Friday, July 26, 2013

Fafiction 10 Days To The Death Line [Chap 2]

Posted by Unknown at 12:19 AM 1 comments

10 days TO the DEAD liNE
 

Author : Jihan Kusuma
Cast : Xi Luhan, Shin Ah Cha (You), and the others support cast^^
Genre : Romance, family, friendship
Leght : Chapters
DESCLIMER : Hallo readers! Yee! Khirnya bias bikin part 3 nya!! ^^]/ semoga sabar dan makin suka aja. Maaf kalau ada typo atau segala bentuk kesalahan ne? Selamat membaca…

ChenKaiD.Ot~~~
»*»
[10 Days to The Death Line Chap 2]
“Ah Cha-ssi, sebenarnya siapa kau ini? Dan apa hubunganmu dengan Luhan?”
‘Pabbo! Kenapa dia tanyakan itu!’ batin Luhan lagi. Ternyata kemari bukanlah jalan keluar! Suho mudah sekali terpancing pada gadis cantik!
“Luhan itu majikanku! Dan aku adalah seorang …“ kata-kata Ah Cha terputus begitu saja.
“Ah Cha!” Luhan keluar dari benteng persembunyiannya dan menampakkan diri sebelum Ah Cha lanjut menjelaskan kata “Malaikat maut”. Bisa bahaya bila Suho tahu akan ini semua.
“Luhan!!” seru Ah Cha tampak bahagia. Yeoja itu menjatuhkan roti sisanya diatas meja dan mendekati Luhan. Dan mungkin karena terlalu bahagia Ah Cha memeluk leher majikannya itu.
“Aku tahu kau disini!” Ah Cha melompat-lompat dalam pelukannya sampai-sampai badan Luhan itu terhuyung.
Suho memandang kedua orang itu dengan tatapan paling keheranan diseluruh dunia. Dia berfikir bila ini pasti ada apa-apa. Pasti ini bukan sekedar hubungan antara bawahan dan majikan!
Luhan menampakkan ekspresi frustasinya dibalik pelukan Ah Cha. Dia sangat bingung harus bagaimana sekarang.
“Ah Cha, lepaskan aku.. tolong.” Luhan melepaskan pelukan yaoja itu pada lehernya. Tapi anehnya Ah Cha masih senyum-senyum tidak jelas. Menemukan majikkannya sudah membuatnya sangat bahagia.
“Maaf Suho…” cetus Luhan. “Ah Cha, ayo kita pergi dari sini.” Luhan segera meraih pergelangan tangan Ah Cha dan menariknya keluar dari toko roti milik Suho.
“Selamat tinggal Suho-ssi!!” untuk yang terakhir kalinya Ah Cha melambai dengan manis kearah Suho dan sukses membuat Suho hampir terbang ke langit ketujuh.
“Ah… Tuhan! Dia benar-benar malaikat!...” pekinya sambil tersenyum-senyum sendiri.
»*»
Luhan terus menarik tangan Ah Cha melewati trotoar. Sesekali ada orang yang memandangi mereka berdua. Beberapa juga tampak berbisik mengagumi kecantikan wanita yang sedang dibawa namja ini. Tentu saja semuanya kagum pada Ah Cha. Hal itu membuat Luhan semakin risih. Dia tidak suka dilihati.
Langkah Luhan berhenti begitupun Ah Cha. Luhan melempar tangan Ah Cha sampai terlepas dari genggamannya. Lalu memandang gadis itu nanar. “Mengapa kau terus mengikutiku?”  tanya Luhan dingin.
“Karena kau majikanku dan aku bertanggung jawab atas dirimu untuk 10 hari ini, lebih tepatnya 9 hari kedepan!” jawab Ah Cha lantang.
Luhan berkacak pinggang lalu memijat keningnya. Denyutan dikepalanya semakin parah saja mengingat 10 hari menuju kematian itu. Omong kosong, pikirnya.
“Hei, dengarkan aku!” Luhan menatap Ah Cha garang.
Ah Cha malah melipat kedua tangannya didepan dada dan balas menatap Luhan serupa. Dan yang terjadi keduanya saling tatap satu sama lain.
“Aku tidak percaya dengan omong kosongmu itu, bodoh!” cibir Luhan.
Ah Cha melotot geram. “Itu bukan omong kosong!” balas Ah Cha.
“Memangnya siapa yang bisa begitu mudahnya percaya dengan hal bodoh semacam itu! Mustahil! Jadi, mulai sekarang..mulai detik ini..! Jangan ikuti aku lagi!” bentak Luhan. Lalu namja itu berbalik dan berjalan menjauhi Ah Cha yang masih terdiam ditempat.
Ah Cha kembali naik pitam atas apa yang telah dikatakan Luhan.
“Akan kubuktikan bila aku tidak omong kosong!” teriak Ah Cha datar. sangat bertolak belakang dengan ekspresi cerianya tadi. Beginilah dia, bisa menjadi sangat seram bila sedang marah.
Langkah panjang Luhan terheti seketika. Tetapi dia belum membalikkan badan. Untung saja jalan kecil ini sepi dan jarang ada orang yang melewatinya.
“Akan kubuktikan kebenaran atas apa yang aku katakana padamu!...” Ah Cha menarik nafas berat. “Aku sama sekali tidak berdusta.. dalam sepuluh hari terakhir ini sesungguhnya kau bisa mati kapan saja! Namun, Tuhan mengirimku untukmu untuk menyelamatkanmu. Aku yang akan melindungimu selama sepuluh hari sampai hari kesepuluh tiba dan kau akan benar-benar mati!” teriak gadis itu dan berhasil membuat jantung Luhan berdetak kencang. Mendengar kata-kata Ah Cha saja Luhan hampir mati. Luhan sedikit takut bila hal itu ada benarnya. Namun ternyata namja itu berusaha agar tetap kukuh dalam pendiriannya. Selama ini dia hanya percaya pada fakta dan bukan sesuatu yang mistis seperti ini.
Namja itu menggertakkan gigi sambil terus mengepalkan tangannya. Dia berusaha tetap dalam pendiriannya. Luhan melanjutkan jalannya lagi dan meninggalkan Ah Cha.
»*»
“Aish!...” gumam Luhan sebal sambil melihat kearah jam tangannya. Dia baru sadar bila sudah hampir satu jam terlambat bekerja. Dia harus segera mengatarkan berkas-berkas yang kemarin digarapnya kepada atasan.
Luhan menginjak gas lebih dalam dan menambah laju kecepatan mobil audy hitamnya ini. Sesekali terdengar klakson dari mobil lain yang memperingatkan Luhan agar lebih tak ugal-ugalan. Namun apa boleh buat namja ini sedang tergesa-gesa (dan emosi) sekarang.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang seperti balon-balon yang sedang meletus dari dalam perut Luhan.
‘Akh, bahkan aku lupa sarapan!’ batinnya geram.
Kejadian konyol pagi ini benar-benar membuatnya lupa akan kegiatan sehari-harinya.  Semoga saja Kris (Atasan Luhan) itu tidak terlalu baik untuk memberikan Luhan tugas tambahan dipagi ini. Karena biasanya cara Kris memarahi Luhan bukan secara terang-terangan. Namun, dengan cara yang lebih special. Luhan disuruh lembur kek, mengerjakan tugas yang sangat sulit, dan bersikap dingin tanpa mau berbicara pada Luhan. Justru Luhan lebih tak suka dengan cara Kris yang begitu.
“Aissh!!!” Luhan memukul kemudi mobil dengan frustasi. Dia masih berharap bila hari ini bukan hari yang paling buruk dalam hidupnya.
Mobil Luhan sudah terparkir di basement kantornya. Lalu dengan terburu namja itu segera memasuki lift dan naik ke lantai 3. Kemudian dia segera memasuki ruangannya –ruang sekretaris direktur (dan disini direkturnya adalah Kris). Sebenarnya Luhan sama sekali tidak niat menjadi sekretaris meski dibayar banyak. Namun, ini semua karena keinginan nenek Luhan yang sangat bersahabat dengan nenek Kris. Nenek mereka membuat perusahaan ini sebagai bentuk kerjasama. Akan tetapi, yah begitulah… kondisi Kris dan Luhan sangat bertolak belakang dengan nenek mereka. Kris dan Luhan pernah menjadi saingan sewaktu SMA dan terus berlanjut sampai ada hubungan antara atasan dengan bawahan.
Luhan menutup pintu ruangannya lalu segera menempati ‘singgasana’nya sebagai seorang sekretaris. Luhan melepas jas hitam yang dia kenakan dan melemparnya kesofa. Entah mengapa Luhan berkeringat.
“Tok..tok…” sebuah suara terdengar dan Luhan yakin bila itu ketukan pintu. Dia segera membenarkan posisi duduknya layaknya seorang sekretaris salah satu perusahaan terbesar di Korea ini.
“Masuk.” balasnya.
Kemudian pintu terbuka menampakkan tubuh tinggi seorang namja dengan kacamata.Chanyeol, salah satu pegawai disini. Chanyeol juga merupakan teman terdekat Luhan selain Suho.
“Chanyeol.” Luhan tersenyum. Tiba-tiba imagenya sebagai orang penting hilang ketika melihat sahabatnya itu.
“Luhan-ah, apakah kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol sembari manutup pintu kembali. Rupanya Chanyeol menyadari keterlambatan Luhan pagi ini.
“Um, aku..hanya tidak enak badan. Ada apa?” tanya Luhan balik.
Chanyeol menaruh tiga buah map yang tampak tebal. “Ini semua jumlah pendapatan bulan ini. Dan Kris menyuruhmu untuk menelitinya kembali.” jawab Chanyeol.
Benar apa yang sudah Luhan pikirkan. Bukankah seharusnya tugas ini untuk bendahara, kenapa malah dia yang harus menggarapnya? Aish, Kris memang suka sekali menyulitkan orang lain. Kalau saja boleh dilakukan, Luhan pasti tak segan-segan melemparkan benda tajam kewajah Kris yang menyebalkan itu atau memotong hidung panjangnya dengan pisau lipat, oke itu terlalu sadis untuk dibayangkan, mungkin hanya sekedar menimpukkan sepatu kewajah Kris dan itu sudah membuat Luhan tersenyum puas.
Luhan memijat keningnya sedangkan Chanyeol yang pastinya sudah tau akan apa yang terjadi hanya mampu pasrah. Walau bagaimanapun, Kris adalah yang tertinggi disini.
“Luhan, kau juga disuruh langsung mengumpulkan berkas yang kemarin kau bawa keruangannya.” tambah Chanyeol.
Untuk beberapa saat Luhan menarik nafas. “Terimakasih Chanyeol-ah.” ucapnya.
Chanyeol langsung membungkuk hormat. “Permisi..” lalu dia melangkah keluar dari ruangan Luhan.
“Ah, sempurna…” gumam Luhan seraya menyandarkan kepala kesandaran kursi.
»*»
Setelah mengetuk pintu, namja itu membuka pintu dan memasuki ruangan atasannya dengan tubuh yang gemetar. Ditangannya sudah ada 2 buah map hijau. Luhan melangkah lebih dalam kedalam ruangan dan berdiri tepat didepan meja Kris. Sedangkan Kris, namja itu berdiri membelakangi Luhan, dia sedang menatap keluar jendela entah apa yang sedang kris perhatikan.
“Ini, berkas yang kemarin sudah saya teliti.” ucap Luhan formal. Dia berusaha bersikap sebiasa mungkin pada Kris.
Kris tidak bergeming dari tempatnya. Namja itu sama sekali tak mau melihat kedatangan Luhan.
“Apakah kau mengerti bisa posisimu disini sebagai apa?” tanya Kris dingin.
Jantung Luhan berdetak cepat disertai aura aneh yang dia rasakan disekitar Kris. Mungkin seluruh atmosfer di ruangan ini telah terkontaminasi oleh aura kemarahan Kris. Perasaannya sudah sangat tidak enak. “Saya sebagai sekretaris anda Tuan Kris Wu.” jawab Luhan seadanya sambil menunduk. Sesungguhnya dia sangat muak memanggil orang ini dengan sebutan tuan. Tapi apa boleh buat, ini semua takdir Tuhan yang terlalu konyol untuk dijalani.
Kris berbalik pelan lalu menatap Luhan dengan pandangannya yang mungkin bisa membekukan apapun yang dia lihat. “Kau tahu sebagai sekretaris kau harus apa? Kau harus tiba lebih dulu dari atasanmu.” cetus Kris terdengar tenang namun mengandung bisa.
“Maafkan saya.” timpal Luhan lirih.
Kris menduduki kursi hitamnya yang bernilai tidak murah itu. Kursi seperti itu saja sudah sangat mahal bahkan kita akan kesusahan mengihitung jumlah nol yang terletak dibelakang nominal harganya.
“Taruh berkasnya disitu.” Kris menunjuk meja kerjanya. Dengan patuh Luhan menaruh map yang dia bawa lalu membungkuk.
“Kembali keruanganmu…” Kris memalingkan mukanya dengan angkuh.
Luhan berbalik dan berjalan menuju pintu.
“Kuharap hal yang seperti ini tidak akan terjadi lagi Luhan-ssi.” tambah Kris sebelum Luhan keluar dari kandang harimau itu.
Luhan tidak menjawab namun hanya mengangguk.
‘Klek.’ pintu ditutup.
Kris tersenyum miring setelah Luhan keluar dari ruangannya. Dia puas bisa memarahi Luhan dengan cara seperti ini.
»*»
Ketika istirahat siang, [di café sekitar kantor perusahaan].
“Sabarlah Luhan-ah… dia memang suka seperti itu. Kau kan sudah mengerti bagaimana Kris… dia senang sekali membuat orang lain menderita karenanya. Aku juga tidak tahu apakah ayahnya juga seperti itu. Bisa saja Kris mewarisi sifat dari saudara atau kerabatnya yang lain… setahuku tuan Wu dan nyonya Wu (orang tua Kris) adalah orang yang ramah dan murah senyum…” Chanyeol tidak lelah mengoceh tentang Kris. Nyaris saja kopi yang ada didepannya itu dingin gara-gara dia sibuk berdakwah didepan Luhan. Sedangkan yang sedang mendengarkan ocehan temannya itu, cuma mampu diam melamun sambil sesekali menyeruput lattenya yang masih lengakap dengan kepulan asap.
“Kris Wu itu sebenarnya sangat tampan, akan tetapi itu semua tertutup oleh sikap dinginnya pada siapapun. Kau mengerti maksudku kan?.. Dia hanya mau bercengkrama dan tersenyum pada wanita-wanita centil saja.. Kris itu playboy!..” kini kata-kata sahabatnya itu terdengar seperti rap yang ikut campur heboh dengan alunan jazz di café ini. bahkan Chanyeol tampak seperti penyanyinya. Luhan sendiri tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila pembicaraan mereka sampai ketelinga Kris.
“Kau juga sih.. mengapa harus terlambat! Seharusnya kau tetap patuh dengan apa yang sudah ditetapkan Kris.. Aku khawatir bila hal ini terulang lagi dan membuatmu kembali bernasib sama. Kris tidak hanya membuat pegawainya kapok sekali-dua kali… bahkan bisa berkali-kali sampai pegawai itu menyerahkan surat pengunduran diri. Nah, itu yang paling parah!! Setelah pegawai itu menyerahkan surat pengunduran diri, Kris akan merasa bangga dan merasa menang atas keberhasilannya membuat orang lain menderita sampai ketitik darah menghabisannya… lalu…”
Luhan memijit keningnya yang terasa berdenyut-denyut heboh. Dirasakan oksigen disini semakin menipis dikarenakan kalimat Chanyeol yang tiada ujung itu. Ditambah lagi kepalanya yang mendidih karena penuh oleh segala masalah yang terjadi dipagi ini.
“Seandainya direktur perusahaan ini bukan Kris, pasti tidak akan seperti ini jadinya. Pegawai-pegawai akan semakin kerasan dan meningkatkan ke-powerfull-annya dalam bekerja, dan kalau juga Kris…-“
“Chanyeol-ah!!” potong Luhan setelah merasa benar-benar tidak betah mendengar cicitan Chanyeol. Kata-kata Chanyeol bagai mengikis oksigen yang tersedia disini. Luhan menatap Chanyeol sampai-sampai Chanyeol susah bergerak. Mungkin Chanyeol butuh diberi penghargaan dari PBB atas kebetahannya menceramahi orang sampai orang itu sesak nafas dan K.O. Luhan jadi berfikir, kalau saja seorang kakek yang tua renta menggantikan posisinya saat ini pasti suda mati 10 menit yang lalu karena perkataan Chanyeol.. Ah, lupakan saja. Chanyeol memang termasuk salah satu dari 5 besar orang tercerewet diseluruh dunia!
“Stop.” Luhan mengangkat kedua telapak tangannya kedepan dada memberi intruksi agar pemuda itu berhenti bicara.
“Ups.. maafkan aku.” balas Chanyeol setelah sadar.
Luhan menaruh cangkir lattenya dengan kasar. “Aish..! Kenapa harus aku yang mengalami hal ini…” ucap Luhan lirih lebih pada diri sendiri.
“Luhan-ah… apakah kau sedang ada masalah hari ini? Kau tampak tidak sehat. Ceritakan padaku apa masalahmu.” ucap Chanyeol memelas.
Pikiran Luhan terasa campur aduk. Dia ingin sekali bercerita tapi takut bila Chanyeol malah menertawakannya. Bagaimana tidak tertawa bila Luhan berkata tentang malaikat maut, sepuluh hari menuju kematian, seorang gadis cantik bermata hijau, dan segala yang berhubungan dengan itu. Bagaimanapun itu seperti cerita anak-anak yang tak bisa diterima nalar manusia.
“Aku, aku.. bertemu dengan seorang gadis.” kata Luhan lirih.
Mata Chanyeol langsung terbuka lebar saat mendengar kata ‘gadis’. Namja yang satu ini memang suka sekali bila disuruh mendengarkan cerita tentang perempuan. Satu spesies dengan Suho.
“Dia, datang kemarin malam di apartemenku. Aku tidak tahu darimana asalnya…”
“Cantik tidak?” tanya Chanyeol yang dengan setia menyimak.
Luhan menghela nafas panjang. “Cantik sekali.” lanjutnya.
Bibir Chanyeol langsung tersenyum mendengar jawaban itu. “Wah seperti apa?” tanya Chanyeol penuh semangat sembari melipat kedua tangannya diatas meja.
“Aish, kenapa kau ini?” tiba-tiba suara Luhan meledak.
“Yaa, aku kan ingin tahu… memangnya ada apa dengan wanita itu?”
“LUHAAAN-ah!!!” panggil seseorang yang datang.
Bola mata Luhan berputar keatas meremehkan kedatangan orang ini. Jessica. salah satu rekan kerjanya. Tanpa minta izin dulu Jessica langsung menduduki kursi ketiga di meja Luhan dan Chanyeol. Chanyeol menghembuskan nafas sebal.
“Luhan, selamat siang!!” sapa Jessica centil.
“Ah, ne.. siang.” Luhan tersenyum hambar. Jessica langsung memeluk lengan Luhan. Dan tentu saja Luhan segera menolak. “Yak, Sica-ya! Jangan seperti itu padaku.” celetuk Luhan yang merasa sangat risih.
Jessica mengerutkan bibirnya pertanda dia sebal. Sedangkan Luhan sibuk mengusap-usap jas yang dia kenakan bermaksud menghilangkan virus Jessica yang tadinya menempel.
“Kau datang dan menyapa Luhan. Lalu apakah kau juga tidak ingin mengucapkan selamat siang juga padaku?” ujar Chanyeol yang merasa hanya menjadi pemeran ke-3 yang sama sekali tak berguna.
Jessica menoleh kearah Chanyeol. “Oh, maaf aku kira tidak ada siapapun disini selain Luhan. Salahkan mukamu yang seperti debu itu! Nyaris saja aku tidak melihatmu.”
“Yak! Apa katamu?!” Chanyeol merasakan emosinya sudah naik ke ubun-ubun.
“Kau seperti debu!! Apakah kau tidak mendengarnya?! Dasar padahal telingamu sudah caplang sebesar itu tapi masih saja kehilangan fungsi!!” sembur Jessica dengan kata-katanya yang pedas.
“Jessica Jung! Berhenti menghinaku?!” balas Chanyeol.
“Apa?! Apa huh? Bilang saja kau tak mampu membalasku!”
“Dasar korban mode!! Nenek sihi! Wanita genit!!”
“Kyaaa!!!” Jessica menjambak Chanyeol.
Luhan yang menegtahui keributan mereka pelan-pelan bangkit dari kursi tempatnya duduk lalu melangkah cepat meninggalkan mereka berdua. Kepalanya semakin pusing saja.
»*»
Luhan memasuki ruang kerjanya dan duduk di kursinya. Hawa AC yang terlalu dingin tidak lagi dihiraukan oleh Luhan. Mungkin benar aku harus menceritakan hal ini kepada seseorang, menyimpannya sendiri terasa sangat berat dan membuatku frustasi. Pikirnya.
“Drrttt..drttt” kantong Luhan bergetar. Dengan segera dia mengambil ponselnya yang ada disana. Kemudian Luhan mengangkat telepon.
“Yoboseo?”
“Luhan-ssi.. aku harap kau nanti bisa menggantikanku untuk menghadiri rapat oleh pemegang saham perusahaan yang akan kita ajak bekerja sama.” ucap Kris diujung saluran telepon. “Aku ada urusan.. dan mungkin kau harus pulang larut malam hari ini.” sambungnya.
“Nde, aku mengerti.” balas Luhan.
“Tut..tut..tut” sambungan telepon langsung terputus begitu saja.
‘Tuhan terimakasih membuatku hampir gila…’ batin Luhan.
»*»
Malam sudah sangat larut, hampir mencapai tengah malam. Hari ini benar-benar hari yang teramat sangat panjang bagi Luhan. Masih baik tadi dia tidak ketiduran ketika rapat berlangsung. Luhan mengendarai mobil dengan rasa kantuk yang terus berputar diotaknya. Karena itu dia mempercepat lagi laju mobil dan berusaha sekencang mungkin.
Tiba-tiba saja seperti ada kucing atau binatang kecil yang melintas saat mobil itu melaju kencang. Sontak Luhan mumutar kemudi dengan tiba-tiba. Dan alhasil mobil audy hitam itu terpinggir ke trotoar. Luhan kehilangan kendali. Kata-kata Ah Cha muncul dalam benaknya.
“Aku sama sekali tidak berdusta.. dalam sepuluh hari terakhir ini sesungguhnya kau bisa mati kapan saja! Namun, Tuhan mengirimku untukmu untuk menyelamatkanmu. Aku yang akan melindungimu selama sepuluh hari sampai hari kesepuluh tiba dan kau akan benar-benar mati!”
Lalu selanjutnya mobil tersebut menabrak lampu traffic light dan kepala Luhan terbentur kemudi sampai mengeluarkan darah.
Dan dimalam itu, kota Seoul dihebohkan dengan kecelakaan ini.
»*»
TBC
Hohoho… leganya bias pot ni ff. Bagaimana chingu ><… apakah semakin sengit?
Mungkin kali ini hanya itu yang bias kuucapkan^^ semoga hari-harimu menyenangkan!! Pai paii… ^^/

Arigatou!! *bow

Wednesday, July 24, 2013

*KOREA DI MATA HATERS*

Posted by Unknown at 5:31 PM 2 comments
KOREA DI MATA HatERS
[Tentang K-POP dan haters]

Hai, semua… selamat datang di Blogku yang simple namun semoga bisa berguna untuk kalian. ^^v”
Kali ini aku akan membahas tentang dunia K-POP dari sudut pandang para heaters. Yang pastinya bukan hal-hal bagus bagi mereka. Yah, mau bagaimana lagi kalo udah jadi heaters kan pasti  selalu menilai sisi negativenya kan? Bilang yang ini kek yang itu kek, yang penting hal-hal buruk yang belom pasti itu benar adanya. Bagi mereka yang penting ‘gue ga suka’ ya udah. Namun, ada juga heaters yang membenci dengan jalan terus mem-bash sana-sini tanpa aturan dan tanpa paham akan perasaan orang lain. Toh, sebenarnya itu juga ga ada untungnya dilakukan, tapi mungkin bagi mereka yang udah ‘overdosis’ sebelnya sama Korea akan melakukan apapun dari meng-hack akun tweeter artis K-POP ampe menghinanya secara langsung. Saya juga tidak tahu apakah hal ini juga terjadi di negara lain selain Indonesia ataukan emang cuma Indonesia yang bisa seberingas ini.
Sesungguhnya wajar-wajar saja bila kita membenci sesuatu. Akan tetapi tidak begitu juga. Mereka tetap harus memahami bagaimana perasaan orang lain yang cinta dengan K-POP. Yap, memang benar bila penggila K-POP biasanya super labil dan terlalu over bila melihat idola mereka meski hanya dalam sponsor atau poster. Para K-POP biasanya akan berteriak bahkan bisa pingsan hanya dengan melihat wajah idola mereka meski dalam gambar –dan aku yakin bukan hanya K-POP saja yang begini, aku pernah bertemu seseorang yang sampai berlebihan ketika melihat wajah Justin Bieber didalam gambar-_-.
Kata-kata yang biasa mereka ucapkan adalah “Dia bisa tampan seperti itu karena oprasi plastik! Gila amat bisa suka ama orang yang dulunya jelek banget!! Cih,…” itulah yang sering (banget) aku denegr dengan kuping-kuping sendiri dan dari mulut mereka sendiri. Pada awalnya hati aku sakit bukan main dan jauh di dalam hati kecilku aku membenarkan bila itu memang benar. mereka memang melakukan bedah plastic demi keindahan.
Namun, setelah aku berpikir –tidak hanya dua kali) aku mulai mencerna dalam otak. ‘Sebenarnya apa yang kucintai dari mereka? Apakah hanya mukanya yang putih susu dan bersih tanpa noda? Hidung mancung? Rambut pirang ikal? Tinggi?’ aku mulai sadar bila bukan itu yang utama.
Aku memutar otak lagi ‘Sebenarnya lebih sering mana aku melihat video mereka daripada mendengar lagu mereka?’ dan hal itu sukses menyadarkanku dari keterpurukan dan ketenggelaman nyali seorang K-POPers.
Lalu dalam hati aku menjawab cercaan mereka
‘Aku mencintai mereka tidak hanya karena tampang. Namun, tidakkah kau melirik bagaimana mereka? Coba dengarkanlah suara mereka yang merdu! dan lihat bagaimana apakah kau bisa meliukkan tubuhmu selincah dan bagus seperti mereka? Apa yang kau bisa sehingga mampu mengejek seperti itu?! Apa kemampuanmu?’
Chingu-ya, perlu kalian sadari bila Korea itu negara yang menginginkan sebuah karya yang perfect tanpa ada cacat sedikitpun. Karena apa? Karena mereka ingin menghasilkan sesuatu yang luar biasa yang susah bagi negara lain dilakukan.
Mereka dibilang perfect yaitu dalam segi kecerdasan, tidak sembarang orang bisa menjadi artis tanpa otak yang benar-benar jernih dan mampu diandalkan sehingga patut menjadi contoh dan panutan. Lalu yang kedua adalah dalam segi vocal dan acting, tidak akan diterima seorang bintang jika tidak memiliki kemampuan yang memadahi… mereka tidak melakukan lipsing dan berusaha menjadi sebagus mungkin. Lalu setelah skill, yaitu dalam segi tampang atau rupa. Bagi mereka belum sempurna jika memiliki otak cerdas dan skill tinggi namun tidak dengan muka yang cocok. Karena itu mereka rela bersakit-sakitan demi diterima oleh kita. Karena itu K-POP adalah perfeksionis.
Tidakkah kamu pernah membaca atau mendengar bagaimana kondisi para idol K-POP yang harus berjuang keras demi karir keartisan? Hal itu sesungguhnya adalah permulaan yang amat sangat pahit. Karena di Korea menjadi artis itu ‘sama sekali tidak mudah’!
Justru ini berarti bila Korea lebih menomersatukan ‘skill’ dibandingkan ‘tampang’. Tidak seperti negara lain yang lebih mengutamakan tampang dahulu baru bagaimana kemampuannya. Karena susah sekali mencari orang yang bagus skill dan oke tampangnya.
“Wah, kelihatannya cantik, putih, juga enak dilihat… um, kalo urusan suaranya dia kan bisa lipsing dulu untuk beberapa waktu..” begitu kata Indonesia dan negara lain yang serupa.
Kalian harus paham bila semua orang itu memiliki seorang idola yang berbeda-beda sesuai dengan favorit mereka. Ayolah semua, kita semua ini saudara. Cintailah kedamaian dan hindarilah peperangan.
Terimakasih, sudah mau membaca artikelku yang pendek namun aku harap bisa membantu. Ini, kutujukan untuk para K-POPers dan Heaters.
Terimakasih, kamsahamnida, dan arigatou gozaimaa!
~Jihan Kusuma~
 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei