Saturday, August 17, 2013

Fanfiction 10 Days To The Death Line [Chap 4]

Posted by Unknown at 3:16 AM 3 comments
10 days TO the DEAth liNE
 
 
 
 

Author : Jihan Kusuma
Cast : Xi Luhan, Shin Ah Cha (You), and the others support cast^^
Genre : Romance, family, friendship
Leght : Chapters
DESCLIMER : Hallo readers! Ini ff baru aku loh. Hayo yg suka EXO angkat kaki! Mhihihi. Ini aku buat karena terinspirasi oleh MVnya Davichi yang Don’t Say Good Bye. Udah pada pernah lihat teasernya kan? Tapi ini castnya beda. DEMI LUHAAN!! Gue kepincut ama tu orang. Ottelah, daripada banyak cingcong mending langsung aja baca ni fanfic! Semoga suka… ^^
ChenKaiD.Ot~~~

Ah Cha berpindah kedepan tubuh namja itu dan berlutut sampai tingginya setara dengan Luhan yang sedang duduk di kursi roda. Mata malaikat itu tampak sendu sekarang. “Meminta maaf untuk apa Luhan?” tanyanya.
Luhan menunduk dalam-dalam. “Aku sudah menuduhmu omong kosong, mencaci makimu, dan membuatmu harus menolongku ketika ada ditempat yang entah apa itu namanya… yang pasti tempat itu dipenuhi awan.”
Bibir manis Ah Cha melengkung kecil menunjukkan senyuman manis. Tiba-tiba AH Cha memegang tangan Luhan dan itu membuat jantung si namja berdetak tak karuan. “Itu bukan masalah.” katanya.
Luhan cepat-cepat melepas tangan Ah Cha sebelum hal yang tak diinginkannya terjadi. Dia bisa jatuh cinta pada Ah Cha bila begini terus.
“Oh ya, satu lagi!” cetus Luhan. “Aku tidak mau kau memanggilku atau menyebutku majikanmu didepan orang lain.”
“Hm, mengapa begitu?” kepala Ah Cha miring kekanan.
“Aku tidak mau identitasmu sebagai malaikat terbongkar dan semuanya menjadi tau siapa dirimu sebenarnya.”
“Um, jadi kau mau membuatku seolah aku ini mausia?” seulas senyuman terpajang di bibir cherry Ah Cha.
“Ne, seperti itu kurang lebih.”
Entah mengapa Ah Cha merasa sangat senang Luhan meyuruhnya menjadi seperti ini. Selama ini Ah Cha ingin sekali menjadi seperti manusia biasa. Ah Cha melompat-lompat senang seperti seorang anak kecil yang baru saja diberi permen. Luhan menjadi risih melihat yeoja ini bertingkah kekanak-kanakan.
“Hei, kenapa kau sangat senang?” tukas Luhan.
Ah Cha langsung malu dan kembali diam. “Um, maaf… aku kelepasan saja.”
“Ah Cha, aku sangat benci disini!”
“Benarkah? Tapi kau butuh dirawat sampai sehat kan?”
“Entahlah, aku ingin pulang. Bisakah kau menyembuhkanku?”
Ah Cha tertawa geli “Itu bukan tugas seorang malaikat pencabut nyawa… aku tak punya kemampuan melakukan itu.” Ah Cha menggeleng kecil.
Luhan cemberut. “Aku ingin pulang saja… dari dulu aku paling benci berada di rumah sakit.”
“Um, benar juga apa katamu…” Ah Cha menjentikkan jari. “Semakin lama kau mendekam disini artinya semakin sedikit waktu untuk memperbaiki dosa-dosamu. Waktumu kurang delapan hari sedangkan banyak yang perlu kau perbaiki. Kau tak mau masuk neraka kan?”
Luhan jadi teringat oleh malaikat penjaga pintu neraka dengan topeng hitam yang muncul tadi malam ketika dia koma dan nyaris mati. Luhan bergidik ngeri membayangkan kalau saja Ah Cha tidak datang saat itu. “Ani! Ani! Aku tidak mau!” tolak Luhan mentah-mentah.
Ah Cha menjentikkan jemari lentiknya. Lalu yeoja itu mengeluarkan sebuah notebook kecil dari saku dressnya. Luhan bahkan baru tahu bila pakaian itu memiliki saku. Ah Cha membuka notebook itu dan membolak-balik isinya.
“Kau mengenal Seo Hyun?” tanya Ah Cha.
Mendengar nama itu disebut, entah mengapa Luhan langsung menunduk dan tampak berfikir. Luhan teringat atas kejadian satu tahun lalu ketika di masih menjadi kekasih dari Seo Hyun. Sebelum sang appanya sendiri menampar Seo Hyun dan memaksa yeoja itu supaya tidak mendekati Luhan lagi. Appa Luhan memiliki masa lalu yang suram dengan keluarga Seo Hyun dan itu menjadi salah satu halangan besar pada hubungan mereka. Sesungguhnya sampai sekarang Luhan masih mencintai gadis manis itu. Seo Hyun sangat keibuan dan berhati lembut. Hampir selama hidupnya dia tidak pernah menyakiti hati orang lain, karena Seo Hyun adalah wanita yang sangat perasa.
“Luhan-ah?” Ah Cha mengayunkan tangannya didepan muka Luhan. Luhan langsung tersadar dari lamunan panjangnya.
“Hah?” Luhan langsung memandang Ah Cha dengan tatapan seperti orang bego yang kurang nyambung diajak bicara.
“Luhan-ah, kau melamun…” komentar gadis itu sambil memajukan bibir bawahnya. “Aku tanya, apakah kau mengenal  Seo Hyun?” ulangnya.
Luhan merasa bila dia harus jujur sekarang. “Ne, ada apa dengan Seo Hyun?” tanya Luhan balik.
“Disini tertulis bila dosamu yang paling besar dan patut kau perbaiki adalah ‘Meminta maaf  kepada Seo Hyun’ memangnya ada apa dengan Seo Hyun itu?” Ah Cha bertanya dengan polosnya.
“Baiklah, akan kuceritakan…” dan Luhan mendongeng atas segala yang pernah dia sesali selama ini.

»*»
CHAPTER 3
(Day Three)
Pagi itu Chanyeol sibuk mengemasi barang-barang Luhan dan mengurus keuangan rumah sakit. Beginilah jadinya, karena keinginan Luhan yang keras sampai-sampai semua tidak bisa menentangnya maka Luhan dipulangkan meski kepala besarnya masi dibalut perban.
“Hati-hati Luhan-ah.” Suho dengan sabar membantu Luhan bangkit dari kursi rodanya. “Auh,” rintih Luhan sambil bersikuat untuk bangkit.
Luhan sudah bisa berjalan walau berjalannya seperti siput dan itu sangat menggoda kesabaran Suho yang notabenenya bukan orang yang suka lemot.
Setelah beres semua Luhan dan kedua orang yang dalam sehari kemarin menjadi babunya itu pulang keapartemen Luhan, tentu saja untuk memulangkannya karena tidak mungkin bila Luhan naik taksi sendiri.
Tak lama kemudian mereka bertiga sampai diapartemen Luhan.
»*»

Luhan langsung berbaring di ranjang putihnya yang super empuk dan wangi itu. Dia sangat merindukan apartementnya walau hanya satu malam menginap dirumah sakit.
“Luhan-ah, apakah kau tidak lapar?” tanya Chanyeol sambil menaruh barang-barang bawaan Luhan diatas meja kerja.
Luhan hanya menggeleng sambil bangkit duduk. “Ani, aku masih kenyang. Maaf merepotkanmu dan Suho, aku sangat…berterimakasih.” Luhan tersenyum simpul akan tetapi ucapannya itu terdengar sangat tulus.
Chanyeol malah mengeluarkan cengiran lucu. “Gwenchana, itu bukan masalah… bukankah kita bertiga memang teman sejak SMA. Kau tidak ingat? Trio Ramen?” Chanyeol malah mengingatkan tentang nama genk mereka semasa SMA.
“Hahaha, iya… tentu saja.” Luhan tertawa.
Tiba-tiba Suho masuk ke kamar Luhan. “Hei, kata kakeku aku harus segera ketoko roti. Banyak pesanan untuk besok. Kau tak keberatan kan bila aku pulang dulu.” ucapnya pada Chanyeol.
“Um, aku juga mau pulang hyung… kita pulang bersama saja!” balas Chanyeol. “Luhan-ah, kami pulang ya! Hati-hati dirumah! Hubungi kami jika terjadi sesuatu. Kalau kau mau mandi hibungi kami jika itu perlu. Kami akan langsung datang dan memandikanmu…” goda Chanyeol sembarangan.
“Aish, kau pikir aku ini orang yang baru saja terkena serangan struk sampai perlu dimandikan… dasar!”
“Hahaha! Terserahlah, oke! Sampai jumpa!” celetuk Chanyeol.
“Iya, hati-hati! Bye!” tambah Suho.
Luhan tersenyum kepada mereka dan melambai.
Akhirnya Luhan sendirian. Dia kembali berbaring dan memandang kelangit-langit kamarnya yang disana terhiasi ukiran pada plavon. “Hmhh,” Luhan mengembuskan nafas. Ingatannya beterbangan mengenak masa-masa ketika dia dan gadis bernama Seo Hyun itu bersama. “Seo, dimana kau sekarang?” tanya Luhan lirih pada dirinya sendiri. Luhan masih mecintai dan berharap pada Seo Hyun. Akan tetapi, dia juga tak mau Seo Hyun terluka lagi karena appanya yang menentang keras hubungan mereka. Hampir saja Luhan mau menangis sampai…
“Ting…tung…” Luhan mendengar bunyi bel.
“Ah Cha!” Luhan memekik senang. Entah mengapa nama gadis itu langsung terbesit dalam pikirannya.
Dengan kepayahan Luhan bangkit lalu berjalan membukakan pintu. Dan benar saja, gadis dengan kulit putih salju itu tengah berdiri diambang pintu sambil tersenyum memandang Luhan.
“Ah Cha! Ayo masuklah!” dengan senang hati Luhan membuka pintu lebih lebar lagi dan mempersilahkan Ah Cha memasuki apartementnya.
Ah Cha terlihat sangat berkeringat dan kelelahan seperti baru saja melakukan lomba marathon. Luhan bingung melihat kondisi malaikat mautnya yang seperti ini. “Hum, sepertinya kau baru saja berlari-lari?”
“H..ne, ah aku lelah sekali! Untung saja mereka tidak menangkap dan menggigitku…” seolah itu adalah rumah sendiri Ah Cha langsung menaruh badannya yang bersimbah keringat diatas sofa empuk milik Luhan.
Luhan mengerutkan dahinya dan berfikir. ‘Sebenarnya gadis ini membicarakan apa? Ah lupakan…’ kemudian Luhan menutup pintu lagi.
“Ini minumlah.” Luhan menyodorkan sebotol air mineral kepada Ah Cha dan langsung diraih gadis itu. Dengan tidak sabaran Ah Cha meneguk minuman itu secara ‘oneshoot’. “Ahhh…” kemudian Ah Cha meremas botol plastic itu sampai remuk. Luhan bergidik melihat tingkah gadis ini yang semakin tidak waras. ‘Dia ini aneh sekali, ah… dia kan memang bukan manusia. Mungkin saja semua malaikat seperti dia…’ batin Luhan.
Luhan kemudian menaruh badannya duduk disamping Ah Cha. “Kau baru saja sampai?” tanya Ah Cha.
“Ne,” jawab Luhan singkat sambil mengambil remote yang tergeletak tak jauh dari sana lalu menyalakan televisi.
“Kau lapar? Mau kubuatkan makanan… kebetulah aku sedang sangat lapar.”
“Hah?” Luhan hampir saja terperanjat dari sofa. “Kau juga butuh makanan?!” tanya Luhan.
Ah Cha mengangguk manja. wajahnya semakin imut saja dengan aegyo. “Walau bagaimanapun aku juga butuh makanan.”
“Apakah semua malaikat sepertimu?”
“Um, tidak semua. Hanya mereka yang sedang menyamar menjadi manusia seperti aku saat ini. Terkadang tugas seorang malaikat itu membutuhkan penyamaran agar bisa bersosialisasi dengan para manusia. Dan saat ini aku sangat kelaparan.”
“Tunggu,… kau bilang terkadang tugas malaikat adalah menyamar menjadi manusia, so, apakah tidak hanya aku saja yang mengalami nasib begini?”
“Nasib begini seperti apa?” Ah Cha memiringkan kepalanya sampai aura ke-bonekaannya muncul dan membuat jatung Luhan kembali berdegup cepat.
“Um, maksudku nasib yaa.. yang seperti ini! Malaikat mendatangiku lalu menyampaikan tawaran untuk membantu selama 10 hari sebelum ajal! Bukankah ini bukan hal yang wajar?! Jarang sekali ada manusia yang mengalami ini… bahkan aku baru tahu setelah mengalaminya sendiri!” Luhan menjelaskan dengan detail meski menggunakan bahasa yang yah…hancur. Kalian tahu, Luhan bukan penyair atau penulis yang bisa dengan mudahnya menyampaikan isi pikirannya sendiri.
Mata Ah Cha membulat tanpa berkedip memandang Luhan. Luhan khawatir jika gadis ini belum juga mengerti apa maksudnya. ‘Oh mata hijau itu!?’ jantung Luhan berdetak semakin cepat. Beberapa detik kemudian tawa Ah Cha meledak dan Luhan kebingungan.
‘Apakah ada yang lucu?’ pikir namja itu.
“Hahahaha..hahahha..hahaha…uhuk..uhuk..hahahaHaha!”
“Hei!! Jawab aku! Kenapa kau malah tertawa?!” bentak Luhan dengan muka cemberut.
“Hahaha!..hahaha..hh” beberapa saat kemudian tawa Ah Cha reda. Gadis itu menatap Luhan lagi. “Bukankah aku sudah pernah memberitahumu bila ini adalah tawaran special dari Tuhan dan hanya diterima oleh manusia tertentu. Coba saja bila aku tidak ada dan kau kemarin dimasukkan keneraka. Hm, pasti sekarang kulitmu itu sudah melepuh dan kautinggal tulang belulang saja!” Ah Cha melipat tangannya dan bersandar di sandaran sofa.
Luhan merinding mendengar masalah neraka itu. Setidaknya apa yang dikatakan Ah Cha merupakan hal yang benar. Meski merasa sedikit direpotkan namun Ah Cha juga pembawa keberuntungan untuknya. Coba kalian bayangkan sendiri bila Tuhan tidak mengirim malaikat untuk Luhan.
“Yasudah, kalau begitu buatkan aku makanan! Tapi kau bisa masak kan?” Luhan memalingkan muka dan kembali melihat TV.
“Kau meledekku? Tentu saja aku bisa! Tinggal kita lihat saja apa yang tersedia di dapurmu…huh…” Ah Cha bangun dari sofa dan beranjak kedapur.
“Hum, dasar malaikat maut..!” gumam Luhan.
Ah Cha langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Luhan nanar. “Aku mendengar itu!” gadis itu menunjukkan telunjuknya kearah Luhan. Lalu kembali berjalan menuju dapur.
“Hihihi…” Luhan malah terkikik.
Disamping itu, Ah Cha sibuk memilih-milih bahan makanan yang ada di dapur Luhan. “Hmm,” senandungnya sambil menggerakkan telunjukkan kejajaran bumbu masak yang tertata dengan rapi didalam rak kaca. Senyumnya mengembang ketika menemukan merica.
Kemudian dia membuka rak kayu yang tertempel di salah satu sisi dinding. Mata indah itu berbinar setelah menemukan apa yang ada didalam rak tersebut.
“Ikan!!!” serunya senang. Ah Cha segera meraih beberapa kaleng ikan sarden yang tertata didalamnya. Dia mengambil 4 kaleng yang paling besar lalu meletakkannya diatas meja makan.
Ah Cha menggosokkan kedua telapak tangannya bersiap melakukan apa yang ada dipikirannya. Sudah sejak dari tadi perutnya terus meraung-raung minta diisi.
»*»

“Ting…ting…tung…ting….” terdengar bunyi tabrakan antara sumpit dan piring milik Ah Cha. Tampak beberapa bercak merah disekitar mulut gadis itu. Mulutnya tak berhenti mengunyah. Ah Cha melahap sarden-sarden itu dengan cepat seperti sudah lima tahun lebih dia tidak makan. Luhan yang duduk didepan gadis itu menatapnya dengan mulut terbuka dan mata tidak berkedip. Beberapa saat kemudian Luhan menenggak liurnya sendiri pahit-pahit.
‘Seperti inikah cara seorang malaikat makan? Dia suka sekali dengan ikan…’ batinnya sambil terus menatap Ah Cha.
Dengan lahapnya Ah Cha terus makan dan makan seolah-olah tidak ada hal menarik lain disekitarnya saat ini. Yang paling penting adalah makan.
Namun, sampai akhirnya Ah Cha sadar bila dia sedang diawasi diam-diam. Tangan gadis itu yang semula aktif bergerak langsung berhenti. Matanya bergerak melirik Luhan. Luhan langsung membeku begitu saja. Mereka bertukar pandangan satu-sama lain.
Tiba-tiba Luhan merasa sangat kikuk. “Um,.. lanjutkan saja.” ujarnya kaku.
Ah Cha langsung mengeluarkan cengiran monyet yang menggelikan sekaligus lucu. “Hehehe…” kekehnya. Lalu kembali menyantap hidangan hangat itu bulat-bulat. Sekali lagi Luhan meneguk liurnya dengan susah payah. Berikutnya Luhan sadar bila perutnya juga sedang menggonggong dan juga minta dijejali makanan. Dengan gerakan cepat Luhan juga segera meyantap nasi dengan sarden yang telah tersedia diatas piringnya.
“Ting tung…” tiba-tiba bel apartemen berbunyi dan membuat kedua orang itu kaget.
Luhan mengerutkan keningnya. “Siapa yang datang malam-malam begini? Bukankah ini waktunya makan malam.” ucapnya lirih.
“Hm, mungkin temanmu yang tinggi itu bersama Suho.” balas Ah Cha seadanya.
“Chanyeol maksudmu?”
“Um, entahlah… bukakan pintu saja.” Ah Cha mengendikkan bahunya sambil kembali mengunyah sarden.
Terdengar gedekan kaki kursi milik Luhan dengan lantai dapur. Namja itu bangkit dan melangkah menuju ruang tamu.
‘Ting tung…” bel berbunyi untuk kedua kalinya.
Pada awalnya Luhan tidak yakin bila yang datang Chanyeol bersama Suho. Untuk memastikannya Luhan mengintip lewat lubang kecil pada pintu. Matanya langsung membulat usai melihat siapa yang sedang berdiri dibalik pintu.
“Oh tidak! Tidak!!” gumamnya sambil ketakutan. Kini ekspresinya seperti baru saja melihat sesosok mahluk halus tak dikenal yang muncul tiba-tiba. Luhan berlari secepat mungkin menuju ruang makan untuk menemui gadis itu.
“Aih!! Gawat! Gawat!” Luhan berkata padanya dengan raut ketakutan.
“Ada apa?” tanya Ah Cha polos.
“Aduh! Aku harus bagaimana!? Akh…!”
“Hei! Katakan padaku siapa yang datang!?!” suara pecah Ah Cha terdengar menggema. Dengan cepat Luhan segera membungkam mulut gadis itu.
“Ting tung, ting tung…” bel berbunyi untuk yang kesekian kalinya.
Karena tidak ada pilihan lain Luhan membawa tubuh Ah Cha sambil terus membungkam mulutnya. Ah Cha susah payah bernafas dan terus memberontak. Namun tentu saja kekuatan Luhan jauh lebih besar darinya. Luhan membawa gadis itu kekamarnya dan memasukkan tubuh Ah Cha kedalam lemari.
“Ah Cha, aku mohon kali ini saja, menurutlah padaku… aku ingin kau diam, kalau tidak.. kau tidak akan mendapat ikan lagi dariku..” bisik Luhan dan hanya mendapat balasan anggukan polos dari Ah Cha.
“Ting..tung..”
Luhan segera mengunci pintu lemari dan berlari cepat menuju ruang tamu.
»*»
TBC
Fyuh, *lap iler
Selesai juga part ini. Readers masih ada yang baca gak? Kalo author sih masih semangat 45!^^]/ bagi blogger yang udah baca minta coment seikhlasnya ne! Gomawo^^ semoga ada respons…

Paiii…..
 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei