Tuesday, August 13, 2013

Fanfiction DARK EYES [Chap 2]

Posted by Unknown at 10:43 PM


DARK EYES
Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog

Desclimer : Its just a fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
CHAP 2
Suho side :
Suho menggosok kakinya dengan santai sambil terus menyenandungkan lagu anak-anak. Dia menikmati wangi sabun barunya ini. Meskipun dia berendam di kamar mandi tua yang dipenuhi barang-barang aneh Suho tetap menikmati acara berendamnya. Sesekali namja dewasa itu meniup gelembung-gelembung hasil sabun yang terlalu banyak ia tuangkan seakan lupa berapa usianya sekarang.
“Tok..tok…” tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan hal itu berhasil mengalihkan perhatian Suho.
“Aku masih mandi, jangan ganggu aku. Masih lama…!” teriak namja itu entah kepada siapa yang berdiri dibalik pintu. “Tok..tok” tapi ketukan itu terdengar lagi. “Aish, apa kautidak dengar apa kataku hah?! Pakai saja kamar mandi sebelah!”
Kini ganti gagang pintu yang berputar perlahan.
“Aku sudah menguncinya! Kau tidak akan bisa masuk, dasar keras kepala.”
Tidak! Karena gagal memutar gagang pintu maka kini malah baut pengunci gagang pintu yang satu persatu berputar sendiri dan lepas.
‘Tring…’ satu baut jatuh tanpa diketahui siapa yang melepasnya.
Suho terbelalak dengan deru nafas yang semakin memburu.
‘Tring…..’ dua baut.
Suho mulai bangkit dan berdiri diatas bak mandi dan tangannya meraih-raih sesuatu dibelakangnya dengan gemetar. Dia berusaha mencari handuk tapi tidak sampai-sampai. “Hey, s-siapa ang melakukan itu?...” bibirnya gemetar seketika.
‘Tring…’ tiga baut sukses meluncur ke lantai dan menimbulkan suara.
Tanpa sengaja tangan Suho menarik tambang ang mengikat rak atas kamar mandi tersebut. Dia benar-benar mengira bila tambang itu handuk karena memang Suho tidak melihat. Dia sibuk terbelalak menatap baut yang satu persatu lepas tadi.
Dan…
“Huaaa…..!!!” sebuah kotak besi yang sepertinya brankas kecil namun begitu berat menimpa kepala Suho.
“Braakkkk…!” kepala serta sebagian tubuh namja itu hancur tertimpa brankas dengan kondisi masih didalam bak mandi. Tengkorak Suho hancur sudah menjadi kepingan tulang yang kecil-kecil dan otaknya juga terpecah belah. Dada serta rusuknya patah menjadi beberapa bagian yang tak terhitung.
Perlahan air yang menggenangi bak itu memerah karena tercemar oleh darah dari Suho. Dan juga sebagian air merah itu terjun keluar dari bibir bak mandi dikarenakan bak yang bermuatan semakin penuh. Lantai kamar mandi itu kini tampak berceceran darah segar.
“Aku pulang!” ujar D.O sambil menaruh dua kantong plastik besar berisi lobster dan beberapa sayuran hijau. “Lho, mereka kemana? Kenapa sepi sekali?” tanya D.O pada Kai yang ada dibelakangnya.
Kai menggeleng dan membanting kontak motor keatas meja. Namja berkulit gelap tersebut melangkah dengan malas ke kamar. “Beritahu aku bila makanannya sudah jadi, aku ngantuk.” ucapnya untuk yang terakhir kali sebelum menghilang dibalik pintu kamar KaiD.O.
D.O tidak menjawab dan malah menggembungkan pipi karena sebal. “Hum, sebenarnya kemana mereka? Kep a sepi sekali…?” batinnya.
D.O melangkah menuju ruang TV dan ternyata ada Sehun disana. Seulas senyuman indah terlukis di bibir tebalnya. D.O berjalan mendekat dan dengan santai menepuk pundak Sehun.
“Sehun, kemana yang lain? Kenapa kau sendirian disini?” tanya D.O yang masih berdiri dibelakang Sehun.
“Mereka pergi.” jawab Sehun datar tanpa menolehkan kepala kebelakang.
“Pergi?” tanya D.O lagi.
Kali ini Sehun memutar lehernya dan menatap D.O. “Ya pergi.” dia tersenyum kaku bak manekin tua yang telah lama tersimpan di gudang yang penuh dengan gas nitrogen. Senyumnya tampak rapuh dan bibir itu bagai tidak pernah menyentuh air setetespun.
“Kau sakit?” D.O mulai terbelalak.
Sehun menggeleng dengan senyuman yang sama.
“Kal’au begitu baiklah, bukakan pintu jika mereka kembali ne? Aku akan sibuk dengan teman-teman dapurku.” dengan entengnya D.O berlalu meninggalkan Sehun.
Chanyeol side :
“Akhhh!!!” dengan sekuat tenaga Chanyeol menggenggam mata tombak itu agar tidak benar-benar menusuk matanya. Dia membelokkan tombak tersebut kembali ke perut setan yang semua seorang gadis cilik bermuka polos tadi. Dan namja itu berhasil menusuk perut setan untuk yang kedua kalinya.
“Auuhh… akkkk….!” ternyata bukan perut, meliankan tepat di jantungnya. Setan tadi tersungkur kebelakang dan ini adalah kesempatan emas untuk melarikan diri.
Dengan penuh berjuangan bersimbah darah Chanyeol bangkit dan berjalan pincang. Tidak hanya pincang. Dia harus menarik kakinya yang patah dengan jari-jarinya yang juga perih bagai baru saja teriris.
“Akh… eugh… akh… euh….” air mata bercampur noda tanah kering menghiasi wajahnya yang kini tidak tampak tampan lagi. Wajah seorang pejuang yang dengan tangannya sendiri melawan setan tanpa mata.
Chanyeol terus melangkah tanpa peduli darah yang terus terkuras karena kakinya patah. ‘Aku akan hidup… aku akan hidup dan tidak membiarkan semua nyaris berakhir sepertiku…’ bisiknya pada diri sendiri.
Tapi itu sudah terlambat Chanyeol….,
D.O side :
‘Tuk…tuk….’
Satu persatu kulit cabe itu teriris dengan tipis. Setelah batang cabe tersebut habis, D.O mengambil cabe yang lainnya dan kembali mengiris-irisnya menjadi potongan yang tipis-tipis.
‘Tuk..tuk…tuk….’
Keringat mulai menetes di dahinya dan kedua matanya pedas karena cabe itu.
“Huhss…..” pekiknya sambil mengucek mata. Ah, betapa cerobohnya bocah ini. Matanya semakin pedas. Dia berkedip-kedip sambil mengibaskan tangan didepan mukanya. “Ah, pedas… pedas… hus.. ahh….” D.O melangkah ke wastafel dan mencuci bagian sekitar mata alih-alih memercikkan beberapa tetes air ke dalam matanya yang memerah. Setelah dirasanya mulai membaik dia kembali memotong-motong cabe.
‘Tuk..tuk…’
“Aish…’ dikuceknya lagi mata itu dengan punggung tangannya.
‘Tuk..tuk..tuk…’
Tapi sesuatu membuatnya berhenti dan meletakkan pisau kembali keatas telenan bersama potongan cabe maupun cabe-cabe utuh lainnya. Dia melirik ke kanan dan kekiri. Punggungnya terasa panas dan semakin panas seolah-olah dia sedang memunggungi setumpuk kayu berapi alih-alih api unggun. Sesuatu terasa menggelitik tengkuk dan area lehernya, rasanya hangat, bahkan dia berfikir bila sesuatu itu juga bagian dari sesuatu seperti api unggun dibelakang punggungnya tadi. Nafas D.O terasa hangat dan dadanya mulai naik turun. Perasaannya sama sekali tidak enak.
Dengan gigi yang menggertak kuat D.O kembali menggenggam batang pisaunya. dan dalam hitungan detik.
“Aha! Kena kau!...” D.O berbalik sambil mengacungkan pisau.
Tapi,
Tidak ada siapapun disana kecuali angin yang bersuhu normal, jauh berbeda dengan rasa panas yang timbul tadi. Dada D.O naik turun menyadari kebodohannya. Tangannya yang menggenggam pisau tadi turun perlahan.
Karena situasi yang ternyata baik-baik saja, D.O kembali meneruskan acaranya mengiris cabe masih dengan rasa was-was.
Setelah cabe-cabe itu habis, D.O menuju kulkas untuk mengambil mentimun dan paha ayam yang kemarin sudah dia persiapkan. D.O membuka pintu kulkas dan,
“AA….!” teriaknya sambil kembali membanting pintu kulkas. Dia melihat sebuah kepala seorang wanita dengan bibir terpotong yang penuh darah dan mata terpejam. D.O menutup matanya rapat-rapat sambil kembali mengatur nafas.
‘Benarkah apa yang kulihat itu? Benarkah itu semua?....’
Dengan segenap keberaniannya, dia kembali membuka kulkas. Betapa terkejutnya D.O. Disana tidak ada apa-apa seperti yang baru saja dia lihat. ‘Baik, sekarang aku mlah berhalusinasi… oh Kyung Soo, apa yang kau fikirkan.. ah…’ D.O segera mengambil kantung plastik warna putih dan menutup pintu kulkas kembali.
D.O menyalakan kompor dan memsasak air. Setelah mendidih dia memasukkan bumbu yang telah dihaluskan kedalamnya lalu paha ayam itu dimasukkan juga agar menghasilkan kaldu dengan rasa ayam asli.
Namja itu meraih pisau dan mengupas timun.
Tiba-tiba “Tok….!” terdengar sesuatu seperti benda berat yang terjatuh entah dari mana. Langsung saja D.O kaget dan tanpa sengaja kulit tangannya terkupas dalam. Darah membasahi bagian pisau sementara yang lainnya menetes diatas lantai kayu.
“Akh… uh,...” D.O mundur sambil memegangi tangannya yang bersimbah darah. Darah pekat itu menetes ke lengan dan berujung di siku sampai akhirnya menetes kelantai.
D.O segera meraba lemari atas untuk menemukan serbet. Dia membuka lemari itu dengan terburu. Namun,
‘Cleb…’ sebuah garpu meluncur dan menancap tepat di mata kirinya.
“Ahhk….kk….” namja yang bernasib sial tersebut merasakan sakit yang luar biasa. darah dari matanya menetes dengan deras melalui rongga matanya. Dia memegang garpu itu dan dengan hati-hati mencabutnya. ‘Clukk…’ darah mencrat ketika tiga mata garpu tercabut.
Diraba permukaan matanya dan dia melihat darahnya sendiri. “Ahhk… ahh…” sambil menutupi matanya yang bersimbah darah D.O melangkah ke kamar mandi. Dia berjalan sambil berpegangan pada dinding dinding lorong.
Langkahnya tertahan ketika mencium aroma-aroma tidak menyenangkan. Dia jadi ingin muntah. Baunya seperti darah atau nanah. Tapi juga tercium seperti air seni yang tertampung sekian lama.
Ruangan lorong menjadi gelap seketika. D.O merasakan ada benda-benda halus yang menyentuh kepalanya.
“Rambut?” pikirnya sambil meraba benda halus itu. D.O mendongak keatas untuk memeriksa sebenarnya dari mana asal rambut itu.
“Aaaaa…..”
Mulut D.O yang menganga lebar disobek seketika dan namja itu telah berakhir….
“Drrt..drttt…” ponsel Kai bergetar dan hal itu membangunkannya. Kai yang masih keriyipan meraba-raba meja untuk mengambil ponselnya.
“Oppa….” ocapmu bahkan sebelum Kai mengatakan ‘halo’
“Ne, chagi?” mata Kai yang tadinya masih lengket langsung terbuka lebar.
“Ahhm.. kau pasti molor dipagi hari ne?” tebakmu tepat sasaran.
“Ani, siapa bilang?”
“Hahaha, mengaku saja… oh ya, bagaimana dorm barumu?”
“Hum, biasa… tua dan bau… aku benci berada disini. Kamar mandinya kumuh dan dapur begitu sempit.” jawab Kai dengan nada bosan.
“Seburuk itukah, heuh, padahal aku sangat ingin berkunjung. Bolehkah? Bagaimana jika malam ini?”
“Malam ini? Wah tentu saja, kebetulan koki kami sedang memasak enak.”
“Koki kalian?”
“Kyungsoo… dia yang selalu memasak..”
“Haha…” terdengar suara tawa yang manis. “Baiklah, aku nanti akan kesana.. tunggu aku ne.. muah…” kau memberi kissbye sebelum menutup telepon.
“Muah…” balas Kai. Lalu sambungan terputus.
CHAP 2
Bagaimana? Bagaimana? Apa kurang berasa feelnya? Bisa protes lewat coment…^^ yang gaterima ya wassalam.. takdir mereka ditangan author… khekekeke~ :v
Gomawo.. tunggu chap 3nya ne!! Paiii….! ^^]/

4 comments:

Unknown on August 20, 2013 at 7:50 AM said...

Huaaa :'( kenapa suho jadi gitu!!! Ah menakutkan. Aku ga suka hororr rada fiksi kayak gini-,,- huaaa(engga aku lnjutin yak bacanya)

Unknown on August 21, 2013 at 6:32 AM said...

Mian kalo tersinggung... >\\\< ini buat yg punya jiwa phsyco aja ne... jangan dibaca kalo engga kuat ^_^

Unknown on September 3, 2013 at 12:45 AM said...

aku gak tega chinguya.. :'(

Unknown on September 18, 2013 at 5:49 PM said...

kalo ga tega jangan dibaca >_<

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei