Sunday, November 10, 2013

FF Green Blossom CHAPTER 1

Posted by Unknown at 11:52 PM


Green Blossom


CHAPTER 1

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and Go Nahyun (OC)
                                                 Genre : Romance, sadness, angst
Rate : PG-14
Lenght : TWOSHOOT
DESCLIMER : No bash! No free copast! And enjoy this story.
—ooo—
Mentari di sore itu begitu hangat. Cahaya oranye yang cemerlang tampak jatuh melebur bercampur dengan semburat keunguan di dasar lagit. Warna-warna itu, entah mengapa terlihat begitu indah. Udara terasa membelai lembut kulitku. Angin danau terasa berlomba-lomba menerjang tubuh kecilku dan menerbangkan beberapa helai rambut. Kedua bola mataku masih terfokus pada pusat titik benderang disana, tepat dimana sang penguasa pagi akan terbenam dan menyisakan keheningan dalam gelapnya malam.
Kusandarkan tubuh lunglaiku disebuah batang pohon yang berkulit kasar namun cukup nyaman. Sebuah tangan besar meraih pergelangan tanganku dengan perlahan menggenggamku begitu lembut. Sendi-sendi tanganku terasa melentur begitu kulit kami saling bertemu. Aku selalu nyaman dengan situasi seperti ini. Si pemilik tangan itu memalingkan kepala lalu tersenyum padaku. Senyuman manisnya yang terasa menyalakan api dalam jiwa dan membuat bongkahan es dalam diriku meleleh mencair. Sudut bibirku tertarik keatas dan membalas dengan sebuah senyuman manis. Sudah tiga tahun kami bersama namun senyuman namja itu tetap kukagum-kagumkan seolah aku baru memilikinya kemarin. Kutaruh kepalaku yang berat keatas bahu ratanya. Kucium aroma tubuh namja itu dengan indera penciumanku yang sudah kenal betul dengan aroma tubuhnya. Kupejamkan kedua mataku untuk menikmati betapa menenangkannya aroma namja ini. Bagitu maskulin.
“Matahari akan terbenam.” ucap Chanyeol dengan suara beratnya yang bahkan tidak kuketahui asal-usulnya. Bibir Chanyeol berwarna merah muda bening. Dia tidak pernah merokok, menyentuh batang rokok saja aku tidak pernah mendapatinya.
Aku tidak menjawab. Hanya membuka mata dan memutar tulang leherku sedikit untuk menatap detik-detik menjelang malam tiba.
Disinilah kami berada. Disebuah tepi danau yang sepi dan tenang. Hanya ada rumput liar dan sebuah batang pohon tua sebagai tempat punggung kami beristirahat. Juga disalah satu tepi danau disana, ada sebuah perahu rakit yang dibuat Chanyeol sendiri. Tidak, kami-lah yang membuatnya –tepatnya. Karena aku sedikit menyumbangkan tenaga untuk mencari batang-batang kayu dan mengumpulkannya.
Ini seperti surga kami.
Ini adalah tempat pertama pertemuan kami.
Ini merupakan lokasi dimana aku mengungkapkan perasaanku dan dia mengangguk menyetujui hubungan kami.
Hingga pada akhirnya, disinilah latar belakang kebersamaan kami selama tiga tahun. Danau yang tenang dengan tetumbuhan liar dan sebatang pohon adalah wilayah favorit kami. Selalu disini. Kami tidak pernah bosan. Tidak ada orang lain yang dapat menganggu aku dan Chanyeol.
Dan disinilah kami berdua saling berucap janji untuk selalu bersama hingga rambut kami memutih nanti. Hingga kulit kami berupa lapisan tipis yang rawan dan sampai tulang punggung kami membungkuk. Kami berjanji untuk terus bergandengan tangan dengan sebuah ikatan dimana siapapun tidak mampu mengganggu gugat. Yaitu cinta.
Aku tahu dia sangat mencintaiku, dan dia tahu aku sangat mencintainya walau kami berdua tidak pernah mengutarakan hal itu satu sama lain. Kami hanya bersahabat sekaligus mencintai. Ini bukan masalah romantis atau harta yang kami punya, tetapi perasaan yang mendesak kami agar terus bersama tanpa peduli urusan dunia yang lain.
Chanyeol menatapku datar usai malam telah datang. Ini tanda bila kami sudah waktunya untuk berpisah. Aku mengangkat dan menegakkan lagi leherku.
“Mau kuantar?” tanyanya.
“Tidak, aku bisa berjalan sendiri. Kau tahu kan, rumahku tidak jauh.” balasku lirih.
Dan namja itu mengecup keningku sejenak lalu tersenyum manis. Sebuah cekungan kecil di pipinya mengingatkanku pada ibuku yang memilikinya juga. Ibu yang sekarang sudah berselimutkan awan di kehidupan kedua di atas langit. Inilah yang kusukai dari Chanyeol. Dia seperti ibuku. Seseorang kedua yang paling mengerti diriku. Dan aku sangat bersyukur menemukannya dan kumiliki. Chanyeol bagaikan wujud laki-laki dari ibuku. Mereka berdua memiliki kepribadian yang begitu mirip.
Namja itu mengacak poniku lalu bangkit dan mengambil sepedanya. Dia tersenyum dan melambai. Aku membalas senyuman itu lagi dan turut melambai hingga dia berlalu meninggalkanku.
—ooo—
Hingga suatu hari Eomma dan Appa membawaku kesebuah tempat asing yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Eomma? Itu adalah isteri baru Appa. Eomma tiri yang dinikahi Appa satu tahun lalu. Beliau begitu lemah lembut dan pengertian padaku. Aku cukup merasa nyaman dengannya walau sesungguhnya jauh didalam lubuk hatiku yang terdalam nama Eomma tidak bisa tergantikan dengan hal lain yang nyaris sama. Eomma tetaplah Eomma.
Tempat asing yang megah dan sepertinya merupakan bangunan paling besar di jalan ini. Untuk sesaat aku terkagum dengan kemewahan tempat ini. Aku mulai bertanya-tanya sebenarnya siapa yang akan kami temui.
Dan pada akhirnya aku diperkenalkan oleh sebuah keluarga kecil yang tempak harmonis dan kaya. Kami bercakap-cakap tentang diriku. Aku tak tahu mengapa obrolan itu terasa mengupas habis segala sesuatu tentang aku. Aku sebagai topik disini dan jujur saja, sangat tidak nyaman bagiku.
Seorang namja tampak datang diantara kami. Tubuhnya kecil dengan kulit putih bersinar bak tidak pernah tersentuh cahaya matahari sedetikpun. Dia tampak begitu sempurna dan bersih. Kami berdua bersalaman dan kudengar mulut manis namja itu terbuka menyebutkan sebuah nama denga marga Byun. Dia tampak seumuran denganku.
“Baekhyun.” ujarnya lembut. Wajah mungil namja itu begitu mirip dengan Appanya yang tadi juga bertanya-tanya tentang diriku.
Jujur.
Aku merasa ada yang tidak beres disini.
Kami kembali berbincang-bincang dan kali ini Baekhyun ikut membuka mulut dalam obrolan. Terdengar nada bicaranya yang lancar dan terdidik baik. Dalam waktu sesingkat ini aku sudah bisa menyimpulkan jika Baekhyun merupakan namja penyabar dan cerdas. Aku sempat terkagum.
“Jadi kira-kira kapan kita bisa menikahkan mereka?” tanya Appa. Dadaku sesak seketika. Kerongkonganku bagai menyempit dan tidak mengizinkan oksigen masuk ke paru-paru. Apakah aku salah dengar?
“Secepatnya.” balas Tuan Byun dengan sebuah senyuman hangat.
“Kita bisa rencanakan pernikahan mereka mulai sekarang.” tambah Nyonya Byun.
Kurasakan perasaanku pecah menjadi potongan yang kecil-kecil. Aku tidak mampu mengedipkan mata. Aku begitu tercengang akan ini semua. Jadi inikah maksud kedatangan kami dirumah ini? Mereka pikir apa aku ini? Apakah aku hanya sebuah boneka milik Appa dan Eomma yang bisa seenaknya dipermainkan dan dipaksa-paksa? Aku merasa direndahkan dan diperlakukan seperti robot. Lalu bagaimana dengan Chanyeol? Baik aku memang belum pernah menceritakan tentang hubunganku dengan namja lain kepada Appa atau Eomma, namun... tidak begini juga yang harus kuterima. Mereka mempertemukanku dengan seorang namja tak dikenal dan membicarakan tentang pernikahan kami.
Bibirku bergetar dan lidahku terasa beku. Aku gagu dan sulit berkata-kata. “Tapi...” potongku dengan nada yang parau. Seluruh pasang mata langsung menatapku dengan tatapan kaget. Kurasakan air mata sudah membendung dan nyaris tumpah.
“Eomma, Appa, aku tidak bisa.” tambahku dengan suara bergetar. Hatiku menciut bagai kapas yang baru saja disiram air panas.
Aku bangun dari duduk lalu berlari keluar dari rumah itu dengan air mata yang perlahan jatuh tanpa terasa. Pandanganku mengabur sampai aku tidak sadar dan tersandung ketangga. Kudengar langkah Appa dan Eomma yang mengejarku. Kututupi mulutku yang mengeluarkan isakan rendah namun begitu menusuk dalam-dalam ke relung hati. Aku menopang tubuhku lagi dan kembali berlari menjauh. Mereka mengejar sambil terus memanggil-manggil namaku. Aku berlari ke jalan yang sepi itu. Air mata tidak terkontrol dan tertumpahkan hingga seluruh bagian pipiku basah. Wajahku memerah dengan cepat. Rasa panas dalam dada dan perasaan tertekan beradu dalam diriku. Tubuhku terhuyung namun kuteruskan langkah lebarku untuk berlari.
Hingga sebuah tangan menggenggam lenganku begitu kuat.
Appa menatapku dengan tatapan kaku sedingin es batu. “Kau harus menikahinya...”
“Tidak. Aku tidak bisa.”
“Kau tetap harus menikahi Baekhyun.”
—ooo—
Kulangkahkan kakiku menuju danau. Kedua tanganku tergegam erat seolah sedang menggenggam butir-butir kepedihan dan ketidak sanggupan menerima kenyataan ini. Sudah dari tadi air mata kutahan agar tidak keluar membasahi pipi lagi. Tubuhku terasa berat bahkan aku belum pernah merasakan seberat inilah menopang diri sendiri. Terasa ada sejuta kilo beban yang bertengger diatas bahuku yang lemah. Aku sudah menelepon Chanyeol agar datang ke danau sore ini dan membicarakan ini semua.
Sesungguhnya, aku sangat tidak tega mengutarakan tentang perjodohanku. Namun aku dipaksa, ditekan, dituntut untuk mensetujui pernikahan. Aku tak mampu menolak. Aku harus terus menjalani hidup ini walau dengan rasa sakit yang telah berakar dan terasa meremas diri sendiri. Aku harus terus bernafas walau hidup di atas takdir yang sama sekali tidak nyaman kujalani.
Tanpa Chanyeol,
Tanpa namja itu, aku tidak mampu membayangkan apa yang bisa kulakukan seorang diri. Selama ini dialah yang memenuhi hatiku dan membuatku tidak mau jauh darinya. Chanyeol yang mengajariku tentang apa-apa saja yang diriku tidak mengerti. Begitu berat untuk memutuskan hubungan ini. Begitu sakit menyadari bila kami tidak bisa bersama lagi.
Kulihat seorang namja sedang berdiri dan menyandarkan punggung di pohon sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Aku tersenyum pahit melihat namja itu. Entah mengapa nafasku kembali sesak. Aku khawatir tidak mampu bicara dan malah menangis dihadapannya sebelum kujelaskan semua yang ingin kukatakan. Nyaliku terlalu kecil untuk mengatakan ini. Aku takut Chanyeol marah padaku.
“Chanyeol-ah.” aku memanggil.
Chanyeol menoleh dan tersenyum lebar. Senyuman dan tatapan ceria itu terasa menghunusku. Membuatku semakin tidak tega membahas topik utama yang sebelumnya sudah kutata rapih untuk diutarakan. Aku tidak tega menghapus keceriaannya itu. Aku tidak tega memutuskan tali cinta kami yang telah lama tertaut dengan erat seakan permanen ini.
Aku menatapnya dengan datar dan sedikit menunduk. Aku takut dia melihat kantung mataku yang menebal karena menangis semalaman.
“Hey, apa yang kau bawa itu?” dia mengambil setangkai bunga warna kuning yang kugenggam.
“Ini, hanya untukmu.” jawabku lirih dan tersenyum kecil. Chanyeol memutar bunga itu didepan hidungnya. Selanjutnya bibir namja itu kembali memanjang dan melengkung. “Hum, wangi... terimakasih Nahyun.” dia mengelus kepalaku.
“Oh ya, bagamana jika kita bermain rakit lagi? Kau mau kan? Akan kusiapkan rakitnya.” Chanyeol berlalu menuju rakit. Aku segera mengangkat tangan untuk menahannya. Tetapi betapa bodohnya aku. Aku malah terdiam dengan tangan yang masih terulur diudara dan mulut terbuka. Kulihat punggung lebar Chanyeol bergerak menjauh menuju tepi danau. Aku semakin tidak kuat bergerak. Sebutir air mata jatuh dan segera kuhapus.
“Eon Nahyun? Kau kenapa?” ternyata dia menyadari kediamanku yang cukup lama. Chanyeol menatapku kebingungan dan aku masih diam. Tubuhku bergetar dan panas dingin. Aku ingin tersenyum padanya namun tidak mampu. Aku ingin mengucapkan ‘Aku baik-baik saja’ tetapi bibirku hanya mengatup rapat bagai kerang. Aku tidak mampu menyembunyikan reaksi tubuhku yang tidak bisa terkontrol. Dan selanjutnya aku khawatir bila air mataku keluar tanpa kusadar.
Chanyeol melangkah terburu menghampiriku. Aku menunduk karena air mata telah penuh mengisi pelupuk mata. dadaku naik turun karena kesusahan bernafas.
“Nahyun?” Chanyeol bertanya usai menyadari sikap tidak biasaku. Namja itu merendahkan kepala dan mengintip wajahku. Aku semakin tak kuat. Chanyeol kaget melihat air mata berlinang di pipiku. Dan dalam seketika mata Chanyeol berkaca-kaca.
Dulu dia pernah bercerita. Satu-satunya yang membuat dia tidak kuat menahan tangis ialah ketika melihat air mataku. Dan ternyata itu terbukti saat ini.
Tangan kananku terangkat menutupi mulutku yang terisak. Kurasakan jantungku naik hingga menekan paru-paru. Lambungku terasa terkocok dan pikiranku berantakan. Air mata mengalir deras walau kedua kelopak mataku tertutup. Aku menangis dihadapannya.
“Nahyun,” Chanyeol menggenggam bahuku dan mengguncang lirih tubuh lemasku. Suaranya langsung berubah 180 derajad dari tadi. Terdengar gersang dan semakin membangkitkan kobaran api dalam diriku. “Nahyun, katakan padaku apa yang terjadi?” dia mengguncangku lagi sampai-sampai aku ingin terjatuh keatas rumput.
Tetapi apa yang keluar dari mulutku? Aku tidak mampu mengucapkan kata apapun. Hanya tangis, isakan, suara nafasku yang berat.
“Nahyun-ah... katakan padaku.” suara Chanyeol mengecil.
Kukuatkan diri mengangkat wajah dan menatap wajah Chanyeol dengan mata merahku. tampak ekspresi Chanyeol yang jarang kutemui. Matanya bening tertutup air mata yang masih terbendung.
“Kita... kita tidak bisa bersama lagi Chanyeol....” ujarku lirih nyaris tak terdengar olehnya.
Chanyeol langsung terpaku ditempatnya. Dia terkejut bukan main. Dinding jantungku bagai memompa darah lebih cepat dari biasanya. Aku tidak percaya kalimat itu telah keluar dari bibirku sendiri. Sebutir air bening melongsori wajah Chanyeol. Aku ingin mengusap air mata itu tetapi jemariku terlalu berat untuk kubawa kesana. Tubuhku seolah mati rasa. Dan aku ingin mati sekarang.
“Nahyun, apa kau sedang bercanda?” tanyanya lirih dan kulihat ada air mata yang jatuh lagi.
“...Maafkan aku Chanyeol.” jawabku seadanya.
“Tapi, kita sudah berjanji untuk selalu bersama walau sampai matahari tidak terbit lagi Nahyun.” kata-kata itu terasa menendangku hingga melesat ke titik terpanas di dunia ini. “...Kita telah berjanji untuk selalu bergandengan tangan walau kita telah terduduk di kursi roda dan tidak mampu melangkah lagi,” sekali lagi Chanyeol membuatku merasa terlempar.
“Chanyeol.” tangisku pecah. Kuremat rok bagian bawahku untuk menahan diri agar mampu berdiri tegak.
“Kau pernah bilang, kita harus selalu berdua dan menyaksikan matahari terbenam ditempat ini walaupun rambut kita sudah memutih...”
Aku terduduk diatas lutut-lutut lemahku.
“Kau juga berkata, usai kita tiada dan hilang dari bumi ini... kita akan bersama lagi di surga dan merajut hubungan baru disana.”
“Cukup Chanyeol!” bentakku tak kuat.
Chanyeol menatapku balik dengan kedua pipi yang basah sama sepertiku. Kami bertukar pandangan satu sama lain. Saling melihat cerminan kepedihan yang tampak di bola mata kami. Memori-memori indah itu seolah terputar di mata kami.
“Aku akan segera menikah Chanyeol. Dan ini,...” aku mencabut sebuah cincin murahan yang melingkar di jari manisku. Cincin kami berdua. Kugenggam benda itu. “....aku akan membuang ini dari hidupku!” dengan sekuat tenaga kulempar sisa masa lalu itu jauh ketengah danau.
Chanyeol terbelalak tidak percaya. Tubuhku terhuyung lemas seketika. dadaku kembang kempis merasakan betapa sesaknya rasa sakit yang memenuhi dada sampai-sampai tidak ada ruangan kosong untukku bernafas.
Kulihat dia tidak mampu berkata-kata.
Aku merapihkan rok dan berdiri sambil mengusap air mata. “Dan tempat ini. Jangan harap kita bisa bertemu lagi disini. Aku tidak butuh kemari lagi.” aku berlari membawa tubuhku bersama angin yang bertiup. Aku menangisi diri sendiri sambil terus melangkah menjauh.
Suara Chanyeol terdengar memanggilku dan dia mengejarku. Aku mempercepat langkah dan tak mempedulikannya. Tetapi tiba-tiba dia menarik tubuhku hingga jatuh kepelukannya. Hangat sekali. Aku merasa nyaman dan terlindungi. Aku masih ingin merasakan pelukannya. Aku masih mencintainya sepenuh hati dan tidak mau ini berakhir. dan mungkin inilah pelukan terakhir kami.
“Aku tahu itu semua omong kosong Nahyun.”
Aku terisak dan diam didalam dirinya.
“Aku tahu kau masih menginginkanku.”
“Chanyeol....” panggilku.
“Biarkan ini untuk yang terakhir kali.” ucapnya hingga hatiku terasa mencelos panas.
—ooo—
Aku termenung dalam kesendirian. Memeluk kedua lutut dan menyandarkan kepala disana. Tatapanku kosong lurus kedepan. Menyaksikan bagaimana kedua helau gordain warna merah muda melambai-lambai ditiup angin jendela. Aku sengaja tidak menutup jendela. Aku butuh udara. Terlalu banyak menangis membuatku lelah. Terasa seperti ada dua buah kerikil dari neraka yang mengisi dadaku dan semakin menyakitiku setiap aku bergerak. Rasanya berat sekali. Kubenamkan wajahku yang memanas diantara lutut sambil memejamkan mata. Perasaanku berantakan dan aku tidak tahu lagi bagaimana harus menyusunnya kembali. Begitu abstrak dan acak-acakan.
Besok, namja itu, seorang namja yang bahkan baru satu kali kami bertemu. Dia akan datang dengan kedua orang tuanya. Kami akan menikah.
Dan sekarang sudah siang. Aku bahkan bisa menghitung waktu menjelang pesta pernikahan. Kenapa kehidupanku harus begini? Aku tidak ingin ini terjadi. Aku ingin menjadi orang lain yang bukan diriku dan meninggalkan tubuhku dengan segala takdir yang akan kulalui. Aku berharap bisa menjadi orang lain yang bisa mengisi hati Chanyeol kembali dan membuatnya melupakan ‘aku’ diriku.
Kutegakkan kepalaku dan menumpu dagu diatas lutut. Kutatap bayanganku sendiri dicermin besar yang terletak tepat dihadapanku. Nafasku sesak seketika ketika harus mengingat kenyataan mengapa aku harus terlahir didunia ini.
Kulihat seorang gadis disana dengan rambut hitam bergelombang dan poni sedikit acak-acakan dengan lutut terlipat dan mata berkaca-kaca. Dia memiliki mata lebar yang sama seperti ibunya. Lalu gadis itu tersenyum pahit. Gadis itu adalah aku. Bahkan senyumanku sendiri terasa mengiris-iris rasa sakit dan membiarkan beberapa luka yang menganga. Pedih. Hingga pada  ujugnya aku menangis lagi.
Inilah hari terakhirku sebagai seorang gadis. Hari besok aku sudah menyandang gelar baru yaitu seorang isteri. Sebagai seorang isteri namja asing dari sebuah keluarga kaya dengan rumah mewah. Untuk sesaat aku membayangkan andai saja namja yang akan menyanding dan memasang cincin di jari manisku besok adalah Chanyeol. Aku tersenyum sendiri. Air mata kembali berlinang. Namun itu bukanlah dia, bukan namja yang kuharapkan.
Chanyeol.
Mengingat namanya saja membuat saluran air mataku kembali menghangat siap mengeluarkan larva panas dari mata. Kenapa begitu sakit? Mengapa ini harus terjadi ya Tuhan?
Tanganku meremat seprai kuat-kuat, menyalurkan sebuah gelombang emosi yang kian memuncak. Menyesatkanku pada hutan kegelisahan yang tak berujung ini. Andai saja Eomma kandungku tahu bagaimana keadaanku sekarang apa yang akan dia perbuat untukku? Apa yang akan Eomma lakukan bila melihatku menangis seperti ini? Apakah dia tetap tidak peduli seperti Eomma tiri? Apakah dia akan tetap memaksaku menikahi pemuda lain seperti Appa? Aku butuh kehadiran Eomma sekarang juga.
“Eomma....Eomma.....” panggilku dengan isakan rendah.
Kudapati seprai yang semakin kusut namun persetan dengan itu semua. Aku tidak peduli. Aku hanya tidak terima takdirku seperti ini. Aku ingin Chanyeol, namja yang sudah kusakiti usai kebersamaan kami selama tiga tahun.
—ooo—
Pagi yang begitu cerah dengan cahaya matahari yang tidak begitu menyengat. Seseorang sengan jas hitam dan dasi tengah membonceng lenganku dengan langkahnya yang tegap seperti bangsawan. Tubuh kecilku sudah terbalut gaun putih berenda dengan harga yang tidak kuketahui berapa. Sepasang selop putih yang terasa kesempitan membungkus kedua kakiku yang kesulitan melangkah. Dan saat ini dihadapanku tergelar sebuah karpet merah yang disiapkan khusus untukku. Aroma bunga mawar dengan berbagai warna tercium semerbak mengisi area upaca pernikahan-KU. Pernikahanku. Sulit sekali mengeja kata itu.
Kutundukkan kepala karena tidak kuat menatap lurus tempat dimana terdapat sebuah ruangan kecil dengan dekorasi bunga-bunga mawar putih. Seorang namja dengan jas hitam dan seorang pendeta berdiri disana menunggu kedatanganku.
Dan,
Aku berharap aku tidak akan pernah sampai ketempat itu. Aku ingin karpet ini terus memanjang hingga jarak kami semakin jauh. Tapi, apalah daya. Aku tidak memiliki magic untuk menjadikan itu semua kenyataan.
Seorang pria yang sedang menggandengku ini –appaku.
Aku sudah sampai disana dan berhadapan dengan puluhan orang yang menghadiri pernikahan. Baekhyun yang berdiri didepanku terus menatapku dan aku khawatir dia bisa melihat semburat kegelisahan yang mengisi penuh bola mata ini. Jelas sekali. Aku tidak mampu membendung kesedihan. Dan kurasa Baekhyun tau itu semua. Namja itu mengerutkan alis dan menatapku cemas. Aku hanya tersenyum kecil untuk meyakinkannya bila aku baik-baik saja. Namun tetap saja, itu hanya kebohongan yang sia-sia. Baekhyun tahu bila aku tidak bahagia.
Wajahku semakin merona dan memaksaku untuk menatap matanya. Kupasang ekspresi palsu sebahagia mungkin –walau itu sangatlah susah untuk dilakukan.
Pendeta mulai membacakan sesuatu yang sama sekali tidak kumengerti. Indera pendengaranku bagai tidak berfungsi sesaat. Segala bentuk suara terdengar seperti dengungan yang menyakiti telinga. Perasaanku kembali terperas ketika Baekhyun mengucapkan janji suci itu. Kudengar sesuatu yang aneh. Suara namja itu terdengar berbeda dari biasanya –yang pernah kudengar ketika kami mengobrol kemarin. Kulihat kedua bola mata hitam itu berkaca-kaca seolah apa yang dia ucapkan sama sekali berbeda dengan apa yang ada dihatinya. Apakah dia merasa hal yang sama? Merasa bila dia juga terpaksa sama sepertiku?
Dan kini giliranku yang membalas ucapan panjang itu. Eomma memaksaku menghafalkannya semalaman. Pada awalnya aku ingin terbentur atau tertabrak agar seluruh ingatanku hilang dan aku amnesia –tentu saja agar ini semua tidak berlangsung. Namun ternyata Tuhan tidak mensetujui itu semua. Kalimat janji dengan mudahnya lolos dari mulutku. Jantungku berdebaran usai menyelesaikannya.
Kami saling berhadapan tanpa ada senyuman seperti apa yang biasa pengantin lain lakukan. Baekhyun mengambil sebuah cincin perak yang sudah disediakan dan mengulurkan tangan untuk meraih tanganku. Aku ingin menangis sekarang juga. Aku ingin berteriak keras seperti orang gila dan membatalkan acara ini. Aku ragu untuk membalas uluran tangan Baekhyun. Diriku blank seketika.
Kutolehkan kepala ke kursi para hadirin dengan tatapan bingung. Dan seluruh pengunjung juga terheran-heran padaku –atau pengantin wanita. Disana disalah satu kursi tampak Appa yang menggerakkan bibir memarahiku dengan sebuah ucapan kosong yang tak bersuara. Dia seolah mendorongku untuk menerima cincin itu. Aku mengangguk dengan berat dan memberikan tangan kananku pada Baekhyun.
Namja itu menggenggam tanganku dengan segala kecanggungan yang masih melingkupi atmosfer disekitar kami. Dengan perlahan Baekhyun memasukkan ujung jariku ke lubang cincin pernikahan.
Cincin putih mahal yang menggantikan posisi sebuah cincin murahan yang kemarin kubuang ke danau. Cincin tak bermutu yang begitu kucintai itu kini telah tergantikan. Air mataku menetes dengan lembut tanpa suara atau isakan yang biasa menyertainya. Aku menahan semua itu. Aku tidak mau mempermalukan orang tuaku dan keluarga kaya Baekhyun.
Kuambil sebuah cincin yang akan terpasang di jari manis Baekhyun. Dia mengulurkan tangan tanpa kuperintah. Tanganku bergerak lirih diudara. Masih ragu apakan akan sanggup kuteruskan perjalanan ini. Jemariku bergetar. Air mata berlinang untuk yang kedua kalinya dan aku harap hanya Baekhyun yang tahu akan itu. Kumasukkan setengah dari jari manisnya tetapi sampai situ pergerakanku berhenti seketika seiring air mata ketiga tumpah membasahi gaun pernikahan. Baekhyun mengerti perasaanku walau kami tidak pernah sekalipun berbincang-bincang empat mata. Aku yakin namja itu namja yang baik.
Baekhyun meraih tanganku dan mendorong jariku hingga cincin tersebut melingkar sempurna di pangkal jarinya. Aku menangis lirih dan Baekhyun meraih tengkukku lalu mendekatkan wajahnya. Nyaris saja aku berteriak karena takut dia akan benar-benar mencuri ciumanku. Tetapi keliru. Bibir Baekhyun mendarat tepat di samping bibirku tanpa ada yang tahu hal itu selain kami. Mataku terbuka seketika karena terkejut.
Tepukan tangan dan sorak sorai dari tamu-tamu terdengar riuh memberantaki perasaanku yang semula sudah berantakan. Aku tersentuh dan menangis lagi. Janpol tangan Baekhyun bergerak mengusap air mataku dengan perlahan berusaha agar tidak memperlihatkan sebercak bekaspun. Aku menangis semakin dalam hingga nafasku sesak namun namja ini belum mau melepaskan ciuman palsunya. Dia masih mengijinkanku menangis dalam posisi semacam ini.
Beberapa detik kemudian bibirnya terlepas dan dia menangkup wajahku yang merona sekaligus panas. Baekhyun mengusap air mataku dan berbisik menenagkanku. Semua pengunjung mengira bila tangisanku adalah sebuah air mata kebahagiaan, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Hatiku sukses hancur menjadi irisan yang tidak mungkin untuk terbelah lagi.
—ooo—
 TBC

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei