Tuesday, November 12, 2013

FF Green Blossom Chapter 2

Posted by Unknown at 7:07 AM


Green Blossom
CHAPTER 2

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and Go Nahyun (OC)
                                                 Genre : Romance, sadness, angst
Rate : PG-14
Lenght : TWOSHOOT
DESCLIMER : No bash! No free copast! And enjoy this story.
—ooo—
Inilah kehidupan baruku. Kehidupanku sebagai seorang isteri. Appa dan Eomma Baekhyun membelikan kami sebuah rumah kecil yang amat manis dengan sepetak taman bunga berukuran minimalis yang cukup untuk sebuah pohon apel dan beberapa pot anggrek. Kami menikmati kehidupan ini. Dalam arti pura-pura menikmatinya dan akan bersikap harmonis didepan orang tua kami lalu kembali dalam kecanggungan setiap mereka tidak berada dihadapan kami. Menyedihkan memang. Sangat menyedihkan.
Sudah satu bulan aku berumah tangga dengannya. Baekhyun namja yang sangat baik dan perhatian. Dia selalu berusaha mengakrabkan diri denganku dan sering kali mengajakku minum teh sambil mengobrol. Tetapi, betapa bodohnya aku. Akulah yang menyababkan semua itu berantakan. Aku selalu menolak dan merasa tidak biasa –atau tidak mampu menyesuaikan diri- dengan statusku sekarang. Bayang-bayang masa lalu yang lebih bersinar terang dibanding sekarang selalu membuatku menangis sendirian dikamar mandi sambil mengguyur tubuhku yang kecil gemetar. Dan pada saat itu juga Baekhyun mendobrak pintu lalu memelukku erat-erat. Dia selalu menyediakan bahunya untuk tempat kepalaku bersandar dan membiarkan air mataku tumpah membasahi kemejanya tanpa dia peduli. Dia sangat manis padaku. Namun, salahkan aku yang begitu kepala batu dan berhati es. Aku egois, aku isteri yang buruk.
Baekhyun mematikan keran shower yang tengah mengguyur tubuhku yang masih lengkap berpakaian lalu dia menyampirkan handuk kepundakku. Sungguh, wanita mana yang tidak merasa beruntung memiliki suami seperti Baekhyun? Apakah hanya aku yang tega menolak ini semua? Kehidupan serba kecukupan dengan rumah tangga harmonis oleh seorang suami yang amat perhatian padamu. Ya, aku. Kurasa hanya aku yang begitu besar kepala untuk menampik segala kenikmatan itu. Karena masih ada seseorang dimasa lalu yang harus kusapa dan membutuhkanku –dan aku sangat sangat sangat membutuhkannya pula. Ini semua terasa seperti perjalanan seseorang dari Asia ke Eropa dan seseorang itu meninggalkan dompetnya di Asia dan tidak ada kemungkinan untuk mendapatkannya lagi. Miris bukan? Haha, kadang aku suka menertawai kisah sedihku sendiri.
Air mata terus saja berjatuhan. Aku sendiri heran mengapa bukan darah yang keluar dari mataku karena terlalu sering menangis. Meskipun begitu Baekhyun tidak pernah melarangku untuk menangis. Aku memang telah menceritakan semuanya padanya. Tentang Chanyeol dan hubungan kami yang bagai tidak mampu terpisahkan oleh apapun, tentang janji kami itu, dan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Baekhyun hanya tersenyum prihatin sambil mengelus punggungku lembut. Dia adalah seorang sahabat yang sangat baik. Dia juga telah bercerita tentang kehidupannya sejak kecil yang selalu dipaksa oleh orang tuanya. Tidak boleh mencintai seorang gadispun dan harus menikah sengan wanita pilihan orang tuanya. Terdengar lebih kejam memang, namun betapa kuatnya namja itu, dia masih bisa tersenyum dan menenangkanku sedangkan hatinya sendiri juga tidak tenang.
Sering kali aku diam-diam pergi ke danau sendirian. Sering kali juga aku melihat Chanyeol disana seorang diri sambil terdiam. Bibirnya pucat dan tampak ekspresi datar diwajahnya. Aku yakin dia sedang memikirkanku. Dan selanjutnya Chanyeol menangis dalam kesunyian danau. Hanya ada ilalang yang menamaninya dan suara ranting pohon yang bergesekan karena ditiup angin. Aku khawatir dia sakit. Aku ingin menyapanya dan memeluknya. Aku masih mau merasakan dekapan hangatnya dan lagu-lagu tidur yang sering Chanyeol nyanyikan untukku. Tetapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya berdiri sambil menangis memandangnya dari kejauhan. Tubuhku selalu gemetar dan terdiam. Kugenggam jemariku sendiri yang terasa seperti bongkahan es batu. Seperti ada tali besi yang melilit dadaku hingga kembang kempis. Demi apapun aku ingin disampingnya.
Keesokan harinya lagi, aku kembali ke danau sendirian dengan membawa sebuah payung biru tua. Lagi-lagi aku lihat namja itu. Masih dengan kondisi yang sama seperti kemarin, tetapi kali ini lebih berantakan. Dia terlihat tidak sehat dengan kulit yang menguning pucat. Perasaanku tidak enak. Sampai kapan dia akan terus mengingatku dan tetap seperti ini. Apakah dia tidak tahu bila aku tidak mungkin kembali padanya? Apakah Chanyeol telah benar-benar kehilangan akal sehatnya? Aku terkejut begitu melihat seputung rokok ditangannya. Asap keabu-abuan mengepul dari hidungnya. Seperti inikah dia sekarang? Mengapa jadi begini? Aku tidak melihat pakaian dan tatanan rambut rapi dengan senyuman tampan itu. Dia rapuh sudah. Kemana Chanyeol yang dulu kukenal? Dia tampak bukan Chanyeol. Luka dalam hatiku menganga dan terasa tersiram butiran garam hingga perih. Air mata berlomba-loma keluar dari mataku sampai-sampai aku tidak mampu menyangga berat tubuhku. Aku terhuyung dan terisak berat. Aku tidak mau melihatnya seperti ini. Kuharap ini hanya mimpi buruk yang pernah hadir dalam tidurku. Namun, kenapa ini semua begitu nyata? Kenapa?
Dan ketika aku nyaris ambruk seseorang tengah memelukku erat. Aku hafal sentuhan ini. Baekhyun. Namja itu menatapku gelisah lalu menghapus air mataku. “Nahyun,... aku tahu... selama ini aku tahu bila kau selalu kemari dan melihatnya.” bisik Baekhyun. Aku cukup kaget namun tidak mengeluarkan reaksi apapun. Namja itu merebut payung dalam genggamanku dan memapah diriku untuk menjauh dari sini. “Mengapa kau siksa dirimu Nahyun? Kenapa kau berbohong padaku lalu pergi kemari untuk menemuinya dan selalu pulang dengan kantung mata setebal ini?... Kita...kita bisa bercerai.” kata-kata itu keluar dari bibir Baekhyun. Aku tertegun. Itu ide yang sangat cemerlang, tetapi apakah orang tua kami akan setuju? Pernikahan ini atas dasar paksaan, dan Eomma Appa tidak mungkin setuju bila kami bercerai karena alasan apapun.
Besoknya lagi, aku kembali untuk melihat Chanyeol. Dia sedang berdiri ditepi danau sambil menatap lurus kedepan. Rautnya seperti zombie. Begitu gersang dan dingin. Andai aku bisa pasti aku sudah membuatkannya teh hangat dan mengambilkan selimut untuknya. Air mataku menghambur mengaburkan penglihatan. Kemudian terkuras dan berakhir pada sungai kecil di pipiku.
Chanyeol memejamkan matanya dan itu membuatku semakin fokus mengamatinya. Tubuhnya terayun kecil seperti kain bendera yang berkibar kemudian ambruk seperti sebuah tongkat yang dilempar keatas rumput. Mataku terbelalak. Sebuah suara dalam hatiku berbisik untuk mendekatinya dan aku langsung berlari kearah Chanyeol yang terkapar disana. Aku mencium bau rokok yang khas bercampur dengan bau badannya. Akhirnya aku kembali melihat wajah ini. Wajah orang yang paling kucintai ini. Aku menangis. Dia sudah tidak sadarkan diri dan aku masih menangisinya. Segera kutelepon Baekhyun untuk membawa Chanyeol ke rumah sakit.
—ooo—
Betapa terpukulnya diriku ketika dokter mengatakan bila Chanyeol menderita kanker paru-paru. Aku langsung terjatuh dan berteriak memanggil namanya. Dunia terasa terguncang untuk sesaat. Aku pusing, aku tidak percaya ini adalah sebuah kenyataan. Baekhyun hanya diam mematung dan menunduk, aku yakin dia turut meraskan kesedihanku. Dia sudah tahu segalanya. Semua yang ada disana tercengang melihat rekasiku. Eomma, Appa, Baekhyun, dan Dokter, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani mencegahku untuk tidak berteriak. Hatiku terlanjur sakit. Ini semua terasa membunuhku. Kugeggam lengan Chanyeol yang terbaring di ranjang pasien. Kutenggelamkan kepalaku disana sambil terus memanggil-manggilnya seperti orang gila. Dan sedetik kemudian, kesadaranku menipis hingga aku pingsan tak bisa menahan rasa yang begitu kuat ini.
—ooo—
Pagi telah datang menyadarkanku dari sebuah bayangan abstrak yang tiak bisa kusimpulkan apa itu. Aku telah memimpikan hal yang tidak jelas semalam. Aku celilingan. Tempat ini tidak asing. Aku berada di jok belakang sebuah mobil sendirian. Kubuka pintu yang ternyata tak terkunci. Dan tibalah diriku diparkiran rumah sakit. Ingatan-ingatan memilukan itu langsung kembali. Segera aku berlari ke kamar Chanyeol.
Dan disana tampak kedua orang tuaku dan kedua orang tua Baekhyun. Lalu sepasang suami isteri lagi. Aku kenal mereka walau hanya beberapa kali berjumpa, Eomma dan Appa Chanyeol.
Mereka semua tampak bersedih dan menatapku dengan ekspresi yang tidak mampu kupastikan sedang menandakan apa.
Lalu kualihkan bola mataku pada rajang pasien. Disana. Disana. Namja itu tengah menatapku dengam kedua mata bulatnya yang berkaca-kaca sehingga berkilat. Bibir Chanyeol bergerak menyebut namaku dengan getaran lemah. Air mata berlinang dan terasa hangat di wajahku. Rasa lega, cemas, dan sedih menyatu dalam diri ini. Kuhampiri namja yang lemah itu lalu menggenggam tangannya erat. Chanyeol juga menangis, sama sepertiku, “Na...hy...un....Sa.....rang....ha..e....” ujarnya lirih sampai-sampai aku nyaris tidak mengerti apa yang dia katakan. “Ne Chanyeol-ah...nado...nado saranghae...” balasku berat. Semua beban yang terasa memenuhi paru-paruku bagai rontok berhamburan di lantai menyisakan kelegaan yang luar biasa. Kedua orang tuaku menangis melihat peristiwa ini. Ya. Akhirnya aku bisa membuktikan pada mereka bila Chanyeol memang yang kucintai.
Tangan Chanyeol bergerak lemban menyentuh pipiku yang berair. Menghapur aliran air mata yang kian deras. “U...li...jima...” bisiknya parau. Aku tersenyum dan menyentuh tangan hangat Chanyeol.
Dan baru kusadari bila Baekhyun tidak disini. Aku bertanya pada Eomma Baekhyun.
“Nahyun, sebenarnya Baekhyun.... dia, dia meninggalkan ini untukmu.”
Kuterima sebuah amplop putih dan secepatnya membuka surat. Dadaku naik turun seketika. Mataku bergerak menyisir kata-demia kata terakhir itu.
“Untuk isteriku Nahyun.
Maafkan aku yang telah pergi tanpa meminta izin dahulu padamu. Aku hanya melakukan yang terbaik untukmu. Setiap kali kulihat matamu yang berair dan sembab itu, rasanya sangat tidak tega. Aku hanya ingin membahagiakanmu disisiku, tetapi...ternyata tidak bisa. Kau seorang gadis yang spesial Nahyun. Berterimakasihlah pada orang tuamu karena telah melahirkanmu.
Jadi, kurasa inilah yang mampu kulakukan. Kuharap Chanyeol menjaga kesehatan paru-paruku dalam dirinya.Jangan biarkan dia merokok lagi. Rawatlah suamimu dengan baik Nahyun. Aku tahu dialah yang terbaik dan mampu membuatmu bahagia.
Lalu untukmu, jaga kondisi tubuhmu baik-baik. Jangan suka menangis di kamar mandi lagi. Haha, aku mengingat itu Nahyun. Tapi kurasa tidak akan lagi karena sekarang Chanyeol disana bukan? Kau akan selalu bahagia.
Kau tahu mengapa aku mendonorkan paru-paruku? Kedengerannya sangat lucu ya? Pasti kau bertanya-tanya mengapa sebaik inikah diriku. Selama hidupku aku selalu tertakan dan diatur oleh orang lain. Aku tidak punya cinta. Aku belum pernah mengalaminya dan ingin sekali tahu apa itu cinta. Tetapi usai aku mengenalmu, aku sadar... sedalam itukah makna cinta yang sesungguhnya. Aku hanya ingin menjadikan diriku berguna untuk orang lain.
Tersenyumlah, hanya itu. Berjanjilah padaku agar tidak menangis lagi.
Salam untuk Chanyeol dan kedua orang tuamu.

Yang sekarang telah berbahagia.
Baekhyun”
Lidahku kelu dan gemetaran. Kututupi kedua mulutku dengan tangan. Aku seolah tak percaya akan apa yang baru saja kubaca. Kulirik orang tua Baekhyun yang tengah menangis tersedu-sedu. Lalu melihat Eomma dan Appa. Guncangan dalam dada kembali membuat kakiku bergetar ingin tumbang. Jadi Baekhyun... Aku bahkan tidak kuat mengatakannya walau dalam hati.
Baekhyun telah pergi mendonorkan paru-parunya pada Chanyeol.

THE END

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei