10 days TO
the
DEAth liNE
Author : Jihan Kusuma
Cast : Xi Luhan, Shin Ah Cha,
and the others support cast^^
Genre : Romance, family,
friendship
Leght : Chapters
DESCLIMER : Ketemu lagiii!!
Nah, perlu readers ketahui… ff ini aku buat dengan susah payah dan bingung mau
bikin kaya gimana –karena ini memang ff dengan genre fantasy pertamaku. Jadi
mohon bila nemu sesuatu yang rada gaje atau kurang pantas diterima ama nalar
mohon dimaklumi. Oh ya, juga kalau menemukan bermagai spesies typos author
mohon sabar dan terus membaca >< #maksa gue nya. Baiklah sodara-sodara,
tanpa banyak bachott lagi… mari kita baca bersama. Jangan lupa baca bismillah….
ChenKaiD.Ot ~~~
»*»
[ CHAPTER 1 ]
(Day One)
Pada
akhirnya pagi datang juga. Cahaya matahari yang lembut berdesir menembus
jendela kaca yang luas dikamar itu. Dan cahaya pagi itu mengenai tubuh seorang
yeoja yang sedang dengan pulasnya tertidur diatas ranjang putih.
“Hoamm…!”
bibir kemerahan yang tampak bening itu menguap selebar mungkin. Lalu dia berguling
kekanan dan kekiri sehingga selimut yang tadinya menutup tubuh itu menjadi berantakan.
Disisi
lain seorang namja yang duduk dikursi disamping ranjang itu terus saja
memperhatikan gerak-gerik si yeoja. Namja tersebut duduk dengan posisi kursi
yang dibalik sehingga dadanya bisa bersandar di pungung kursi.
“Hoaaaaaa,”
sekali lagi yeoja itu membuka mulut.
Jantung
namja penonton tersebut semakin berpacu seiring detik-detik menuju kesadaran si
yeoja. Dan, pada akhirnya si yeoja membuka mata. Namja itu nyaris terjungkal
lagi kebelakang ketika melihat kedua bola berwarna hijau tua di mata indah
yeoja itu. Lihatlah! Hijau!!
Si
yeoja mengedipkan matanya beberapa kali sehingga dia tampak seperti boneka.
Untuk detik kemudian yeoja itu bangkit dari tidur. Dia duduk diranjang sambil
memutar bola matanya untuk menyelidiki dimana dia berada sekarang.
Mata
bulat yeoja boneka itu semakin membulat lebar ketika mendapati seorang namja
didekat ranjang. Sontak si yeoja menutupi tubuhnya dengan selimut putih tadi.
“U!!”
teriaknya dengan suara mungil.
“Aku
mohon jangan teriak!” potong namja tersebut sambil bangkit dari duduk.
Si
yeoja menatap namja itu dengan datar. Tentu saja si namja kembali merinding
bila ditatap seperti itu. Yeoja boneka turun dari ranjang dan mendekati namja
itu.
Mereka
berdua saling bertukar pandang dalam keheningan. Si yeoja mengerutkan alisnya
dengan lucu. Benar-benar tampak persis seperti boenka manekin. Beberapa saat
kemudian yeoja tersebut mendekatkan mukanya kemuka namja itu dan tentu saja si
namja semakin gugup. Diteliti kedua bola mata namja itu. Sedangkan si namja
hampir mati berdiri melihat kedua bola hijau
yang berbinar itu.
“He-hey!
Apa yang akan kau..?” belum sampai kalimat itu tamat si yeoja menyentuh pipi
mulus si namja dengan telunjuknya yang lentik. Pipi namja itu ditekan beberapa
kali entah untuk memastikan apa. Kemudian bibir pink si yeoja mengerucut imut
menunjukkan ada sedikit keraguan dikepalanya.
“Kau
ini kenapa?!” dengan cepat si namja menjaunkan tangan si yeoja dari wajahnya.
Kini
ganti kepala yeoja itu miring ke kanan dengan matanya yang berkedip-kedip
layaknya boneka atau robot mungkin. Derap jantung si namja sekarang benar-benar
tak karuan. Antara takut, gugup, dan kagum atas kecantikan mahluk ini.
“Luhan.
Kaukah itu?” bibir yeoja boneka itu terbuka lagi menunjukkan suara kecilnya
yang tipis dan cute.
Sekali
lagi namja bernama Luhan itu terperanjat kebelakang. Dia kini berfikir bila
ganti telinganya yang telah menipu. ‘Dia tahu namaku?’
“D-darimana
k-kau…” tanya Luhan lagi-lagi belum mencapai titik terpaksa terhenti.
“Perkenalkan!
Aku Ah Cha!” tangan yeoja manis itu terulur kedepan dan menabrak tubuh Luhan.
Tentu saja, karena memang jarak diantara mereka tidak banyak. Sontak tubuh
Luhan yang bergetar ketakutan mundur kebelakang menabrak meja cermin.
“Brak!”
bunyi meja cermin tersebut. Beberapa botol lotion jatuh kelantai dan
menimbulkan suara, dan itu sama sekali tak dihiraukan.
“Ups.”
yeoja tadi menutup mulutnya.
Dengan
segera luhan menggeleng cepat. “G-gwencaha…” balasnya gagap.
“Maaf,
perkenalkan namaku Ah Cha! Aku malaikat mautmu!” ulang yeoja itu kali ini lebih
lengkap.
Sekali
lagi Luhan terparanjat dan kembali menabrak cermin.
“Brakkk!!”
“Malaikat…m-maut?”
ulang Luhan dengan kedua mata terbelalak.
Ah
Cha tersenyum “Ne!” dia mengangguk seolah-olah tentang malaikat maut itu
bukanlah masalah.
Luhan
kembali membenarkan posisi berdirinya meski sekarang kedua telapak tangannya
memutih dikarenakan detak jantung yang terlalu cepat.
“Aku
dikirim Tuhan untuk membantumu!” tambah Ah Cha.
“Tuhan?...”
“Benar
sekali! Dan tugasku adalah… um…” yeoja itu menutup matanya sembari menempelkan
kedua telunjuknya dikedua pelipisnya seperti sedang mendeteksi sesuatu.
“Sepuluh hari lagi aku akan mengantarmu menemui ajal. Dan…” tambahnya.
“Mati?!!”
pekik si namja memotong. Luhan terkejut setengah mati mendengar ucapan Ah Cha.
“Yap!
Itu benar! Aku yang akan menolongmu untuk memperbaiki segala amal burukmu yang
berlebihan itu!” Ah Cha masih menutup mata dengan posisi semulanya.
“Berlebihan??!!”
celetuk Luhan lagi kali ini kedua matanya terasa mau menggelinding keluar dari
rongga tengkoraknya.
“..dan
itu akan terjadi sepuluh hari menuju kematianmu. Aku akan dengan senang
membantumu!” ujar yeoja boneka itu denga perasaan ceria.
Luhan
keheranan melihat gadis aneh ini. ‘Apakah dia gila?!…’ batinnya. Luhan bahkan
sepenuhnya tak bisa percaya bila apa yang dikatakan yeoja ini benar. Bisa saja
yeoja itu cuma mengaku-ngaku demi mendapat tumpangan tinggal gratis atau makan
gratis. Atau juga karena yeoja ini hanya mau menakut-nakuti.
‘Bisa
saja dia berbohong, hum…tapi mengapa bola matanya berwarna hijau? Kenapa dia
sangat cantik? Mengapa dia tampak begitu sempurna? Bahkan siapa pengirimnya
sama sekali tidak kuketahui!.. Atau jangan-jangan, dia bukan manusia!? Tapi
katanya dia ini malaikat maut!...Aku tak mungkin bisa melihat malaikat!... Bagaimana
bila dia ini seorang alien? Atau monster! Atau bahkan dia ini hantu!?...’
Luhan
gelisah dengan pikirannya sendiri. Dan gadis itu sibuk memandangi Luhan dengan
tatapan menerawang seolah bisa melihat apa yang sedang namja ini pikirkan.
“Luhan-ssi?”
tanya yeoja itu lagi.
Luhan
yang sudah dihujani oleh keringat dingin segera berlari kepojok kamar dan
tiarap dibawah lampu. Dia ketakutan sekarang. Entah mengapa kedua bola mata
hijau Ah Cha menjadi semakin menakutkan setelah penjelasan gila itu. Luhan
merinding dan sangat takut.
“Pergi!
Pergi kau!! Jangan ganggu aku..! Pergi sana…,” teriak Luhan sambil terus
meringkuk menutupi badannya di bawah lampu. Kepala Ah Cha ganti miring kekiri
mendapati tingkah tuan barunya itu. Dia melangkah mendekati Luhan.
“Jangan!!...
Jangan dekati aku! Pergi sana!! Pergi…!” Luhan menutupi kedua mukanya. Tangan
namja itu meraih-raih sesuatu dimeja yang tak jauh dari tempatnya berlindung.
Ditemukannya sisir. Dan dia segera melempar sisir itu kearah Ah Cha. Setelah
itu Luhan meraih botol parfum dan dilemparkan kearah gadis itu lagi.
Mengetahui
tingkah Luhan, Ah Cha berusaha menyingkir dari apa-apa yang tengah Luhan
lemparkan.
“Stop
melempariku!!” teriak Ah Cha yang sudah mulai naik pitam. Wajah cantik, lembut,
imutnya kini tergantikan dengan mata hijau yang menyala dan sebuah tatapan
dingin.
Luhan
terkaget dan bisa dirasakannya seluruh bulu kuduknya kini meremang usai
mendengar suara Ah Cha. Ah Cha mendekat dan menarik lengan Luhan kuat-kuat.
Luhanpun sangat terkejut akan kekuatan gadis ini yang melebihi kekuatan yang
dimilikinya sendiri.
Ah
Cha melempar tubuh gemetar Luhan keatas ranjang. Luhan yang begitu ketakutan
perlahan merayap kebelakang sampai punggungnya menabrak kepala ranjang. Ah Cha
menatap Luhan geram dengan kedua pupil matanya yang membesar dan semakin
berkilat.
“Jangan..
jangan sakiti aku!! Aku mohon!...” ucap Luhan lagi terdengar patah-patah. Ini
kali pertamanya dia memohon kepada seorang wanita. Rasanya oksigen disini
semakin menipis dan dia sulit menghirup udara.
Ah
Cha melangkah mendekati sesosok yang meringkuk diujung ranjang itu.
Namun
sebelum Ah Cha naik keatas ranjang Luhan sudah mendahului turun dari ranjang
itu dan keluar dari kamar. Dengan secepat mungkin Luhan segera menutup lalu
mengunci pintu kamar rapat-rapat.
“Hos…hossh..hossh…”
Luhan bersandar disisi luar pintu dengan nafas yang tak beraturan.
Sedangkan
Ah Cha yang terkunci didalam malah tertawa geli mendapati tingkah ketakutan
majikan barunya. Dia telah mengerjai Luhan.
»*»
Luhan
berlari sekencang mungkin melewati jalan yang ada di area pertokoan. Nafasnya
terengah-engah disertai peluh yang tiada henti meluncur menuruni pelipisnya.
Sampailah dia di sebuah toko roti yang ada disekitar perempatan.
“Suho!!
Suho-ya!” panggilnya seraya membuka pintu toko roti itu. Dia tidak mendapati
seorangun disana dan melangkah lebih jauh memasuki toko tersebut.
“Suho!!
Kau dimana?” Luhan mengacak rambutnya sebal karena belum juga menemui seseorang
bernama Suho itu. Luhan memang sangat dekat dengan teman sejak SMAnya itu, jadi
keluar-masuk toko roti seperti ini sudah biasa. Suho mewarisi toko roti milik
kakeknya dan sekarang dia yang mengelola toko roti itu sendiri.
“Suho!
Akh!!” teriaknya lagi kali ini terdengar amat sangat frustasi.
Tiba-tiba
seseorang muncul dari balik pintu dapur dengan baju koki warna putih yang sudah
ternoda oleh krim warna cokelat. Oh, rupanya Luhan akan kena marah dilihat dari
ekspresi Suho.
“Ada
apa Luhan-ah!! Kau ini pagi-pagi sudah bikin ribut saja!! Kau tak tahu aku
sedang apa huh?! Tak sadarkah bila pagi ini, aku…” belum tuntas apa yang
terucap dari mulut namja itu Luhan sudah dulu menghambur kepelukannya
sampai-sampai dia nyaris jatuh.
“Suho!!
Suho! Tolong aku.. aku mohon… Please… Aku mohon!” rengek Luhan seperti anak
kecil. Suho sukses keheranan dengan tingkah temannya ini yang tiba-tiba
berubah.
“Yak..
lepaskan dulu! Kau mau aku kehabisan nafas lalu mati huh?” Suho berusaha
melepaskan Luhan yang masih menempel erat di tubuhnya.
Mengetahui
temannya yang nyaris mati itu Luhan segera melepaskan pelukannya. Nafas namja
itu masih tersenggal-senggal karena terlalu lama berlarian. Suho mengerutkan
dahi ketika mendapati dada Luhan yang naik turun dan wajah yang basah akan
keringat.
“Hei,
sebenarnya kenapa kau ini?” tanya Suho sambil berkacak pinggang dengan ekspresi
penuh tanya.
“Aku,…”
entah mengapa Luhan bingung mau mengatakan apa. Dia benar-benar bingung mau
memulai cerita ini dari mana. “Aku..” ulangnya lagi. Mulutnya terasa kaku dan
semua kata-katanya bagai tersangkut ditenggorokan dan tak mampu lolos melewati
mulut.
Suho
semakin keheranan. “Luhan-ah, sebenarnya apa yang telah menimpamu sampai-sampai
kau gagap begini?” tanya Suho cemas. Suho menggenggam kedua bahu temannya itu
dan mengguncang tubuh Luhan pelan. “Katakan padaku… apa yang terjadi.” ulangnya
kali ini dengan lebih lembut.
“Hyung,
aku…- aku…” dengan sangat hati-hati Luhan berusaha merangkai kata demi kata.
“Nde… nde…” Suho yang seolah berusaha membantu Luhan bicara hanya mampu mengangguk-angguk
pelan berharap teman baiknya ini bisa menceritakan sesuatu.
“Tring..tring…”
tiba-tiba lonceng yang terletak didepan pintu –tanda seseorang datang memasuki
toko) berbunyi. Pintu terbuka dan menampakkan sesosok yeoja dengan kulit putih
mulus dan dress hitam yang memasuki toko roti itu.
Langsung
saja kedua namja itu menoleh kesumber suara secara bersamaa. Yeoja cantik itu
celilingan mencari-cari sesuatu.
‘Bagaimana
bisa dia keluar dari kamar!? Bukankah tadi sudah kukunci dengan benar?!’ pikir Luhan
sambil menatap sosok itu dengan raut ketakutan.
“Tidak!
Tamatlah riwayatku!!” mulut Luhan yang tadinya bagai terkunci kini kembali
normal seusai mendapati siapa yang datang.
Suho
semakin bingung dengan apa yang tidak dia ketahui ini.
“Hyung!!
Hyung! Aku mohon sembunyikan aku!! Sembunyikan aku dimana saja! Aku mohon!..”
Luhan mencengkeram kedua lengan Suho dengan panik. Keringat kembali mengucur
deras.
Suho
yang sama sekali tidak paham dengan situasi ini menurut saja dan memerintahkan
Luhan untuk sembunyi dibawah meja dapur. “Disini! Masuklah.. masuklah!” Luhan
seketika berlari memasuki kolong meja yang disana tertutup oleh kain putih
penuh noda –tempat yang biasa digunakan Suho dan para pegawai bakery untuk
memoles cupcake.
Gadis
cantik bernama Ah Cha itu mencari-cari sambil sesekali mengendus-endus. Dia
mulai memasuki dapur dan mendapati seorang namja dengan baju koki.
‘Oh,
Demi Tuhan!! Gadis ini sangat cantik!’ pikir Suho sambil terpukau akan yeoja
yang ada didepannya sekarang.
“N-nona..
m-mencar-ri ss-siap-pa..?” tanya Suho dengan terbata-bata saking sibuknya
mengagumi wanita ini.
‘Kulit
putih, mata lebar, rambutnya indah… oh, lihatlah bibir itu.. baru kali ini aku
melihat ada bibir semerah dan se-berkilau itu… Mengapa Luhan malah lari dari
gadis ini? Aneh…’ pikir Suho lagi.
“Aku
mencari majikanku.” kata Ah Cha dengan suara kecilnya yang tipis dan sedikit
cempreng. Suho sampai hampir pingsan mendengar suara merdu wanita ini.
‘..Suaranya..awh,
seperti boneka saja. Tidak, kurasa dia benar-benar jelmaan Barbie!’ batin Suho.
‘Ah tunggu, majikan?!’
“M-majikan?
Siapa dia?” dahi Suho berkerut bingung.
“Um,
apakah kau temannya Luhan?” tanya Ah Cha berterus terang.
“A-aku..
nde.. aku temannya..tapi, tapi dia tidak sedang disini.. memangnya sejak kapan
dia menjadi majikanmu?” tanya Suho lagi.
‘Oh,
Aniyeo..!’ batin Luhan yang sedang menguping pembicaraan mereka dari bawah
meja. ‘Jangan sampai Suho hyung terpesona oleh Ah Cha!’
Ah
Cha tidak mengindahkan pertanyaan Suho dan malah mengendus-endus udara dapur.
“Hum, padahal aku mencium aroma Luhan…” bibir kissable Ah Cha mengerucut dengan
imutnya.
Suho
terbelalak mendengar ucapan Ah Cha. Sedangkan Luhan semakin merutuki diri
berharap dia tidak ketahuan. Luhan tak tahu bila wanita aneh ini memiliki indera
penciuman yang sangat tajam.
“Kalau
begitu, aku pergi saja. Aku harus mencari Luhan!...” Ah Cha beranjak lalu
berbalik akan tetapi lengan gadis itu segera digenggam Suho. “Tunggu nona!”
tukasnya. Ah Cha hanya memandang Suho dengan tatapan ‘Apa?’
“Ah,
Um… sebaiknya kau duduk dulu disini..” Suho mempersilahkan Ah Cha duduk di
kursi makan. “Tunggu saja dia datang. Kau mau roti?” tanya Suho.
Ah
Cha menurut saja dan duduk di kursi makan itu dengan tenang.
“Aku
mau…” jawab Ah Cha seadanya.
Suho
tersenyum manis dan kembali berkutat dengan sekumpulan alat-alat dapur. “Kau
mau rasa apa? Cokelat? Keju? Atau Blueberry?”
“Ikan!”
jawab Ah Cha penuh semangat. Namun Suho malah bingung. Belum pernah dia membuat
roti dengan rasa ikan.
“I-ikan?”
Suho menoleh kepada Ah Cha dengn kikuk.
“Nde!”
Ah Cha mengangguk mantap.
“Aku
tidak punya rasa ikan.” Suho menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“Um,
bagaimana jika ayam! Kau punya?” tanya Ah Cha lagi.
Kali
ini Suho mengangguk dengan senyum. “Iya, akan kuambilkan.” namja itu melangkah
menuju bagian luar toko dan datang dengan sepiring roti. “Ini untukmu..” ucap
Suho.
Mata
Ah Cha berbinar memandang roti-roti itu. Dia langsung mengambil satu dan
melahapnya dengan rakus tanpa menghiraukan Suho lagi. Kedua mata besar Suho
berhasil membulat lebar. Namja itu menelan ludah dengan susah payah.
‘Yeoja
ini cantik… tapi mengapa cara makannya begini?’ pikir Suho.
Ah
Cha meneruskan acara makannya tanpa sedikitpun menoleh kearah Suho yang
melototinya dengan penuh kagum.
“Em,
siapa namamu nona?” tanya Suho memberanikan diri membuka mulut. Ah Cha langsung
memandang Suho dan baru sekarang namja itu sadari bila wanita ini memiliki iris
mata berwarna hijau bening.
“Aku
Ah Cha… kau siapa?” tanya Ah Cha balik.
“Namaku
Suho.” Suho menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Aku
Ah Cha, senang bertemu denganmu Suho-ssi!” bibir Ah Cha melengkung lembut
sembari menjabat tangan Suho. Kemudian mereka bertukar senyum satu sama lain.
“Aniya!!” geram Luhan sambil menepuk jidatnya
sendiri. Apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi. Tentu saja! Suho
termasuk pria yang genit pada wanita.
“Ah Cha-ssi, sebenarnya siapa kau ini? Dan apa
hubunganmu dengan Luhan?”
‘Pabbo!
Kenapa dia tanyakan itu!’ batin Luhan lagi. Ternyata kemari bukanlah jalan
keluar! Suho mudah sekali terpancing pada gadis cantik!
“Luhan
itu majikanku! Dan aku adalah seorang …“
TBC
»*»
#Jederrrrr
#DUARR
Hohohoho,
senangnya bikin readers kecewa! Huahahaha! HAHAHAHA! *dilemparin cicak ama
Luhan. #iyeks >//<
Ada
yang penasaran disini? Ada dong..pliss..ada gitu lah! #pemaksaan mode on#
Minta
terusnya? Bayangin sendiri ya readers XD soalnya masih bingung ini mau di
lanjut ato kagak. Hahaha! #tawa setan.
Baiklah,
karena saya adalah termasuk orang paling redah hati dijagat raya ini *HOAX*
maka author akan berbaik hati untuk memberitahu cuplikannya.
·
Luhan marah
·
Ah Cha marah
·
Kris marah
Kenapa
cast gue pada ngambeg semua? Pikirin aja sendiri! XD. Tapi ini suerr, aku kaga
bohong! Yang masih penasaran sekaligus jengkel ama gua, yang tua, yang muda, yang
kulitnya bengkoang, sawo matang, bahkan biji sawo, juga yang giginya kaya biji
timun, atau yang kaya biji duren, pokoknya terus stay dan pantengin blog aku!!
Haruss! #todongin Kris, eh salah.. keris!
Kalau
begitu, akhir kata dari saya… WaBAEKHYUNi TAOfik Walhidayah, WaCHENmuaLAYkum WarrahmaLUHANi…
wabaroKAI.D.O….
#sungkem

0 comments:
Post a Comment