“MY
TINKERBELL”
Author : Jihan Kusuma
Cast : Kim So Hwa, Kris
Genre : Romance
Rating : PG-15
Legth : ONESHOOT
DESCLIMER : Akhirnya author datang juga membawa
Kris >.<. Ini adalah My Tinkerbell versi ketiga. Bagi yang belum baca
versi terlama bisa otak atik Our Magig World *silahkan atou mau cari biasnya,
boleh. Cast Kim So Hwa punya aku dan Kris adalah milik kita bersama!!
Baiklah sodara-sodara! Mari kita baca bersama-sama
ff aku yang kurang menarik tapi wajib dibaca ini! Selamat menikmati^^
Bacalah dengan tempo perlahan dan penuh kelembutan.
ChenKaiD.Ot®
»©»
Mungkin
es krim terlalu lembut dan dingin untuk cinta yang rumit. Cinta memang
membingungkan. Kita tidak tahu dimana dia akan singgah dan kemana cinta akan
memeprtemukan kita…
[Kris]
»©»
Kini langkahku
bisa kudengar sendiri. Kususuri jalan ini dengan lutut yang rasanya mau patah
karena terlalu lama berlari.
Hsss
Hssh….
Keringat
sudah membasahi kerah seragam sekolahku. Aku terus berlari tanpa menghiraukan
tenggorokan yang gersang dan rasaya pecah-pecah.
“Aha,
sebentar lagi aku akan datang!” seruku dalam hati setelah kulihat gerbang
sekolah tinggal beberapa meter lagi didepan mata. Dengan penuh penjuangan aku
mempercepat langkah. Aku tidak boleh terlambat hari ini!
Dan pada
akhirnya sampai juga. Aku berlutut sambil menarik nafas yang terasa patah-patah
karena kelelahan. Tetapi, o’oo…
Ketika
kuangkat kepala tampak tubuh dempal berkumis yang dengan garangnya melototiku.
Oh tidak, guru kesiswaan!
“Ikut saya!
Dasar pemalas!” hinanya sambil menarikku berdiri dengan tegap.
Ternyata
Tuhan masih belum bermurah hati untuk tak memberiku pelajaran. Tuhan, apakah
kesalahanku hingga aku merasa menjadi orang tersial didunia?
Oh, ya! Kini
baru kusadari sekarang adalah pukul tujuh lebih dua menit. Yang artinya setiap
satu menit siswa dihukum mengelilingi gedung badminton 5 kali. Dan betapa
bagusnta hukumanku, aku harus melakukan itu 10 kali! Oh, terimakasih Tuhan atas
hukumanMu yang hampir setiap hari kulakukan sepenuh jiwa.
Aku dan
beberapa siswa pemalas lainnya berbaris mendengarkan ocehan tak berguna tuan
Dong Seok sang guru kesiswaan paling killer seantero Bima Sakti. Dan setelah
mendapat cukup bahan ‘dakwah’ kami melakukan hukuman itu.
“Sial, aku
bahkan masih kelelahan! Aku haus!!”
“Satu!!
Dua!... Satu Dua!!” hitung tuan Dong Seok sambil duduk di kursi yang letaknya
di pojok gedung sambil sesekali meniup peluit yang memekakkan gendang telinga.
Aish, sempurna sekali hari-hariku.
»©»
Ketika
istirahat pertama…
Kusedot sedikit
demi sedikit sirup jeruk yang barusaja kubeli. Kuminum dengan rakus
sampai-sampai habis dalam beberapa detik saja.
“Ah,”
kulempar botol minuman kosong itu ketempat sampah terdekat dan kembali menatap
lurus kedepan menyaksikan beberapa siswa laki- laki bermain basket.
Bola mataku
bergerak mengikuti pergerakan tangan seorang namja tinggi yang aku tahu sebagai
pujaan yeoja-yeoja di sekolah ini.
“Oh, Kris!!!
Kris!!!! Aww!!!” beberapa yeoja genit menyoraki namannya dengan heboh disamping
lapangan basket.
Jujur, aku
juga tertarik pada namja itu. Bahkan, aku menyukainya sejak kelas 1. Hm, memang
kisah yang pelik, sampai sekarang cintaku memang tak terbalas. Bahkan aku
meragukan apakah Kris mengenalku. Yap, aku memang bukan gadis berkepang dua dan
berkacamata plus jerawat yang memenuhi dahi.. hanya saja aku kurang popular
dikalangan siswa yang famous seperti Kris.
Kepalaku
bersandar di pohon yang ada di samping pohon sambil terus menatapnya penuh
sedih.
Tiba-tiba
sebuah ide muncul diotakku yang cukup special untuk masuk menjadi 10 besar di
kelas 12-B.
Kuambil
sesuatu dari kantong dan menekan tombol kamera. Kuaangkat kameraku dan
mengambil sebuah gambar.
‘krekk..’
Yes, dapat!!
Kutatap gambar Kris yang sedang mendribel bola. Aku tersenyum sendiri tidak
jelas.
“Hei, gadis
bego!!” tiba-tiba seseorang dibelakangku merebut posel dari tanganku. Aku
segera bangkit dari duduk dan berbalik.
Oh, ternyata
Shin Seo Ra dan kedua teman centilnya. Mereka terlihat mengerikan dengan rambut
panjang tergerai gerai seperti singa, persis seperti apa kata Nyonya Myung,
guru BP sekolah ini.
Seo Ra
melihat apa yang ada di layar ponselku dan tersenyum miring layaknya baru saja
menyaksikan adegan film paling remeh di dunia.
“Kris lagi?”
ujarnya seraya memandangku dengan alis sebelah terangkat.
“Berikan
padaku!” aku berusaha meraih ponselku dan sial sekali. Aku baru sadar bila Seo
Ra beberapa centi lebih tinggi daripada aku. Sampai-sampai berjinjitpun aku
tidak akan dapat meraih ponselku dengan mudah. Seo Ra mengangkat ponsel itu
tinggi-tinggi sedangkan kedua temannya tertawa licik menyaksikanku yang gagal
dalam berusaha.
“Han Li!!
Tangkap ini!” Seo Ra melempar ponselku kepada salah satu temannya. Dan sialnya
lagi ponselku sukses ditangkap oleh gadis bernama Han Li itu.
“Yak!! Nanti
rusak!” aku mengejar Han Li dan Han Li melepar lagi keteman yang satunya.
Ugh!! Dasar
bodoh! Kini aku jadi bulan-bulanan mereka! Sial!! Sial!
Sampai
akhirnya ponsel satu-satunya yang kumiliki itu tercebur ke dalam kolam ikan
yang ada di sekitar sini.
“Ups!” Seo
Li pura-pura menutup mulut sambil menggerling. Namun dibalik itu ada seulas
senyum kemenangan yang dengan liciknya terpajang di bibirnya.
“O,o…” Han
Li hanya ber-o ria dan itupun pura-pura.
“Hm, makanya…
orang yang tidak selevel dengan Kris tidak usah menaruh hati padanya. Kris,
hanya untukku dan secepat mungkin aku akan mendapatkannya.. itu pasti!” Seo Ra
menjambak rambutku sampai kepalaku mendongak dan aku memekik kesakitan.
“Seo!! Yak,
lepaskan dasar sialan!” rintihku sambil menggenggam tangannya. Rasanya rambutku
tercabut sampai ke akar-akarnya dan mungkin kulitku terasa mengelupas.
“Pabbo!!”
selanjutnya wanita keturunan setan itu melempar kepalaku kedepan sampai sampai
aku hampir terhuyung jatuh. Ingat!! ‘HAMPIR’. Sebelum kedua temannya yang sama
setannya itu mendorongku dan aku SUKSES dengan mulusnya mencium rerumputan yang
masih basah –tempat kami berperang tiga lawan satu.
“Akhh…”
kuusap bibirku yang basah dan kurasa bukan hanya rumput yang kucium namun ada
duri disana dan itu membuat sudut bibirku tertusuk hingga keluar darah.
“Haha!
Rasakan!! Bodoh!” gumamnya sambil melototiku.
Mereka
berlalu dari sini. Aku masih beruntung karena tidak ada orang disekitar sini
–yang bila ada pasti akan menjadi pemirsa dalam adegan berbahaya ini.
“Brengsek!!”
bisikku sambil menatap marah kepergiannya.
»©»
Beginilah
jadinya, ponselku rusak tidak bisa dinyalakan. Dan sekarang aku sedang berjalan
pulang dengan bibir lebam sebelah.
Kuusap
lukaku dengan jempolan. Perih sekali sampai aku mendesis pelan. Tadi memang
sudah kubasuh dengan air dan mengobatinya sendiri di UKS –karena aku memang
anggota UKS.
“Dasar
brengsek!!” kuhentakkan kakiku kejalan seperti orang gila. Aku tak peduli
berapa pasang mata yang keheranan melihat tingkahku. Kuhentakkan lagi kakiku
beberapa kali meski hal itu menambah rasa panas dalam hatiku.
“Aishh!!”
kutendang sebuah batu yang kebetulan tergeletak di pinggir jalan.
“Auh!!!”
dengan maksud menyalurkan amarah namun sekarang malah jempolan kakiku yang
ngilu.
“Batu
sialan!!... aduhh….” rintihku dan lagi-lagi aku harus berbicara sendiri dan
sekarang kepada batu! Sungguh ini bagaikan hari paling buruk didunia –bagiku.
Pertama aku
terlambat. Kedua ponselku rusak. Ketiga aku dijadikan bulan-bulana oleh Seo Ra
CS. Dan sekarang! Jempolanku berdenyut-denyut gara-gara batu!
Aku berharap
semoga tidak ada meteor jatuh dipekarangan rumahku agar hari ini tidak menjadi
sempurna terburuk dari segala hari buruk dalam kamus hidupku!
»©»
“Dua menit
lagi!” nyonya Jang mengetukkan kapur kemeja gurunya sambil melirik tajam lewat
celah diatas kacamatanya yang lonjong kecil.
Ayolah
berfikir! Berfikir!!
Kuketuk
ketuk bolpoin hitamku kekepala dan memejamkan mata erat erat. Entah mengapa
soal-soal aljabar ini begitu susah padahal biasanya aku lancar dalam
mengerjakan soal semacan ini.
“Satu menit
lagi anak-anak!” ucap wanita bertubuh besar pendek itu.
Tiba-tiba
saja bolpoinku terjatuh dan membuatku harus membungkuk untuk mengambilnya.
Namun ketika
aku membungkuk ada sebuah kaki yang menendangku sampai aku tersungkur dan
membuatku tersungkur dengan tengkurap diatas lantai kelas yang dingin sedingin
es –karena memakai AC.
“Gubraakk!!”
seluruh isi kelas menatapku aneh. Aku menoleh kebelakang untuk melihat siapa
yang telah menendangku dengan sengaja.
‘Han Li?!’
alisku menyatu ketika memandang senyum mengerikan di ujung bibirnya. Tempat
dudukku memang terletak tepat didepan teman dari musuh bebuyutanku sejak SMP
itu, Seo Ra.
“Nona Kim So
Hwa. Selepas bel pulang sekolah temui aku di ruang guru!” ucap Nyonya Jang
sambil menurunkan kacamatanya.
Tidak!
Hancurlah hidupku!
»©»
Ceramahan
Nyonya Jang beberapa jam yang lalu masih terngiang ngiang diotakku yang
mendidih panas. Dia bilang nilaiku menurun bulan ini dan berbagai tindakan
tercela yang membuat buku merahku mulai terisi hari demi hari. Akupun bingung
harus bagaimana, semua yang kulakukan itu tidak sepenuhnya karena kesalahanku.
Aku terkena fitnah dan teraniyaya. Ya Tuhan, tidak lelahkah Kau membuat hambamu
ini tersiksa sampai ketulang-tulang ku?
“Argh!”
kujambak rambutku sendiri sebal.
Kulihat
arloji putihku yang terkalung di pergelangan tangan kiri.
Sekarang
pukul lima. Yah, sangat bagus! Nyonya Jang telah mengoceh tanpa henti selama
dua jam dan sempurnanya lagi aku tadi belum makan siang. Pantas saja perutku
keroncongan.
Hujan turun
gerimis di langit senja yang keunguan.
Lalu apa
ini? Aku harus berhujan-hujanan dengan perut kosong?!
Dengan
terburu aku berlari menuju gerbang berharap ada taksi atau tumpangan
alternative yang cepat membawaku pulang.
“Dum..dum..
tap..tap..tap…” terdengar bunyi langkah sepatu disertai pantulan bola basket ke
lantai Langkahku terhenti ketika melewati lapangan basket. Memangnya siapa yang
berlatih sore-sore begini?
Karena
penasaran aku mendekat ke lapangan basket dan mengintip.
“Aigo!”
mulutku langsung melongo lebar dan kututupi karena saking kagetnya.
Itu adalah
pemuda tinggi yang selama ini kudambakan dan hanya bisa kulihat dari kejauhan.
Kris! Ya itu dia! Kris mendribel bola sendiri dan kemudian memasukkannya ke
ring basket. Dia mencobanya lagi dengan bola lain dan seterusnya. Titik-titik
hujan membasahi seragam putihnya dan celana warna gelap ala seragam sekolah
ini.
‘Kenapa
dia?’ batinku.
Kris terus
melakukan hal yang sama tanpa peduli badannya basah kuyup dan badannya mulai
terhuyung entah lelah atau kenapa.
Pikiranku
mengarah ke hal yang tidak beres dan pasti ada sesuatu dibalik ini semua. Tak
biasanya Kris hanya berlatih sendirian di sore hari.
Dan
tiba-tiba ‘bruk’ tubuh tingginya tumbang kelantai basket yang basah. Aku yang
mengetahui tidak tinggal diam. Aku memasuki area basket dan menghampiri Kris.
Bukankah sudah kukatakan bila aku seorang anggota UKS.
“Kris!”
kuguncangkan lengannya.
Demi apapun,
wajah pemuda ini sangat tampan bila dilihat dari dekat. Sekilas aku
memperhatikan dan segera sadar bila ini bukan kondisi yang tepat untuk itu.
Tubuh Kris benar-benar panas. Dia demam!
“Kris kau
dengar aku?! Kris!!” panggilku berulang ulang sambil menepuk pipinya yang
terasa lembut beberapa kali.
Matanya
sedikit terbuka melirikku dengan sayu. Bibirnya bergerak mengucapkan kata yang
kurang jelas kupahami.
Karena hujan
yang semakin deras dan tidak ada seorangpun disini kecuali kami dengan sekuat
tenaga kukalungkan lengannya keleherku dan mengangkatnya pelan-pelan.
Sungguh, ini
beban paling berat yang pernah kurasakan.
»©»
Kris telah
terbaring di ranjang UKS dengan pakaiannya yang basah. Kini seragam yang
melekat ditubuhku juga basah kuyup. Nafasku tersenggal begitu lelah namun tetap
bertahan demi Kris. Aku harus menolongnya sekarang.
Aku bingung
harus berbuat apa dan kuputuskan untuk melepas kemeja putihnya yang basah.
Perlahan kubuka satu persatu kancing bajunya dengan perasaan gugup. Jantungku
berpacu secepat orang yang baru saja berlari marathon. Keringatku bercampur
dengan air hujan.
Dan sekarang
seluruh kancingnya sudah terbuka menunjukkan otot-otot perutnya yang terbentuk
jelas. Tidak, sekarang aku benar-benar berdebaran.
Kulepaskan
kemeja dari tubuhnya dan mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil yang
sudah dibasahi olehnya.
Perlahan
kuusapkan handuk itu berusaha membuat tubuhnya hangat kembali.
“Ugh…h”
rintihan keluar dari mulutnya terdengar ketika kuusap bagian perutnya. Aku
terkejut saat menyadari bila ada semburat ungu kegelapan di perut kirinya.
Apakah Kris
baru saja berkelahi sampai badannya memar begini? Inikah masalah utamanya?
Kuambil
minyak oles di laci UKS dan menuangkan di tanganku. Kuusap lukanya perlahan
lahan dengan memutar. Semoga dia tidak terbangun.. aku mohon Tuhan..
“Akhhhh…”
erangan kesakitan keluar lagi dan kini Kris membuka matanya.
Aku tidak
tahu harus bagaimana karena Kini karis telah memandangku. Meski padangannya
masih sesayu tadi namun aku yakin dia bingung dan tidak mengenalku.
“S-siapa
kau?” tanyanya lirih.
“Maaf, aku
mohon maafkan aku.. aku sudah berusaha untuk pelan-pelan…maaf!” aku malah
melupakan pertanyaannya dan memohon mati-matian.
Kris
pelan-pelan mengangkat tubuh dan duduk.
“Awhh..”
ucapnya sambil melirik luka keunguan diperut kirinya.
“Maaf, tadi
kau pingsan di lapangan basket…” aku berusaha menjelaskan.
Kris
menatapku entah tatapan bermaksud apa itu aku tak tahu. Yang jelas sekarang dia
memandang wajahku keheranan.
“Kau? Jadi
kau yang membawaku kemari?” tanyanya dengan nada yang sedikit melengkung tinggi.
Aku khawatir Kris akan marah dan saat ini jelas detak jantungku tak dapat
diajak berkompromi.
Aku
mengangguk cepat tanpa berkata sepatahpun. Kris semakin heran.
“Terimakasih…,”
kata Kris singkat.
Kepalaku
langsung terangkat. Tidakkan kalian dengar? Dia berkata terimakasih?!! Omo,
inginnya aku terbang tinggi tinggi sekarang!
“Auh, ini
masih sangat sakit..” Kris menegakkan tubuh dan sekarang jelas tampak beberapa
lebam biru di bagian belakang tubuhnya. Oh, aku tidak tahu bila luka lebamnya
sebanyak itu.
“Aku akan
membantumu…” kata-kata itu kabur begitu saja dari bibirku. Dan tanpa pikir
panjang aku mengambil sesuatu di lemari kecil terdekat. Kukeluarkan beberapa
perban dan semacam tali putih yang gepeng.
Kris yang
tahu reaksiku hanya diam menurut akan apa yang akan kulakukan.
Dengan penuh
hati-hati kurekatkan perban disetiap lukanya. Setelah terpempel kugulungkan
tali gepeng tadi kesekeliling pinggangnya untuk menegakkan tubuhnya yang jadi
sedikit sulit untuk berjalan karena sakit.
“Um, hanya
itu yang bisa kulakukan..” ujarku lirih.
“Sekali lagi
terimakasih.. aku harus segera pulang sekarang..” dengan susah payah Kris turun
dari ranjang. Aku membantu memegangi lengannya dan dia berjalan tertatih tatih.
Kurasa
setelah hari terburuk sekarang adalah hari terbaik.
“Oh ya,
siapa namamu?” tanyanya sebelum perpisahan.
“Aku So Hwa.
Kau pasti kapten basket bernama Kris itu kan?”
“Nde, sekali
lagi terimakasih So Hwa…!” Kris berlalu sambil kembali mengancingkan
seragamnya.
‘Ohh, aku
sudah melayang diatas awan!!’
»©»
Pagi ini
tubuhku terasa sangat tidak enak. Ada setitik rasa pening yang kian membesar
seiring langkahku menuju sekolah. Aku menyesal tidak melakukan perintah eomma
untuk meminum pil penghilang rasa pusing –karena memang tadi pusingnya tidak
berasa.
Dengan langkah
yang lebih pelan dari biasanya aku berjalan menyusuri pinggiran yang ditumbuhi
rumput. Aku sengaja bangun lebih pagi untuk berangkat lebih awal tentu saja
dengan alasan tidak ingin mendapat ceramahan dari guru kesiswaan untuk yang
kesekian kalinya.
Udara pagi
ini sejuk dan matahari bersinar tidak terlalu terik. Sama persis seperti apa
yang kurasakan. Terkadang aku berdebar-debar ketika mengingat lagi kejadian
kemarin di ruang UKS.
‘Oh, Kris…
akhirnya kita bisa saling mengenal…’ gumamku sambil tersenyum sendiri.
Namun,
tiba-tiba sesuatu menghantam pinggang kananku sampai aku terjatuh meski tidak
terlalu sakit.
“Akhh…” aku
memekik sambil memegangi pinggangku.
“Hahaha,
rasakan bocah tak tau diri!!” sebuah suara cempreng terdengar. Aku menoleh ke
sumber suara itu berasal.
Oh, ternyata
dari si bibir tebal Seo Ra dan mobil mewahnya yang berwarna merah mengkilap.
Gadis sialan itu kini mulai membullyku lagi?! Lihat saja aku akan melakukan
pembalasan. Ternyata dia sengaja menabrakku!! Sialan!...
“Yak!! Katakan
apa maumu Seo Ra!! Apa maksudmu mengataiku tak tau diri?!!” balasku sambil
menendang ban mobilnya keras-keras. Oke, masalah jempolanku yang ngilu itu
sudah terlampau lama dan sudah sembuh kembali. Namun, sekarang aku juga tidak
mau menyakiti diri sendiri hanya untuk mencaci puteri kerajaan setan ini.
“Huuu!!”
kedua member genk nya itu menyorakiku seolah aku baru saja kalah dalam lomba
balap karung eksklusif yang ditanyangkan di sebuah acara TV tersohor didunia.
“Hahaha… uh,
sepertinya kita akan terlambat guys.. yuk kita tinggalkan orang tak berarti
ini! Aku muak sekali melihat mukanya yang mirip seperti badut paskah! Hahaha…
bye! Pecundang!!!”
Yei, apa
maksud dari segala ucapannya itu?|! Orang tak berarti?!! Badut paskah? Konyol
sekali. Bahkan lelucon itu tidak mempan untuk menghibur anak TK yang baru saja
lulus. Lalu? Apa dia bilang bila aku ini pecundang?! Hm, lihat saja..kita
buktikan siapa yang lebih tak berarti!! Dasar nenek sihir! Puteri kerajaan
setan!! Penghina!!
“Bye-bye!!!
Hati-hati ya… Hahahahaha…” bunyi tawa yang pecah itu bahkan masih terdengar
setelah radius 8 meter kepergian mobilnya.
Akh, sial!
padahal aku berharap hari ini menjadi hari yang indah. Namun, pagi-pagi sudah
terkena bullyan seperti ini? Ugh….
Kutebaskan
rok pendek yang kukenakan untuk menghilangkan debu-debu yang masih menempel
disana. Ahhhhkk.. sebal! Sebal! Sebal!!!
Tiba-tiba
sebuah mobil berhenti tepat disampingku yang masih sibuk untuk membersihkan
diri.
“Hey…” sapa
sebuah suara.
Aku
menolehkan muka dengan sebal “Apa lagi?!!”.
Omona~
Oh, apakah
aku sedang bermimpi?! Kris!! Kris?! Dia disini sekarang! Menyapaku! dan aku
malah menjawab dengan kasar!! Oh, Tuhan hukum aku!
Kris
memandangku seolah melihat mahluk dari luar angkasa yang nyasar di bumi.
Bagaimana tidak? Dia menyapaku baik-baik malah kubalas dengan bentakan yang
seratus persen kasar.
Aku nyengir
kuda. Oh, aku malu sekali!
“Ma-maaf…
a-aku…” aku terbata dan bingung mau bilang apa.
“Ah,
lihatlah rokmu..kenapa bisa kotor seperti itu?” tanyanya heran.
“I-ni
hanya.. um, a-aku…” beribu-ribu kata yang selama ini pernah kuucapkan bagai
sirna setelah mendapati Kris yang seolah mengalihkan duniaku.
“Naiklah,
aku antar kau kesekolah.” cetusnya.
“A-aku?!”
aku menunjuk diri sendiri dengan kikuk.
“Nde, ayo
masuklah..” tambahnya.
Mimpi apa
aku semalam?! Setelah disia-sia oleh nenek sihir kini aku diizinkan masuk ke
kendaraan mewah pangeran langit yang berhati lembut selembut embun.
Aku membuka
pintu mobilnya dan duduk di jok depan disampingnya.
“Brak…”
kututup pintu mobil kemudian membenarkan posisi dudukku.
“Pakai sabuk
pengamannya.” pintanya lembut.
Aku
mengalungkan sabuk itu ke dadaku dan menancapkannya di kunci khusus. Ada
sedikit keraguan yang ada di hatiku meski aku merasa sesenang ini.
“Kris,”
panggilku.
“Hm?”
tanyanya sambil memandangku intens. Oh tidak, pandangan itu? Aku harap tidak
ada upil yang masih menyangkut atau ada kulit cabai di gigiku.
“Kenapa kau
mengantarku?” tanyaku sambil kesusuahan menghirup oksigen yang terasa menipis.
“Tidak
bolehkah? Bukankah kemarin kau telah menolongku dengan susah payah? Sudah
seharusnya aku membalas kebaikanmu.”
Hati kecilku
terasa sedikit mengempis. ‘Berbalas budi’ ? Hanya itukah maksud dari ini semua?
Dia rela mengantarku untuk membalas budiku yang telah menolongnya kemarin?
“Nde,
terimakasih Kris…” balasku singkat.
Kris mulai
menginjak gas dan mobil melaju dengan kecepatan rendah.
“Apa yang
terjadi dengan rokmu sehingga berdebu begitu?” tanyanya.
“A-aku.. um
tadi sebenarnya ada mobil lewat yang secara tak sengaja menerbangkan debu dan
jadi begini…” jawabku berbohong. Sebenarnya sangat tidak pantas aku berkata
dusta seperti ini namun akan lebih sangat tak pantas bila aku menjelaskan
segala yang asli terjadi.
“O,”
balasnya lirih.
Dan kami
tiba disekolah dengan puluhan pasang mata yang menatap kagum akan diriku.
»©»
Sekarang
adalah saatnya istirahat pertama dan aku bermaksud untuk memasukkan beberapa
buku catatan kedalam lockerku.
Kuputar
kunci loker dan setelah kubuka ada banyak sekali sampah kertas dan plastic
bekas yang berhamburan keluar dari dalam.
Sekeliling
langsung menatapku kaget dan beberapa anak mengumpul disekitarku.
Oh, jangan
bilang bila ini ulah genk sialan itu lagi? Sebenarnya apa yang dia mau dariku?
Apakah karena aku yang berusaha mendapatkan Kris? Lalu mengapa dia tidak
bersaing saja secara sehat? Bukankah itu lebih baik dilakukan?!
Kuremas
salah satu kertas tadi dengan geram lalu kulempar kelantai bersama
kertas-kertas sampah yang lain.
Terdengar
bisik-bisik lirih dari pada semua siswa sambil melihatiku. Jadi sekarang aku
menjadi popular mendadak karena ini? Sungguh brengsek!
“Permisi!...Permisi,”
sebuah suara cempreng terdengar mendekat menerobos kerumunan.
Dan benar
saja. Ketiga bidadari neraka itu mendekatiku dengan tatapan paling mengejek.
“Ups,
lockernya lupa dibersihkan ya?” tanya Seo Ra dengan nada khasnya.
Aku berusaha
menahan diri dan diam meski ekspresiku tak dapat berbohong bila aku sedang
sangat marah.
“Oh,
ternyata pemiliknya terlalu jorok untuk membuang sampah sampahnya ketempat yang
seharusnya…kasihan ya lockernya.. hahaha..” balas bidadari yang satunya.
“Um, kurasa
dia terlalu mencintai sampah sampah ini… saking berharganya dia tak
membuangnya… ratu sampah!.. hahahaha…” tawa pecah dari mulut tajam yang satu
lagi.
Seluruh
siswa laki-laki maupun perempuan yang menyaksikan sama sekali tidak
mengeluarkan suara. Kini hanya aku dan ketiga manusia hina ini yang menjadi
pusat perhatian utama.
“Kasihan
sekali…” Seo Ra mendorong pelipisku dengan telunjuknya yang terawatt setiap
hari dengan biaya yang tidak murah.
Aku berbalik
untuk menatap muka Seo Ra yang ternyata dibalik segala permakan bedak itu
tersimpan sejuta kebusukan yang tiada tara. Bodoh sekali!
Aku berkacak
pinggang sambil mendongak untuk menyamakan tinggi. Kalian masih ingat bila dia
beberapa centi lebih tinggi semampai dibandingkan diriku.
Seo Ra
menatapku jijik.
“Tidak
lelahkah kau membuat hari-hariku hancur!!?” ucapku lirih terdengar tajam.
Suasana sepi
semakin sunyi setelah mendengarku membuka mulut.
“Jangan
dekati Kris!” celetuknya.
“Berikan
alasanmu nona neraka!” balasku lantang.
“Dia tak
pantas untukmu!”
“Lalu,
apakah seorang pendusta, pemfitnah, sombong, jahat, penyiksa sepertimu pantas
untuknya?!!” aku maju selangkah dan membuatnya mundur.
Seo Ra
tampak tersinggung atas apa yang kukatakan.
“Dasar gadis
tak tahu diri!!...” dia mengangkat tangan siap melayangkan pukulan untukku dan
aku memejamkan mata.
Namun,
sebuah suara dari para penonton membuatku tersadar bila Seo Ra tidak jadi
menamparku.
Kubuka mata
dan Oh Tuhan!! Tuhanku!!
Kris
menggenggam pergelangan tangan Seo Ra. Semua pasang mata terkejut mengarah
kepada Kris. Oh, aku ingin pingsan sekarang juga! Tapi ini sangat sayang untuk
dilewatkan…
“Kris?!”
gumam Seo Ra kaget.
Kris
membanting tangan Seo Ra. “Jadi begini kelakuanmu kepada orang lain? Huh?
Ternyata aku sangat beruntung telah menolakmu ketika kau menembakku dulu. Kau
sangat tak berperikemanusiaan.” jawab Kris sukses membuat air mata Seo Ra
berlinang lembut menyusuri pipinya.
Hening,
sepi, tak ada suara untuk beberapa detik.
Dengan
langkah cepat Kris pergi meninggalkann kerumunan. Seo Ra masih menangis. Aku
bahkan baru tau bila Seo Ra pernah menembak Kris dan hasilnya ditolak. Inikah
maksudnya aku tidak boleh mendekati Kris? Bila dia tidak berhasil mendapatkan
Kris maka tidak ada juga yang boleh menjadi milik Kris.
Seo Ra
terisak dalam. Dia melirikku dengan matanya yang basah berkaca kaca. “Sekarang
buktikan bila kau mampu mendapatkannya!” bisiknya lirih.
Lalu berlalu
meninggalkanku bersama kedua sahabat setannya yang sama-sama tampak shock.
Setelah
kepergian ketiga wanita itu kerumunan semakin berkurang dan lalu hanya tinggal
aku yang mungkin paling shock dari yang lain.
Aku mematung
didepan locker sambil berfikir tentang apa yang baru saja terjadi. Aku
kesusahan mengambil oksigen. Haruskan aku membuktikan padanya bila aku bisa
mendapatkan Kris?
»©»
Setelah
berkali-kali berfikir akhirnya aku memutuskan apa yang harus kulakukan.
Sekarang adalah istirahat kedua dan artinya banyak anak basket yang sedang
bermain dilapangan.
Pertama-tama
kuhembuskan nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Aku mulai
melangkah memasukii arena basket –yang disana masih ada tim basket sedang
bermain. Bisa kuharasakan merinding karena semua mata disana tertuju padaku.
‘Tuhan, aku
mohon kali ini saja lancarkan apa yang harus kulakukan.” batinku.
Aku sampai
ditengah lapangan dengan membawa sebuket bunga dibelakang tubuhku yang
kurancang sendiri. Aku rela keluar sekolah dan menghabiskan uang jajan demi
bunga-bunga ini.
Terdengar
bunyi bola basket yang memantul lambat dan permainan basket terhenti menyisakan
tatapan bingung seluruh pemain padaku. Kris yang ada didepanku menatapku. Aku
yang tadinya menunduk berusaha memberanikan diri mengangkat muka.
“Kris..”
panggilku sambil melangkah mendekatinya.
Kusodorkan
bunga itu tepat dihadapannya sembari menunduk menyembunyikan seluruh rasa malu
yang terasa mengumpul di mukaku.
“Selama ini,
aku menyukaimu… maaf aku baru mengatakannya sekarang! Aku sangat, sangat
menyukaimu! Terimalah bungaku ini!” ucapku keras keras sampai semua mendengar.
Untuk sesaat
bunga yang masih ada ditanganku belum dia terima dan jantungku semakin berpacu
secepat kilat.
Suasana
masih sepi belum ada satupun yang membuka mulut. Sungguh, ini moment paling
mendebarkan yang pernah kualami selama hidup.
Kris belum
juga menerima bunga ditanganku. Aku gugup sepengah mati berharap dia segera
mengambil bunga dari tanganku dan sampai akhirnya tangan Kris meraih bunga
pemberianku namun masih dengan mulut yang terkantup rapat.
Aku yang
merasa sangat malu dan berlari menuju pintu keluar lapangan basket. Tetapi
ketika kurang selangkah lagi aku sampai keluar sebuah tangan yang kekar
menggenggam lenganku sampai-sampai aku terhenti. Rasanya jantungku naik sampai
menekan paru-paru dan aku nyaris mati.
Aku
memalingkan muka kebelakang untuk melihat siapa pemilik tangan itu.
Kris, dia
yang telah menggenggam lenganku sekuat ini dan Kris memandang pupil mataku yang
hitam cerah.
“Aku juga
menyukaimu sejak pertama kali kita berjumpa.” ucapnya lirih tapi cukup
terdengar karena suasana sangatlah sepi.
Betapa
kagetnya aku,
Kris
membungkuk dan mengangkat bunga pemberianku. Dia bermaksud memberikan lagi
bunga itu kepadaku.
“Maukah kau
menjadi kekasihku So Hwa-ya?” tanyanya seraya terus saja menatapku. Kulihat ada
kejujuran dan ketulusan didalam sana.
Aigo~ apa
aku tidak salah dengar? Kris!! Kris! Pemuda paling dipuja di SMA ini memintaku
untuk menjadi kekasihnya.
“Maukah kau
menjadi milikku So Hwa?” ulangnya dengan kalimat yang lebih jelas sampai
seluruhnya bersorak sorai dengan heboh.
Aku menutupi
mulutku yang tak berhenti menganga. Sebutir air mata berlinang membasahi
pipiku, air mata haru.
Aku
mengangguk dan menerima bunga itu lagi. “Dengan sepenuh hati Kris.. aku mau!”
“Uwwoooww!!!!”
teriakan meriah menggema dilapangan basket ini disetai tepukan tangan.
Aku memeluk
lehernya dan Kris memelukku erat-erat. Terimakasih Tuhan…telah mengizinkanku
untuk memilikinya.
»©»
FIN
Iyeyy!!
#ikutan tepuk tangan
Wkwkwk, terimakasih
terimakasih… #bungkuk 90 derajad
Bagaimana
dengan fanfic saya? Hm, ini special dua kali lebih panjang dari yang sudah
sudah loh… Kris emang bikin jari gue terus menari-nari diatas keyboard (?)
sampe lupa makan.
Mhihihi,
okelah. Komentar sangat Jihan butuhkan karena memang masih belajar. Berusahan
maklum lah, pageviewer bertambah tapi engga ada koment. Capedeh…
Tunggu seri
“My Tinkerbell” yang selanjutnya yah.. pai pai ^^
#kabur ke
KUA sama Luhan

0 comments:
Post a Comment