Friday, July 5, 2013

"My Tinkerbell" [Baekhyun Ver] (4)

Posted by Unknown at 10:46 PM


“MY TINKERBELL”


Author : Jihan Kusuma
Cast : Jung Chan Ru, Baekhyun, and the others
Genre : Romance
Rating : PG-15
Legth : ONESHOOT
DESCLIMER : Author datang!! Melihat pageviews meningkat setelah aku post My Tinkerbell maka aku semakin semangat aja buat terus nulis serial ini. Hihihi.. terutama makasih buat yang udah baca!^o^ Ayo ni siapa yang pada nungguin Baekhyun?! Hayu ngaku!!
Okelah chingu-ya, langsung aja kita tancep gas buat baca ni FF. Maaf kalo ada typo atau kata yang salah –terutama pelafalan bahasa asing yang ga jelas. Sesungguhnya itu semua diluar kesadaran dan… Happy Reading^^
ChenKaiD.Ot®
»©»
Semembingungkan apapun Cinta itu tetap saja suatu kesengajaan akan rencana Tuhan, dan kadang itu terjadi tanpa disengaja…
[Baekhyun]
»©»
Kutekan tombol enter dan menunggu tulisan loading beserta lingkaran putih yang terus berputar menandakan bila aku harus menunggu. Setelah sekitar 2 menit aku menunggu akhirnya apa yang kutunggu-tunggu tuntas juga. Yes, terkirim! Hatiku bersorak senang ketika mendapati artikel yang telah dengan susah payah kutulis untuk dilombakan di blog khusus para pecinta fotografer ini terkirim.
Ne, baik akan kujelaskan.
Ada sebuah event khusus para pecinta fotografer. Eventnya adalah menulis artikel tentang segala sesuatu yang berbau fotografi. Dan aku memutuskan untuk menulis tentang foto tumblr yang akhir-akhir ini difavoritkan di seluruh belahan dunia.
Kugosokkan kedua telapak tanganku. Aku sangat lega bisa memposting karyaku itu. Dan, kini satu-satunya yang harus kulakukan adalah menunggu pengumuman pemenang event ini. Aku sangat berharap bisa memenangkannya karena memang artikel itu aku buat dengan segala jerih payah –karena aku memang bukan orang yang pandai dalam hal mengarang terutama artikel atau berita.
Kututup laptop putihku dan mematikan lampu belajar.
Selanjutnya aku membaringkan tubuh dan siap menyeberang ke dunia mimpi, karena memang ini sudah sangat larut malam.
»©»
Malam berikutnya,
Aku memeriksa blog event itu lagi dan kutemui ada 15 likes untuk artikel yang ku-post kemarin. Bibirku langsung melengkung dengan manis menunjukkan betapa senangnya hatiku. Ku-klik tulisan ’15 likes’ dan di layar laptop terpampang 15 orang yang telah menyumbangkan likenya untukku. Aku lihat nama yang terletak di jajaran paling atas –tanda dia orang pertama yang meng-like artikelku tersebut.
“BaekHie” gumamku membaca tulisan itu. Hm, sepertinya itu nama marga dari orang ini. Ku-klik tulisan BaekHie itu dan setelahnya kutemui profil dari orang ini.
Tinggal di Seoul. Jenis kelamin laki-laki dan tanggal lahirnya tidak diketuhi. Foto profilnya hanya gambar balon udara.
“Hm, penasaran…” pikirku sambil mempoutkan bibir.
Kugulung crusor kebawah dan disana tertera alamat emailnya. Aku berfikiran untuk mengirim surat kepada orang ini sebagai rasa terimakasihku.
“Gomawo telah meng-like artikelku yang ada di event. ^^ Sekali lagi gomawo.” ketikku. Kemudian kutekan enter dan tulisan loading yang menyebalkan itu kembali muncul ditengah-tengah layar laptop.
»©»
Malam kedua….
Kulihat ada sebuah pesan masuk di email. Hatiku terasa terlonjak didalam sana. Entah mengapa aku merasa senang mendapat balasan itu. Sebelumnya kurapihkan poni panjang yang tergerai disekitar telinga dan mulai membuka surat itu.
“Ne”
Tulisnya.
“Yak, hanya itu jawabannya?!” batinku sedikit kecewa. Ah, dia membuatku semakin penasaran saja. Kuputuskan untuk membalas lagi. Sesungguhnya aku sangat bingung untuk menuliskan apa sebagai bentuka basa-basi demi terbuka identitasnya. Oke, baiklah.. aku yang mulai saja!
“Baekhie, berapa usiamu?” ketikku cepat.
‘Hum, benarkah cara bertanyaku? Kurasa ini terlalu terburu-buru untuk ditanyakan.’. Aku menghapus tulisan itu dan kembali memikirkan kalimat lain.
“Baek, itukah nama margamu?” ketikku dengan ragu. Setelah itu kuberanikan diri untuk meng-klik tombol ‘send’.
»©»
“Ne, ada apa?” balas BaekHie.
Jantungku berdentum sekeras orang yang barusaja melakukan sit-up 100 kali. Entah ada apa aku sangat bersemangat untuk terus bertanya.
“Ani, hanya saja aku sangat penasaran pada balon terbang di poto profil itu.” balasku mencoba jujur.
»©»
Malam berikut…
Kuperiksa lagi artikelku yang ada di blog event. Masih 17 likers. Tak apa lah, setidakanya aku bisa mem-promote artikelku itu melalui media lain.
Setelah mempromosikan artikel itu lewat tweet aku membuka satu pesan masuk melalui e-mail. Sudah kuduga itu BaekHie.
“(Pict.002.5) Inikah maksudmu?” ternyata dia mengirimkan gambar profilnya itu. Aku semakin senang ternyata BaekHie bukan tipe orang yang sok tidak peduli. Dia cukup ramah untuk diajak berteman.
“Ne! Itu, apakah itu hasil dari fotografimu sendiri?” tanyaku penuh semangat.
»©»
Next Night….
“Ne, aku mengambilnya ketika ada penerbangan balon udara di China. Bagaimana menurutmu?”
Mataku menyimpit pertanda aku sedang tersenyum. Aku senang dia ganti bertanya. Kurasa ini awal yang baik untuk pertemanan.
“Itu sangat keren! Menggunakan kamera apa? Bila aku boleh tahu.” balasku dan untuk kali ini tulisan loading hanya muncul sekilas. Sinyal malam ini sangat lancar.
Kurasakan haus di tenggorokanku dan aku menuju kulkas yang ada di apartemen pribadiku ini –aku tinggal sebagai mahasiswa di apartemen pemberian appa. Dengan membawa segelas dingin air es aku kembali kemeja laptop.
Nyaris saja aku tersedak dan menyemburkan air dari mulut ketika mendapati sebuah pesan masuk. Benarkah BaekHie sedang online saat ini?! Wah, aku sangat ingin mengobrol.
“Hanya kamera dari tabletku.” balas BaekHie.
Aku cepat-cepat duduk dan menaruh gelas besarku di meja. Dengan terburu kuketikkan kalimat balasan.
“Tapi itu sangat jernih! Kau berkata jujur?” kutekan enter dan terkirim.
“Hm, tentu saja aku berkata jujur. Apa yang membuatmu mengira aku membohongimu?” balasnya.
“Biasanya orang yang menggunakan foto profil lain bukan orang yang suka berterus terang.”
“O, begitukah?”
“Ne, sudah banyak orang semacam itu yang pernah kutemui.” balasku lagi dan lagi.
“Kurasa aku orang pertama yang melenceng dari teorimu itu.” lanjut BakHie.
Rasanya seperti ada kembang api dalam perutku yang membuatku terus saja bersemangat untuk mengobrol dengannya. Sampai-sampai aku tidak sadar bila sekarang sudah hampir tengah malam.
“Baik, aku percaya padamu BaekHie-ya.”
“Namaku Baekhyun.”
“Oke, terimakasih telah jujur.”
“Lalu siapa namamu?”
“Namaku Chan Ru.”
“Hei, nama macam apa itu?”
“Jangan mengejekku! Itu nama pemberian dari halmoniku!”
“Hahaha, kurasa selera humor nenekmu itu terlalu tinggi!” ejek Baekhyun, tetapi aku tidak tahu mengapa sama sekali tidak bisa marah padanya.
“Terserahlah, aku ngantuk!” tulisku.
“Baik, tidur saja!”
“Kau tidak mengantuk?”
“Aku punya insomnia.”
“Arraso, aku mengalah.. oke selamat malam Baekhyun!”
Aku langsung mematikan laptop dan tidak memikirkan lagi balasan terakhir darinya. Hanya ada rasa kantuk yang mendominasiku saat ini.
»©»
Malam berikutnya lagi…
Sekarang sudah pukul 10 malam dan aku sedang asyik menyesap kopi. Tentu saja sambil terus menatap layar laptop.
“Hm, apa hobimu Baekhyun-ssi?”
“Mungkin hanya hunting dan makan.” jawabnya seadanya.
“Makan? Kau gemuk?” aku terus bertanya.
“Tidak, bahkan aku paling kecil dari teman-temanku.”
Aku mengangguk-angguk kecil. Aku percaya saja karena aku juga seperti itu. Aku suka meal dan tetap saja kurus. Kurasa aku memiliki kesamaan dengan Baekhyun ini.
“Lalu, apa hobimu Chan Ru?” tanyanya sebelum aku membalas lagi.
“Hm, apa ya…” ketikku.
“Jangan bilang kau juga suka makan? Atau jangan jangan kau punya tubuh yang gemuk?”
“Yak, tidak. Mungkin hanya iseng menggambar atau nonton.”
“Film favoritmu?”
“Aku suka action, tidak terlalu tertarik dengan kisah cinta dan horror.”
“O, jadi kau penakut!?”
Hi, seandainya dekat pasti aku akan menggetok kepala orang ini. Enak saja dia bilang aku penakut.
“Yak! Sembarangan! Aku bukan penakut”
“Lalu apa alasanmu tidak suka dengan horror?”
“Aku tidak tahu.”
“Ayolah…”
“Aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya. Lalu bagaimana dengan film favoritmu?”
“Aku suka horror dan fantasy.”
“Jadi karena itu kau meledekku penakut? Ternyata kau pecinta horror.”
“Hahaha dasar wanita!”
“Lihat pukul berapa sekarang!”
“Masih tengah malam.”
“Masih? Kurasa kau memang ahli begadang tuan Baekhyun.”
“Tidak juga, bukankah aku sudah pernah berkata bila aku insomnia. Kalau kau mengantuk tidur saja.”
“Tidak, aku tidak mengantuk.”
“Oh, jadi kau mau menemaniku?”
“Eh, jangan GR! Aku hanya tidak bisa tidur.
“Jangan bohong!”
Tiba-tiba pipiku merona merah. Aku memang sengaja meminum kopi agar bisa terus terjaga bersamanya.
“Memangnya apa yang sedang kaulakukan?”
“Melukis.”
“Wow, kau seorang pelukis?”
“Ani, ini hanya salah satu kegemaran.”
“Boleh tahu kau sedang melukis apa?”
“Dirimu.”
“Jangan bercanda Baekhyun-ssi! Bagaimana bisa kau melukis orang yang bahkan baru kau kenal.. kau juga belum tahu bagaimana rupaku.”
“Bagaimana bentuk matamu?” tanyanya tiba-tiba.
Jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya dan aku takut bila Baekhyun hanya berpura-pura dan cuma mau membuatku GR.
“Bulat besar.” balasku seadanya, jujur.
“Lalu rambutmu?”
“Hanya sepunggung”
Beberapa menit belum ada balasan. Mungkin dia masih menggmbarkan sketsa.
“Lurus?”
“Tidak, bergelombang besar.”
“Warnanya?”
“Hitam. Apakah kau serius Baekhyun-ssi?”
“Tentu saja.. aku bukan pembohong.”
Entah kenapa ada sesuatu yang mencelos di dalam dadaku. Aku terharu bahkan ingin menangis melihat kesungguhannya melukis diriku.
“Sudah selesai?” tanyaku sembari sabar menunggunya.
“Ne.” jawabnya sukses membuatku kaget.
“Wah, cepat sekali. Aku ingin melihat hasilnya!”
“Eits, tidak boleh!”
“Baekhyun!!”
“Haha, aku hanya bercanda. Tentu saja kau boleh melihatnya. Tapi nanti, bila kita bertemu.”
Hah? Jadi dia menginginkan untuk ketemuan?
“Memangnya kapan?”
“Entahlah, kurasa suatu saat nanti.. jika Tuhan mengizinkan.”
“Hm, baik... aku akan menunggu saat itu.” balasku.
»©»
Sudah 3 minggu lebih kami terus berkomunikasi melwati e-mail dan saling bertukar akun tweeter. Bahkan hampir setiap saat kita berbalas SMS.
“Kau sudah tidur?” tanyanya lewat SMS.
Aku segera membenarkan posisi tidurku menjadi terlentang dan mengangkat ponsel pintarku untuk membalas pesannya.
“Belum.”
Lalu kukirim pesan itu. Tak lama HPku bergetar lagi dan tentu saja Baekhyun yang membalas sms itu.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Hanya berbaring. Lalu, bagaimana denganmu?”
“Sama.”
“Tidurlah, ini sudah sangat larut. Setiap hari kau terus begadang.”
“Aku tidak apa-apa. Kau yang seharusnya tidur, kau kan seorang wanita.”
“Apa hubungannya?”
“Tidak ada, ayo tidurlah.”
Hatiku tersentuh membaca kata demi kata yang dia kirimkan. Baekhyun adalah orang yang peduli dan perhatian. Andai saja aku memiliki namjachingu sepertinya. Pasti aku akan sangat bahagia.
“Baiklah, jika itu perintahmu.”
“Gadis pintar.” balasnya untuk yang terakhir kali di malam ini.
»©»
Pada suatu hari…
Aku sudah menghubungi nomornya berkali-kali dan dia tidak menjawab. Berpuluh-puluh pesan kukirim dan tidak juga terkirim. Aku cek di e-mail dan mengiriminya pesan. Baekhyun juga tidak membalas. Aku mulai frustasi dan bingung.
‘Kemana dia?’ aku memijat keningku yang rasanya pening berdenyut-denyut.
“Drrrt…” ponselku bergetar dan kudapati panggilan nomor tak dikenal disana. Hatiku terus memanggil-manggil nama Baekhyun dan berharap itu dia.
“Yoboseo?” tanyaku.
“Nona Chan Ru?” tanya seseorang disana. Tepatnya suara seorang namja.
“Ne, saya sendiri. Ini siapa?” tanyaku dengan dahi yang berkerut.
“Apakah anda teman dari sodara Baekhyun?” tanyanya lagi.
Jantungku rasanya mau copot da terus berdetak tak beraturan. “Maaf, ini dari mana?” ulangku dengan penekanan.
“Kami dari rumah sakit. Sodara Baekhyun sedang terbaring lemah di ICU.. kami sudah menghubungi keluarganya tapi tidak ada yang mengangkat telepon. Dan saat ini sodara Baekhyun sedang memanggil-manggil nama anda. Dia belum sadarkan diri…” jelas orang itu.
Aku mencubit pipiku berulang ulang berharap aku segera sadar dari mimpi buruk ini. Tidak mungkin Baekhyun…
“Nona, apakah anda sedeang sibuk? Kami sangat mengharapkan kedatangan anda.” tambahnya dengan nada memelas yang terdengar kental. Hampir saja aku menjathkan ponsel dari telingaku sebelum dia lanjut berbicara.
Tanpa banyak basa-basi aku segera meminta alamat rumah sakit itu.
»©»
Namja itu kini berbaring di ranjang pasien dengan respirator yang menutup hidungnya. Kepalanya diperban secara memutar dan tampak bercak merah yang pastinya itu darah. Pendeteksi terus berbunyi membaca detak jantungnya yang terdengar sama disetiap detik. Dua buah infuse menembus kulit tangannya. Salah satunya infuse darah –pertanda Baekhyun terlalu banyak pendarahan.
“Dia mungkin mengantuk ketika menyetir.. dan kecelakaan itu terjadi begitu saja. Mobil mercy sodara Baekhyun membentur pohon yang ada dipinggir jalan.” suara dokter ini terus berkicau ria menceritakan kronologi peristiwa menyedihkan ini. Aku yakin tadi orang ini yang meneleponku. Suaranya tidak jauh beda dari yang ada di telepon.
“Kami menemukan ponselnya terus berbunyi… dan untung saja ponselnya tidak ikut remuk. Karena itu satu-satunya yang bisamenunjukkan identitasnya.”
Tiba-tiba air mata mengalir. Aku prihatin mendengar apa saja yang diceritakan dokter ini.
“Terimakasih dok, terimakasih… saya mohon selamatkan Baekhyun..” pintaku sambil menggenggam dokter ber-nametag Jo Hyun itu.
Dokter tersenyum dan meninggalkanku.
Kini tinggal hanya aku dan Baekhyun di ruangan ber-AC ini.
Aku kembali menangis tersedu-sedu dan berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.
»©»
Tanpa sadar aku tertidur di samping Baekhyun.
Tiba-tiba sesuatu mengelus kepalaku yang terbaring di sisi ranjang. Aku segera mengumpulkann kesadaran dan mengangkat kepala. Baekhyun. Dia memandangku dengan kedua matanya yang sayu namun menghangatkan.
“Baekhyun?” panggilku hampir tak percaya bila ini sungguh terjadi. Aku khawatir bila ini salah satu mimpiku.
Baekhyun mengedipkan matanya kepadaku dan aku tersenyum gembira mendapati kesadarannya.
Dengan cekatan aku memanggil dokter.
“Sebaiknya anda tunggu dulu diluar…” ucap seorang suster berpawakan kecil yang tampak cantik dengan seragam serba putihnya.
Aku hanya mengangguk dan menuruti apa perintahnya. Semoga saja Baekhyun benar-benar membaik.
Tidak lama kemudian dokter tadi keluar menghampiriku.
“Sodara Baekhyun sudah sadar dan kondisinya sedikit lebih baik. Anda bisa mengunjunginya sekarang.” dokter itu tersenyum.
“Benarkah dokter? Terimkasih…” aku memasuki ruang dimana Baekhyun terbaring. Kini dia tidak lagi mengenakan respirator. Kedua suster yang tadinya merapikan alat-alat kedokteran mengucapkan permisi dan meninggalkanku sendirian dengan Baekhyun.
Jantungku berdetak lagi dengan tempo yang bisa dikata cepat. Aku masih belum percaya bila sekarang Baekhyun, seorang laki-laki yang selalu menemaniku lewat jejearing sosial disetiap malam tengah memandangku yang jaraknya hanya 2 meter darinya.
Kulangkahkan kakiku mendekat dan Baekhyun terus memandangku. Pandangannya sangat hangat dan membuat damai sehingga siapapun wanita yang terlanjur memandangnya tidak akan bosan untuk tidak memandang namja ini.
“Chan Ru, itukah dirimu?” tanyanya dengan suara yang terdengar ringan namun sedikit ada bas disana.
Aku melangkah terus sampai tidak ada jarak diantara kami. Segera kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku dan aku menangis. Aku tak peduli air mata yang terus membasahi kemeja rumah sakitnya. Yang kurasakan hanyalah rasa lega yang berlebihan sampai-sampai aku ingin menangis.
Baekhyun sama sekali tidak keberatan menerima dan membalas pelukanku.
“Chan Ru?” panggilnya lirih.
“Kenapa kau tidak membalas e-mailku? Mengangkat teleponku? Kau tidak tahu betapa cemasnya aku hah?! Aku sangat cemas padamu! Sampai dokter memberitahuku bila kau ada disini. Aku sedih BaekHie… aku sedih..” tangisanku pecah dan aku menangis terus.
“Chan Ru,” panggilnya lagi.
Aku mengangkat wajahku yang telah basah dengan air mata. Baekhyun mengusap wajahku dengan kedua jempol tangannya. Aku menunduk malu. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan air mata, aku payah.
“Maafkan aku.” ujarnya lirih.
Aku tak bergeming.
“Chan Ru, kau cantik…” katanya hampir membuatku terjungkal karena kaget. “Tersenyumlah.” tambahnya. Kuulur bibirku kesamping dan membentuk senyum untuknya.
Tiba-tiba Baekhyun menarik lenganku dan dia bangkit dari tidur. Baekhyun menempelkan bibirnya kebibirku. Kami berciuman.
»©»
FIN
Aaaaa!! Endingnya! Itu endingnya sesuatu!! #author mimisan segalon
Makasih buat semua yang udah mau baca FFku ini. Ayo, tunggu My Tinkerbell yang berikutnya ya! Kira-kira author mau bawa siapa ya? Hm, tunggu aja! -_^
Pai Pai ^^ #pulang bareng Baekhyun

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei