Monday, July 15, 2013

EXO Fanfiction "10 Days to The Death Line" [Chap 1]

Posted by Unknown at 7:39 PM

10 days TO the DEAth liNE
 
 
Author : Jihan Kusuma
Cast : Xi Luhan, Shin Ah Cha, and the others support cast^^
Genre : Romance, family, friendship
Leght : Chapters
DESCLIMER : Ketemu lagiii!! Nah, perlu readers ketahui… ff ini aku buat dengan susah payah dan bingung mau bikin kaya gimana –karena ini memang ff dengan genre fantasy pertamaku. Jadi mohon bila nemu sesuatu yang rada gaje atau kurang pantas diterima ama nalar mohon dimaklumi. Oh ya, juga kalau menemukan bermagai spesies typos author mohon sabar dan terus membaca >< #maksa gue nya. Baiklah sodara-sodara, tanpa banyak bachott lagi… mari kita baca bersama. Jangan lupa baca bismillah….
            ChenKaiD.Ot ~~~
»*»
[ CHAPTER 1 ]
(Day One)
 
Pada akhirnya pagi datang juga. Cahaya matahari yang lembut berdesir menembus jendela kaca yang luas dikamar itu. Dan cahaya pagi itu mengenai tubuh seorang yeoja yang sedang dengan pulasnya tertidur diatas ranjang putih.
“Hoamm…!” bibir kemerahan yang tampak bening itu menguap selebar mungkin. Lalu dia berguling kekanan dan kekiri sehingga selimut yang tadinya menutup tubuh itu menjadi berantakan.
Disisi lain seorang namja yang duduk dikursi disamping ranjang itu terus saja memperhatikan gerak-gerik si yeoja. Namja tersebut duduk dengan posisi kursi yang dibalik sehingga dadanya bisa bersandar di pungung kursi.
“Hoaaaaaa,” sekali lagi yeoja itu membuka mulut.
Jantung namja penonton tersebut semakin berpacu seiring detik-detik menuju kesadaran si yeoja. Dan, pada akhirnya si yeoja membuka mata. Namja itu nyaris terjungkal lagi kebelakang ketika melihat kedua bola berwarna hijau tua di mata indah yeoja itu. Lihatlah! Hijau!!
Si yeoja mengedipkan matanya beberapa kali sehingga dia tampak seperti boneka. Untuk detik kemudian yeoja itu bangkit dari tidur. Dia duduk diranjang sambil memutar bola matanya untuk menyelidiki dimana dia berada sekarang.
Mata bulat yeoja boneka itu semakin membulat lebar ketika mendapati seorang namja didekat ranjang. Sontak si yeoja menutupi tubuhnya dengan selimut putih tadi.
“U!!” teriaknya dengan suara mungil.
“Aku mohon jangan teriak!” potong namja tersebut sambil bangkit dari duduk.
Si yeoja menatap namja itu dengan datar. Tentu saja si namja kembali merinding bila ditatap seperti itu. Yeoja boneka turun dari ranjang dan mendekati namja itu.
Mereka berdua saling bertukar pandang dalam keheningan. Si yeoja mengerutkan alisnya dengan lucu. Benar-benar tampak persis seperti boenka manekin. Beberapa saat kemudian yeoja tersebut mendekatkan mukanya kemuka namja itu dan tentu saja si namja semakin gugup. Diteliti kedua bola mata namja itu. Sedangkan si namja hampir mati berdiri melihat kedua bola hijau  yang berbinar itu.
“He-hey! Apa yang akan kau..?” belum sampai kalimat itu tamat si yeoja menyentuh pipi mulus si namja dengan telunjuknya yang lentik. Pipi namja itu ditekan beberapa kali entah untuk memastikan apa. Kemudian bibir pink si yeoja mengerucut imut menunjukkan ada sedikit keraguan dikepalanya.
“Kau ini kenapa?!” dengan cepat si namja menjaunkan tangan si yeoja dari wajahnya.
Kini ganti kepala yeoja itu miring ke kanan dengan matanya yang berkedip-kedip layaknya boneka atau robot mungkin. Derap jantung si namja sekarang benar-benar tak karuan. Antara takut, gugup, dan kagum atas kecantikan mahluk ini.
“Luhan. Kaukah itu?” bibir yeoja boneka itu terbuka lagi menunjukkan suara kecilnya yang tipis dan cute.
Sekali lagi namja bernama Luhan itu terperanjat kebelakang. Dia kini berfikir bila ganti telinganya yang telah menipu. ‘Dia tahu namaku?’
“D-darimana k-kau…” tanya Luhan lagi-lagi belum mencapai titik terpaksa terhenti.
“Perkenalkan! Aku Ah Cha!” tangan yeoja manis itu terulur kedepan dan menabrak tubuh Luhan. Tentu saja, karena memang jarak diantara mereka tidak banyak. Sontak tubuh Luhan yang bergetar ketakutan mundur kebelakang menabrak meja cermin.
“Brak!” bunyi meja cermin tersebut. Beberapa botol lotion jatuh kelantai dan menimbulkan suara, dan itu sama sekali tak dihiraukan.
“Ups.” yeoja tadi menutup mulutnya.
Dengan segera luhan menggeleng cepat. “G-gwencaha…” balasnya gagap.
“Maaf, perkenalkan namaku Ah Cha! Aku malaikat mautmu!” ulang yeoja itu kali ini lebih lengkap.
Sekali lagi Luhan terparanjat dan kembali menabrak cermin.
“Brakkk!!”
“Malaikat…m-maut?” ulang Luhan dengan kedua mata terbelalak.
Ah Cha tersenyum “Ne!” dia mengangguk seolah-olah tentang malaikat maut itu bukanlah masalah.
Luhan kembali membenarkan posisi berdirinya meski sekarang kedua telapak tangannya memutih dikarenakan detak jantung yang terlalu cepat.
“Aku dikirim Tuhan untuk membantumu!” tambah Ah Cha.
“Tuhan?...”
“Benar sekali! Dan tugasku adalah… um…” yeoja itu menutup matanya sembari menempelkan kedua telunjuknya dikedua pelipisnya seperti sedang mendeteksi sesuatu. “Sepuluh hari lagi aku akan mengantarmu menemui ajal. Dan…” tambahnya.
“Mati?!!” pekik si namja memotong. Luhan terkejut setengah mati mendengar ucapan Ah Cha.
“Yap! Itu benar! Aku yang akan menolongmu untuk memperbaiki segala amal burukmu yang berlebihan itu!” Ah Cha masih menutup mata dengan posisi semulanya.
“Berlebihan??!!” celetuk Luhan lagi kali ini kedua matanya terasa mau menggelinding keluar dari rongga tengkoraknya.
“..dan itu akan terjadi sepuluh hari menuju kematianmu. Aku akan dengan senang membantumu!” ujar yeoja boneka itu denga perasaan ceria.
Luhan keheranan melihat gadis aneh ini. ‘Apakah dia gila?!…’ batinnya. Luhan bahkan sepenuhnya tak bisa percaya bila apa yang dikatakan yeoja ini benar. Bisa saja yeoja itu cuma mengaku-ngaku demi mendapat tumpangan tinggal gratis atau makan gratis. Atau juga karena yeoja ini hanya mau menakut-nakuti.
‘Bisa saja dia berbohong, hum…tapi mengapa bola matanya berwarna hijau? Kenapa dia sangat cantik? Mengapa dia tampak begitu sempurna? Bahkan siapa pengirimnya sama sekali tidak kuketahui!.. Atau jangan-jangan, dia bukan manusia!? Tapi katanya dia ini malaikat maut!...Aku tak mungkin bisa melihat malaikat!... Bagaimana bila dia ini seorang alien? Atau monster! Atau bahkan dia ini hantu!?...’
Luhan gelisah dengan pikirannya sendiri. Dan gadis itu sibuk memandangi Luhan dengan tatapan menerawang seolah bisa melihat apa yang sedang namja ini pikirkan.
“Luhan-ssi?” tanya yeoja itu lagi.
Luhan yang sudah dihujani oleh keringat dingin segera berlari kepojok kamar dan tiarap dibawah lampu. Dia ketakutan sekarang. Entah mengapa kedua bola mata hijau Ah Cha menjadi semakin menakutkan setelah penjelasan gila itu. Luhan merinding dan sangat takut.
“Pergi! Pergi kau!! Jangan ganggu aku..! Pergi sana…,” teriak Luhan sambil terus meringkuk menutupi badannya di bawah lampu. Kepala Ah Cha ganti miring kekiri mendapati tingkah tuan barunya itu. Dia melangkah mendekati Luhan.
“Jangan!!... Jangan dekati aku! Pergi sana!! Pergi…!” Luhan menutupi kedua mukanya. Tangan namja itu meraih-raih sesuatu dimeja yang tak jauh dari tempatnya berlindung. Ditemukannya sisir. Dan dia segera melempar sisir itu kearah Ah Cha. Setelah itu Luhan meraih botol parfum dan dilemparkan kearah gadis itu lagi.
Mengetahui tingkah Luhan, Ah Cha berusaha menyingkir dari apa-apa yang tengah Luhan lemparkan.
“Stop melempariku!!” teriak Ah Cha yang sudah mulai naik pitam. Wajah cantik, lembut, imutnya kini tergantikan dengan mata hijau yang menyala dan sebuah tatapan dingin.
Luhan terkaget dan bisa dirasakannya seluruh bulu kuduknya kini meremang usai mendengar suara Ah Cha. Ah Cha mendekat dan menarik lengan Luhan kuat-kuat. Luhanpun sangat terkejut akan kekuatan gadis ini yang melebihi kekuatan yang dimilikinya sendiri.
Ah Cha melempar tubuh gemetar Luhan keatas ranjang. Luhan yang begitu ketakutan perlahan merayap kebelakang sampai punggungnya menabrak kepala ranjang. Ah Cha menatap Luhan geram dengan kedua pupil matanya yang membesar dan semakin berkilat.
“Jangan.. jangan sakiti aku!! Aku mohon!...” ucap Luhan lagi terdengar patah-patah. Ini kali pertamanya dia memohon kepada seorang wanita. Rasanya oksigen disini semakin menipis dan dia sulit menghirup udara.
Ah Cha melangkah mendekati sesosok yang meringkuk diujung ranjang itu.
Namun sebelum Ah Cha naik keatas ranjang Luhan sudah mendahului turun dari ranjang itu dan keluar dari kamar. Dengan secepat mungkin Luhan segera menutup lalu mengunci pintu kamar rapat-rapat.
“Hos…hossh..hossh…” Luhan bersandar disisi luar pintu dengan nafas yang tak beraturan.
Sedangkan Ah Cha yang terkunci didalam malah tertawa geli mendapati tingkah ketakutan majikan barunya. Dia telah mengerjai Luhan.
»*»
Luhan berlari sekencang mungkin melewati jalan yang ada di area pertokoan. Nafasnya terengah-engah disertai peluh yang tiada henti meluncur menuruni pelipisnya. Sampailah dia di sebuah toko roti yang ada disekitar perempatan.
 
“Suho!! Suho-ya!” panggilnya seraya membuka pintu toko roti itu. Dia tidak mendapati seorangun disana dan melangkah lebih jauh memasuki toko tersebut.
“Suho!! Kau dimana?” Luhan mengacak rambutnya sebal karena belum juga menemui seseorang bernama Suho itu. Luhan memang sangat dekat dengan teman sejak SMAnya itu, jadi keluar-masuk toko roti seperti ini sudah biasa. Suho mewarisi toko roti milik kakeknya dan sekarang dia yang mengelola toko roti itu sendiri.
“Suho! Akh!!” teriaknya lagi kali ini terdengar amat sangat frustasi.
Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu dapur dengan baju koki warna putih yang sudah ternoda oleh krim warna cokelat. Oh, rupanya Luhan akan kena marah dilihat dari ekspresi Suho.
“Ada apa Luhan-ah!! Kau ini pagi-pagi sudah bikin ribut saja!! Kau tak tahu aku sedang apa huh?! Tak sadarkah bila pagi ini, aku…” belum tuntas apa yang terucap dari mulut namja itu Luhan sudah dulu menghambur kepelukannya sampai-sampai dia nyaris jatuh.
“Suho!! Suho! Tolong aku.. aku mohon… Please… Aku mohon!” rengek Luhan seperti anak kecil. Suho sukses keheranan dengan tingkah temannya ini yang tiba-tiba berubah.
“Yak.. lepaskan dulu! Kau mau aku kehabisan nafas lalu mati huh?” Suho berusaha melepaskan Luhan yang masih menempel erat di tubuhnya.
Mengetahui temannya yang nyaris mati itu Luhan segera melepaskan pelukannya. Nafas namja itu masih tersenggal-senggal karena terlalu lama berlarian. Suho mengerutkan dahi ketika mendapati dada Luhan yang naik turun dan wajah yang basah akan keringat.
“Hei, sebenarnya kenapa kau ini?” tanya Suho sambil berkacak pinggang dengan ekspresi penuh tanya.
“Aku,…” entah mengapa Luhan bingung mau mengatakan apa. Dia benar-benar bingung mau memulai cerita ini dari mana. “Aku..” ulangnya lagi. Mulutnya terasa kaku dan semua kata-katanya bagai tersangkut ditenggorokan dan tak mampu lolos melewati mulut.
Suho semakin keheranan. “Luhan-ah, sebenarnya apa yang telah menimpamu sampai-sampai kau gagap begini?” tanya Suho cemas. Suho menggenggam kedua bahu temannya itu dan mengguncang tubuh Luhan pelan. “Katakan padaku… apa yang terjadi.” ulangnya kali ini dengan lebih lembut.
“Hyung, aku…- aku…” dengan sangat hati-hati Luhan berusaha merangkai kata demi kata. “Nde… nde…” Suho yang seolah berusaha membantu Luhan bicara hanya mampu mengangguk-angguk pelan berharap teman baiknya ini bisa menceritakan sesuatu.
“Tring..tring…” tiba-tiba lonceng yang terletak didepan pintu –tanda seseorang datang memasuki toko) berbunyi. Pintu terbuka dan menampakkan sesosok yeoja dengan kulit putih mulus dan dress hitam yang memasuki toko roti itu.
Langsung saja kedua namja itu menoleh kesumber suara secara bersamaa. Yeoja cantik itu celilingan mencari-cari sesuatu.
‘Bagaimana bisa dia keluar dari kamar!? Bukankah tadi sudah kukunci dengan benar?!’ pikir Luhan sambil menatap sosok itu dengan raut ketakutan.
“Tidak! Tamatlah riwayatku!!” mulut Luhan yang tadinya bagai terkunci kini kembali normal seusai mendapati siapa yang datang.
Suho semakin bingung dengan apa yang tidak dia ketahui ini.
“Hyung!! Hyung! Aku mohon sembunyikan aku!! Sembunyikan aku dimana saja! Aku mohon!..” Luhan mencengkeram kedua lengan Suho dengan panik. Keringat kembali mengucur deras.
Suho yang sama sekali tidak paham dengan situasi ini menurut saja dan memerintahkan Luhan untuk sembunyi dibawah meja dapur. “Disini! Masuklah.. masuklah!” Luhan seketika berlari memasuki kolong meja yang disana tertutup oleh kain putih penuh noda –tempat yang biasa digunakan Suho dan para pegawai bakery untuk memoles cupcake.
Gadis cantik bernama Ah Cha itu mencari-cari sambil sesekali mengendus-endus. Dia mulai memasuki dapur dan mendapati seorang namja dengan baju koki.
‘Oh, Demi Tuhan!! Gadis ini sangat cantik!’ pikir Suho sambil terpukau akan yeoja yang ada didepannya sekarang.
“N-nona.. m-mencar-ri ss-siap-pa..?” tanya Suho dengan terbata-bata saking sibuknya mengagumi wanita ini.
‘Kulit putih, mata lebar, rambutnya indah… oh, lihatlah bibir itu.. baru kali ini aku melihat ada bibir semerah dan se-berkilau itu… Mengapa Luhan malah lari dari gadis ini? Aneh…’ pikir Suho lagi.
“Aku mencari majikanku.” kata Ah Cha dengan suara kecilnya yang tipis dan sedikit cempreng. Suho sampai hampir pingsan mendengar suara merdu wanita ini.
‘..Suaranya..awh, seperti boneka saja. Tidak, kurasa dia benar-benar jelmaan Barbie!’ batin Suho. ‘Ah tunggu, majikan?!’
“M-majikan? Siapa dia?” dahi Suho berkerut bingung.
“Um, apakah kau temannya Luhan?” tanya Ah Cha berterus terang.
“A-aku.. nde.. aku temannya..tapi, tapi dia tidak sedang disini.. memangnya sejak kapan dia menjadi majikanmu?” tanya Suho lagi.
‘Oh, Aniyeo..!’ batin Luhan yang sedang menguping pembicaraan mereka dari bawah meja. ‘Jangan sampai Suho hyung terpesona oleh Ah Cha!’
Ah Cha tidak mengindahkan pertanyaan Suho dan malah mengendus-endus udara dapur. “Hum, padahal aku mencium aroma Luhan…” bibir kissable Ah Cha mengerucut dengan imutnya.
Suho terbelalak mendengar ucapan Ah Cha. Sedangkan Luhan semakin merutuki diri berharap dia tidak ketahuan. Luhan tak tahu bila wanita aneh ini memiliki indera penciuman yang sangat tajam.
“Kalau begitu, aku pergi saja. Aku harus mencari Luhan!...” Ah Cha beranjak lalu berbalik akan tetapi lengan gadis itu segera digenggam Suho. “Tunggu nona!” tukasnya. Ah Cha hanya memandang Suho dengan tatapan ‘Apa?’
“Ah, Um… sebaiknya kau duduk dulu disini..” Suho mempersilahkan Ah Cha duduk di kursi makan. “Tunggu saja dia datang. Kau mau roti?” tanya Suho.
Ah Cha menurut saja dan duduk di kursi makan itu dengan tenang.
“Aku mau…” jawab Ah Cha seadanya.
Suho tersenyum manis dan kembali berkutat dengan sekumpulan alat-alat dapur. “Kau mau rasa apa? Cokelat? Keju? Atau Blueberry?”
“Ikan!” jawab Ah Cha penuh semangat. Namun Suho malah bingung. Belum pernah dia membuat roti dengan rasa ikan.
“I-ikan?” Suho menoleh kepada Ah Cha dengn kikuk.
“Nde!” Ah Cha mengangguk mantap.
“Aku tidak punya rasa ikan.” Suho menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“Um, bagaimana jika ayam! Kau punya?” tanya Ah Cha lagi.
Kali ini Suho mengangguk dengan senyum. “Iya, akan kuambilkan.” namja itu melangkah menuju bagian luar toko dan datang dengan sepiring roti. “Ini untukmu..” ucap Suho.
Mata Ah Cha berbinar memandang roti-roti itu. Dia langsung mengambil satu dan melahapnya dengan rakus tanpa menghiraukan Suho lagi. Kedua mata besar Suho berhasil membulat lebar. Namja itu menelan ludah dengan susah payah.
‘Yeoja ini cantik… tapi mengapa cara makannya begini?’ pikir Suho.
Ah Cha meneruskan acara makannya tanpa sedikitpun menoleh kearah Suho yang melototinya dengan penuh kagum.
“Em, siapa namamu nona?” tanya Suho memberanikan diri membuka mulut. Ah Cha langsung memandang Suho dan baru sekarang namja itu sadari bila wanita ini memiliki iris mata berwarna hijau bening.
“Aku Ah Cha… kau siapa?” tanya Ah Cha balik.
“Namaku Suho.” Suho menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Aku Ah Cha, senang bertemu denganmu Suho-ssi!” bibir Ah Cha melengkung lembut sembari menjabat tangan Suho. Kemudian mereka bertukar senyum satu sama lain.
 “Aniya!!” geram Luhan sambil menepuk jidatnya sendiri. Apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi. Tentu saja! Suho termasuk pria yang genit pada wanita.
 “Ah Cha-ssi, sebenarnya siapa kau ini? Dan apa hubunganmu dengan Luhan?”
‘Pabbo! Kenapa dia tanyakan itu!’ batin Luhan lagi. Ternyata kemari bukanlah jalan keluar! Suho mudah sekali terpancing pada gadis cantik!
“Luhan itu majikanku! Dan aku adalah seorang …“
TBC
»*»
#Jederrrrr #DUARR
Hohohoho, senangnya bikin readers kecewa! Huahahaha! HAHAHAHA! *dilemparin cicak ama Luhan. #iyeks >//<
Ada yang penasaran disini? Ada dong..pliss..ada gitu lah! #pemaksaan mode on#
Minta terusnya? Bayangin sendiri ya readers XD soalnya masih bingung ini mau di lanjut ato kagak. Hahaha! #tawa setan.
Baiklah, karena saya adalah termasuk orang paling redah hati dijagat raya ini *HOAX* maka author akan berbaik hati untuk memberitahu cuplikannya.
·         Luhan marah
·         Ah Cha marah
·         Kris marah
Kenapa cast gue pada ngambeg semua? Pikirin aja sendiri! XD. Tapi ini suerr, aku kaga bohong! Yang masih penasaran sekaligus jengkel ama gua, yang tua, yang muda, yang kulitnya bengkoang, sawo matang, bahkan biji sawo, juga yang giginya kaya biji timun, atau yang kaya biji duren, pokoknya terus stay dan pantengin blog aku!! Haruss! #todongin Kris, eh salah.. keris!
Kalau begitu, akhir kata dari saya… WaBAEKHYUNi TAOfik Walhidayah, WaCHENmuaLAYkum WarrahmaLUHANi… wabaroKAI.D.O….
#sungkem

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei