Friday, July 5, 2013

"My Tinkerbell" [D.O Ver] (2)

Posted by Unknown at 7:43 PM

        “MY TINKERBELL”


Author : Jihan Kusuma
Cast : Park Yun Rei, Do Kyung Soo (D.O)
Genre : Romance
Rating : PG-15
Legth : ONESHOOT
DESCLIMER : Perhatian! My Tinkerbell ini adalah seri yang kedua dan dibuat khusus untuk EXO. Karena hati saya udah terlanjur tercemar nama EXO T_T. Oke, Park Yun Rei adalah punya saya sendiri dan bisa dipinjem ama siapa aja yg mau. Dan D.O itu seratus persen milik Soo Man ><.
Okelah chingu-ya, langsung aja kita tancep gas buat baca ni FF. Maaf kalo ada typo atau kata yang salah –terutama pelafalanbahasa asing yang ga jelas. Itu semua tanpa aku sengaja.
ChenKaiD.Ot®
»©»
“Terkadang salju, kapas, madu, dan susu tidak dapat menandingi lembutnya es krim…”
[D.O / Kyungsoo]
»©»
Pagi ini merupakan pagi yang cerah di Seoul. Memang bukan hari libur, namun entah mengapa hati Kyung Soo [D.O] (seorang namja yang berprofesi sebagai seorang penyanyi yang suka manggung di café-café) sedang sangat bersemangat. Kini dilehernya telah terkalung sebuah kamera hitam yang bisa diperkirakan bila harganya tidak murah. Selain menyanyi, Kyung Soo senang sekali berfotografi yang dimana latar belakangnya adalah lingkungan sekitar yang menurutnya menarik dilirik.
Kini dia telah melangkah memasuki taman dan mulai melihat-lihat sekitar. Pandangannya menyebar kemanapun dia mau seolah menerawang ujung langit yang tanpa batas. Ada anak-anak TK yang sedang berlarian sambil membawa balon dan seorang guru dengan pawakan mungil berkacamata mengekor dibelakang mereka –tentu saja sedang mengawasi dan menuntun anak-anak itu ke jalan yang benar. Juga ada beberapa penjual permen dan boneka yang menjajakan barangnya sambil berteriak-teriak. Beberapa orang kantoran sedang memangku laptop sambil menyedot sedikit-demi sedikit icemocca mereka –mungkin sedang memanfaatkan fasilitas Wi-Fi di tempat ini. Dan banyak lagi yang lain.
D.O tersenyum dan mulai mengangkat kameranya kedepan wajah. Tangan kirinya sibuk memutar-mutar kamera dengan mata menyimpit.
Dan,
Dia sukses mengambil gambar sebuah objek menarik.
Sudah hampir satu jam dia disini sejak pukul tujuh pagi tadi –kalian pasti bisa memperkirakan pukul berapa sekarang.
Dia lelah dan duduk di sebuah bangku putih ditaman itu yang kebetulan kosong. Dilihatnya lagi kamera miliknya. Jempol tangan D.O menekan-nekan tombol entah tombol apa. Dia memeriksa hasil hunting hari ini. Sudut bibir manis itu terangkat kesamping pertanda puas akan hasil hari ini.
Lalu pandangannya menyebar lagi keseluruh sudut taman. Seperti yang dilihatnya tadi, banyak orang beraktifitas. Namun, kedua bola mata itu terhenti saat menangkap banyang seorang penjual es krim. Maksudku, bukan seperti yang kalian fikirkan. Bukan es krim yang dia perhatikan. Namun seseorang yang sedang sibuk menjual dagangannya.
^^Yap,
Seorang yeoja dengan rambut hitam lurus sebahu. Yeoja itu tersenyum seraya memberikan semangkuk kecil es krim cokelat pada seorang anak TK yang sedang mengantre. Si anak kecil menerimanya dengan senang hati dan bibirnya mengucap terimakasih, yang langsung dijawab oleh si yeoja manis.
Hampir setengah menit mata D.O tak berkedip memandang sesosok asing itu. Setelah selesai mengagumi betapa manisnya gadis itu dia langsung mengangkat lagi kameranya. Tanpa pikir panjang dia mengambil gambar yeoja es krim saat tersenyum. Setelah beberapa detik dia mengambil beberapa gambar lagi dan merasa senang.
Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari normal.
»©»
Hari berikutnya
Taman tidak seramai kemarin. Namun hari ini ada beberapa pemuda pemain skateboard yang sedang berlatih di sekitar taman. Juga penjual bunga dan petugas taman yang sibuk menebarkan biji-bijian untuk burung penghuni taman.
D.O mulai beraksi dengan kameranya. Beberapa jepretan berhasil dia dapatkan. Tangannya meraba isi tas dan menemukan sebuah album foto. Dibuka halaman demi halaman. Dalam album foto itu hanya ada foto-foto hasil huntingnya sendiri. Dalam hati D.O sangat bangga dan semakin semangat untuk mencari objek lain.
Untuk sesaat pikirannya melayang dan merasakan ada sesuatu yang belum lengkap. Dia berfikir keras berusaha menemukan sesuatu itu. Dan benar saja.
“Dimana gadis kemarin?” tanyanya dalam hati.
Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri berusaha menemukan gadis es krim.
“Mungkin dia tidak disini..” batin D.O.
Namja itu mengemasi barang-barang dan menyampirkan tasnya ke pundak sambil nenantang kamera. Langkahnya perlahan menyusuri jalan taman yang cukup ramai.
D.O masih belum mengerti mengapa dia mencari gadisi itu. Dia tidak tahu kenapa ingin melihat keberadaan penjual es krim tersebut. Tanpa ada alasan yang jelas. Dia hanya menuruti apa kata hati.
Jantungnya kembali berdetak diatas standart kenormalan ketika menemui sosok yang dicari itu. Gadis tersebut sedang duduk sambil menunggu datangnya pelanggan. Sesekali dia mengipaskan tangan pertanda sedang gerah.
Dentuman dalam dada namja ini semakin tak karuan dan bibirnya kaku. Hampir saja kamera yang dia bawa jatuh saking terkagumnya dengan wanita ini. Beberapa saat kemudia dia tersadar dan terbingung sendiri. Tangan kanan D.O terangkat meraba dadanya, berusaha menghantikan kontraksi jantung.
Otaknya berputar merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Seumur-umur dia tak sekalipun merasakan yang semacam ini saat melihat wanita. Dan kenapa harus wanita penjual es krim ini yang membuat D.O salah tingkah.
Seorang ibu dan anak kecil datang menghampiri wanita es krim. Mereka memesan es krim dan dengan gaya manis wanita itu memberikan pesanan.
Dalam hati, D.O ingin sekali mengahampiri wanita itu dan berbicara. Tapi ada gugup yang menghalanginya. Dia kurang keberanian dan sangat grogi bila harus berurusan dengan yeoja.
Kini bisa disimpulkan, bila D.O menyukai gadis itu pada pandangan pertama.
»©»
Hari selanjutnya
Kali ini bukan kamera yang D.O bawa, melainkan gitar kesayangannya. Dia tidak bernyanyi namun hanya sekedar memetik gitar itu beberapa kali. Sesungguhnya rencananya hari ini adalah menemui yeoja pujaannya itu. Dan lagi-lagi dia terjebak dalam kebimbangan. D.O melamun bingung seraya sesekali menoleh gadis es krim yang ada tak jauh dari tempatnya duduk.
“I lost my mind.. naega jumdul bwaseul ttae…” gumamnya menggumamkan sebuah lagu –sambil melamun tak jelas.
Setelah beberapa kali otaknya bergulat dengan pikirannya sendiri akhirnya D.O bangkit dan melangkah menghampiri gadis itu. Kini jantung D.O benar-benar akan melompat keluar dari tempatnya namun dengan tekad yang sudah sangat besar dia berusaha melakukan perintah hati.
“Selamat pagi, tuan muda mau memesan apa? Ada vanilla, moca, cokelat, caramel, kismis, dan aras buah.” terang gadis itu dengan lembut sampai-sampai D.O hampir mati di tempat.
“E, um, eum.. a,aku..” kata-kata yang sebelumnya sudah D.O rancang khusus langsung hilang dalam sekejap. Dia gugup dan tidak mau memandang mata gadis itu sambil menggaruk belakang telinganya yang sama sekali tidak gatal.
Si gadis keheranan dan menatap D.O heran. Tentu saja D.O semakin berdebaran. Untungnya gadis itu sama sekali tidak curiga dan masih sabar menunggu.
“A, aku.. mau vanilla satu.” ucap D.O pada akhirnya.
Gadis es krim tersebut tersenyum sambil menyendok es krim dan mengumpulkannya di mangkuk kecil.
Mata D.O bergerak memperhatikan. Ada setetes peluh yang mengalir di pelipis si gadis dan poni panjang yang ada di salah satu sisi tergerai didepan telinga. Demi apapun, D.O terkagum dengan wajah cantik nan tulus wanita ini. Dia sangat manis dan untuk sesaat D.O menjadi lupa bagaimana cara bernafas gara-garanya.
“Ini silahkan…” si gadis manis memberikan semangkuk kecil es krim sambil tersenyum dan mengusap peluhnya. Di wajahnya sama sekali tidak ada gambaran rasa bosan ataupun lelah meski sudah berkeringat seperti itu.
Dan betapa bodohnya D.O dia masih melamun memandang si gadis es krim tanpa berkedip.
Kepala gadis yang belum diketahui namanya itu miring ke kiri untuk memastikan bila D.O tidak sedang pingsan berdiri (?). “Tuan?” tanyanya sambil mengayunkan tangan kedepan muka D.O.
Selanjutnya laki-laki itu sadar juga.
“Pabbo! Apa yang sedang kufikirkan?” batinnya geram.
“Ini es krimnya… tidak enak bila sudah meleleh.” ucap gadis itu lagi.
“Ah, ne! Ne! Gomawo…” balas D.O sambil meraih es krim tersebut.
“Dua ribu won saja…”
“Dua ribu won?” ulang D.O tampak bingung. Namun, seusai itu dia merogoh saku dengan kesusahan. Dan mengeluarkan selembar uang. Karena terlalu gugup D.O segera pergi.
“Tuan…” panggil gadis es krim lagi.
Langkah D.O terhenti lalu dia berbalik. “A,ada apa?” tanyanya kikuk.
“Uang anda 5 ribu… ini kembalinya.!”
“Um, a, ambil saja…!” D.O menggeleng cepat sambil segera limbung dari pandangan gadis es krim.
“Hum, ada apa dengan orang itu?” pikir si gadis.
»©»
Hari berikutnya
D.O sangat senang bisa bertatap muka secara langsung dengan gadis es krim itu dan smapai sekarang hatinya masih berbunga-bunga. Dia telah mencetak semua foto gadis itu dan selalu melihatinya disetiap saat dan dimanapun dia berada. Terkadang tingkahnya seperti orang gila yang mencium selembar foto lalu mengajaknya berbicara.
Taman di pagi ini sangat ramai dan ada banyak anak kecil meniup gelembung sampai gelembung-gelembung mereka beterbangan kemana-mana. Aroma bunga yang semerbak tercium wangi. Dengan sinarnya yang cerah, matahari seolah tersenyum pada dunia. Pokoknya bagi D.O hari ini terasa lebih hidup dari biasanya.
Dimasukkannya lagi lembaran lembaran foto itu ke tasnya lalu beranjak dari duduk dan menantang kameranya. Dia ada kuliah pukul 9 dan saat ini kurang beberapa menit lagi pukul 9.
Karena sibuk sambil berjalan dengan terburu-buru. Tiba-tiba bahunya menghantam salah satu pejalan kaki sampai-sampai tas yang pada mulanya tergantung di pundaknya jatuh. Dan- dia tadi belum menutup resleting tas-nya.
“Maaf, aku benar-benar…” ucap D.O pada orang itu.
Kalian tahu kenapa kata-kata itu terpotong?
Tentu saja, kini gadis es krim itu tepat di depan mata D.O dan mereka bertatapan. Tentu saja si gadis juga merasakan hal yang sama. Mereka sama-sama kaget. Namun,anehnya gadis es krim bukanlah gadis es krim lagi. Penampilannya berbeda. Dia tidak memakai seragam pink –ala penjual es krim. Dan tanpa gerobak es krim. Wanita itu memeluk beberapa buku yang tidak seberapa tebal di lengannya.
Lalu, keduanya menoleh sesuatu yang meluncur dari dalam tas D.O.
Yap, foto-foto itu.
Si gadis terbengong melihat gambar-gambar dirinya disana. Dan refleks saja mulutnya terbuka lebar.
Dan tahukan? Bagaimana D.O?
Dia malu setengah mati. Kini kedoknya terbuka dengan sendirinya dan semuanya telah diketahui oleh gadis es krim.
“Aku tak bermaksud…” ucap D.O lagi-lagi terpotong.
Dengan perasaan malu sekaligus bingung, gadis itu lenggang dari hadapan D.O dan berlari menjauh. Bagaimana tidak malu? Kau mengetahui foto-fotomu yang bahkan entah kapan diambil ada di tangan seorang pemuda tak dikenal yang kemarin baru saja membeli semangkuk es krim vanilla dan dia tampak aneh.
D.O menatap kebelakang. Melihat kepergian gadis cinta pandangan pertamanya.
»©»
Kuliah kesenian hari ini telah usai.
D.O keluar dari wilayah kampus dengan earphone yang tersangkut dikedua lubang telinganya. Dia bermaksud untuk langsung pulang dan beristirahat.
Ketika melewati termpat parkir, D.O sangat kaget melihat seorang yeoja dengan rambut pendek lurus yang seperti pernah dia lihat sebelumnya. Gadis itu membawa beberapa buku yang didekap dilengannya. Dia tampak sendiri. Si gadis berjalan mendekat dan sepertinya akan segera bersimpangan dengan D.O.
“Gadis penjual es krim itu?” batin D.O.
Ketika mereka hampir bersimpangan ternyata si gadis juga mengetahui keberadaan D.O dan memandang pemuda itu.
Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain dengan langkah yang sama sama terhenti. Tidak ada satupun yang berani membuka mulut karena sama canggung.
“Jadi, dia juga mahasiswa di kampus ini?” batin D.O lagi.
Gadis es krim mulai salah tingkah setelah mengingat insiden foto tadi pagi. Dia kembali menunduk dan malu. Lalu cepat-cepat berjalan melewati D.O.
Kini D.O benar-benar bingung.
»©»
Malam ini ada pesta kembang api di taman. D.O sengaja datang sambil membawa kamera untuk mengabadikan  moment penting ini. Dia mulai memutar lensa DSLRnya dan mengambil gambar sana sini. Begitu banyak anak-anak kecil yang sengaja membeli lampion dan mengerbangkannya sehingga tampak berbagai macam warna dan bentuk lampion sedang menghiasi langit malam.
‘cekrekk..’ lagi lagi kameranya berbunyi pertanda telah berhasil mengambil gambar.
Dilihatnya beberapa hasil foto dimalam ini. Bibirnya terangkat membentuk seulas senyum yang manis.
D.O kembali berjalan-jalan menikmati keramaian taman dimalam ini. Langit yang semua sepi tanpa ada bintang sudah penuh terisi lampion-lampion yang indah.
Aku tak tahu mengapa dunia ini begitu sempit sampai sampai aku bingung harus bergerak
Namun, dunia juga begitu baik sampai-sampai dimanapun aku berada ada ‘dia’
Apakah ini disengaja?
Apakah dunia memang menyurunku untuk selalu bertemu dengannya?
Disamping air mancur berdiri sesosok wanita dengan rambut pendek lurus. Dia sedang mengangkat kamera pocket dan memotret air mancur. Lagi-lagi D.O harus berjumpa dengan gadis ini, si gadis es krim. Dan lag-lagi (lagi) si gadis ini sedang sendirian.
Ini membuat D.O berpikir apakah gadis ini tidak memiliki seorang teman pun? apakah hanya anak-anak kecil dan beberapa mangkuk es krim yang selalu menemaninya? Oke, namun selanjutnya D.O juga mengingat diri sendiri. Diapun sama, D.O memeng tidak mempunyai seorang teman yang setia disampingnya. Dan mungkin karena inilah dunia mempertemukan mereka untuk saling mengenal dan bersama.
D.O mematung ditempat ketika sampai tepat dibelakang gadis itu. Dia tidak bermaksud mengganggu kegiatannya.
“Kambang api diluncurkan sepuluh setik lagi…! Mari kita hitung bersama-sama!!” ajak sebuah suara dari microphone yang menggema keseluruh isi taman.
D.O seolah tak mendengar suara itu. Padahal ini yang dia tunggu-tunggu.
“Satu!!” hitung suara itu diikuti seluruh pengunjung taman.
Dan beberapa detik kemudia si gadis berbalik sambil tersenyum memandang kameranya. Belum sampai dia melangkah gadis itu ternyata telah sadar bila ada orang lain dibelakangnya.
“Dua!!” teriak seluruh isi taman.
Si gadis es krim mengangkat kepala dan melihat sesosok tampan pemuda dihadapannya.
Karena kaget hampir saja dia menjatuhkan kamera dari tangan. Jantung si gadis menyerupai seberapa cepat kontraksi jantung D.O. Mereka sama-sama berdebaran.
“Tiga!”
Mereka saling berpandangan tanpa berkedip. Dan entah apa yang sedang ada di fikiran masing-masing. Ini begitu rumit.
“Empat!!!!...”
“Lima!”
“Enam!!”
“Tujuh!!!”
Si gadis yang tak tahu musti berbuat apa berlari menjauhi D.O.
“Delapan!!”
D.O segera mengejar gadis itu.
“Sembilan!!”
Setelah saling kejar untuk beberapa meter, D.O sukses meraih lengan si gadis es krim dan si gadis terhenti. Lalu gadis tersebut terhempas kearah D.O.
D.O memeluk erat seerat yang dia bisa.
“SEPULUH!!!”
Mereka berpelukan hangat dan.. puluhan kembang api meluncur ke gelapnya lazuardi malam.
Romantis. Hanya itu kesan malam ini.
Deru nafas keduanya penyatu dan dada yang saling kembang kempis ditambah jantung yang semakin beradu.
“Duarrr..duarr…!” kembang api meletup-letup diatas puluhan lampion. Tepuk tangan meriah menyusul dengan ramai.
“Saranghae…” bisik D.O disela-sela rambut gadis es krim. Ini adalah malam terindah bagi mereka.
»©»
FIN
Kamsa, kamsaa.. #bow 90 derajad
Makasih buat yang udah baca D.O versionnya. Tunggu versi selanjutnya ya. Tetap stay di blogku dan coment please..^^ coment sangat dibutuhkan.
Thanx semua…

2 comments:

Unknown on July 31, 2013 at 12:33 AM said...

pertemuan yang tanpa sengaja...huaaa aku mau dong sehari jadi gadis ice cream biar ketemu D.O haha...takdir yang menyatukan mereka.right. (y)

Unknown on August 12, 2013 at 1:22 AM said...

Gomawo for review, silahkan membaca yang lain^^]/ masih banyak kisah manis My Tinkerbell!!^^

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei