Friday, July 5, 2013

"My Tinkerbell" [Kris Ver] (3)

Posted by Unknown at 10:25 PM


“MY TINKERBELL”
 
Author : Jihan Kusuma
Cast : Kim So Hwa, Kris
Genre : Romance
Rating : PG-15
Legth : ONESHOOT
DESCLIMER : Akhirnya author datang juga membawa Kris >.<. Ini adalah My Tinkerbell versi ketiga. Bagi yang belum baca versi terlama bisa otak atik Our Magig World *silahkan atou mau cari biasnya, boleh. Cast Kim So Hwa punya aku dan Kris adalah milik kita bersama!!
Baiklah sodara-sodara! Mari kita baca bersama-sama ff aku yang kurang menarik tapi wajib dibaca ini! Selamat menikmati^^
Bacalah dengan tempo perlahan dan penuh kelembutan.
ChenKaiD.Ot®
»©»
Mungkin es krim terlalu lembut dan dingin untuk cinta yang rumit. Cinta memang membingungkan. Kita tidak tahu dimana dia akan singgah dan kemana cinta akan memeprtemukan kita…
[Kris]
»©»
Kini langkahku bisa kudengar sendiri. Kususuri jalan ini dengan lutut yang rasanya mau patah karena terlalu lama berlari.
Hsss
Hssh….
Keringat sudah membasahi kerah seragam sekolahku. Aku terus berlari tanpa menghiraukan tenggorokan yang gersang dan rasaya pecah-pecah.
“Aha, sebentar lagi aku akan datang!” seruku dalam hati setelah kulihat gerbang sekolah tinggal beberapa meter lagi didepan mata. Dengan penuh penjuangan aku mempercepat langkah. Aku tidak boleh terlambat hari ini!
Dan pada akhirnya sampai juga. Aku berlutut sambil menarik nafas yang terasa patah-patah karena kelelahan. Tetapi, o’oo…
Ketika kuangkat kepala tampak tubuh dempal berkumis yang dengan garangnya melototiku. Oh tidak, guru kesiswaan!
“Ikut saya! Dasar pemalas!” hinanya sambil menarikku berdiri dengan tegap.
Ternyata Tuhan masih belum bermurah hati untuk tak memberiku pelajaran. Tuhan, apakah kesalahanku hingga aku merasa menjadi orang tersial didunia?
Oh, ya! Kini baru kusadari sekarang adalah pukul tujuh lebih dua menit. Yang artinya setiap satu menit siswa dihukum mengelilingi gedung badminton 5 kali. Dan betapa bagusnta hukumanku, aku harus melakukan itu 10 kali! Oh, terimakasih Tuhan atas hukumanMu yang hampir setiap hari kulakukan sepenuh jiwa.
Aku dan beberapa siswa pemalas lainnya berbaris mendengarkan ocehan tak berguna tuan Dong Seok sang guru kesiswaan paling killer seantero Bima Sakti. Dan setelah mendapat cukup bahan ‘dakwah’ kami melakukan hukuman itu.
“Sial, aku bahkan masih kelelahan! Aku haus!!”
“Satu!! Dua!... Satu Dua!!” hitung tuan Dong Seok sambil duduk di kursi yang letaknya di pojok gedung sambil sesekali meniup peluit yang memekakkan gendang telinga. Aish, sempurna sekali hari-hariku.
»©»
Ketika istirahat pertama…
Kusedot sedikit demi sedikit sirup jeruk yang barusaja kubeli. Kuminum dengan rakus sampai-sampai habis dalam beberapa detik saja.
“Ah,” kulempar botol minuman kosong itu ketempat sampah terdekat dan kembali menatap lurus kedepan menyaksikan beberapa siswa laki- laki bermain basket.
Bola mataku bergerak mengikuti pergerakan tangan seorang namja tinggi yang aku tahu sebagai pujaan yeoja-yeoja di sekolah ini.
“Oh, Kris!!! Kris!!!! Aww!!!” beberapa yeoja genit menyoraki namannya dengan heboh disamping lapangan basket.
Jujur, aku juga tertarik pada namja itu. Bahkan, aku menyukainya sejak kelas 1. Hm, memang kisah yang pelik, sampai sekarang cintaku memang tak terbalas. Bahkan aku meragukan apakah Kris mengenalku. Yap, aku memang bukan gadis berkepang dua dan berkacamata plus jerawat yang memenuhi dahi.. hanya saja aku kurang popular dikalangan siswa yang famous seperti Kris.
Kepalaku bersandar di pohon yang ada di samping pohon sambil terus menatapnya penuh sedih.
Tiba-tiba sebuah ide muncul diotakku yang cukup special untuk masuk menjadi 10 besar di kelas 12-B.
Kuambil sesuatu dari kantong dan menekan tombol kamera. Kuaangkat kameraku dan mengambil sebuah gambar.
‘krekk..’
Yes, dapat!! Kutatap gambar Kris yang sedang mendribel bola. Aku tersenyum sendiri tidak jelas.
“Hei, gadis bego!!” tiba-tiba seseorang dibelakangku merebut posel dari tanganku. Aku segera bangkit dari duduk dan berbalik.
Oh, ternyata Shin Seo Ra dan kedua teman centilnya. Mereka terlihat mengerikan dengan rambut panjang tergerai gerai seperti singa, persis seperti apa kata Nyonya Myung, guru BP sekolah ini.
Seo Ra melihat apa yang ada di layar ponselku dan tersenyum miring layaknya baru saja menyaksikan adegan film paling remeh di dunia.
“Kris lagi?” ujarnya seraya memandangku dengan alis sebelah terangkat.
“Berikan padaku!” aku berusaha meraih ponselku dan sial sekali. Aku baru sadar bila Seo Ra beberapa centi lebih tinggi daripada aku. Sampai-sampai berjinjitpun aku tidak akan dapat meraih ponselku dengan mudah. Seo Ra mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi sedangkan kedua temannya tertawa licik menyaksikanku yang gagal dalam berusaha.
“Han Li!! Tangkap ini!” Seo Ra melempar ponselku kepada salah satu temannya. Dan sialnya lagi ponselku sukses ditangkap oleh gadis bernama Han Li itu.
“Yak!! Nanti rusak!” aku mengejar Han Li dan Han Li melepar lagi keteman yang satunya.
Ugh!! Dasar bodoh! Kini aku jadi bulan-bulanan mereka! Sial!! Sial!
Sampai akhirnya ponsel satu-satunya yang kumiliki itu tercebur ke dalam kolam ikan yang ada di sekitar sini.
“Ups!” Seo Li pura-pura menutup mulut sambil menggerling. Namun dibalik itu ada seulas senyum kemenangan yang dengan liciknya terpajang di bibirnya.
“O,o…” Han Li hanya ber-o ria dan itupun pura-pura.
“Hm, makanya… orang yang tidak selevel dengan Kris tidak usah menaruh hati padanya. Kris, hanya untukku dan secepat mungkin aku akan mendapatkannya.. itu pasti!” Seo Ra menjambak rambutku sampai kepalaku mendongak dan aku memekik kesakitan.
“Seo!! Yak, lepaskan dasar sialan!” rintihku sambil menggenggam tangannya. Rasanya rambutku tercabut sampai ke akar-akarnya dan mungkin kulitku terasa mengelupas.
“Pabbo!!” selanjutnya wanita keturunan setan itu melempar kepalaku kedepan sampai sampai aku hampir terhuyung jatuh. Ingat!! ‘HAMPIR’. Sebelum kedua temannya yang sama setannya itu mendorongku dan aku SUKSES dengan mulusnya mencium rerumputan yang masih basah –tempat kami berperang tiga lawan satu.
“Akhh…” kuusap bibirku yang basah dan kurasa bukan hanya rumput yang kucium namun ada duri disana dan itu membuat sudut bibirku tertusuk hingga keluar darah.
“Haha! Rasakan!! Bodoh!” gumamnya sambil melototiku.
Mereka berlalu dari sini. Aku masih beruntung karena tidak ada orang disekitar sini –yang bila ada pasti akan menjadi pemirsa dalam adegan berbahaya ini.
“Brengsek!!” bisikku sambil menatap marah kepergiannya.
»©»
Beginilah jadinya, ponselku rusak tidak bisa dinyalakan. Dan sekarang aku sedang berjalan pulang dengan bibir lebam sebelah.
Kuusap lukaku dengan jempolan. Perih sekali sampai aku mendesis pelan. Tadi memang sudah kubasuh dengan air dan mengobatinya sendiri di UKS –karena aku memang anggota UKS.
“Dasar brengsek!!” kuhentakkan kakiku kejalan seperti orang gila. Aku tak peduli berapa pasang mata yang keheranan melihat tingkahku. Kuhentakkan lagi kakiku beberapa kali meski hal itu menambah rasa panas dalam hatiku.
“Aishh!!” kutendang sebuah batu yang kebetulan tergeletak di pinggir jalan.
“Auh!!!” dengan maksud menyalurkan amarah namun sekarang malah jempolan kakiku yang ngilu.
“Batu sialan!!... aduhh….” rintihku dan lagi-lagi aku harus berbicara sendiri dan sekarang kepada batu! Sungguh ini bagaikan hari paling buruk didunia –bagiku.
Pertama aku terlambat. Kedua ponselku rusak. Ketiga aku dijadikan bulan-bulana oleh Seo Ra CS. Dan sekarang! Jempolanku berdenyut-denyut gara-gara batu!
Aku berharap semoga tidak ada meteor jatuh dipekarangan rumahku agar hari ini tidak menjadi sempurna terburuk dari segala hari buruk dalam kamus hidupku!
»©»
“Dua menit lagi!” nyonya Jang mengetukkan kapur kemeja gurunya sambil melirik tajam lewat celah diatas kacamatanya yang lonjong kecil.
Ayolah berfikir! Berfikir!!
Kuketuk ketuk bolpoin hitamku kekepala dan memejamkan mata erat erat. Entah mengapa soal-soal aljabar ini begitu susah padahal biasanya aku lancar dalam mengerjakan soal semacan ini.
“Satu menit lagi anak-anak!” ucap wanita bertubuh besar pendek itu.
Tiba-tiba saja bolpoinku terjatuh dan membuatku harus membungkuk untuk mengambilnya.
Namun ketika aku membungkuk ada sebuah kaki yang menendangku sampai aku tersungkur dan membuatku tersungkur dengan tengkurap diatas lantai kelas yang dingin sedingin es –karena memakai AC.
“Gubraakk!!” seluruh isi kelas menatapku aneh. Aku menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang telah menendangku dengan sengaja.
‘Han Li?!’ alisku menyatu ketika memandang senyum mengerikan di ujung bibirnya. Tempat dudukku memang terletak tepat didepan teman dari musuh bebuyutanku sejak SMP itu, Seo Ra.
“Nona Kim So Hwa. Selepas bel pulang sekolah temui aku di ruang guru!” ucap Nyonya Jang sambil menurunkan kacamatanya.
Tidak! Hancurlah hidupku!
»©»
Ceramahan Nyonya Jang beberapa jam yang lalu masih terngiang ngiang diotakku yang mendidih panas. Dia bilang nilaiku menurun bulan ini dan berbagai tindakan tercela yang membuat buku merahku mulai terisi hari demi hari. Akupun bingung harus bagaimana, semua yang kulakukan itu tidak sepenuhnya karena kesalahanku. Aku terkena fitnah dan teraniyaya. Ya Tuhan, tidak lelahkah Kau membuat hambamu ini tersiksa sampai ketulang-tulang ku?
“Argh!” kujambak rambutku sendiri sebal.
Kulihat arloji putihku yang terkalung di pergelangan tangan kiri.
Sekarang pukul lima. Yah, sangat bagus! Nyonya Jang telah mengoceh tanpa henti selama dua jam dan sempurnanya lagi aku tadi belum makan siang. Pantas saja perutku keroncongan.
Hujan turun gerimis di langit senja yang keunguan.
Lalu apa ini? Aku harus berhujan-hujanan dengan perut kosong?!
Dengan terburu aku berlari menuju gerbang berharap ada taksi atau tumpangan alternative yang cepat membawaku pulang.
“Dum..dum.. tap..tap..tap…” terdengar bunyi langkah sepatu disertai pantulan bola basket ke lantai Langkahku terhenti ketika melewati lapangan basket. Memangnya siapa yang berlatih sore-sore begini?
Karena penasaran aku mendekat ke lapangan basket dan mengintip.
“Aigo!” mulutku langsung melongo lebar dan kututupi karena saking kagetnya.
Itu adalah pemuda tinggi yang selama ini kudambakan dan hanya bisa kulihat dari kejauhan. Kris! Ya itu dia! Kris mendribel bola sendiri dan kemudian memasukkannya ke ring basket. Dia mencobanya lagi dengan bola lain dan seterusnya. Titik-titik hujan membasahi seragam putihnya dan celana warna gelap ala seragam sekolah ini.
‘Kenapa dia?’ batinku.
Kris terus melakukan hal yang sama tanpa peduli badannya basah kuyup dan badannya mulai terhuyung entah lelah atau kenapa.
Pikiranku mengarah ke hal yang tidak beres dan pasti ada sesuatu dibalik ini semua. Tak biasanya Kris hanya berlatih sendirian di sore hari.
Dan tiba-tiba ‘bruk’ tubuh tingginya tumbang kelantai basket yang basah. Aku yang mengetahui tidak tinggal diam. Aku memasuki area basket dan menghampiri Kris. Bukankah sudah kukatakan bila aku seorang anggota UKS.
“Kris!” kuguncangkan lengannya.
Demi apapun, wajah pemuda ini sangat tampan bila dilihat dari dekat. Sekilas aku memperhatikan dan segera sadar bila ini bukan kondisi yang tepat untuk itu. Tubuh Kris benar-benar panas. Dia demam!
“Kris kau dengar aku?! Kris!!” panggilku berulang ulang sambil menepuk pipinya yang terasa lembut beberapa kali.
Matanya sedikit terbuka melirikku dengan sayu. Bibirnya bergerak mengucapkan kata yang kurang jelas kupahami.
Karena hujan yang semakin deras dan tidak ada seorangpun disini kecuali kami dengan sekuat tenaga kukalungkan lengannya keleherku dan mengangkatnya pelan-pelan.
Sungguh, ini beban paling berat yang pernah kurasakan.
»©»
Kris telah terbaring di ranjang UKS dengan pakaiannya yang basah. Kini seragam yang melekat ditubuhku juga basah kuyup. Nafasku tersenggal begitu lelah namun tetap bertahan demi Kris. Aku harus menolongnya sekarang.
Aku bingung harus berbuat apa dan kuputuskan untuk melepas kemeja putihnya yang basah. Perlahan kubuka satu persatu kancing bajunya dengan perasaan gugup. Jantungku berpacu secepat orang yang baru saja berlari marathon. Keringatku bercampur dengan air hujan.
Dan sekarang seluruh kancingnya sudah terbuka menunjukkan otot-otot perutnya yang terbentuk jelas. Tidak, sekarang aku benar-benar berdebaran.
Kulepaskan kemeja dari tubuhnya dan mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil yang sudah dibasahi olehnya.
Perlahan kuusapkan handuk itu berusaha membuat tubuhnya hangat kembali.
“Ugh…h” rintihan keluar dari mulutnya terdengar ketika kuusap bagian perutnya. Aku terkejut saat menyadari bila ada semburat ungu kegelapan di perut kirinya.
Apakah Kris baru saja berkelahi sampai badannya memar begini? Inikah masalah utamanya?
Kuambil minyak oles di laci UKS dan menuangkan di tanganku. Kuusap lukanya perlahan lahan dengan memutar. Semoga dia tidak terbangun.. aku mohon Tuhan..
“Akhhhh…” erangan kesakitan keluar lagi dan kini Kris membuka matanya.
Aku tidak tahu harus bagaimana karena Kini karis telah memandangku. Meski padangannya masih sesayu tadi namun aku yakin dia bingung dan tidak mengenalku.
“S-siapa kau?” tanyanya lirih.
“Maaf, aku mohon maafkan aku.. aku sudah berusaha untuk pelan-pelan…maaf!” aku malah melupakan pertanyaannya dan memohon mati-matian.
Kris pelan-pelan mengangkat tubuh dan duduk.
“Awhh..” ucapnya sambil melirik luka keunguan diperut kirinya.
“Maaf, tadi kau pingsan di lapangan basket…” aku berusaha menjelaskan.
Kris menatapku entah tatapan bermaksud apa itu aku tak tahu. Yang jelas sekarang dia memandang wajahku keheranan.
“Kau? Jadi kau yang membawaku kemari?” tanyanya dengan nada yang sedikit melengkung tinggi. Aku khawatir Kris akan marah dan saat ini jelas detak jantungku tak dapat diajak berkompromi.
Aku mengangguk cepat tanpa berkata sepatahpun. Kris semakin heran.
“Terimakasih…,” kata Kris singkat.
Kepalaku langsung terangkat. Tidakkan kalian dengar? Dia berkata terimakasih?!! Omo, inginnya aku terbang tinggi tinggi sekarang!
“Auh, ini masih sangat sakit..” Kris menegakkan tubuh dan sekarang jelas tampak beberapa lebam biru di bagian belakang tubuhnya. Oh, aku tidak tahu bila luka lebamnya sebanyak itu.
“Aku akan membantumu…” kata-kata itu kabur begitu saja dari bibirku. Dan tanpa pikir panjang aku mengambil sesuatu di lemari kecil terdekat. Kukeluarkan beberapa perban dan semacam tali putih yang gepeng.
Kris yang tahu reaksiku hanya diam menurut akan apa yang akan kulakukan.
Dengan penuh hati-hati kurekatkan perban disetiap lukanya. Setelah terpempel kugulungkan tali gepeng tadi kesekeliling pinggangnya untuk menegakkan tubuhnya yang jadi sedikit sulit untuk berjalan karena sakit.
“Um, hanya itu yang bisa kulakukan..” ujarku lirih.
“Sekali lagi terimakasih.. aku harus segera pulang sekarang..” dengan susah payah Kris turun dari ranjang. Aku membantu memegangi lengannya dan dia berjalan tertatih tatih.
Kurasa setelah hari terburuk sekarang adalah hari terbaik.
“Oh ya, siapa namamu?” tanyanya sebelum perpisahan.
“Aku So Hwa. Kau pasti kapten basket bernama Kris itu kan?”
“Nde, sekali lagi terimakasih So Hwa…!” Kris berlalu sambil kembali mengancingkan seragamnya.
‘Ohh, aku sudah melayang diatas awan!!’
»©»
Pagi ini tubuhku terasa sangat tidak enak. Ada setitik rasa pening yang kian membesar seiring langkahku menuju sekolah. Aku menyesal tidak melakukan perintah eomma untuk meminum pil penghilang rasa pusing –karena memang tadi pusingnya tidak berasa.
Dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya aku berjalan menyusuri pinggiran yang ditumbuhi rumput. Aku sengaja bangun lebih pagi untuk berangkat lebih awal tentu saja dengan alasan tidak ingin mendapat ceramahan dari guru kesiswaan untuk yang kesekian kalinya.
Udara pagi ini sejuk dan matahari bersinar tidak terlalu terik. Sama persis seperti apa yang kurasakan. Terkadang aku berdebar-debar ketika mengingat lagi kejadian kemarin di ruang UKS.
‘Oh, Kris… akhirnya kita bisa saling mengenal…’ gumamku sambil tersenyum sendiri.
Namun, tiba-tiba sesuatu menghantam pinggang kananku sampai aku terjatuh meski tidak terlalu sakit.
“Akhh…” aku memekik sambil memegangi pinggangku.
“Hahaha, rasakan bocah tak tau diri!!” sebuah suara cempreng terdengar. Aku menoleh ke sumber suara itu berasal.
Oh, ternyata dari si bibir tebal Seo Ra dan mobil mewahnya yang berwarna merah mengkilap. Gadis sialan itu kini mulai membullyku lagi?! Lihat saja aku akan melakukan pembalasan. Ternyata dia sengaja menabrakku!! Sialan!...
“Yak!! Katakan apa maumu Seo Ra!! Apa maksudmu mengataiku tak tau diri?!!” balasku sambil menendang ban mobilnya keras-keras. Oke, masalah jempolanku yang ngilu itu sudah terlampau lama dan sudah sembuh kembali. Namun, sekarang aku juga tidak mau menyakiti diri sendiri hanya untuk mencaci puteri kerajaan setan ini.
“Huuu!!” kedua member genk nya itu menyorakiku seolah aku baru saja kalah dalam lomba balap karung eksklusif yang ditanyangkan di sebuah acara TV tersohor didunia.
“Hahaha… uh, sepertinya kita akan terlambat guys.. yuk kita tinggalkan orang tak berarti ini! Aku muak sekali melihat mukanya yang mirip seperti badut paskah! Hahaha… bye! Pecundang!!!”
Yei, apa maksud dari segala ucapannya itu?|! Orang tak berarti?!! Badut paskah? Konyol sekali. Bahkan lelucon itu tidak mempan untuk menghibur anak TK yang baru saja lulus. Lalu? Apa dia bilang bila aku ini pecundang?! Hm, lihat saja..kita buktikan siapa yang lebih tak berarti!! Dasar nenek sihir! Puteri kerajaan setan!! Penghina!!
“Bye-bye!!! Hati-hati ya… Hahahahaha…” bunyi tawa yang pecah itu bahkan masih terdengar setelah radius 8 meter kepergian mobilnya.
Akh, sial! padahal aku berharap hari ini menjadi hari yang indah. Namun, pagi-pagi sudah terkena bullyan seperti ini? Ugh….
Kutebaskan rok pendek yang kukenakan untuk menghilangkan debu-debu yang masih menempel disana. Ahhhhkk.. sebal! Sebal! Sebal!!!
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat disampingku yang masih sibuk untuk membersihkan diri.
“Hey…” sapa sebuah suara.
Aku menolehkan muka dengan sebal “Apa lagi?!!”.
Omona~
Oh, apakah aku sedang bermimpi?! Kris!! Kris?! Dia disini sekarang! Menyapaku! dan aku malah menjawab dengan kasar!! Oh, Tuhan hukum aku!
Kris memandangku seolah melihat mahluk dari luar angkasa yang nyasar di bumi. Bagaimana tidak? Dia menyapaku baik-baik malah kubalas dengan bentakan yang seratus persen kasar.
Aku nyengir kuda. Oh, aku malu sekali!
“Ma-maaf… a-aku…” aku terbata dan bingung mau bilang apa.
“Ah, lihatlah rokmu..kenapa bisa kotor seperti itu?” tanyanya heran.
“I-ni hanya.. um, a-aku…” beribu-ribu kata yang selama ini pernah kuucapkan bagai sirna setelah mendapati Kris yang seolah mengalihkan duniaku.
“Naiklah, aku antar kau kesekolah.” cetusnya.
“A-aku?!” aku menunjuk diri sendiri dengan kikuk.
“Nde, ayo masuklah..” tambahnya.
Mimpi apa aku semalam?! Setelah disia-sia oleh nenek sihir kini aku diizinkan masuk ke kendaraan mewah pangeran langit yang berhati lembut selembut embun.
Aku membuka pintu mobilnya dan duduk di jok depan disampingnya.
“Brak…” kututup pintu mobil kemudian membenarkan posisi dudukku.
“Pakai sabuk pengamannya.” pintanya lembut.
Aku mengalungkan sabuk itu ke dadaku dan menancapkannya di kunci khusus. Ada sedikit keraguan yang ada di hatiku meski aku merasa sesenang ini.
“Kris,” panggilku.
“Hm?” tanyanya sambil memandangku intens. Oh tidak, pandangan itu? Aku harap tidak ada upil yang masih menyangkut atau ada kulit cabai di gigiku.
“Kenapa kau mengantarku?” tanyaku sambil kesusuahan menghirup oksigen yang terasa menipis.
“Tidak bolehkah? Bukankah kemarin kau telah menolongku dengan susah payah? Sudah seharusnya aku membalas kebaikanmu.”
Hati kecilku terasa sedikit mengempis. ‘Berbalas budi’ ? Hanya itukah maksud dari ini semua? Dia rela mengantarku untuk membalas budiku yang telah menolongnya kemarin?
“Nde, terimakasih Kris…” balasku singkat.
Kris mulai menginjak gas dan mobil melaju dengan kecepatan rendah.
“Apa yang terjadi dengan rokmu sehingga berdebu begitu?” tanyanya.
“A-aku.. um tadi sebenarnya ada mobil lewat yang secara tak sengaja menerbangkan debu dan jadi begini…” jawabku berbohong. Sebenarnya sangat tidak pantas aku berkata dusta seperti ini namun akan lebih sangat tak pantas bila aku menjelaskan segala yang asli terjadi.
“O,” balasnya lirih.
Dan kami tiba disekolah dengan puluhan pasang mata yang menatap kagum akan diriku.
»©»
Sekarang adalah saatnya istirahat pertama dan aku bermaksud untuk memasukkan beberapa buku catatan kedalam lockerku.
Kuputar kunci loker dan setelah kubuka ada banyak sekali sampah kertas dan plastic bekas yang berhamburan keluar dari dalam.
Sekeliling langsung menatapku kaget dan beberapa anak mengumpul disekitarku.
Oh, jangan bilang bila ini ulah genk sialan itu lagi? Sebenarnya apa yang dia mau dariku? Apakah karena aku yang berusaha mendapatkan Kris? Lalu mengapa dia tidak bersaing saja secara sehat? Bukankah itu lebih baik dilakukan?!
Kuremas salah satu kertas tadi dengan geram lalu kulempar kelantai bersama kertas-kertas sampah yang lain.
Terdengar bisik-bisik lirih dari pada semua siswa sambil melihatiku. Jadi sekarang aku menjadi popular mendadak karena ini? Sungguh brengsek!
“Permisi!...Permisi,” sebuah suara cempreng terdengar mendekat menerobos kerumunan.
Dan benar saja. Ketiga bidadari neraka itu mendekatiku dengan tatapan paling mengejek.
“Ups, lockernya lupa dibersihkan ya?” tanya Seo Ra dengan nada khasnya.
Aku berusaha menahan diri dan diam meski ekspresiku tak dapat berbohong bila aku sedang sangat marah.
“Oh, ternyata pemiliknya terlalu jorok untuk membuang sampah sampahnya ketempat yang seharusnya…kasihan ya lockernya.. hahaha..” balas bidadari yang satunya.
“Um, kurasa dia terlalu mencintai sampah sampah ini… saking berharganya dia tak membuangnya… ratu sampah!.. hahahaha…” tawa pecah dari mulut tajam yang satu lagi.
Seluruh siswa laki-laki maupun perempuan yang menyaksikan sama sekali tidak mengeluarkan suara. Kini hanya aku dan ketiga manusia hina ini yang menjadi pusat perhatian utama.
“Kasihan sekali…” Seo Ra mendorong pelipisku dengan telunjuknya yang terawatt setiap hari dengan biaya yang tidak murah.
Aku berbalik untuk menatap muka Seo Ra yang ternyata dibalik segala permakan bedak itu tersimpan sejuta kebusukan yang tiada tara. Bodoh sekali!
Aku berkacak pinggang sambil mendongak untuk menyamakan tinggi. Kalian masih ingat bila dia beberapa centi lebih tinggi semampai dibandingkan diriku.
Seo Ra menatapku jijik.
“Tidak lelahkah kau membuat hari-hariku hancur!!?” ucapku lirih terdengar tajam.
Suasana sepi semakin sunyi setelah mendengarku membuka mulut.
“Jangan dekati Kris!” celetuknya.
“Berikan alasanmu nona neraka!” balasku lantang.
“Dia tak pantas untukmu!”
“Lalu, apakah seorang pendusta, pemfitnah, sombong, jahat, penyiksa sepertimu pantas untuknya?!!” aku maju selangkah dan membuatnya mundur.
Seo Ra tampak tersinggung atas apa yang kukatakan.
“Dasar gadis tak tahu diri!!...” dia mengangkat tangan siap melayangkan pukulan untukku dan aku memejamkan mata.
Namun, sebuah suara dari para penonton membuatku tersadar bila Seo Ra tidak jadi menamparku.
Kubuka mata dan Oh Tuhan!! Tuhanku!!
Kris menggenggam pergelangan tangan Seo Ra. Semua pasang mata terkejut mengarah kepada Kris. Oh, aku ingin pingsan sekarang juga! Tapi ini sangat sayang untuk dilewatkan…
“Kris?!” gumam Seo Ra kaget.
Kris membanting tangan Seo Ra. “Jadi begini kelakuanmu kepada orang lain? Huh? Ternyata aku sangat beruntung telah menolakmu ketika kau menembakku dulu. Kau sangat tak berperikemanusiaan.” jawab Kris sukses membuat air mata Seo Ra berlinang lembut menyusuri pipinya.
Hening, sepi, tak ada suara untuk beberapa detik.
Dengan langkah cepat Kris pergi meninggalkann kerumunan. Seo Ra masih menangis. Aku bahkan baru tau bila Seo Ra pernah menembak Kris dan hasilnya ditolak. Inikah maksudnya aku tidak boleh mendekati Kris? Bila dia tidak berhasil mendapatkan Kris maka tidak ada juga yang boleh menjadi milik Kris.
Seo Ra terisak dalam. Dia melirikku dengan matanya yang basah berkaca kaca. “Sekarang buktikan bila kau mampu mendapatkannya!” bisiknya lirih.
Lalu berlalu meninggalkanku bersama kedua sahabat setannya yang sama-sama tampak shock.
Setelah kepergian ketiga wanita itu kerumunan semakin berkurang dan lalu hanya tinggal aku yang mungkin paling shock dari yang lain.
Aku mematung didepan locker sambil berfikir tentang apa yang baru saja terjadi. Aku kesusahan mengambil oksigen. Haruskan aku membuktikan padanya bila aku bisa mendapatkan Kris?
»©»
Setelah berkali-kali berfikir akhirnya aku memutuskan apa yang harus kulakukan. Sekarang adalah istirahat kedua dan artinya banyak anak basket yang sedang bermain dilapangan.
Pertama-tama kuhembuskan nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Aku mulai melangkah memasukii arena basket –yang disana masih ada tim basket sedang bermain. Bisa kuharasakan merinding karena semua mata disana tertuju padaku.
‘Tuhan, aku mohon kali ini saja lancarkan apa yang harus kulakukan.” batinku.
Aku sampai ditengah lapangan dengan membawa sebuket bunga dibelakang tubuhku yang kurancang sendiri. Aku rela keluar sekolah dan menghabiskan uang jajan demi bunga-bunga ini.
Terdengar bunyi bola basket yang memantul lambat dan permainan basket terhenti menyisakan tatapan bingung seluruh pemain padaku. Kris yang ada didepanku menatapku. Aku yang tadinya menunduk berusaha memberanikan diri mengangkat muka.
“Kris..” panggilku sambil melangkah mendekatinya.
Kusodorkan bunga itu tepat dihadapannya sembari menunduk menyembunyikan seluruh rasa malu yang terasa mengumpul di mukaku.
“Selama ini, aku menyukaimu… maaf aku baru mengatakannya sekarang! Aku sangat, sangat menyukaimu! Terimalah bungaku ini!” ucapku keras keras sampai semua mendengar.
Untuk sesaat bunga yang masih ada ditanganku belum dia terima dan jantungku semakin berpacu secepat kilat.
Suasana masih sepi belum ada satupun yang membuka mulut. Sungguh, ini moment paling mendebarkan yang pernah kualami selama hidup.
Kris belum juga menerima bunga ditanganku. Aku gugup sepengah mati berharap dia segera mengambil bunga dari tanganku dan sampai akhirnya tangan Kris meraih bunga pemberianku namun masih dengan mulut yang terkantup rapat.
Aku yang merasa sangat malu dan berlari menuju pintu keluar lapangan basket. Tetapi ketika kurang selangkah lagi aku sampai keluar sebuah tangan yang kekar menggenggam lenganku sampai-sampai aku terhenti. Rasanya jantungku naik sampai menekan paru-paru dan aku nyaris mati.
Aku memalingkan muka kebelakang untuk melihat siapa pemilik tangan itu.
Kris, dia yang telah menggenggam lenganku sekuat ini dan Kris memandang pupil mataku yang hitam cerah.
“Aku juga menyukaimu sejak pertama kali kita berjumpa.” ucapnya lirih tapi cukup terdengar karena suasana sangatlah sepi.
Betapa kagetnya aku,
Kris membungkuk dan mengangkat bunga pemberianku. Dia bermaksud memberikan lagi bunga itu kepadaku.
“Maukah kau menjadi kekasihku So Hwa-ya?” tanyanya seraya terus saja menatapku. Kulihat ada kejujuran dan ketulusan didalam sana.
Aigo~ apa aku tidak salah dengar? Kris!! Kris! Pemuda paling dipuja di SMA ini memintaku untuk menjadi kekasihnya.
“Maukah kau menjadi milikku So Hwa?” ulangnya dengan kalimat yang lebih jelas sampai seluruhnya bersorak sorai dengan heboh.
Aku menutupi mulutku yang tak berhenti menganga. Sebutir air mata berlinang membasahi pipiku, air mata haru.
Aku mengangguk dan menerima bunga itu lagi. “Dengan sepenuh hati Kris.. aku mau!”
“Uwwoooww!!!!” teriakan meriah menggema dilapangan basket ini disetai tepukan tangan.
Aku memeluk lehernya dan Kris memelukku erat-erat. Terimakasih Tuhan…telah mengizinkanku untuk memilikinya.
»©»
FIN
Iyeyy!! #ikutan tepuk tangan
Wkwkwk, terimakasih terimakasih… #bungkuk 90 derajad
Bagaimana dengan fanfic saya? Hm, ini special dua kali lebih panjang dari yang sudah sudah loh… Kris emang bikin jari gue terus menari-nari diatas keyboard (?) sampe lupa makan.
Mhihihi, okelah. Komentar sangat Jihan butuhkan karena memang masih belajar. Berusahan maklum lah, pageviewer bertambah tapi engga ada koment. Capedeh…
Tunggu seri “My Tinkerbell” yang selanjutnya yah.. pai pai ^^
#kabur ke KUA sama Luhan

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei