“MY
TINKERBELL”
Author : Jihan Kusuma
Cast : Jung Chan Ru, Baekhyun, and the others
Genre : Romance
Rating : PG-15
Legth : ONESHOOT
DESCLIMER : Author datang!! Melihat pageviews
meningkat setelah aku post My Tinkerbell maka aku semakin semangat aja buat
terus nulis serial ini. Hihihi.. terutama makasih buat yang udah baca!^o^ Ayo
ni siapa yang pada nungguin Baekhyun?! Hayu ngaku!!
Okelah chingu-ya, langsung aja kita tancep gas
buat baca ni FF. Maaf kalo ada typo atau kata yang salah –terutama pelafalan bahasa
asing yang ga jelas. Sesungguhnya itu semua diluar kesadaran dan… Happy
Reading^^
ChenKaiD.Ot®
»©»
Semembingungkan
apapun Cinta itu tetap saja suatu kesengajaan akan rencana Tuhan, dan kadang
itu terjadi tanpa disengaja…
[Baekhyun]
»©»
Kutekan
tombol enter dan menunggu tulisan loading beserta lingkaran putih yang terus
berputar menandakan bila aku harus menunggu. Setelah sekitar 2 menit aku
menunggu akhirnya apa yang kutunggu-tunggu tuntas juga. Yes, terkirim! Hatiku
bersorak senang ketika mendapati artikel yang telah dengan susah payah kutulis
untuk dilombakan di blog khusus para pecinta fotografer ini terkirim.
Ne, baik
akan kujelaskan.
Ada sebuah
event khusus para pecinta fotografer. Eventnya adalah menulis artikel tentang
segala sesuatu yang berbau fotografi. Dan aku memutuskan untuk menulis tentang
foto tumblr yang akhir-akhir ini difavoritkan di seluruh belahan dunia.
Kugosokkan
kedua telapak tanganku. Aku sangat lega bisa memposting karyaku itu. Dan, kini
satu-satunya yang harus kulakukan adalah menunggu pengumuman pemenang event
ini. Aku sangat berharap bisa memenangkannya karena memang artikel itu aku buat
dengan segala jerih payah –karena aku memang bukan orang yang pandai dalam hal
mengarang terutama artikel atau berita.
Kututup
laptop putihku dan mematikan lampu belajar.
Selanjutnya
aku membaringkan tubuh dan siap menyeberang ke dunia mimpi, karena memang ini
sudah sangat larut malam.
»©»
Malam
berikutnya,
Aku
memeriksa blog event itu lagi dan kutemui ada 15 likes untuk artikel yang
ku-post kemarin. Bibirku langsung melengkung dengan manis menunjukkan betapa
senangnya hatiku. Ku-klik tulisan ’15 likes’ dan di layar laptop terpampang 15
orang yang telah menyumbangkan likenya untukku. Aku lihat nama yang terletak di
jajaran paling atas –tanda dia orang pertama yang meng-like artikelku tersebut.
“BaekHie”
gumamku membaca tulisan itu. Hm, sepertinya itu nama marga dari orang ini.
Ku-klik tulisan BaekHie itu dan setelahnya kutemui profil dari orang ini.
Tinggal di
Seoul. Jenis kelamin laki-laki dan tanggal lahirnya tidak diketuhi. Foto
profilnya hanya gambar balon udara.
“Hm,
penasaran…” pikirku sambil mempoutkan bibir.
Kugulung
crusor kebawah dan disana tertera alamat emailnya. Aku berfikiran untuk
mengirim surat kepada orang ini sebagai rasa terimakasihku.
“Gomawo
telah meng-like artikelku yang ada di event. ^^ Sekali lagi gomawo.” ketikku.
Kemudian kutekan enter dan tulisan loading yang menyebalkan itu kembali muncul
ditengah-tengah layar laptop.
»©»
Malam
kedua….
Kulihat ada
sebuah pesan masuk di email. Hatiku terasa terlonjak didalam sana. Entah
mengapa aku merasa senang mendapat balasan itu. Sebelumnya kurapihkan poni
panjang yang tergerai disekitar telinga dan mulai membuka surat itu.
“Ne”
Tulisnya.
“Yak, hanya
itu jawabannya?!” batinku sedikit kecewa. Ah, dia membuatku semakin penasaran
saja. Kuputuskan untuk membalas lagi. Sesungguhnya aku sangat bingung untuk
menuliskan apa sebagai bentuka basa-basi demi terbuka identitasnya. Oke,
baiklah.. aku yang mulai saja!
“Baekhie,
berapa usiamu?” ketikku cepat.
‘Hum,
benarkah cara bertanyaku? Kurasa ini terlalu terburu-buru untuk ditanyakan.’.
Aku menghapus tulisan itu dan kembali memikirkan kalimat lain.
“Baek,
itukah nama margamu?” ketikku dengan ragu. Setelah itu kuberanikan diri untuk
meng-klik tombol ‘send’.
»©»
“Ne, ada
apa?” balas BaekHie.
Jantungku
berdentum sekeras orang yang barusaja melakukan sit-up 100 kali. Entah ada apa
aku sangat bersemangat untuk terus bertanya.
“Ani, hanya
saja aku sangat penasaran pada balon terbang di poto profil itu.” balasku
mencoba jujur.
»©»
Malam
berikut…
Kuperiksa
lagi artikelku yang ada di blog event. Masih 17 likers. Tak apa lah,
setidakanya aku bisa mem-promote artikelku itu melalui media lain.
Setelah
mempromosikan artikel itu lewat tweet aku membuka satu pesan masuk melalui
e-mail. Sudah kuduga itu BaekHie.
“(Pict.002.5)
Inikah maksudmu?” ternyata dia mengirimkan gambar profilnya itu. Aku semakin
senang ternyata BaekHie bukan tipe orang yang sok tidak peduli. Dia cukup ramah
untuk diajak berteman.
“Ne! Itu,
apakah itu hasil dari fotografimu sendiri?” tanyaku penuh semangat.
»©»
Next Night….
“Ne, aku
mengambilnya ketika ada penerbangan balon udara di China. Bagaimana menurutmu?”
Mataku
menyimpit pertanda aku sedang tersenyum. Aku senang dia ganti bertanya. Kurasa
ini awal yang baik untuk pertemanan.
“Itu sangat
keren! Menggunakan kamera apa? Bila aku boleh tahu.” balasku dan untuk kali ini
tulisan loading hanya muncul sekilas. Sinyal malam ini sangat lancar.
Kurasakan
haus di tenggorokanku dan aku menuju kulkas yang ada di apartemen pribadiku ini
–aku tinggal sebagai mahasiswa di apartemen pemberian appa. Dengan membawa
segelas dingin air es aku kembali kemeja laptop.
Nyaris saja
aku tersedak dan menyemburkan air dari mulut ketika mendapati sebuah pesan
masuk. Benarkah BaekHie sedang online saat ini?! Wah, aku sangat ingin
mengobrol.
“Hanya kamera
dari tabletku.” balas BaekHie.
Aku
cepat-cepat duduk dan menaruh gelas besarku di meja. Dengan terburu kuketikkan
kalimat balasan.
“Tapi itu
sangat jernih! Kau berkata jujur?” kutekan enter dan terkirim.
“Hm, tentu
saja aku berkata jujur. Apa yang membuatmu mengira aku membohongimu?” balasnya.
“Biasanya
orang yang menggunakan foto profil lain bukan orang yang suka berterus terang.”
“O,
begitukah?”
“Ne, sudah
banyak orang semacam itu yang pernah kutemui.” balasku lagi dan lagi.
“Kurasa aku
orang pertama yang melenceng dari teorimu itu.” lanjut BakHie.
Rasanya
seperti ada kembang api dalam perutku yang membuatku terus saja bersemangat
untuk mengobrol dengannya. Sampai-sampai aku tidak sadar bila sekarang sudah
hampir tengah malam.
“Baik, aku
percaya padamu BaekHie-ya.”
“Namaku
Baekhyun.”
“Oke,
terimakasih telah jujur.”
“Lalu siapa
namamu?”
“Namaku Chan
Ru.”
“Hei, nama
macam apa itu?”
“Jangan
mengejekku! Itu nama pemberian dari halmoniku!”
“Hahaha,
kurasa selera humor nenekmu itu terlalu tinggi!” ejek Baekhyun, tetapi aku
tidak tahu mengapa sama sekali tidak bisa marah padanya.
“Terserahlah,
aku ngantuk!” tulisku.
“Baik, tidur
saja!”
“Kau tidak
mengantuk?”
“Aku punya
insomnia.”
“Arraso, aku
mengalah.. oke selamat malam Baekhyun!”
Aku langsung
mematikan laptop dan tidak memikirkan lagi balasan terakhir darinya. Hanya ada
rasa kantuk yang mendominasiku saat ini.
»©»
Malam
berikutnya lagi…
Sekarang
sudah pukul 10 malam dan aku sedang asyik menyesap kopi. Tentu saja sambil
terus menatap layar laptop.
“Hm, apa
hobimu Baekhyun-ssi?”
“Mungkin
hanya hunting dan makan.” jawabnya seadanya.
“Makan? Kau
gemuk?” aku terus bertanya.
“Tidak,
bahkan aku paling kecil dari teman-temanku.”
Aku
mengangguk-angguk kecil. Aku percaya saja karena aku juga seperti itu. Aku suka
meal dan tetap saja kurus. Kurasa aku memiliki kesamaan dengan Baekhyun ini.
“Lalu, apa
hobimu Chan Ru?” tanyanya sebelum aku membalas lagi.
“Hm, apa
ya…” ketikku.
“Jangan
bilang kau juga suka makan? Atau jangan jangan kau punya tubuh yang gemuk?”
“Yak, tidak.
Mungkin hanya iseng menggambar atau nonton.”
“Film
favoritmu?”
“Aku suka
action, tidak terlalu tertarik dengan kisah cinta dan horror.”
“O, jadi kau
penakut!?”
Hi,
seandainya dekat pasti aku akan menggetok kepala orang ini. Enak saja dia
bilang aku penakut.
“Yak!
Sembarangan! Aku bukan penakut”
“Lalu apa
alasanmu tidak suka dengan horror?”
“Aku tidak
tahu.”
“Ayolah…”
“Aku tidak
punya alasan untuk tidak menyukainya. Lalu bagaimana dengan film favoritmu?”
“Aku suka
horror dan fantasy.”
“Jadi karena
itu kau meledekku penakut? Ternyata kau pecinta horror.”
“Hahaha
dasar wanita!”
“Lihat pukul
berapa sekarang!”
“Masih
tengah malam.”
“Masih?
Kurasa kau memang ahli begadang tuan Baekhyun.”
“Tidak juga,
bukankah aku sudah pernah berkata bila aku insomnia. Kalau kau mengantuk tidur
saja.”
“Tidak, aku
tidak mengantuk.”
“Oh, jadi
kau mau menemaniku?”
“Eh, jangan
GR! Aku hanya tidak bisa tidur.
“Jangan
bohong!”
Tiba-tiba
pipiku merona merah. Aku memang sengaja meminum kopi agar bisa terus terjaga
bersamanya.
“Memangnya
apa yang sedang kaulakukan?”
“Melukis.”
“Wow, kau
seorang pelukis?”
“Ani, ini
hanya salah satu kegemaran.”
“Boleh tahu
kau sedang melukis apa?”
“Dirimu.”
“Jangan
bercanda Baekhyun-ssi! Bagaimana bisa kau melukis orang yang bahkan baru kau
kenal.. kau juga belum tahu bagaimana rupaku.”
“Bagaimana
bentuk matamu?” tanyanya tiba-tiba.
Jantungku
berdetak lebih cepat dari sebelumnya dan aku takut bila Baekhyun hanya
berpura-pura dan cuma mau membuatku GR.
“Bulat
besar.” balasku seadanya, jujur.
“Lalu
rambutmu?”
“Hanya
sepunggung”
Beberapa
menit belum ada balasan. Mungkin dia masih menggmbarkan sketsa.
“Lurus?”
“Tidak,
bergelombang besar.”
“Warnanya?”
“Hitam.
Apakah kau serius Baekhyun-ssi?”
“Tentu
saja.. aku bukan pembohong.”
Entah kenapa
ada sesuatu yang mencelos di dalam dadaku. Aku terharu bahkan ingin menangis
melihat kesungguhannya melukis diriku.
“Sudah
selesai?” tanyaku sembari sabar menunggunya.
“Ne.”
jawabnya sukses membuatku kaget.
“Wah, cepat
sekali. Aku ingin melihat hasilnya!”
“Eits, tidak
boleh!”
“Baekhyun!!”
“Haha, aku
hanya bercanda. Tentu saja kau boleh melihatnya. Tapi nanti, bila kita
bertemu.”
Hah? Jadi
dia menginginkan untuk ketemuan?
“Memangnya
kapan?”
“Entahlah,
kurasa suatu saat nanti.. jika Tuhan mengizinkan.”
“Hm, baik...
aku akan menunggu saat itu.” balasku.
»©»
Sudah 3
minggu lebih kami terus berkomunikasi melwati e-mail dan saling bertukar akun
tweeter. Bahkan hampir setiap saat kita berbalas SMS.
“Kau sudah
tidur?” tanyanya lewat SMS.
Aku segera
membenarkan posisi tidurku menjadi terlentang dan mengangkat ponsel pintarku
untuk membalas pesannya.
“Belum.”
Lalu kukirim
pesan itu. Tak lama HPku bergetar lagi dan tentu saja Baekhyun yang membalas
sms itu.
“Apa yang
sedang kau lakukan?”
“Hanya
berbaring. Lalu, bagaimana denganmu?”
“Sama.”
“Tidurlah,
ini sudah sangat larut. Setiap hari kau terus begadang.”
“Aku tidak
apa-apa. Kau yang seharusnya tidur, kau kan seorang wanita.”
“Apa
hubungannya?”
“Tidak ada,
ayo tidurlah.”
Hatiku
tersentuh membaca kata demi kata yang dia kirimkan. Baekhyun adalah orang yang
peduli dan perhatian. Andai saja aku memiliki namjachingu sepertinya. Pasti aku
akan sangat bahagia.
“Baiklah,
jika itu perintahmu.”
“Gadis
pintar.” balasnya untuk yang terakhir kali di malam ini.
»©»
Pada suatu
hari…
Aku sudah
menghubungi nomornya berkali-kali dan dia tidak menjawab. Berpuluh-puluh pesan
kukirim dan tidak juga terkirim. Aku cek di e-mail dan mengiriminya pesan.
Baekhyun juga tidak membalas. Aku mulai frustasi dan bingung.
‘Kemana
dia?’ aku memijat keningku yang rasanya pening berdenyut-denyut.
“Drrrt…”
ponselku bergetar dan kudapati panggilan nomor tak dikenal disana. Hatiku terus
memanggil-manggil nama Baekhyun dan berharap itu dia.
“Yoboseo?”
tanyaku.
“Nona Chan
Ru?” tanya seseorang disana. Tepatnya suara seorang namja.
“Ne, saya
sendiri. Ini siapa?” tanyaku dengan dahi yang berkerut.
“Apakah anda
teman dari sodara Baekhyun?” tanyanya lagi.
Jantungku
rasanya mau copot da terus berdetak tak beraturan. “Maaf, ini dari mana?”
ulangku dengan penekanan.
“Kami dari
rumah sakit. Sodara Baekhyun sedang terbaring lemah di ICU.. kami sudah
menghubungi keluarganya tapi tidak ada yang mengangkat telepon. Dan saat ini
sodara Baekhyun sedang memanggil-manggil nama anda. Dia belum sadarkan diri…”
jelas orang itu.
Aku mencubit
pipiku berulang ulang berharap aku segera sadar dari mimpi buruk ini. Tidak
mungkin Baekhyun…
“Nona,
apakah anda sedeang sibuk? Kami sangat mengharapkan kedatangan anda.” tambahnya
dengan nada memelas yang terdengar kental. Hampir saja aku menjathkan ponsel
dari telingaku sebelum dia lanjut berbicara.
Tanpa banyak
basa-basi aku segera meminta alamat rumah sakit itu.
»©»
Namja itu
kini berbaring di ranjang pasien dengan respirator yang menutup hidungnya.
Kepalanya diperban secara memutar dan tampak bercak merah yang pastinya itu
darah. Pendeteksi terus berbunyi membaca detak jantungnya yang terdengar sama
disetiap detik. Dua buah infuse menembus kulit tangannya. Salah satunya infuse
darah –pertanda Baekhyun terlalu banyak pendarahan.
“Dia mungkin
mengantuk ketika menyetir.. dan kecelakaan itu terjadi begitu saja. Mobil mercy
sodara Baekhyun membentur pohon yang ada dipinggir jalan.” suara dokter ini
terus berkicau ria menceritakan kronologi peristiwa menyedihkan ini. Aku yakin
tadi orang ini yang meneleponku. Suaranya tidak jauh beda dari yang ada di
telepon.
“Kami
menemukan ponselnya terus berbunyi… dan untung saja ponselnya tidak ikut remuk.
Karena itu satu-satunya yang bisamenunjukkan identitasnya.”
Tiba-tiba
air mata mengalir. Aku prihatin mendengar apa saja yang diceritakan dokter ini.
“Terimakasih
dok, terimakasih… saya mohon selamatkan Baekhyun..” pintaku sambil menggenggam
dokter ber-nametag Jo Hyun itu.
Dokter
tersenyum dan meninggalkanku.
Kini tinggal
hanya aku dan Baekhyun di ruangan ber-AC ini.
Aku kembali
menangis tersedu-sedu dan berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.
»©»
Tanpa sadar
aku tertidur di samping Baekhyun.
Tiba-tiba
sesuatu mengelus kepalaku yang terbaring di sisi ranjang. Aku segera
mengumpulkann kesadaran dan mengangkat kepala. Baekhyun. Dia memandangku dengan
kedua matanya yang sayu namun menghangatkan.
“Baekhyun?”
panggilku hampir tak percaya bila ini sungguh terjadi. Aku khawatir bila ini
salah satu mimpiku.
Baekhyun
mengedipkan matanya kepadaku dan aku tersenyum gembira mendapati kesadarannya.
Dengan
cekatan aku memanggil dokter.
“Sebaiknya
anda tunggu dulu diluar…” ucap seorang suster berpawakan kecil yang tampak
cantik dengan seragam serba putihnya.
Aku hanya
mengangguk dan menuruti apa perintahnya. Semoga saja Baekhyun benar-benar
membaik.
Tidak lama
kemudian dokter tadi keluar menghampiriku.
“Sodara
Baekhyun sudah sadar dan kondisinya sedikit lebih baik. Anda bisa
mengunjunginya sekarang.” dokter itu tersenyum.
“Benarkah
dokter? Terimkasih…” aku memasuki ruang dimana Baekhyun terbaring. Kini dia
tidak lagi mengenakan respirator. Kedua suster yang tadinya merapikan alat-alat
kedokteran mengucapkan permisi dan meninggalkanku sendirian dengan Baekhyun.
Jantungku
berdetak lagi dengan tempo yang bisa dikata cepat. Aku masih belum percaya bila
sekarang Baekhyun, seorang laki-laki yang selalu menemaniku lewat jejearing
sosial disetiap malam tengah memandangku yang jaraknya hanya 2 meter darinya.
Kulangkahkan
kakiku mendekat dan Baekhyun terus memandangku. Pandangannya sangat hangat dan
membuat damai sehingga siapapun wanita yang terlanjur memandangnya tidak akan
bosan untuk tidak memandang namja ini.
“Chan Ru,
itukah dirimu?” tanyanya dengan suara yang terdengar ringan namun sedikit ada
bas disana.
Aku
melangkah terus sampai tidak ada jarak diantara kami. Segera kurengkuh tubuhnya
dalam pelukanku dan aku menangis. Aku tak peduli air mata yang terus membasahi
kemeja rumah sakitnya. Yang kurasakan hanyalah rasa lega yang berlebihan
sampai-sampai aku ingin menangis.
Baekhyun
sama sekali tidak keberatan menerima dan membalas pelukanku.
“Chan Ru?”
panggilnya lirih.
“Kenapa kau
tidak membalas e-mailku? Mengangkat teleponku? Kau tidak tahu betapa cemasnya
aku hah?! Aku sangat cemas padamu! Sampai dokter memberitahuku bila kau ada
disini. Aku sedih BaekHie… aku sedih..” tangisanku pecah dan aku menangis
terus.
“Chan Ru,”
panggilnya lagi.
Aku
mengangkat wajahku yang telah basah dengan air mata. Baekhyun mengusap wajahku
dengan kedua jempol tangannya. Aku menunduk malu. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan
air mata, aku payah.
“Maafkan
aku.” ujarnya lirih.
Aku tak
bergeming.
“Chan Ru,
kau cantik…” katanya hampir membuatku terjungkal karena kaget. “Tersenyumlah.”
tambahnya. Kuulur bibirku kesamping dan membentuk senyum untuknya.
Tiba-tiba
Baekhyun menarik lenganku dan dia bangkit dari tidur. Baekhyun menempelkan
bibirnya kebibirku. Kami berciuman.
»©»
FIN
Aaaaa!!
Endingnya! Itu endingnya sesuatu!! #author mimisan segalon
Makasih buat
semua yang udah mau baca FFku ini. Ayo, tunggu My Tinkerbell yang berikutnya
ya! Kira-kira author mau bawa siapa ya? Hm, tunggu aja! -_^
Pai Pai ^^
#pulang bareng Baekhyun

0 comments:
Post a Comment