“MY TINKERBELL”
Author : Jihan Kusuma
Cast : Park Yun Rei, Do Kyung Soo
(D.O)
Genre : Romance
Rating : PG-15
Legth : ONESHOOT
DESCLIMER : Perhatian! My
Tinkerbell ini adalah seri yang kedua dan dibuat khusus untuk EXO. Karena hati
saya udah terlanjur tercemar nama EXO T_T. Oke, Park Yun Rei adalah punya saya
sendiri dan bisa dipinjem ama siapa aja yg mau. Dan D.O itu seratus persen
milik Soo Man ><.
Okelah chingu-ya, langsung aja kita
tancep gas buat baca ni FF. Maaf kalo ada typo atau kata yang salah –terutama
pelafalanbahasa asing yang ga jelas. Itu semua tanpa aku sengaja.
ChenKaiD.Ot®
»©»
“Terkadang salju, kapas, madu, dan susu tidak
dapat menandingi lembutnya es krim…”
[D.O
/ Kyungsoo]
»©»
Pagi
ini merupakan pagi yang cerah di Seoul. Memang bukan hari libur, namun entah
mengapa hati Kyung Soo [D.O] (seorang namja yang berprofesi sebagai seorang
penyanyi yang suka manggung di café-café) sedang sangat bersemangat. Kini
dilehernya telah terkalung sebuah kamera hitam yang bisa diperkirakan bila
harganya tidak murah. Selain menyanyi, Kyung Soo senang sekali berfotografi
yang dimana latar belakangnya adalah lingkungan sekitar yang menurutnya menarik
dilirik.
Kini
dia telah melangkah memasuki taman dan mulai melihat-lihat sekitar.
Pandangannya menyebar kemanapun dia mau seolah menerawang ujung langit yang
tanpa batas. Ada anak-anak TK yang sedang berlarian sambil membawa balon dan
seorang guru dengan pawakan mungil berkacamata mengekor dibelakang mereka
–tentu saja sedang mengawasi dan menuntun anak-anak itu ke jalan yang benar.
Juga ada beberapa penjual permen dan boneka yang menjajakan barangnya sambil
berteriak-teriak. Beberapa orang kantoran sedang memangku laptop sambil
menyedot sedikit-demi sedikit icemocca mereka –mungkin sedang memanfaatkan
fasilitas Wi-Fi di tempat ini. Dan banyak lagi yang lain.
D.O
tersenyum dan mulai mengangkat kameranya kedepan wajah. Tangan kirinya sibuk
memutar-mutar kamera dengan mata menyimpit.
Dan,
Dia
sukses mengambil gambar sebuah objek menarik.
Sudah
hampir satu jam dia disini sejak pukul tujuh pagi tadi –kalian pasti bisa
memperkirakan pukul berapa sekarang.
Dia
lelah dan duduk di sebuah bangku putih ditaman itu yang kebetulan kosong.
Dilihatnya lagi kamera miliknya. Jempol tangan D.O menekan-nekan tombol entah
tombol apa. Dia memeriksa hasil hunting hari ini. Sudut bibir manis itu
terangkat kesamping pertanda puas akan hasil hari ini.
Lalu
pandangannya menyebar lagi keseluruh sudut taman. Seperti yang dilihatnya tadi,
banyak orang beraktifitas. Namun, kedua bola mata itu terhenti saat menangkap
banyang seorang penjual es krim. Maksudku, bukan seperti yang kalian fikirkan.
Bukan es krim yang dia perhatikan. Namun seseorang yang sedang sibuk menjual
dagangannya.
^^Yap,
Seorang
yeoja dengan rambut hitam lurus sebahu. Yeoja itu tersenyum seraya memberikan
semangkuk kecil es krim cokelat pada seorang anak TK yang sedang mengantre. Si
anak kecil menerimanya dengan senang hati dan bibirnya mengucap terimakasih,
yang langsung dijawab oleh si yeoja manis.
Hampir
setengah menit mata D.O tak berkedip memandang sesosok asing itu. Setelah
selesai mengagumi betapa manisnya gadis itu dia langsung mengangkat lagi
kameranya. Tanpa pikir panjang dia mengambil gambar yeoja es krim saat
tersenyum. Setelah beberapa detik dia mengambil beberapa gambar lagi dan merasa
senang.
Tiba-tiba
jantungnya berdetak lebih cepat dari normal.
»©»
Hari
berikutnya
Taman
tidak seramai kemarin. Namun hari ini ada beberapa pemuda pemain skateboard
yang sedang berlatih di sekitar taman. Juga penjual bunga dan petugas taman
yang sibuk menebarkan biji-bijian untuk burung penghuni taman.
D.O
mulai beraksi dengan kameranya. Beberapa jepretan berhasil dia dapatkan.
Tangannya meraba isi tas dan menemukan sebuah album foto. Dibuka halaman demi
halaman. Dalam album foto itu hanya ada foto-foto hasil huntingnya sendiri.
Dalam hati D.O sangat bangga dan semakin semangat untuk mencari objek lain.
Untuk
sesaat pikirannya melayang dan merasakan ada sesuatu yang belum lengkap. Dia
berfikir keras berusaha menemukan sesuatu itu. Dan benar saja.
“Dimana
gadis kemarin?” tanyanya dalam hati.
Kepalanya
menoleh kekanan dan kekiri berusaha menemukan gadis es krim.
“Mungkin
dia tidak disini..” batin D.O.
Namja
itu mengemasi barang-barang dan menyampirkan tasnya ke pundak sambil nenantang
kamera. Langkahnya perlahan menyusuri jalan taman yang cukup ramai.
D.O
masih belum mengerti mengapa dia mencari gadisi itu. Dia tidak tahu kenapa
ingin melihat keberadaan penjual es krim tersebut. Tanpa ada alasan yang jelas.
Dia hanya menuruti apa kata hati.
Jantungnya
kembali berdetak diatas standart kenormalan ketika menemui sosok yang dicari
itu. Gadis tersebut sedang duduk sambil menunggu datangnya pelanggan. Sesekali
dia mengipaskan tangan pertanda sedang gerah.
Dentuman
dalam dada namja ini semakin tak karuan dan bibirnya kaku. Hampir saja kamera
yang dia bawa jatuh saking terkagumnya dengan wanita ini. Beberapa saat kemudia
dia tersadar dan terbingung sendiri. Tangan kanan D.O terangkat meraba dadanya,
berusaha menghantikan kontraksi jantung.
Otaknya
berputar merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Seumur-umur dia tak sekalipun
merasakan yang semacam ini saat melihat wanita. Dan kenapa harus wanita penjual
es krim ini yang membuat D.O salah tingkah.
Seorang
ibu dan anak kecil datang menghampiri wanita es krim. Mereka memesan es krim
dan dengan gaya manis wanita itu memberikan pesanan.
Dalam
hati, D.O ingin sekali mengahampiri wanita itu dan berbicara. Tapi ada gugup
yang menghalanginya. Dia kurang keberanian dan sangat grogi bila harus
berurusan dengan yeoja.
Kini
bisa disimpulkan, bila D.O menyukai gadis itu pada pandangan pertama.
»©»
Hari
selanjutnya
Kali
ini bukan kamera yang D.O bawa, melainkan gitar kesayangannya. Dia tidak
bernyanyi namun hanya sekedar memetik gitar itu beberapa kali. Sesungguhnya
rencananya hari ini adalah menemui yeoja pujaannya itu. Dan lagi-lagi dia
terjebak dalam kebimbangan. D.O melamun bingung seraya sesekali menoleh gadis
es krim yang ada tak jauh dari tempatnya duduk.
“I
lost my mind.. naega jumdul bwaseul ttae…” gumamnya menggumamkan sebuah lagu
–sambil melamun tak jelas.
Setelah
beberapa kali otaknya bergulat dengan pikirannya sendiri akhirnya D.O bangkit
dan melangkah menghampiri gadis itu. Kini jantung D.O benar-benar akan melompat
keluar dari tempatnya namun dengan tekad yang sudah sangat besar dia berusaha
melakukan perintah hati.
“Selamat
pagi, tuan muda mau memesan apa? Ada vanilla, moca, cokelat, caramel, kismis,
dan aras buah.” terang gadis itu dengan lembut sampai-sampai D.O hampir mati di
tempat.
“E,
um, eum.. a,aku..” kata-kata yang sebelumnya sudah D.O rancang khusus langsung
hilang dalam sekejap. Dia gugup dan tidak mau memandang mata gadis itu sambil
menggaruk belakang telinganya yang sama sekali tidak gatal.
Si
gadis keheranan dan menatap D.O heran. Tentu saja D.O semakin berdebaran.
Untungnya gadis itu sama sekali tidak curiga dan masih sabar menunggu.
“A,
aku.. mau vanilla satu.” ucap D.O pada akhirnya.
Gadis
es krim tersebut tersenyum sambil menyendok es krim dan mengumpulkannya di
mangkuk kecil.
Mata
D.O bergerak memperhatikan. Ada setetes peluh yang mengalir di pelipis si gadis
dan poni panjang yang ada di salah satu sisi tergerai didepan telinga. Demi
apapun, D.O terkagum dengan wajah cantik nan tulus wanita ini. Dia sangat manis
dan untuk sesaat D.O menjadi lupa bagaimana cara bernafas gara-garanya.
“Ini
silahkan…” si gadis manis memberikan semangkuk kecil es krim sambil tersenyum
dan mengusap peluhnya. Di wajahnya sama sekali tidak ada gambaran rasa bosan
ataupun lelah meski sudah berkeringat seperti itu.
Dan
betapa bodohnya D.O dia masih melamun memandang si gadis es krim tanpa berkedip.
Kepala
gadis yang belum diketahui namanya itu miring ke kiri untuk memastikan bila D.O
tidak sedang pingsan berdiri (?). “Tuan?” tanyanya sambil mengayunkan tangan
kedepan muka D.O.
Selanjutnya
laki-laki itu sadar juga.
“Pabbo!
Apa yang sedang kufikirkan?” batinnya geram.
“Ini
es krimnya… tidak enak bila sudah meleleh.” ucap gadis itu lagi.
“Ah,
ne! Ne! Gomawo…” balas D.O sambil meraih es krim tersebut.
“Dua
ribu won saja…”
“Dua
ribu won?” ulang D.O tampak bingung. Namun, seusai itu dia merogoh saku dengan
kesusahan. Dan mengeluarkan selembar uang. Karena terlalu gugup D.O segera
pergi.
“Tuan…”
panggil gadis es krim lagi.
Langkah
D.O terhenti lalu dia berbalik. “A,ada apa?” tanyanya kikuk.
“Uang
anda 5 ribu… ini kembalinya.!”
“Um,
a, ambil saja…!” D.O menggeleng cepat sambil segera limbung dari pandangan
gadis es krim.
“Hum,
ada apa dengan orang itu?” pikir si gadis.
»©»
Hari
berikutnya
D.O
sangat senang bisa bertatap muka secara langsung dengan gadis es krim itu dan
smapai sekarang hatinya masih berbunga-bunga. Dia telah mencetak semua foto
gadis itu dan selalu melihatinya disetiap saat dan dimanapun dia berada.
Terkadang tingkahnya seperti orang gila yang mencium selembar foto lalu
mengajaknya berbicara.
Taman
di pagi ini sangat ramai dan ada banyak anak kecil meniup gelembung sampai
gelembung-gelembung mereka beterbangan kemana-mana. Aroma bunga yang semerbak
tercium wangi. Dengan sinarnya yang cerah, matahari seolah tersenyum pada
dunia. Pokoknya bagi D.O hari ini terasa lebih hidup dari biasanya.
Dimasukkannya
lagi lembaran lembaran foto itu ke tasnya lalu beranjak dari duduk dan
menantang kameranya. Dia ada kuliah pukul 9 dan saat ini kurang beberapa menit
lagi pukul 9.
Karena
sibuk sambil berjalan dengan terburu-buru. Tiba-tiba bahunya menghantam salah
satu pejalan kaki sampai-sampai tas yang pada mulanya tergantung di pundaknya
jatuh. Dan- dia tadi belum menutup resleting tas-nya.
“Maaf,
aku benar-benar…” ucap D.O pada orang itu.
Kalian
tahu kenapa kata-kata itu terpotong?
Tentu
saja, kini gadis es krim itu tepat di depan mata D.O dan mereka bertatapan.
Tentu saja si gadis juga merasakan hal yang sama. Mereka sama-sama kaget.
Namun,anehnya gadis es krim bukanlah gadis es krim lagi. Penampilannya berbeda.
Dia tidak memakai seragam pink –ala penjual es krim. Dan tanpa gerobak es krim.
Wanita itu memeluk beberapa buku yang tidak seberapa tebal di lengannya.
Lalu,
keduanya menoleh sesuatu yang meluncur dari dalam tas D.O.
Yap,
foto-foto itu.
Si
gadis terbengong melihat gambar-gambar dirinya disana. Dan refleks saja
mulutnya terbuka lebar.
Dan
tahukan? Bagaimana D.O?
Dia
malu setengah mati. Kini kedoknya terbuka dengan sendirinya dan semuanya telah
diketahui oleh gadis es krim.
“Aku
tak bermaksud…” ucap D.O lagi-lagi terpotong.
Dengan
perasaan malu sekaligus bingung, gadis itu lenggang dari hadapan D.O dan
berlari menjauh. Bagaimana tidak malu? Kau mengetahui foto-fotomu yang bahkan
entah kapan diambil ada di tangan seorang pemuda tak dikenal yang kemarin baru
saja membeli semangkuk es krim vanilla dan dia tampak aneh.
D.O
menatap kebelakang. Melihat kepergian gadis cinta pandangan pertamanya.
»©»
Kuliah
kesenian hari ini telah usai.
D.O
keluar dari wilayah kampus dengan earphone yang tersangkut dikedua lubang
telinganya. Dia bermaksud untuk langsung pulang dan beristirahat.
Ketika
melewati termpat parkir, D.O sangat kaget melihat seorang yeoja dengan rambut
pendek lurus yang seperti pernah dia lihat sebelumnya. Gadis itu membawa
beberapa buku yang didekap dilengannya. Dia tampak sendiri. Si gadis berjalan
mendekat dan sepertinya akan segera bersimpangan dengan D.O.
“Gadis
penjual es krim itu?” batin D.O.
Ketika
mereka hampir bersimpangan ternyata si gadis juga mengetahui keberadaan D.O dan
memandang pemuda itu.
Mereka
berdua saling berpandangan satu sama lain dengan langkah yang sama sama
terhenti. Tidak ada satupun yang berani membuka mulut karena sama canggung.
“Jadi,
dia juga mahasiswa di kampus ini?” batin D.O lagi.
Gadis
es krim mulai salah tingkah setelah mengingat insiden foto tadi pagi. Dia
kembali menunduk dan malu. Lalu cepat-cepat berjalan melewati D.O.
Kini
D.O benar-benar bingung.
»©»
Malam
ini ada pesta kembang api di taman. D.O sengaja datang sambil membawa kamera
untuk mengabadikan moment penting ini.
Dia mulai memutar lensa DSLRnya dan mengambil gambar sana sini. Begitu banyak
anak-anak kecil yang sengaja membeli lampion dan mengerbangkannya sehingga
tampak berbagai macam warna dan bentuk lampion sedang menghiasi langit malam.
‘cekrekk..’
lagi lagi kameranya berbunyi pertanda telah berhasil mengambil gambar.
Dilihatnya
beberapa hasil foto dimalam ini. Bibirnya terangkat membentuk seulas senyum
yang manis.
D.O
kembali berjalan-jalan menikmati keramaian taman dimalam ini. Langit yang semua
sepi tanpa ada bintang sudah penuh terisi lampion-lampion yang indah.
Aku tak tahu mengapa dunia ini begitu sempit
sampai sampai aku bingung harus bergerak
Namun, dunia juga begitu baik sampai-sampai
dimanapun aku berada ada ‘dia’
Apakah ini disengaja?
Apakah dunia memang menyurunku untuk selalu
bertemu dengannya?
Disamping
air mancur berdiri sesosok wanita dengan rambut pendek lurus. Dia sedang
mengangkat kamera pocket dan memotret air mancur. Lagi-lagi D.O harus berjumpa
dengan gadis ini, si gadis es krim. Dan lag-lagi (lagi) si gadis ini sedang
sendirian.
Ini
membuat D.O berpikir apakah gadis ini tidak memiliki seorang teman pun? apakah
hanya anak-anak kecil dan beberapa mangkuk es krim yang selalu menemaninya?
Oke, namun selanjutnya D.O juga mengingat diri sendiri. Diapun sama, D.O memeng
tidak mempunyai seorang teman yang setia disampingnya. Dan mungkin karena
inilah dunia mempertemukan mereka untuk saling mengenal dan bersama.
D.O
mematung ditempat ketika sampai tepat dibelakang gadis itu. Dia tidak bermaksud
mengganggu kegiatannya.
“Kambang
api diluncurkan sepuluh setik lagi…! Mari kita hitung bersama-sama!!” ajak
sebuah suara dari microphone yang menggema keseluruh isi taman.
D.O
seolah tak mendengar suara itu. Padahal ini yang dia tunggu-tunggu.
“Satu!!”
hitung suara itu diikuti seluruh pengunjung taman.
Dan
beberapa detik kemudia si gadis berbalik sambil tersenyum memandang kameranya.
Belum sampai dia melangkah gadis itu ternyata telah sadar bila ada orang lain
dibelakangnya.
“Dua!!”
teriak seluruh isi taman.
Si
gadis es krim mengangkat kepala dan melihat sesosok tampan pemuda dihadapannya.
Karena
kaget hampir saja dia menjatuhkan kamera dari tangan. Jantung si gadis
menyerupai seberapa cepat kontraksi jantung D.O. Mereka sama-sama berdebaran.
“Tiga!”
Mereka
saling berpandangan tanpa berkedip. Dan entah apa yang sedang ada di fikiran
masing-masing. Ini begitu rumit.
“Empat!!!!...”
“Lima!”
“Enam!!”
“Tujuh!!!”
Si
gadis yang tak tahu musti berbuat apa berlari menjauhi D.O.
“Delapan!!”
D.O
segera mengejar gadis itu.
“Sembilan!!”
Setelah
saling kejar untuk beberapa meter, D.O sukses meraih lengan si gadis es krim
dan si gadis terhenti. Lalu gadis tersebut terhempas kearah D.O.
D.O
memeluk erat seerat yang dia bisa.
“SEPULUH!!!”
Mereka
berpelukan hangat dan.. puluhan kembang api meluncur ke gelapnya lazuardi
malam.
Romantis.
Hanya itu kesan malam ini.
Deru
nafas keduanya penyatu dan dada yang saling kembang kempis ditambah jantung
yang semakin beradu.
“Duarrr..duarr…!”
kembang api meletup-letup diatas puluhan lampion. Tepuk tangan meriah menyusul
dengan ramai.
“Saranghae…”
bisik D.O disela-sela rambut gadis es krim. Ini adalah malam terindah bagi
mereka.
»©»
FIN
Kamsa,
kamsaa.. #bow 90 derajad
Makasih
buat yang udah baca D.O versionnya. Tunggu versi selanjutnya ya. Tetap stay di
blogku dan coment please..^^ coment sangat dibutuhkan.
Thanx
semua…

2 comments:
pertemuan yang tanpa sengaja...huaaa aku mau dong sehari jadi gadis ice cream biar ketemu D.O haha...takdir yang menyatukan mereka.right. (y)
Gomawo for review, silahkan membaca yang lain^^]/ masih banyak kisah manis My Tinkerbell!!^^
Post a Comment