Thursday, August 15, 2013

Fanfiction DARK EYES [Chap 3]

Posted by Unknown at 8:11 PM


DARK EYES
Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog
Desclimer : Its just a fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
chap 3
Dorm EXO 5.00 PM
Sore ini terasa berbeda. Langit menggelap dengan cepat seakan-akan sang dewa bulan terlalu mendesak dewi matahari agar segera turun. Langit tidak berawan tapi juga tidak biru. Warna langit yang keabu-abuan tampak mengundang hujan agar turun.
Namja itu, Sehun dengan tatapannya yang datar dan muka pucat pasi bak air susu masih melototi TV tanpa bergerak sedikitpun. Jangankan untuk bernafas, berkedippun dia tampak tidak melakukannya.
Jendela ruang TV terbuka lebar-lebar berkali-kali menumbulkan kegaduhan karena daun jendela yang beradu kuat dengan dinding. Tapi,… sekalipun itu dia tidak peduli.
‘Hap…’ sesuatu menyentuh pundaknya.
“Sehun?” tanya sebuah suara berat. Namja yang dipanggil itu menolehkan kepala. “Ada apa hyung?” tanya Sehun lemas.
“Kemana Kyung Soo?” tanya Kai dengan matanya yang masih sedikit lengket akibat tidur dipagi hari.
Sehun menggeleng kecil masih dengan ekspresinya yang tak terbaca. Melihat Sehun yang nampak rapuh begini laki-laki yang lebih tua tersebut menjadi heran. “Kau sakit Sehun?” tanya Kai sambil sedikit membungkuk dan meraba bagian tertentu Sehun. Tidak panas, bahkan suhu badannya seperti orang yang baru saja terperangkap dalam kulkas.
“Aku baik-baik saja.” jawab Sehun.
“Aku akan mencari Kyung Soo.” gumam Kai sambil perlahan melangkah menjauh. Namja berkulit gelap itu menuju dapur dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. “Kyung Soo hyung?... Kyung Soo?” panggilnya seiring langkahnya ang semakin mendekat ke meja makan. Tidak ada respon apapun dan itu membuatnya semakin bingung. Kai menggerakkan kakinya dengan perlahan mendekati meja dapur tempat yang biasa digunakan D.O untuk memotong masakan.
Masih tercium kaldu ayam dan merica yang menyeruak ke pernafasan. Suara gemericik seperti gelembung sabun yang meletus terdengar samar dari dalam panci masak. Dan saat itulah Kai menyadari bila api kompor sedang menyala kecil. Dia menengok isi panci tersebut dan langsung bersin. Airnya terkuras habis tanda itu terlalu lama dipanasi. Tampak beberapa potong paha ayam yang diyakini pasti nyaris gosong jika terus dibiarkan. Dengan cepat Kai memutar setelan kompor dan mematikan apinya. Beberapa detik kemudian bola mata namja itu bergerak ke kanan. Disana terdapat seperangkat alat potong dengan cabai yang telah teriris tipis-tipis, buncis, dan mentimun yang sepertinya belum selesai diiris.
Tangan Kai bergerak menyentuh gagang pisau. Hangat. Bahkan dia masih bisa merasakan aroma Kyung Soo di atmosfir dapur. ‘Lalu kemana orang itu?’ pikirnya.
Langit mulai menggelap dengan perlahan. Sepertinya untuk hari ini saja bulan tidak mau mengalah pada matahari. Malam datang begitu cepat. Gerimis perlahan menyapu atap dorm sehingga menimbulkan suara gemericik dan aroma lumut yang menenangkan. Tapi tidak lagi menenangkan untuk saat ini.
Kai memalingkan kepala ke pintu lorong yang terbuka dan perlahan mulai melangkah kecil memasukinya. Lampu masih menyala dengan terang. Tidak ada apa-apa di lorong.
“Kyung Soo?” panggilnya dengan suara menggema. Satu persatu pintu-pintu kamar mandi dibukanya dengan tangannya sendiri.
‘Kriet…’ “Kyung Soo?” panggilnya lirih namun sudah terdengar keras lagi-lagi karena gema.
‘Krieet…kriet…’ Kyung Soo? Kau…d-dimana?’ tanyanya terbata karena dia mulai sadar bila jantungnya tiba-tiba berdetak diatas tempo normal.
Kai melangkah ke pintu selanjutnya dan yang terakhir. Tidak ada-tidak ada siapa-siapa. Kosong. Kini dia merasakan serangan jantung luar biasa ketika lurus menatap pintu putih. Sesuatu bergejolak didalam dadanya, entah apa itu tapi hal tersebut seolah mendorongnya agar terus maju dan membuka pintu tersebut.
Dan tiba-tiba sesuatu yang hangat menangkap pergalangan tangannya.
“Kai" panggil sebuah suara dingin. Kai enggan menoleh namun dalam hitungan ketiga dia memberanikan diri untuk memalingkan muka.
Terpampang wajah pucat Sehun yang tengah memandanginya. Baru kini Kai sadari mata Sehun lebih pekat dari biasanya.
“Mungkin dia kembali ke pasar untuk membeli sesuatu.” celetuk Sehun dengan nada serupa. Namun belum sampai Kai membalas perkataan itu,
‘Ting tung…’ bel dorm terdengar lirih namun cukup jelas.
Dengan cepat Kai meninggalkan Sehun dan segera membukakan pintu. Dia sangat berharap bila Kyung Soolah yang membunyikan bell. ‘Ceklek…’ pintu terbuka dan ternyata apa yang Kai harapkan salah kaprah.
“Hyung…” senyum Kai kepada member EXO M yang ternyata baru saja datang. “Ne, wah… bagaimana makanannya? Apakah sudah jadi?” tanya Kris. Kelewatan juga bila Kris datang-datang sudah menanyakan makanan.
Kai hanya diam dan membuka pintu lebih luas. Member EXO M memasuki dorm –sebelumnya mereka membuka alas kaki. Tampak titik-titik air di pakaian mereka karena memang langit sedang gerimis.
Luhan dan Tao langsung melangkah masuk ke dapur. Sedangkan yang lainnya duduk merebahkan diri di sofa cokelat yang ada di ruang tamu.
“Um, bagaimana show kalian?” tanya Kai kaku.
“Sebenarnya malam ini kami diajak manager untuk makan direstoran tapi mengingat Kyung Soo jadi kami menolaknya. Oh ya, dimana Kyung Soo?” tanya Lay sembari memanjangkan lehernya dan memandang pintu dapur yang tengah terbuka.
“Aku sedang mencarinya. Dia tidak ada disini.” jawab Kai seadanya.
“Hum, sepi sekali. Lalu Chanyeol, Baekhyun, dan leader itu kemana?” tanya Lay untuk yang kedua kali.
Air muka Kai berubah padam ‘Oh ya, kemana ya mereka?’ batin Kai menyadari kebodohannya. Seusai bangun dia hanya mencari D.O dan tidak ingat pada yang lain. “Kai?” tanya Lay untuk yang kesekian kali usai menyadari Kai melamun.
“Aku juga tidak tahu.” namja berkulit paling gelap diantara yang lain itu menggeleng kikuk. “Hei, bagaimana bisa kau tidak tahu?” tambah Xiumin.
Kai yang merasa dirinya sedang dikeroyok malah menggaruk kepala. Memang benar Kai tidak tahu apa-apa.
“Ish, kau ini apakah pekerjaanmu hanya tidur saja?” suara Kris tidab-tiba meledak.
“Aku tidak tahu hyung! Aku tidak tahu!” balas Kai gemas dan mengacak rambutnya sendiri. Tiba-tiba Luhan masuk ke ruang tamu dengan raut bingung “Kai, kemana yang lain?” tanya Luhan. Seluruh pasang mata yang berada disana hanya menatap Luhan seakan-akan mengatakan ‘Kau ketinggalan kereta!’
“Aku sudah mencari Kyung Soo, dia tidak ada… tidak ada. Sehun bilang dia kembali membeli bumbu makan tetapi tadi sebelum kami pulang dari pasar dia bilang semua sudah cukup, tidak mungkin kurang. Dan aku sudah mencarinya… aku tidak tahu!” ucap Kai sedikit kasar. Namja ini memang akan cepat emosi jika didesak seperti ini, itulah Kai.
Tao ikut bergumul disana. “Baekhyun dan Chanyeol hyung… mereka tidak ada di dorm ini. Dan Suho hyung, aku tidak menemukan satupun dari mereka. Sebenarnya kemana orang-orang itu….? Tapi Sehun dia masih di ruang TV…”
Kris yang tampak paling lelah diantara yang lain langsung bangkit dari duduk dan berkacak pinggang. Seluruh member tidak akan berani angkat bicara atau mengeluarkan suara sedikitpun bila sudah begini. Mereka hanya diam menunggu mulut Kris melontarkan kata-kata yang entah berbunyi apa.
“Sehun!” panggil Kris keras.
Semua member nyaris terlonjak dari tempat mereka berdiam karena suara Kris yang berat itu tengah berseru. Sialnya lagi, sosok yang dipanggil itu belum juga menampakkan lubang hidungnya.
“Sehun..!” ulang Kris lebih keras.
“Mwo?” tanya sebuah suara dengan nada lirih. Ternyata bocah itu sudah berdiri diambang pintu tepatnya dibelakang Tao dan Luhan. Kris menatap Sehun lekat-lekat sedangkan Sehun membalasnya dengan muka datar. Dada Kris naik beberapa detik lalu turun lagi.
“Sebenarnya kemana Kyung Soo, Suho, Baekhyun, dan Chanyeol? Seharusnya kau tahu…” cetus Kris tegas.
Keheningan tidak biasa melanda ruangan pada saat itu juga. Nafas dan detak jantung para member nyaris terdengar dari telinga ke telinga. Gerimis yang seolah menertawakan kejadian ini semakin deras hingga mulai terdengar suara hujan yang menghantam atap.
“Kyung Soo hyung, dia pergi. Baekhyun dan Chanyeol hyung juga pergi, Suho hyung… aku tidak tahu.” jawabnya terdengar amat jujur. Para member bahkan tidak bisa menebak apakah Sehun mengatakan yang sebenarnya.
Kai menunduk dalam-dalam menyadari kesalahannya.
“Akan kutelepon pihak SM dan manager!” Luhan segera merogoh kantung celananya tetapi tangan Sehun segera meraih lengan kecil Luhan. Luhan dan bocah itu bertatapan dalam. “Ani, itu bukan ide yang bagus… kita bisa selesaikan. Kita bisa sendiri.” ujar Sehun terdengar membuai dan mempengaruhi.
Nada bicara dan tatapan mata sayu milik Sehun sudah benar-benar membuat Luhan terhipnotis.
Terdengar suara ketukan gigi dari kuku Tao yang terus saja dia gigiti dan isakan Chen yang hampir menangis. Kris menatap satu-persatu wajah para member EXO yang tersisa disitu.
“Chen, Tao. Kalian bersiaplah dengan jas hujan. Cari Chanyeol…” Kris menatap kedua orang itu bergantian. Chen langsung mengangguk sedangkan Tao menegakkan tulang belakangnya.
“…Kau, Kai” tunjuk Kris. “Kewajibanmu adalah mencari Kyung Soo!”
Kai mengangkat wajah dan mengangguk, dia sama sekali tak berani menatap mata Kris.
“Lay, Xiu Min, dan Sehun…kalian bertiga cari Baekhyun.”
“Sedangkan aku dan Luhan akan mencari Suho. Kita semua berpencar dirumah ini dan sekitarnya. Oh ya, karena kita hanya memiliki satu motor..biarkan Kai yang memakainya, bisa saja apa kata Sehun itu benar…” untuk sekilas Kris menatap Sehun. Dan tanpa sepengetahuan yang lain, Sehun tersenyum kecil.
Tapi tiba-tiba ‘Pett…’ ‘Blammm….’ lampu padam tepat ketika petir menyambar dan langit berkedip beberapa detik.
“AA!” teriak beberapa member sambil menutup telinga mereka rapat rapat. Dan beberapa yang lain segera meraih lengan member terdekat karena kaget dan takut.
Kris mengeluarkan ponselnya dan tampaklah seberkas cahaya putih. “Nyalakan. Nyalakan ponsel kalian.. aku akan ke dapur mencari lilin. Luhan, Kai, Xiumin… cari senter atau lampu untuk pencarian.” ucap Kris masih dengan suara tegas. Tidak salah namja itu dipilih menjadi leader.
Kris menemukan beberapa batang lilin dan memasang dua di dapur dan ruang makan. Di ruang tamu dia memasang tiga dan satu di lorong kamar mandi. Seusai selesai tugasnya dia kembali menemui yang lain di ruang tamu. Ternyata ketiga orang tadi juga sudah kembali dengan beberapa peralatan untuk penerangan.
Semuanya duduk mengitari meja ruang tamu dengan sebuah lilin dengan nyala api kecil ditengah meja.
Kris membagikan satu senter saja disetiap tim yang telah dia bagi tadi. Terkecuali Kai yang memang memegang senter untuk dirinya sendiri.
Petir kembali datang beberapa kedipan dan menimbulkan suara. Hujan terdengar semakin deras.
“Aku tahu ini sudah malam… aku tahu kalian lelah, tapi… ini menyangkut teman kita bahkan perasaanku sudah sangat tidak tenang. Ini pasti ada sesuatu. Karena itu berpencarlah dan hati-hati. Ingat itu..” ucap Kris hampir berbisik ditengah-tengah kesunyian.
Semua mengangguk tanda mengerti. Satu persatu tim meninggalkan ruang tamu dengan sebuah alat penerangan.
“Hati-hati.” Chen menepuk pundak Xiumin dengan penuh kasih sayang, seperti yang kalian telah tahu… mereka beda tim. “Kau juga,” balas Xiumin dengan sebuah senyuman manis. Kemudian namja kecil tadi menghilang dengan Tao menuju luar rumah.
Kris dan Luhan segera mengenakan mantel hujan dan tanpa basa-basi meninggalkan dorm tak tahu kemana.
Kai dengan mantel hujan dan sebuah senter langsung meng-gas motor meninggalkan halaman.
Kini tersisa Lay, Xiumin, dan Sehun. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Lay dengan mukanya yang polos bagai tanpa dosa. Sehun tersenyum miring “Aku tahu sesuatu.” suara beku bocah itu benar-benar membuat Xiumin dan Lay merinding.
“Ikuti aku.” bisik Sehun dengan sebuah lampu minyak ditangannya. Karena memang tidak tahu harus bagaimana kedua orang tadi cuma bisa mengekor dibelakang maknae.
Dengan pelan Sehun melangkah dalam keheningan yang luar biasa. Suara jangkrik terdengar amat jelas, ekor cicak yang terus bergerak pun ikut meramaikan suasana. ‘Tep..tep…’ lantai kayu yang rapuh begitu kasihan terinjak injak sampai bersuara.
Sehun menuju tangga. Sepengetahuan Xiumin, Lay, dan para member lain gedung ini hanya terdiri dari satu lantai dan tidak ada satupun ruangan dilantai atas jadi tangga itu tidak pernah tersentuh dan letaknya cukup tersembunyi.
“Kita akan naik?” tanya Lay.
“Ne, naik…” jawab Sehun pasti.
‘Trep.. trep..’ satu demi satu anak tangga yang hanya tersusun dari kayu berhasil didaki olehnya. Kedua namja yang jauh lebih tua tadi melakukan hal yang sama.
Sampai akhirnya mereka menjejakkan kaki dibagian atas gedung tersebut. Memang benar, tidak ada lantai atas. Ini haya kerangka atap dari gedung dorm. Begitu banyak barang tak berguna yang ada disana. Kusi patah, piano rusak, balok-balok kayu yang dimakan rayap dan sarang laba-laba. Xiumin terbatuk batuk sedangkan Lay bersin berkali-laki. Udara disini sangat kotor, berdebu, dan bau. Suara rintik hujan terdengar begitu jelas sampai-sampai memekakkan pendengaran.
“Apa kau gila Sehun-ah? Untuk apa kita kemari hah?” tanya Xiumin.
Sehun tidak peduli dan melangkah maju menjejakkan kakinya disela-sela barang-barang rosok disana. Lay dan Xiumin mulai curiga, ada yang tidak beres pada Sehun mereka. Sehun yang biasanya penakut dan takut petir, tidak lagi.
Mereka sampai didepan sebuah pintu besi warna hijau tua yang dilapisi debu tebal dan kotoran cicak di beberapa sisi.
Sehun merogoh kantong celananya untuk mengambil sesuatu. Terdengar bunyi dentingan benda logam yang bertabrakan. Kunci. Sehun mengeluarkan seikat kunci dan memasukkan salah satunya ke lubang. ‘Kreeeett…..’ pintu besi tersebut terbuka dengan berat seolah baru dibuka setelah satu abad tertutup rapat.
Sehun melangkah masuk dengan lampu minyaknya. Gelap gulita. Bahkan cahaya yang dia bawa tidak bisa menampakkan satupun benda macam apa yang ada disana. Xiumin dan Lay juga melangkah masuk sambil saling berpegangan tangan.
Dan ketika mereka sudah benar-benar masuk.
“Kriett… grubb…” pintu tersebut terbanting dengan sendirinya dan menutup dengan hantaman yang luar biasa keras.
“Aaaa…!” lagi lagi kedua namja itu berteriak nyaring mereka langsung memandang kebelakang tepatnya ke arah pintu yang baru saja tertutup. Hitam pekat. Tidak tampak karena situasi yang begitu tidak mendukung.
“Se-Sehun… pint-tunya ter-tu….” ujar Lay sambil melampar pandangannya kembali ke Sehun yang berdiri didepan. Xiuminpun begitu.
Tetapi kosong. Disana tidak ada apa-apa. Sehun menghilang secara gaib dalam kegelapan.
“Sehun…?” gumam Lay lalu berpandangan dengan Xiumin.
“AAaa….!!!” teriak mereka sambil berlari menuju pintu dan berusahan membukanya. Pintu terkunci.


to be continued...

Yuk, telen dulu ludahnya. Tarik nafas dalam dalam, terus ne… terus… keluarkan lewat belakang. Bagus…
Kedipin mata berkali kali… senyum… melet… cuss….pinter
XD LOL
Gimana nih readersnya pada pingsan atau masih sadarkan diri? Yang udah baca WAJIB COMENT. TITIK.
Jadi yuk.. langsunga aja ketik comentnya…^^]/

2 comments:

Unknown on September 3, 2013 at 12:52 AM said...

aku gak mau luhan matiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!!!!
FF ini terlalu horror untukku x,x

Windy Fitra Hardianti on January 24, 2015 at 6:45 PM said...

Serem banget thor!!!
Btw, Sehun kayaknya udah mati ya? Lalu Sehun jadi hantu. Bener gak??

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei