Green
Blossom
CHAPTER
1
Cast
: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and Go Nahyun (OC)
Genre
: Romance, sadness, angst
Rate
: PG-14
Lenght
: TWOSHOOT
DESCLIMER
: No bash! No free copast! And enjoy this story.
—ooo—
Mentari
di sore itu begitu hangat. Cahaya oranye yang cemerlang tampak jatuh melebur
bercampur dengan semburat keunguan di dasar lagit. Warna-warna itu, entah
mengapa terlihat begitu indah. Udara terasa membelai lembut kulitku. Angin
danau terasa berlomba-lomba menerjang tubuh kecilku dan menerbangkan beberapa
helai rambut. Kedua bola mataku masih terfokus pada pusat titik benderang
disana, tepat dimana sang penguasa pagi akan terbenam dan menyisakan keheningan
dalam gelapnya malam.
Kusandarkan
tubuh lunglaiku disebuah batang pohon yang berkulit kasar namun cukup nyaman.
Sebuah tangan besar meraih pergelangan tanganku dengan perlahan menggenggamku
begitu lembut. Sendi-sendi tanganku terasa melentur begitu kulit kami saling
bertemu. Aku selalu nyaman dengan situasi seperti ini. Si pemilik tangan itu
memalingkan kepala lalu tersenyum padaku. Senyuman manisnya yang terasa
menyalakan api dalam jiwa dan membuat bongkahan es dalam diriku meleleh
mencair. Sudut bibirku tertarik keatas dan membalas dengan sebuah senyuman
manis. Sudah tiga tahun kami bersama namun senyuman namja itu tetap
kukagum-kagumkan seolah aku baru memilikinya kemarin. Kutaruh kepalaku yang
berat keatas bahu ratanya. Kucium aroma tubuh namja itu dengan indera
penciumanku yang sudah kenal betul dengan aroma tubuhnya. Kupejamkan kedua
mataku untuk menikmati betapa menenangkannya aroma namja ini. Bagitu maskulin.
“Matahari
akan terbenam.” ucap Chanyeol dengan suara beratnya yang bahkan tidak kuketahui
asal-usulnya. Bibir Chanyeol berwarna merah muda bening. Dia tidak pernah
merokok, menyentuh batang rokok saja aku tidak pernah mendapatinya.
Aku
tidak menjawab. Hanya membuka mata dan memutar tulang leherku sedikit untuk
menatap detik-detik menjelang malam tiba.
Disinilah
kami berada. Disebuah tepi danau yang sepi dan tenang. Hanya ada rumput liar
dan sebuah batang pohon tua sebagai tempat punggung kami beristirahat. Juga
disalah satu tepi danau disana, ada sebuah perahu rakit yang dibuat Chanyeol
sendiri. Tidak, kami-lah yang membuatnya –tepatnya. Karena aku sedikit
menyumbangkan tenaga untuk mencari batang-batang kayu dan mengumpulkannya.
Ini
seperti surga kami.
Ini
adalah tempat pertama pertemuan kami.
Ini
merupakan lokasi dimana aku mengungkapkan perasaanku dan dia mengangguk
menyetujui hubungan kami.
Hingga
pada akhirnya, disinilah latar belakang kebersamaan kami selama tiga tahun.
Danau yang tenang dengan tetumbuhan liar dan sebatang pohon adalah wilayah
favorit kami. Selalu disini. Kami tidak pernah bosan. Tidak ada orang lain yang
dapat menganggu aku dan Chanyeol.
Dan
disinilah kami berdua saling berucap janji untuk selalu bersama hingga rambut
kami memutih nanti. Hingga kulit kami berupa lapisan tipis yang rawan dan
sampai tulang punggung kami membungkuk. Kami berjanji untuk terus bergandengan
tangan dengan sebuah ikatan dimana siapapun tidak mampu mengganggu gugat. Yaitu
cinta.
Aku
tahu dia sangat mencintaiku, dan dia tahu aku sangat mencintainya walau kami
berdua tidak pernah mengutarakan hal itu satu sama lain. Kami hanya bersahabat
sekaligus mencintai. Ini bukan masalah romantis atau harta yang kami punya,
tetapi perasaan yang mendesak kami agar terus bersama tanpa peduli urusan dunia
yang lain.
Chanyeol
menatapku datar usai malam telah datang. Ini tanda bila kami sudah waktunya
untuk berpisah. Aku mengangkat dan menegakkan lagi leherku.
“Mau
kuantar?” tanyanya.
“Tidak,
aku bisa berjalan sendiri. Kau tahu kan, rumahku tidak jauh.” balasku lirih.
Dan
namja itu mengecup keningku sejenak lalu tersenyum manis. Sebuah cekungan kecil
di pipinya mengingatkanku pada ibuku yang memilikinya juga. Ibu yang sekarang
sudah berselimutkan awan di kehidupan kedua di atas langit. Inilah yang kusukai
dari Chanyeol. Dia seperti ibuku. Seseorang kedua yang paling mengerti diriku.
Dan aku sangat bersyukur menemukannya dan kumiliki. Chanyeol bagaikan wujud
laki-laki dari ibuku. Mereka berdua memiliki kepribadian yang begitu mirip.
Namja
itu mengacak poniku lalu bangkit dan mengambil sepedanya. Dia tersenyum dan
melambai. Aku membalas senyuman itu lagi dan turut melambai hingga dia berlalu
meninggalkanku.
—ooo—
Hingga
suatu hari Eomma dan Appa membawaku kesebuah tempat asing yang belum pernah
kudatangi sebelumnya. Eomma? Itu adalah isteri baru Appa. Eomma tiri yang
dinikahi Appa satu tahun lalu. Beliau begitu lemah lembut dan pengertian
padaku. Aku cukup merasa nyaman dengannya walau sesungguhnya jauh didalam lubuk
hatiku yang terdalam nama Eomma tidak bisa tergantikan dengan hal lain yang
nyaris sama. Eomma tetaplah Eomma.
Tempat
asing yang megah dan sepertinya merupakan bangunan paling besar di jalan ini.
Untuk sesaat aku terkagum dengan kemewahan tempat ini. Aku mulai bertanya-tanya
sebenarnya siapa yang akan kami temui.
Dan
pada akhirnya aku diperkenalkan oleh sebuah keluarga kecil yang tempak harmonis
dan kaya. Kami bercakap-cakap tentang diriku. Aku tak tahu mengapa obrolan itu
terasa mengupas habis segala sesuatu tentang aku. Aku sebagai topik disini dan
jujur saja, sangat tidak nyaman bagiku.
Seorang
namja tampak datang diantara kami. Tubuhnya kecil dengan kulit putih bersinar
bak tidak pernah tersentuh cahaya matahari sedetikpun. Dia tampak begitu
sempurna dan bersih. Kami berdua bersalaman dan kudengar mulut manis namja itu
terbuka menyebutkan sebuah nama denga marga Byun. Dia tampak seumuran denganku.
“Baekhyun.”
ujarnya lembut. Wajah mungil namja itu begitu mirip dengan Appanya yang tadi
juga bertanya-tanya tentang diriku.
Jujur.
Aku
merasa ada yang tidak beres disini.
Kami
kembali berbincang-bincang dan kali ini Baekhyun ikut membuka mulut dalam
obrolan. Terdengar nada bicaranya yang lancar dan terdidik baik. Dalam waktu
sesingkat ini aku sudah bisa menyimpulkan jika Baekhyun merupakan namja
penyabar dan cerdas. Aku sempat terkagum.
“Jadi
kira-kira kapan kita bisa menikahkan mereka?” tanya Appa. Dadaku sesak seketika.
Kerongkonganku bagai menyempit dan tidak mengizinkan oksigen masuk ke
paru-paru. Apakah aku salah dengar?
“Secepatnya.”
balas Tuan Byun dengan sebuah senyuman hangat.
“Kita
bisa rencanakan pernikahan mereka mulai sekarang.” tambah Nyonya Byun.
Kurasakan
perasaanku pecah menjadi potongan yang kecil-kecil. Aku tidak mampu mengedipkan
mata. Aku begitu tercengang akan ini semua. Jadi inikah maksud kedatangan kami
dirumah ini? Mereka pikir apa aku ini? Apakah aku hanya sebuah boneka milik
Appa dan Eomma yang bisa seenaknya dipermainkan dan dipaksa-paksa? Aku merasa
direndahkan dan diperlakukan seperti robot. Lalu bagaimana dengan Chanyeol?
Baik aku memang belum pernah menceritakan tentang hubunganku dengan namja lain
kepada Appa atau Eomma, namun... tidak begini juga yang harus kuterima. Mereka
mempertemukanku dengan seorang namja tak dikenal dan membicarakan tentang
pernikahan kami.
Bibirku
bergetar dan lidahku terasa beku. Aku gagu dan sulit berkata-kata. “Tapi...”
potongku dengan nada yang parau. Seluruh pasang mata langsung menatapku dengan
tatapan kaget. Kurasakan air mata sudah membendung dan nyaris tumpah.
“Eomma,
Appa, aku tidak bisa.” tambahku dengan suara bergetar. Hatiku menciut bagai
kapas yang baru saja disiram air panas.
Aku
bangun dari duduk lalu berlari keluar dari rumah itu dengan air mata yang
perlahan jatuh tanpa terasa. Pandanganku mengabur sampai aku tidak sadar dan
tersandung ketangga. Kudengar langkah Appa dan Eomma yang mengejarku. Kututupi
mulutku yang mengeluarkan isakan rendah namun begitu menusuk dalam-dalam ke
relung hati. Aku menopang tubuhku lagi dan kembali berlari menjauh. Mereka
mengejar sambil terus memanggil-manggil namaku. Aku berlari ke jalan yang sepi
itu. Air mata tidak terkontrol dan tertumpahkan hingga seluruh bagian pipiku
basah. Wajahku memerah dengan cepat. Rasa panas dalam dada dan perasaan
tertekan beradu dalam diriku. Tubuhku terhuyung namun kuteruskan langkah
lebarku untuk berlari.
Hingga
sebuah tangan menggenggam lenganku begitu kuat.
Appa
menatapku dengan tatapan kaku sedingin es batu. “Kau harus menikahinya...”
“Tidak.
Aku tidak bisa.”
“Kau
tetap harus menikahi Baekhyun.”
—ooo—
Kulangkahkan
kakiku menuju danau. Kedua tanganku tergegam erat seolah sedang menggenggam
butir-butir kepedihan dan ketidak sanggupan menerima kenyataan ini. Sudah dari
tadi air mata kutahan agar tidak keluar membasahi pipi lagi. Tubuhku terasa
berat bahkan aku belum pernah merasakan seberat inilah menopang diri sendiri.
Terasa ada sejuta kilo beban yang bertengger diatas bahuku yang lemah. Aku
sudah menelepon Chanyeol agar datang ke danau sore ini dan membicarakan ini
semua.
Sesungguhnya,
aku sangat tidak tega mengutarakan tentang perjodohanku. Namun aku dipaksa,
ditekan, dituntut untuk mensetujui pernikahan. Aku tak mampu menolak. Aku harus
terus menjalani hidup ini walau dengan rasa sakit yang telah berakar dan terasa
meremas diri sendiri. Aku harus terus bernafas walau hidup di atas takdir yang
sama sekali tidak nyaman kujalani.
Tanpa
Chanyeol,
Tanpa
namja itu, aku tidak mampu membayangkan apa yang bisa kulakukan seorang diri.
Selama ini dialah yang memenuhi hatiku dan membuatku tidak mau jauh darinya.
Chanyeol yang mengajariku tentang apa-apa saja yang diriku tidak mengerti.
Begitu berat untuk memutuskan hubungan ini. Begitu sakit menyadari bila kami
tidak bisa bersama lagi.
Kulihat
seorang namja sedang berdiri dan menyandarkan punggung di pohon sambil
memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Aku tersenyum pahit melihat namja
itu. Entah mengapa nafasku kembali sesak. Aku khawatir tidak mampu bicara dan
malah menangis dihadapannya sebelum kujelaskan semua yang ingin kukatakan.
Nyaliku terlalu kecil untuk mengatakan ini. Aku takut Chanyeol marah padaku.
“Chanyeol-ah.”
aku memanggil.
Chanyeol
menoleh dan tersenyum lebar. Senyuman dan tatapan ceria itu terasa menghunusku.
Membuatku semakin tidak tega membahas topik utama yang sebelumnya sudah kutata
rapih untuk diutarakan. Aku tidak tega menghapus keceriaannya itu. Aku tidak
tega memutuskan tali cinta kami yang telah lama tertaut dengan erat seakan
permanen ini.
Aku
menatapnya dengan datar dan sedikit menunduk. Aku takut dia melihat kantung
mataku yang menebal karena menangis semalaman.
“Hey,
apa yang kau bawa itu?” dia mengambil setangkai bunga warna kuning yang
kugenggam.
“Ini,
hanya untukmu.” jawabku lirih dan tersenyum kecil. Chanyeol memutar bunga itu
didepan hidungnya. Selanjutnya bibir namja itu kembali memanjang dan
melengkung. “Hum, wangi... terimakasih Nahyun.” dia mengelus kepalaku.
“Oh
ya, bagamana jika kita bermain rakit lagi? Kau mau kan? Akan kusiapkan
rakitnya.” Chanyeol berlalu menuju rakit. Aku segera mengangkat tangan untuk
menahannya. Tetapi betapa bodohnya aku. Aku malah terdiam dengan tangan yang
masih terulur diudara dan mulut terbuka. Kulihat punggung lebar Chanyeol bergerak
menjauh menuju tepi danau. Aku semakin tidak kuat bergerak. Sebutir air mata
jatuh dan segera kuhapus.
“Eon
Nahyun? Kau kenapa?” ternyata dia menyadari kediamanku yang cukup lama.
Chanyeol menatapku kebingungan dan aku masih diam. Tubuhku bergetar dan panas
dingin. Aku ingin tersenyum padanya namun tidak mampu. Aku ingin mengucapkan
‘Aku baik-baik saja’ tetapi bibirku hanya mengatup rapat bagai kerang. Aku
tidak mampu menyembunyikan reaksi tubuhku yang tidak bisa terkontrol. Dan
selanjutnya aku khawatir bila air mataku keluar tanpa kusadar.
Chanyeol
melangkah terburu menghampiriku. Aku menunduk karena air mata telah penuh
mengisi pelupuk mata. dadaku naik turun karena kesusahan bernafas.
“Nahyun?”
Chanyeol bertanya usai menyadari sikap tidak biasaku. Namja itu merendahkan
kepala dan mengintip wajahku. Aku semakin tak kuat. Chanyeol kaget melihat air
mata berlinang di pipiku. Dan dalam seketika mata Chanyeol berkaca-kaca.
Dulu
dia pernah bercerita. Satu-satunya yang membuat dia tidak kuat menahan tangis
ialah ketika melihat air mataku. Dan ternyata itu terbukti saat ini.
Tangan
kananku terangkat menutupi mulutku yang terisak. Kurasakan jantungku naik
hingga menekan paru-paru. Lambungku terasa terkocok dan pikiranku berantakan.
Air mata mengalir deras walau kedua kelopak mataku tertutup. Aku menangis
dihadapannya.
“Nahyun,”
Chanyeol menggenggam bahuku dan mengguncang lirih tubuh lemasku. Suaranya
langsung berubah 180 derajad dari tadi. Terdengar gersang dan semakin
membangkitkan kobaran api dalam diriku. “Nahyun, katakan padaku apa yang
terjadi?” dia mengguncangku lagi sampai-sampai aku ingin terjatuh keatas
rumput.
Tetapi
apa yang keluar dari mulutku? Aku tidak mampu mengucapkan kata apapun. Hanya
tangis, isakan, suara nafasku yang berat.
“Nahyun-ah...
katakan padaku.” suara Chanyeol mengecil.
Kukuatkan
diri mengangkat wajah dan menatap wajah Chanyeol dengan mata merahku. tampak
ekspresi Chanyeol yang jarang kutemui. Matanya bening tertutup air mata yang
masih terbendung.
“Kita...
kita tidak bisa bersama lagi Chanyeol....” ujarku lirih nyaris tak terdengar
olehnya.
Chanyeol
langsung terpaku ditempatnya. Dia terkejut bukan main. Dinding jantungku bagai
memompa darah lebih cepat dari biasanya. Aku tidak percaya kalimat itu telah
keluar dari bibirku sendiri. Sebutir air bening melongsori wajah Chanyeol. Aku
ingin mengusap air mata itu tetapi jemariku terlalu berat untuk kubawa kesana.
Tubuhku seolah mati rasa. Dan aku ingin mati sekarang.
“Nahyun,
apa kau sedang bercanda?” tanyanya lirih dan kulihat ada air mata yang jatuh
lagi.
“...Maafkan
aku Chanyeol.” jawabku seadanya.
“Tapi,
kita sudah berjanji untuk selalu bersama walau sampai matahari tidak terbit
lagi Nahyun.” kata-kata itu terasa menendangku hingga melesat ke titik terpanas
di dunia ini. “...Kita telah berjanji untuk selalu bergandengan tangan walau
kita telah terduduk di kursi roda dan tidak mampu melangkah lagi,” sekali lagi
Chanyeol membuatku merasa terlempar.
“Chanyeol.”
tangisku pecah. Kuremat rok bagian bawahku untuk menahan diri agar mampu
berdiri tegak.
“Kau
pernah bilang, kita harus selalu berdua dan menyaksikan matahari terbenam
ditempat ini walaupun rambut kita sudah memutih...”
Aku
terduduk diatas lutut-lutut lemahku.
“Kau
juga berkata, usai kita tiada dan hilang dari bumi ini... kita akan bersama lagi
di surga dan merajut hubungan baru disana.”
“Cukup
Chanyeol!” bentakku tak kuat.
Chanyeol
menatapku balik dengan kedua pipi yang basah sama sepertiku. Kami bertukar
pandangan satu sama lain. Saling melihat cerminan kepedihan yang tampak di bola
mata kami. Memori-memori indah itu seolah terputar di mata kami.
“Aku
akan segera menikah Chanyeol. Dan ini,...” aku mencabut sebuah cincin murahan
yang melingkar di jari manisku. Cincin kami berdua. Kugenggam benda itu.
“....aku akan membuang ini dari hidupku!” dengan sekuat tenaga kulempar sisa
masa lalu itu jauh ketengah danau.
Chanyeol
terbelalak tidak percaya. Tubuhku terhuyung lemas seketika. dadaku kembang
kempis merasakan betapa sesaknya rasa sakit yang memenuhi dada sampai-sampai
tidak ada ruangan kosong untukku bernafas.
Kulihat
dia tidak mampu berkata-kata.
Aku
merapihkan rok dan berdiri sambil mengusap air mata. “Dan tempat ini. Jangan
harap kita bisa bertemu lagi disini. Aku tidak butuh kemari lagi.” aku berlari
membawa tubuhku bersama angin yang bertiup. Aku menangisi diri sendiri sambil
terus melangkah menjauh.
Suara
Chanyeol terdengar memanggilku dan dia mengejarku. Aku mempercepat langkah dan
tak mempedulikannya. Tetapi tiba-tiba dia menarik tubuhku hingga jatuh
kepelukannya. Hangat sekali. Aku merasa nyaman dan terlindungi. Aku masih ingin
merasakan pelukannya. Aku masih mencintainya sepenuh hati dan tidak mau ini
berakhir. dan mungkin inilah pelukan terakhir kami.
“Aku
tahu itu semua omong kosong Nahyun.”
Aku
terisak dan diam didalam dirinya.
“Aku
tahu kau masih menginginkanku.”
“Chanyeol....”
panggilku.
“Biarkan
ini untuk yang terakhir kali.” ucapnya hingga hatiku terasa mencelos panas.
—ooo—
Aku
termenung dalam kesendirian. Memeluk kedua lutut dan menyandarkan kepala
disana. Tatapanku kosong lurus kedepan. Menyaksikan bagaimana kedua helau
gordain warna merah muda melambai-lambai ditiup angin jendela. Aku sengaja
tidak menutup jendela. Aku butuh udara. Terlalu banyak menangis membuatku
lelah. Terasa seperti ada dua buah kerikil dari neraka yang mengisi dadaku dan
semakin menyakitiku setiap aku bergerak. Rasanya berat sekali. Kubenamkan
wajahku yang memanas diantara lutut sambil memejamkan mata. Perasaanku
berantakan dan aku tidak tahu lagi bagaimana harus menyusunnya kembali. Begitu
abstrak dan acak-acakan.
Besok,
namja itu, seorang namja yang bahkan baru satu kali kami bertemu. Dia akan
datang dengan kedua orang tuanya. Kami akan menikah.
Dan
sekarang sudah siang. Aku bahkan bisa menghitung waktu menjelang pesta
pernikahan. Kenapa kehidupanku harus begini? Aku tidak ingin ini terjadi. Aku
ingin menjadi orang lain yang bukan diriku dan meninggalkan tubuhku dengan
segala takdir yang akan kulalui. Aku berharap bisa menjadi orang lain yang bisa
mengisi hati Chanyeol kembali dan membuatnya melupakan ‘aku’ diriku.
Kutegakkan
kepalaku dan menumpu dagu diatas lutut. Kutatap bayanganku sendiri dicermin
besar yang terletak tepat dihadapanku. Nafasku sesak seketika ketika harus
mengingat kenyataan mengapa aku harus terlahir didunia ini.
Kulihat
seorang gadis disana dengan rambut hitam bergelombang dan poni sedikit
acak-acakan dengan lutut terlipat dan mata berkaca-kaca. Dia memiliki mata
lebar yang sama seperti ibunya. Lalu gadis itu tersenyum pahit. Gadis itu
adalah aku. Bahkan senyumanku sendiri terasa mengiris-iris rasa sakit dan
membiarkan beberapa luka yang menganga. Pedih. Hingga pada ujugnya aku menangis lagi.
Inilah
hari terakhirku sebagai seorang gadis. Hari besok aku sudah menyandang gelar
baru yaitu seorang isteri. Sebagai seorang isteri namja asing dari sebuah
keluarga kaya dengan rumah mewah. Untuk sesaat aku membayangkan andai saja
namja yang akan menyanding dan memasang cincin di jari manisku besok adalah
Chanyeol. Aku tersenyum sendiri. Air mata kembali berlinang. Namun itu bukanlah
dia, bukan namja yang kuharapkan.
Chanyeol.
Mengingat
namanya saja membuat saluran air mataku kembali menghangat siap mengeluarkan
larva panas dari mata. Kenapa begitu sakit? Mengapa ini harus terjadi ya Tuhan?
Tanganku
meremat seprai kuat-kuat, menyalurkan sebuah gelombang emosi yang kian
memuncak. Menyesatkanku pada hutan kegelisahan yang tak berujung ini. Andai
saja Eomma kandungku tahu bagaimana keadaanku sekarang apa yang akan dia
perbuat untukku? Apa yang akan Eomma lakukan bila melihatku menangis seperti
ini? Apakah dia tetap tidak peduli seperti Eomma tiri? Apakah dia akan tetap
memaksaku menikahi pemuda lain seperti Appa? Aku butuh kehadiran Eomma sekarang
juga.
“Eomma....Eomma.....”
panggilku dengan isakan rendah.
Kudapati
seprai yang semakin kusut namun persetan dengan itu semua. Aku tidak peduli.
Aku hanya tidak terima takdirku seperti ini. Aku ingin Chanyeol, namja yang
sudah kusakiti usai kebersamaan kami selama tiga tahun.
—ooo—
Pagi
yang begitu cerah dengan cahaya matahari yang tidak begitu menyengat. Seseorang
sengan jas hitam dan dasi tengah membonceng lenganku dengan langkahnya yang
tegap seperti bangsawan. Tubuh kecilku sudah terbalut gaun putih berenda dengan
harga yang tidak kuketahui berapa. Sepasang selop putih yang terasa kesempitan membungkus
kedua kakiku yang kesulitan melangkah. Dan saat ini dihadapanku tergelar sebuah
karpet merah yang disiapkan khusus untukku. Aroma bunga mawar dengan berbagai
warna tercium semerbak mengisi area upaca pernikahan-KU. Pernikahanku. Sulit
sekali mengeja kata itu.
Kutundukkan
kepala karena tidak kuat menatap lurus tempat dimana terdapat sebuah ruangan
kecil dengan dekorasi bunga-bunga mawar putih. Seorang namja dengan jas hitam
dan seorang pendeta berdiri disana menunggu kedatanganku.
Dan,
Aku
berharap aku tidak akan pernah sampai ketempat itu. Aku ingin karpet ini terus
memanjang hingga jarak kami semakin jauh. Tapi, apalah daya. Aku tidak memiliki
magic untuk menjadikan itu semua kenyataan.
Seorang
pria yang sedang menggandengku ini –appaku.
Aku
sudah sampai disana dan berhadapan dengan puluhan orang yang menghadiri
pernikahan. Baekhyun yang berdiri didepanku terus menatapku dan aku khawatir
dia bisa melihat semburat kegelisahan yang mengisi penuh bola mata ini. Jelas
sekali. Aku tidak mampu membendung kesedihan. Dan kurasa Baekhyun tau itu
semua. Namja itu mengerutkan alis dan menatapku cemas. Aku hanya tersenyum
kecil untuk meyakinkannya bila aku baik-baik saja. Namun tetap saja, itu hanya
kebohongan yang sia-sia. Baekhyun tahu bila aku tidak bahagia.
Wajahku
semakin merona dan memaksaku untuk menatap matanya. Kupasang ekspresi palsu
sebahagia mungkin –walau itu sangatlah susah untuk dilakukan.
Pendeta
mulai membacakan sesuatu yang sama sekali tidak kumengerti. Indera
pendengaranku bagai tidak berfungsi sesaat. Segala bentuk suara terdengar
seperti dengungan yang menyakiti telinga. Perasaanku kembali terperas ketika
Baekhyun mengucapkan janji suci itu. Kudengar sesuatu yang aneh. Suara namja
itu terdengar berbeda dari biasanya –yang pernah kudengar ketika kami mengobrol
kemarin. Kulihat kedua bola mata hitam itu berkaca-kaca seolah apa yang dia
ucapkan sama sekali berbeda dengan apa yang ada dihatinya. Apakah dia merasa
hal yang sama? Merasa bila dia juga terpaksa sama sepertiku?
Dan
kini giliranku yang membalas ucapan panjang itu. Eomma memaksaku
menghafalkannya semalaman. Pada awalnya aku ingin terbentur atau tertabrak agar
seluruh ingatanku hilang dan aku amnesia –tentu saja agar ini semua tidak
berlangsung. Namun ternyata Tuhan tidak mensetujui itu semua. Kalimat janji
dengan mudahnya lolos dari mulutku. Jantungku berdebaran usai menyelesaikannya.
Kami
saling berhadapan tanpa ada senyuman seperti apa yang biasa pengantin lain
lakukan. Baekhyun mengambil sebuah cincin perak yang sudah disediakan dan
mengulurkan tangan untuk meraih tanganku. Aku ingin menangis sekarang juga. Aku
ingin berteriak keras seperti orang gila dan membatalkan acara ini. Aku ragu
untuk membalas uluran tangan Baekhyun. Diriku blank seketika.
Kutolehkan
kepala ke kursi para hadirin dengan tatapan bingung. Dan seluruh pengunjung
juga terheran-heran padaku –atau pengantin wanita. Disana disalah satu kursi
tampak Appa yang menggerakkan bibir memarahiku dengan sebuah ucapan kosong yang
tak bersuara. Dia seolah mendorongku untuk menerima cincin itu. Aku mengangguk
dengan berat dan memberikan tangan kananku pada Baekhyun.
Namja
itu menggenggam tanganku dengan segala kecanggungan yang masih melingkupi
atmosfer disekitar kami. Dengan perlahan Baekhyun memasukkan ujung jariku ke
lubang cincin pernikahan.
Cincin
putih mahal yang menggantikan posisi sebuah cincin murahan yang kemarin kubuang
ke danau. Cincin tak bermutu yang begitu kucintai itu kini telah tergantikan.
Air mataku menetes dengan lembut tanpa suara atau isakan yang biasa
menyertainya. Aku menahan semua itu. Aku tidak mau mempermalukan orang tuaku
dan keluarga kaya Baekhyun.
Kuambil
sebuah cincin yang akan terpasang di jari manis Baekhyun. Dia mengulurkan
tangan tanpa kuperintah. Tanganku bergerak lirih diudara. Masih ragu apakan
akan sanggup kuteruskan perjalanan ini. Jemariku bergetar. Air mata berlinang
untuk yang kedua kalinya dan aku harap hanya Baekhyun yang tahu akan itu.
Kumasukkan setengah dari jari manisnya tetapi sampai situ pergerakanku berhenti
seketika seiring air mata ketiga tumpah membasahi gaun pernikahan. Baekhyun
mengerti perasaanku walau kami tidak pernah sekalipun berbincang-bincang empat
mata. Aku yakin namja itu namja yang baik.
Baekhyun
meraih tanganku dan mendorong jariku hingga cincin tersebut melingkar sempurna
di pangkal jarinya. Aku menangis lirih dan Baekhyun meraih tengkukku lalu
mendekatkan wajahnya. Nyaris saja aku berteriak karena takut dia akan
benar-benar mencuri ciumanku. Tetapi keliru. Bibir Baekhyun mendarat tepat di
samping bibirku tanpa ada yang tahu hal itu selain kami. Mataku terbuka
seketika karena terkejut.
Tepukan
tangan dan sorak sorai dari tamu-tamu terdengar riuh memberantaki perasaanku
yang semula sudah berantakan. Aku tersentuh dan menangis lagi. Janpol tangan
Baekhyun bergerak mengusap air mataku dengan perlahan berusaha agar tidak
memperlihatkan sebercak bekaspun. Aku menangis semakin dalam hingga nafasku
sesak namun namja ini belum mau melepaskan ciuman palsunya. Dia masih
mengijinkanku menangis dalam posisi semacam ini.
Beberapa
detik kemudian bibirnya terlepas dan dia menangkup wajahku yang merona
sekaligus panas. Baekhyun mengusap air mataku dan berbisik menenagkanku. Semua
pengunjung mengira bila tangisanku adalah sebuah air mata kebahagiaan, tetapi
yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Hatiku sukses hancur menjadi irisan
yang tidak mungkin untuk terbelah lagi.
—ooo—
TBC


0 comments:
Post a Comment