10 days TO
the DEAD
liNE
Author : Jihan Kusuma
Cast : Xi Luhan, Shin Ah Cha (You), and the others
support cast^^
Genre : Romance, family, friendship
Leght : Chapters
DESCLIMER : Hallo readers! Yee! Khirnya bias bikin
part 3 nya!! ^^]/ semoga sabar dan makin suka aja. Maaf kalau ada typo atau
segala bentuk kesalahan ne? Selamat membaca…
ChenKaiD.Ot~~~
»*»
[10 Days to The Death Line Chap 2]
“Ah
Cha-ssi, sebenarnya siapa kau ini? Dan apa hubunganmu dengan Luhan?”
‘Pabbo!
Kenapa dia tanyakan itu!’ batin Luhan lagi. Ternyata kemari bukanlah jalan
keluar! Suho mudah sekali terpancing pada gadis cantik!
“Luhan
itu majikanku! Dan aku adalah seorang …“ kata-kata Ah Cha terputus begitu saja.
“Ah Cha!”
Luhan keluar dari benteng persembunyiannya dan menampakkan diri sebelum Ah Cha
lanjut menjelaskan kata “Malaikat maut”. Bisa bahaya bila Suho tahu akan ini
semua.
“Luhan!!”
seru Ah Cha tampak bahagia. Yeoja itu menjatuhkan roti sisanya diatas meja dan
mendekati Luhan. Dan mungkin karena terlalu bahagia Ah Cha memeluk leher majikannya
itu.
“Aku tahu
kau disini!” Ah Cha melompat-lompat dalam pelukannya sampai-sampai badan Luhan
itu terhuyung.
Suho
memandang kedua orang itu dengan tatapan paling keheranan diseluruh dunia. Dia
berfikir bila ini pasti ada apa-apa. Pasti ini bukan sekedar hubungan antara
bawahan dan majikan!
Luhan
menampakkan ekspresi frustasinya dibalik pelukan Ah Cha. Dia sangat bingung
harus bagaimana sekarang.
“Ah Cha,
lepaskan aku.. tolong.” Luhan melepaskan pelukan yaoja itu pada lehernya. Tapi
anehnya Ah Cha masih senyum-senyum tidak jelas. Menemukan majikkannya sudah
membuatnya sangat bahagia.
“Maaf
Suho…” cetus Luhan. “Ah Cha, ayo kita pergi dari sini.” Luhan segera meraih
pergelangan tangan Ah Cha dan menariknya keluar dari toko roti milik Suho.
“Selamat
tinggal Suho-ssi!!” untuk yang terakhir kalinya Ah Cha melambai dengan manis
kearah Suho dan sukses membuat Suho hampir terbang ke langit ketujuh.
“Ah…
Tuhan! Dia benar-benar malaikat!...” pekinya sambil tersenyum-senyum sendiri.
»*»
Luhan
terus menarik tangan Ah Cha melewati trotoar. Sesekali ada orang yang
memandangi mereka berdua. Beberapa juga tampak berbisik mengagumi kecantikan
wanita yang sedang dibawa namja ini. Tentu saja semuanya kagum pada Ah Cha. Hal
itu membuat Luhan semakin risih. Dia tidak suka dilihati.
Langkah
Luhan berhenti begitupun Ah Cha. Luhan melempar tangan Ah Cha sampai terlepas
dari genggamannya. Lalu memandang gadis itu nanar. “Mengapa kau terus
mengikutiku?” tanya Luhan dingin.
“Karena
kau majikanku dan aku bertanggung jawab atas dirimu untuk 10 hari ini, lebih
tepatnya 9 hari kedepan!” jawab Ah Cha lantang.
Luhan
berkacak pinggang lalu memijat keningnya. Denyutan dikepalanya semakin parah
saja mengingat 10 hari menuju kematian itu. Omong kosong, pikirnya.
“Hei,
dengarkan aku!” Luhan menatap Ah Cha garang.
Ah Cha
malah melipat kedua tangannya didepan dada dan balas menatap Luhan serupa. Dan
yang terjadi keduanya saling tatap satu sama lain.
“Aku
tidak percaya dengan omong kosongmu itu, bodoh!” cibir Luhan.
Ah Cha
melotot geram. “Itu bukan omong kosong!” balas Ah Cha.
“Memangnya
siapa yang bisa begitu mudahnya percaya dengan hal bodoh semacam itu! Mustahil!
Jadi, mulai sekarang..mulai detik ini..! Jangan ikuti aku lagi!” bentak Luhan.
Lalu namja itu berbalik dan berjalan menjauhi Ah Cha yang masih terdiam
ditempat.
Ah Cha
kembali naik pitam atas apa yang telah dikatakan Luhan.
“Akan
kubuktikan bila aku tidak omong kosong!” teriak Ah Cha datar. sangat bertolak
belakang dengan ekspresi cerianya tadi. Beginilah dia, bisa menjadi sangat seram
bila sedang marah.
Langkah
panjang Luhan terheti seketika. Tetapi dia belum membalikkan badan. Untung saja
jalan kecil ini sepi dan jarang ada orang yang melewatinya.
“Akan
kubuktikan kebenaran atas apa yang aku katakana padamu!...” Ah Cha menarik
nafas berat. “Aku sama sekali tidak berdusta.. dalam sepuluh hari terakhir ini
sesungguhnya kau bisa mati kapan saja! Namun, Tuhan mengirimku untukmu untuk
menyelamatkanmu. Aku yang akan melindungimu selama sepuluh hari sampai hari
kesepuluh tiba dan kau akan benar-benar mati!” teriak gadis itu dan berhasil membuat
jantung Luhan berdetak kencang. Mendengar kata-kata Ah Cha saja Luhan hampir
mati. Luhan sedikit takut bila hal itu ada benarnya. Namun ternyata namja itu berusaha
agar tetap kukuh dalam pendiriannya. Selama ini dia hanya percaya pada fakta
dan bukan sesuatu yang mistis seperti ini.
Namja itu
menggertakkan gigi sambil terus mengepalkan tangannya. Dia berusaha tetap dalam
pendiriannya. Luhan melanjutkan jalannya lagi dan meninggalkan Ah Cha.
»*»
“Aish!...”
gumam Luhan sebal sambil melihat kearah jam tangannya. Dia baru sadar bila
sudah hampir satu jam terlambat bekerja. Dia harus segera mengatarkan
berkas-berkas yang kemarin digarapnya kepada atasan.
Luhan
menginjak gas lebih dalam dan menambah laju kecepatan mobil audy hitamnya ini.
Sesekali terdengar klakson dari mobil lain yang memperingatkan Luhan agar lebih
tak ugal-ugalan. Namun apa boleh buat namja ini sedang tergesa-gesa (dan emosi)
sekarang.
Tiba-tiba
terdengar sebuah suara yang seperti balon-balon yang sedang meletus dari dalam
perut Luhan.
‘Akh,
bahkan aku lupa sarapan!’ batinnya geram.
Kejadian
konyol pagi ini benar-benar membuatnya lupa akan kegiatan sehari-harinya. Semoga saja Kris (Atasan Luhan) itu tidak
terlalu baik untuk memberikan Luhan tugas tambahan dipagi ini. Karena biasanya
cara Kris memarahi Luhan bukan secara terang-terangan. Namun, dengan cara yang
lebih special. Luhan disuruh lembur kek, mengerjakan tugas yang sangat sulit,
dan bersikap dingin tanpa mau berbicara pada Luhan. Justru Luhan lebih tak suka
dengan cara Kris yang begitu.
“Aissh!!!”
Luhan memukul kemudi mobil dengan frustasi. Dia masih berharap bila hari ini
bukan hari yang paling buruk dalam hidupnya.
Mobil
Luhan sudah terparkir di basement kantornya. Lalu dengan terburu namja itu
segera memasuki lift dan naik ke lantai 3. Kemudian dia segera memasuki
ruangannya –ruang sekretaris direktur (dan disini direkturnya adalah Kris).
Sebenarnya Luhan sama sekali tidak niat menjadi sekretaris meski dibayar
banyak. Namun, ini semua karena keinginan nenek Luhan yang sangat bersahabat
dengan nenek Kris. Nenek mereka membuat perusahaan ini sebagai bentuk
kerjasama. Akan tetapi, yah begitulah… kondisi Kris dan Luhan sangat bertolak
belakang dengan nenek mereka. Kris dan Luhan pernah menjadi saingan sewaktu SMA
dan terus berlanjut sampai ada hubungan antara atasan dengan bawahan.
Luhan
menutup pintu ruangannya lalu segera menempati ‘singgasana’nya sebagai seorang
sekretaris. Luhan melepas jas hitam yang dia kenakan dan melemparnya kesofa.
Entah mengapa Luhan berkeringat.
“Tok..tok…”
sebuah suara terdengar dan Luhan yakin bila itu ketukan pintu. Dia segera
membenarkan posisi duduknya layaknya seorang sekretaris salah satu perusahaan
terbesar di Korea ini.
“Masuk.”
balasnya.
Kemudian
pintu terbuka menampakkan tubuh tinggi seorang namja dengan kacamata.Chanyeol,
salah satu pegawai disini. Chanyeol juga merupakan teman terdekat Luhan selain
Suho.
“Chanyeol.”
Luhan tersenyum. Tiba-tiba imagenya sebagai orang penting hilang ketika melihat
sahabatnya itu.
“Luhan-ah,
apakah kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol sembari manutup pintu kembali.
Rupanya Chanyeol menyadari keterlambatan Luhan pagi ini.
“Um,
aku..hanya tidak enak badan. Ada apa?” tanya Luhan balik.
Chanyeol
menaruh tiga buah map yang tampak tebal. “Ini semua jumlah pendapatan bulan
ini. Dan Kris menyuruhmu untuk menelitinya kembali.” jawab Chanyeol.
Benar apa
yang sudah Luhan pikirkan. Bukankah seharusnya tugas ini untuk bendahara,
kenapa malah dia yang harus menggarapnya? Aish, Kris memang suka sekali
menyulitkan orang lain. Kalau saja boleh dilakukan, Luhan pasti tak segan-segan
melemparkan benda tajam kewajah Kris yang menyebalkan itu atau memotong hidung
panjangnya dengan pisau lipat, oke itu terlalu sadis untuk dibayangkan, mungkin
hanya sekedar menimpukkan sepatu kewajah Kris dan itu sudah membuat Luhan
tersenyum puas.
Luhan
memijat keningnya sedangkan Chanyeol yang pastinya sudah tau akan apa yang
terjadi hanya mampu pasrah. Walau bagaimanapun, Kris adalah yang tertinggi disini.
“Luhan,
kau juga disuruh langsung mengumpulkan berkas yang kemarin kau bawa
keruangannya.” tambah Chanyeol.
Untuk
beberapa saat Luhan menarik nafas. “Terimakasih Chanyeol-ah.” ucapnya.
Chanyeol
langsung membungkuk hormat. “Permisi..” lalu dia melangkah keluar dari ruangan
Luhan.
“Ah,
sempurna…” gumam Luhan seraya menyandarkan kepala kesandaran kursi.
»*»
Setelah
mengetuk pintu, namja itu membuka pintu dan memasuki ruangan atasannya dengan
tubuh yang gemetar. Ditangannya sudah ada 2 buah map hijau. Luhan melangkah
lebih dalam kedalam ruangan dan berdiri tepat didepan meja Kris. Sedangkan
Kris, namja itu berdiri membelakangi Luhan, dia sedang menatap keluar jendela
entah apa yang sedang kris perhatikan.
“Ini,
berkas yang kemarin sudah saya teliti.” ucap Luhan formal. Dia berusaha
bersikap sebiasa mungkin pada Kris.
Kris
tidak bergeming dari tempatnya. Namja itu sama sekali tak mau melihat
kedatangan Luhan.
“Apakah
kau mengerti bisa posisimu disini sebagai apa?” tanya Kris dingin.
Jantung
Luhan berdetak cepat disertai aura aneh yang dia rasakan disekitar Kris. Mungkin
seluruh atmosfer di ruangan ini telah terkontaminasi oleh aura kemarahan Kris. Perasaannya
sudah sangat tidak enak. “Saya sebagai sekretaris anda Tuan Kris Wu.” jawab
Luhan seadanya sambil menunduk. Sesungguhnya dia sangat muak memanggil orang ini
dengan sebutan tuan. Tapi apa boleh buat, ini semua takdir Tuhan yang terlalu
konyol untuk dijalani.
Kris
berbalik pelan lalu menatap Luhan dengan pandangannya yang mungkin bisa
membekukan apapun yang dia lihat. “Kau tahu sebagai sekretaris kau harus apa?
Kau harus tiba lebih dulu dari atasanmu.” cetus Kris terdengar tenang namun
mengandung bisa.
“Maafkan
saya.” timpal Luhan lirih.
Kris
menduduki kursi hitamnya yang bernilai tidak murah itu. Kursi seperti itu saja
sudah sangat mahal bahkan kita akan kesusahan mengihitung jumlah nol yang
terletak dibelakang nominal harganya.
“Taruh
berkasnya disitu.” Kris menunjuk meja kerjanya. Dengan patuh Luhan menaruh map
yang dia bawa lalu membungkuk.
“Kembali keruanganmu…”
Kris memalingkan mukanya dengan angkuh.
Luhan
berbalik dan berjalan menuju pintu.
“Kuharap
hal yang seperti ini tidak akan terjadi lagi Luhan-ssi.” tambah Kris sebelum
Luhan keluar dari kandang harimau itu.
Luhan
tidak menjawab namun hanya mengangguk.
‘Klek.’
pintu ditutup.
Kris
tersenyum miring setelah Luhan keluar dari ruangannya. Dia puas bisa memarahi
Luhan dengan cara seperti ini.
»*»
Ketika istirahat siang, [di café sekitar kantor perusahaan].
“Sabarlah
Luhan-ah… dia memang suka seperti itu. Kau kan sudah mengerti bagaimana Kris…
dia senang sekali membuat orang lain menderita karenanya. Aku juga tidak tahu apakah
ayahnya juga seperti itu. Bisa saja Kris mewarisi sifat dari saudara atau
kerabatnya yang lain… setahuku tuan Wu dan nyonya Wu (orang tua Kris) adalah
orang yang ramah dan murah senyum…” Chanyeol tidak lelah mengoceh tentang Kris.
Nyaris saja kopi yang ada didepannya itu dingin gara-gara dia sibuk berdakwah
didepan Luhan. Sedangkan yang sedang mendengarkan ocehan temannya itu, cuma
mampu diam melamun sambil sesekali menyeruput lattenya yang masih lengakap
dengan kepulan asap.
“Kris Wu
itu sebenarnya sangat tampan, akan tetapi itu semua tertutup oleh sikap
dinginnya pada siapapun. Kau mengerti maksudku kan?.. Dia hanya mau
bercengkrama dan tersenyum pada wanita-wanita centil saja.. Kris itu
playboy!..” kini kata-kata sahabatnya itu terdengar seperti rap yang ikut campur heboh dengan alunan
jazz di café ini. bahkan Chanyeol tampak seperti penyanyinya. Luhan sendiri tak
bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila pembicaraan mereka sampai
ketelinga Kris.
“Kau juga
sih.. mengapa harus terlambat! Seharusnya kau tetap patuh dengan apa yang sudah
ditetapkan Kris.. Aku khawatir bila hal ini terulang lagi dan membuatmu kembali
bernasib sama. Kris tidak hanya membuat pegawainya kapok sekali-dua kali…
bahkan bisa berkali-kali sampai pegawai itu menyerahkan surat pengunduran diri.
Nah, itu yang paling parah!! Setelah pegawai itu menyerahkan surat pengunduran
diri, Kris akan merasa bangga dan merasa menang atas keberhasilannya membuat
orang lain menderita sampai ketitik darah menghabisannya… lalu…”
Luhan
memijit keningnya yang terasa berdenyut-denyut heboh. Dirasakan oksigen disini
semakin menipis dikarenakan kalimat Chanyeol yang tiada ujung itu. Ditambah
lagi kepalanya yang mendidih karena penuh oleh segala masalah yang terjadi
dipagi ini.
“Seandainya
direktur perusahaan ini bukan Kris, pasti tidak akan seperti ini jadinya.
Pegawai-pegawai akan semakin kerasan dan meningkatkan ke-powerfull-annya dalam
bekerja, dan kalau juga Kris…-“
“Chanyeol-ah!!”
potong Luhan setelah merasa benar-benar tidak betah mendengar cicitan Chanyeol.
Kata-kata Chanyeol bagai mengikis oksigen yang tersedia disini. Luhan menatap Chanyeol
sampai-sampai Chanyeol susah bergerak. Mungkin Chanyeol butuh diberi
penghargaan dari PBB atas kebetahannya menceramahi orang sampai orang itu sesak
nafas dan K.O. Luhan jadi berfikir, kalau saja seorang kakek yang tua renta
menggantikan posisinya saat ini pasti suda mati 10 menit yang lalu karena
perkataan Chanyeol.. Ah, lupakan saja. Chanyeol memang termasuk salah satu dari
5 besar orang tercerewet diseluruh dunia!
“Stop.”
Luhan mengangkat kedua telapak tangannya kedepan dada memberi intruksi agar
pemuda itu berhenti bicara.
“Ups..
maafkan aku.” balas Chanyeol setelah sadar.
Luhan
menaruh cangkir lattenya dengan kasar. “Aish..! Kenapa harus aku yang mengalami
hal ini…” ucap Luhan lirih lebih pada diri sendiri.
“Luhan-ah…
apakah kau sedang ada masalah hari ini? Kau tampak tidak sehat. Ceritakan
padaku apa masalahmu.” ucap Chanyeol memelas.
Pikiran
Luhan terasa campur aduk. Dia ingin sekali bercerita tapi takut bila Chanyeol
malah menertawakannya. Bagaimana tidak tertawa bila Luhan berkata tentang
malaikat maut, sepuluh hari menuju kematian, seorang gadis cantik bermata
hijau, dan segala yang berhubungan dengan itu. Bagaimanapun itu seperti cerita
anak-anak yang tak bisa diterima nalar manusia.
“Aku,
aku.. bertemu dengan seorang gadis.” kata Luhan lirih.
Mata
Chanyeol langsung terbuka lebar saat mendengar kata ‘gadis’. Namja yang satu
ini memang suka sekali bila disuruh mendengarkan cerita tentang perempuan. Satu
spesies dengan Suho.
“Dia,
datang kemarin malam di apartemenku. Aku tidak tahu darimana asalnya…”
“Cantik
tidak?” tanya Chanyeol yang dengan setia menyimak.
Luhan
menghela nafas panjang. “Cantik sekali.” lanjutnya.
Bibir
Chanyeol langsung tersenyum mendengar jawaban itu. “Wah seperti apa?” tanya
Chanyeol penuh semangat sembari melipat kedua tangannya diatas meja.
“Aish,
kenapa kau ini?” tiba-tiba suara Luhan meledak.
“Yaa, aku
kan ingin tahu… memangnya ada apa dengan wanita itu?”
“LUHAAAN-ah!!!”
panggil seseorang yang datang.
Bola mata
Luhan berputar keatas meremehkan kedatangan orang ini. Jessica. salah satu
rekan kerjanya. Tanpa minta izin dulu Jessica langsung menduduki kursi ketiga
di meja Luhan dan Chanyeol. Chanyeol menghembuskan nafas sebal.
“Luhan,
selamat siang!!” sapa Jessica centil.
“Ah, ne..
siang.” Luhan tersenyum hambar. Jessica langsung memeluk lengan Luhan. Dan
tentu saja Luhan segera menolak. “Yak, Sica-ya! Jangan seperti itu padaku.”
celetuk Luhan yang merasa sangat risih.
Jessica
mengerutkan bibirnya pertanda dia sebal. Sedangkan Luhan sibuk mengusap-usap
jas yang dia kenakan bermaksud menghilangkan virus Jessica yang tadinya
menempel.
“Kau
datang dan menyapa Luhan. Lalu apakah kau juga tidak ingin mengucapkan selamat
siang juga padaku?” ujar Chanyeol yang merasa hanya menjadi pemeran ke-3 yang
sama sekali tak berguna.
Jessica
menoleh kearah Chanyeol. “Oh, maaf aku kira tidak ada siapapun disini selain
Luhan. Salahkan mukamu yang seperti debu itu! Nyaris saja aku tidak melihatmu.”
“Yak! Apa
katamu?!” Chanyeol merasakan emosinya sudah naik ke ubun-ubun.
“Kau
seperti debu!! Apakah kau tidak mendengarnya?! Dasar padahal telingamu sudah caplang
sebesar itu tapi masih saja kehilangan fungsi!!” sembur Jessica dengan
kata-katanya yang pedas.
“Jessica
Jung! Berhenti menghinaku?!” balas Chanyeol.
“Apa?!
Apa huh? Bilang saja kau tak mampu membalasku!”
“Dasar
korban mode!! Nenek sihi! Wanita genit!!”
“Kyaaa!!!”
Jessica menjambak Chanyeol.
Luhan
yang menegtahui keributan mereka pelan-pelan bangkit dari kursi tempatnya duduk
lalu melangkah cepat meninggalkan mereka berdua. Kepalanya semakin pusing saja.
»*»
Luhan
memasuki ruang kerjanya dan duduk di kursinya. Hawa AC yang terlalu dingin
tidak lagi dihiraukan oleh Luhan. Mungkin benar aku harus menceritakan hal ini
kepada seseorang, menyimpannya sendiri terasa sangat berat dan membuatku
frustasi. Pikirnya.
“Drrttt..drttt”
kantong Luhan bergetar. Dengan segera dia mengambil ponselnya yang ada disana.
Kemudian Luhan mengangkat telepon.
“Yoboseo?”
“Luhan-ssi..
aku harap kau nanti bisa menggantikanku untuk menghadiri rapat oleh pemegang
saham perusahaan yang akan kita ajak bekerja sama.” ucap Kris diujung saluran
telepon. “Aku ada urusan.. dan mungkin kau harus pulang larut malam hari ini.”
sambungnya.
“Nde, aku
mengerti.” balas Luhan.
“Tut..tut..tut”
sambungan telepon langsung terputus begitu saja.
‘Tuhan
terimakasih membuatku hampir gila…’ batin Luhan.
»*»
Malam
sudah sangat larut, hampir mencapai tengah malam. Hari ini benar-benar hari
yang teramat sangat panjang bagi Luhan. Masih baik tadi dia tidak ketiduran
ketika rapat berlangsung. Luhan mengendarai mobil dengan rasa kantuk yang terus
berputar diotaknya. Karena itu dia mempercepat lagi laju mobil dan berusaha
sekencang mungkin.
Tiba-tiba
saja seperti ada kucing atau binatang kecil yang melintas saat mobil itu melaju
kencang. Sontak Luhan mumutar kemudi dengan tiba-tiba. Dan alhasil mobil audy
hitam itu terpinggir ke trotoar. Luhan kehilangan kendali. Kata-kata Ah Cha
muncul dalam benaknya.
“Aku sama sekali tidak berdusta.. dalam sepuluh hari terakhir ini
sesungguhnya kau bisa mati kapan saja! Namun, Tuhan mengirimku untukmu untuk
menyelamatkanmu. Aku yang akan melindungimu selama sepuluh hari sampai hari
kesepuluh tiba dan kau akan benar-benar mati!”
Lalu
selanjutnya mobil tersebut menabrak lampu traffic
light dan kepala Luhan terbentur kemudi sampai mengeluarkan darah.
Dan
dimalam itu, kota Seoul dihebohkan dengan kecelakaan ini.
»*»
TBC
Hohoho… leganya bias pot ni ff. Bagaimana chingu
><… apakah semakin sengit?
Mungkin kali ini hanya itu yang bias kuucapkan^^
semoga hari-harimu menyenangkan!! Pai paii… ^^/
Arigatou!! *bow

1 comments:
panjang... bikinnya di Blogger ya??
kunjungi balik ya.. http://nisrinawidi1kpoper1chiters.wordpress.com/
Post a Comment