapun. Ini bagaikan sebuah kejutan.

To be continued…
Gomawo udah baca ne~ mian banget author ga bisa lepas dari yang namanya typo.

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei