Green
Blossom
CHAPTER
2
Cast
: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and Go Nahyun (OC)
Genre
: Romance, sadness, angst
Rate
: PG-14
Lenght
: TWOSHOOT
DESCLIMER
: No bash! No free copast! And enjoy this story.
—ooo—
Inilah
kehidupan baruku. Kehidupanku sebagai seorang isteri. Appa dan Eomma Baekhyun
membelikan kami sebuah rumah kecil yang amat manis dengan sepetak taman bunga
berukuran minimalis yang cukup untuk sebuah pohon apel dan beberapa pot
anggrek. Kami menikmati kehidupan ini. Dalam arti pura-pura menikmatinya dan
akan bersikap harmonis didepan orang tua kami lalu kembali dalam kecanggungan
setiap mereka tidak berada dihadapan kami. Menyedihkan memang. Sangat
menyedihkan.
Sudah
satu bulan aku berumah tangga dengannya. Baekhyun namja yang sangat baik dan
perhatian. Dia selalu berusaha mengakrabkan diri denganku dan sering kali
mengajakku minum teh sambil mengobrol. Tetapi, betapa bodohnya aku. Akulah yang
menyababkan semua itu berantakan. Aku selalu menolak dan merasa tidak biasa
–atau tidak mampu menyesuaikan diri- dengan statusku sekarang. Bayang-bayang
masa lalu yang lebih bersinar terang dibanding sekarang selalu membuatku
menangis sendirian dikamar mandi sambil mengguyur tubuhku yang kecil gemetar.
Dan pada saat itu juga Baekhyun mendobrak pintu lalu memelukku erat-erat. Dia
selalu menyediakan bahunya untuk tempat kepalaku bersandar dan membiarkan air
mataku tumpah membasahi kemejanya tanpa dia peduli. Dia sangat manis padaku.
Namun, salahkan aku yang begitu kepala batu dan berhati es. Aku egois, aku
isteri yang buruk.
Baekhyun
mematikan keran shower yang tengah mengguyur tubuhku yang masih lengkap
berpakaian lalu dia menyampirkan handuk kepundakku. Sungguh, wanita mana yang tidak
merasa beruntung memiliki suami seperti Baekhyun? Apakah hanya aku yang tega
menolak ini semua? Kehidupan serba kecukupan dengan rumah tangga harmonis oleh
seorang suami yang amat perhatian padamu. Ya, aku. Kurasa hanya aku yang begitu
besar kepala untuk menampik segala kenikmatan itu. Karena masih ada seseorang
dimasa lalu yang harus kusapa dan membutuhkanku –dan aku sangat sangat sangat
membutuhkannya pula. Ini semua terasa seperti perjalanan seseorang dari Asia ke
Eropa dan seseorang itu meninggalkan dompetnya di Asia dan tidak ada
kemungkinan untuk mendapatkannya lagi. Miris bukan? Haha, kadang aku suka
menertawai kisah sedihku sendiri.
Air
mata terus saja berjatuhan. Aku sendiri heran mengapa bukan darah yang keluar
dari mataku karena terlalu sering menangis. Meskipun begitu Baekhyun tidak
pernah melarangku untuk menangis. Aku memang telah menceritakan semuanya
padanya. Tentang Chanyeol dan hubungan kami yang bagai tidak mampu terpisahkan
oleh apapun, tentang janji kami itu, dan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengannya. Baekhyun hanya tersenyum prihatin sambil mengelus
punggungku lembut. Dia adalah seorang sahabat yang sangat baik. Dia juga telah
bercerita tentang kehidupannya sejak kecil yang selalu dipaksa oleh orang
tuanya. Tidak boleh mencintai seorang gadispun dan harus menikah sengan wanita
pilihan orang tuanya. Terdengar lebih kejam memang, namun betapa kuatnya namja
itu, dia masih bisa tersenyum dan menenangkanku sedangkan hatinya sendiri juga
tidak tenang.
Sering
kali aku diam-diam pergi ke danau sendirian. Sering kali juga aku melihat
Chanyeol disana seorang diri sambil terdiam. Bibirnya pucat dan tampak ekspresi
datar diwajahnya. Aku yakin dia sedang memikirkanku. Dan selanjutnya Chanyeol
menangis dalam kesunyian danau. Hanya ada ilalang yang menamaninya dan suara
ranting pohon yang bergesekan karena ditiup angin. Aku khawatir dia sakit. Aku
ingin menyapanya dan memeluknya. Aku masih mau merasakan dekapan hangatnya dan
lagu-lagu tidur yang sering Chanyeol nyanyikan untukku. Tetapi apa yang bisa
kulakukan? Aku hanya berdiri sambil menangis memandangnya dari kejauhan.
Tubuhku selalu gemetar dan terdiam. Kugenggam jemariku sendiri yang terasa
seperti bongkahan es batu. Seperti ada tali besi yang melilit dadaku hingga
kembang kempis. Demi apapun aku ingin disampingnya.
Keesokan
harinya lagi, aku kembali ke danau sendirian dengan membawa sebuah payung biru
tua. Lagi-lagi aku lihat namja itu. Masih dengan kondisi yang sama seperti
kemarin, tetapi kali ini lebih berantakan. Dia terlihat tidak sehat dengan
kulit yang menguning pucat. Perasaanku tidak enak. Sampai kapan dia akan terus
mengingatku dan tetap seperti ini. Apakah dia tidak tahu bila aku tidak mungkin
kembali padanya? Apakah Chanyeol telah benar-benar kehilangan akal sehatnya?
Aku terkejut begitu melihat seputung rokok ditangannya. Asap keabu-abuan
mengepul dari hidungnya. Seperti inikah dia sekarang? Mengapa jadi begini? Aku
tidak melihat pakaian dan tatanan rambut rapi dengan senyuman tampan itu. Dia
rapuh sudah. Kemana Chanyeol yang dulu kukenal? Dia tampak bukan Chanyeol. Luka
dalam hatiku menganga dan terasa tersiram butiran garam hingga perih. Air mata
berlomba-loma keluar dari mataku sampai-sampai aku tidak mampu menyangga berat
tubuhku. Aku terhuyung dan terisak berat. Aku tidak mau melihatnya seperti ini.
Kuharap ini hanya mimpi buruk yang pernah hadir dalam tidurku. Namun, kenapa
ini semua begitu nyata? Kenapa?
Dan
ketika aku nyaris ambruk seseorang tengah memelukku erat. Aku hafal sentuhan
ini. Baekhyun. Namja itu menatapku gelisah lalu menghapus air mataku.
“Nahyun,... aku tahu... selama ini aku tahu bila kau selalu kemari dan
melihatnya.” bisik Baekhyun. Aku cukup kaget namun tidak mengeluarkan reaksi
apapun. Namja itu merebut payung dalam genggamanku dan memapah diriku untuk
menjauh dari sini. “Mengapa kau siksa dirimu Nahyun? Kenapa kau berbohong
padaku lalu pergi kemari untuk menemuinya dan selalu pulang dengan kantung mata
setebal ini?... Kita...kita bisa bercerai.” kata-kata itu keluar dari bibir Baekhyun.
Aku tertegun. Itu ide yang sangat cemerlang, tetapi apakah orang tua kami akan
setuju? Pernikahan ini atas dasar paksaan, dan Eomma Appa tidak mungkin setuju
bila kami bercerai karena alasan apapun.
Besoknya
lagi, aku kembali untuk melihat Chanyeol. Dia sedang berdiri ditepi danau
sambil menatap lurus kedepan. Rautnya seperti zombie. Begitu gersang dan
dingin. Andai aku bisa pasti aku sudah membuatkannya teh hangat dan mengambilkan
selimut untuknya. Air mataku menghambur mengaburkan penglihatan. Kemudian
terkuras dan berakhir pada sungai kecil di pipiku.
Chanyeol
memejamkan matanya dan itu membuatku semakin fokus mengamatinya. Tubuhnya
terayun kecil seperti kain bendera yang berkibar kemudian ambruk seperti sebuah
tongkat yang dilempar keatas rumput. Mataku terbelalak. Sebuah suara dalam
hatiku berbisik untuk mendekatinya dan aku langsung berlari kearah Chanyeol
yang terkapar disana. Aku mencium bau rokok yang khas bercampur dengan bau
badannya. Akhirnya aku kembali melihat wajah ini. Wajah orang yang paling
kucintai ini. Aku menangis. Dia sudah tidak sadarkan diri dan aku masih
menangisinya. Segera kutelepon Baekhyun untuk membawa Chanyeol ke rumah sakit.
—ooo—
Betapa
terpukulnya diriku ketika dokter mengatakan bila Chanyeol menderita kanker
paru-paru. Aku langsung terjatuh dan berteriak memanggil namanya. Dunia terasa
terguncang untuk sesaat. Aku pusing, aku tidak percaya ini adalah sebuah
kenyataan. Baekhyun hanya diam mematung dan menunduk, aku yakin dia turut
meraskan kesedihanku. Dia sudah tahu segalanya. Semua yang ada disana
tercengang melihat rekasiku. Eomma, Appa, Baekhyun, dan Dokter, tetapi tidak
ada satupun dari mereka yang berani mencegahku untuk tidak berteriak. Hatiku
terlanjur sakit. Ini semua terasa membunuhku. Kugeggam lengan Chanyeol yang
terbaring di ranjang pasien. Kutenggelamkan kepalaku disana sambil terus
memanggil-manggilnya seperti orang gila. Dan sedetik kemudian, kesadaranku
menipis hingga aku pingsan tak bisa menahan rasa yang begitu kuat ini.
—ooo—
Pagi
telah datang menyadarkanku dari sebuah bayangan abstrak yang tiak bisa
kusimpulkan apa itu. Aku telah memimpikan hal yang tidak jelas semalam. Aku
celilingan. Tempat ini tidak asing. Aku berada di jok belakang sebuah mobil
sendirian. Kubuka pintu yang ternyata tak terkunci. Dan tibalah diriku
diparkiran rumah sakit. Ingatan-ingatan memilukan itu langsung kembali. Segera
aku berlari ke kamar Chanyeol.
Dan
disana tampak kedua orang tuaku dan kedua orang tua Baekhyun. Lalu sepasang
suami isteri lagi. Aku kenal mereka walau hanya beberapa kali berjumpa, Eomma
dan Appa Chanyeol.
Mereka
semua tampak bersedih dan menatapku dengan ekspresi yang tidak mampu kupastikan
sedang menandakan apa.
Lalu
kualihkan bola mataku pada rajang pasien. Disana. Disana. Namja itu tengah
menatapku dengam kedua mata bulatnya yang berkaca-kaca sehingga berkilat. Bibir
Chanyeol bergerak menyebut namaku dengan getaran lemah. Air mata berlinang dan
terasa hangat di wajahku. Rasa lega, cemas, dan sedih menyatu dalam diri ini.
Kuhampiri namja yang lemah itu lalu menggenggam tangannya erat. Chanyeol juga
menangis, sama sepertiku, “Na...hy...un....Sa.....rang....ha..e....” ujarnya
lirih sampai-sampai aku nyaris tidak mengerti apa yang dia katakan. “Ne
Chanyeol-ah...nado...nado saranghae...” balasku berat. Semua beban yang terasa
memenuhi paru-paruku bagai rontok berhamburan di lantai menyisakan kelegaan
yang luar biasa. Kedua orang tuaku menangis melihat peristiwa ini. Ya. Akhirnya
aku bisa membuktikan pada mereka bila Chanyeol memang yang kucintai.
Tangan
Chanyeol bergerak lemban menyentuh pipiku yang berair. Menghapur aliran air
mata yang kian deras. “U...li...jima...” bisiknya parau. Aku tersenyum dan
menyentuh tangan hangat Chanyeol.
Dan
baru kusadari bila Baekhyun tidak disini. Aku bertanya pada Eomma Baekhyun.
“Nahyun,
sebenarnya Baekhyun.... dia, dia meninggalkan ini untukmu.”
Kuterima
sebuah amplop putih dan secepatnya membuka surat. Dadaku naik turun seketika.
Mataku bergerak menyisir kata-demia kata terakhir itu.
“Untuk isteriku Nahyun.
Maafkan aku yang telah pergi
tanpa meminta izin dahulu padamu. Aku hanya melakukan yang terbaik untukmu.
Setiap kali kulihat matamu yang berair dan sembab itu, rasanya sangat tidak
tega. Aku hanya ingin membahagiakanmu disisiku, tetapi...ternyata tidak bisa.
Kau seorang gadis yang spesial Nahyun. Berterimakasihlah pada orang tuamu
karena telah melahirkanmu.
Jadi, kurasa inilah yang mampu
kulakukan. Kuharap Chanyeol menjaga kesehatan paru-paruku dalam dirinya.Jangan
biarkan dia merokok lagi. Rawatlah suamimu dengan baik Nahyun. Aku tahu dialah
yang terbaik dan mampu membuatmu bahagia.
Lalu untukmu, jaga kondisi
tubuhmu baik-baik. Jangan suka menangis di kamar mandi lagi. Haha, aku
mengingat itu Nahyun. Tapi kurasa tidak akan lagi karena sekarang Chanyeol
disana bukan? Kau akan selalu bahagia.
Kau tahu mengapa aku mendonorkan
paru-paruku? Kedengerannya sangat lucu ya? Pasti kau bertanya-tanya mengapa
sebaik inikah diriku. Selama hidupku aku selalu tertakan dan diatur oleh orang
lain. Aku tidak punya cinta. Aku belum pernah mengalaminya dan ingin sekali
tahu apa itu cinta. Tetapi usai aku mengenalmu, aku sadar... sedalam itukah
makna cinta yang sesungguhnya. Aku hanya ingin menjadikan diriku berguna untuk
orang lain.
Tersenyumlah, hanya itu.
Berjanjilah padaku agar tidak menangis lagi.
Salam untuk Chanyeol dan kedua
orang tuamu.
Yang sekarang telah berbahagia.
Baekhyun”
Lidahku
kelu dan gemetaran. Kututupi kedua mulutku dengan tangan. Aku seolah tak
percaya akan apa yang baru saja kubaca. Kulirik orang tua Baekhyun yang tengah
menangis tersedu-sedu. Lalu melihat Eomma dan Appa. Guncangan dalam dada
kembali membuat kakiku bergetar ingin tumbang. Jadi Baekhyun... Aku bahkan
tidak kuat mengatakannya walau dalam hati.
Baekhyun
telah pergi mendonorkan paru-parunya pada Chanyeol.
THE
END

0 comments:
Post a Comment