DARK EYES
Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and
Horor
Cast : EXO members and
YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters,
and Epilog
Desclimer : Its just a
fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
CHAP 2
Suho side :
Suho menggosok kakinya dengan santai sambil
terus menyenandungkan lagu anak-anak. Dia menikmati wangi sabun barunya ini. Meskipun
dia berendam di kamar mandi tua yang dipenuhi barang-barang aneh Suho tetap
menikmati acara berendamnya. Sesekali namja dewasa itu meniup
gelembung-gelembung hasil sabun yang terlalu banyak ia tuangkan seakan lupa
berapa usianya sekarang.
“Tok..tok…” tiba-tiba seseorang mengetuk pintu
kamar mandi dan hal itu berhasil mengalihkan perhatian Suho.
“Aku masih mandi, jangan ganggu aku. Masih
lama…!” teriak namja itu entah kepada siapa yang berdiri dibalik pintu.
“Tok..tok” tapi ketukan itu terdengar lagi. “Aish, apa kautidak dengar apa
kataku hah?! Pakai saja kamar mandi sebelah!”
Kini ganti gagang pintu yang berputar perlahan.
“Aku sudah menguncinya! Kau tidak akan bisa
masuk, dasar keras kepala.”
Tidak! Karena gagal memutar gagang pintu maka
kini malah baut pengunci gagang pintu yang satu persatu berputar sendiri dan
lepas.
‘Tring…’ satu baut jatuh tanpa diketahui siapa
yang melepasnya.
Suho terbelalak dengan deru nafas yang semakin memburu.
‘Tring…..’ dua baut.
Suho mulai bangkit dan berdiri diatas bak mandi
dan tangannya meraih-raih sesuatu dibelakangnya dengan gemetar. Dia berusaha
mencari handuk tapi tidak sampai-sampai. “Hey, s-siapa ang melakukan itu?...”
bibirnya gemetar seketika.
‘Tring…’ tiga baut sukses meluncur ke lantai dan
menimbulkan suara.
Tanpa sengaja tangan Suho menarik tambang ang
mengikat rak atas kamar mandi tersebut. Dia benar-benar mengira bila tambang
itu handuk karena memang Suho tidak melihat. Dia sibuk terbelalak menatap baut
yang satu persatu lepas tadi.
Dan…
“Huaaa…..!!!” sebuah kotak besi yang sepertinya
brankas kecil namun begitu berat menimpa kepala Suho.
“Braakkkk…!” kepala serta sebagian tubuh namja
itu hancur tertimpa brankas dengan kondisi masih didalam bak mandi. Tengkorak
Suho hancur sudah menjadi kepingan tulang yang kecil-kecil dan otaknya juga
terpecah belah. Dada serta rusuknya patah menjadi beberapa bagian yang tak
terhitung.
Perlahan air yang
menggenangi bak itu memerah karena tercemar oleh darah dari Suho. Dan juga
sebagian air merah itu terjun keluar dari bibir bak mandi dikarenakan bak yang
bermuatan semakin penuh. Lantai kamar mandi itu kini tampak berceceran darah
segar.
“Aku pulang!” ujar D.O sambil menaruh dua
kantong plastik besar berisi lobster dan beberapa sayuran hijau. “Lho, mereka
kemana? Kenapa sepi sekali?” tanya D.O pada Kai yang ada dibelakangnya.
Kai menggeleng dan membanting kontak motor
keatas meja. Namja berkulit gelap tersebut melangkah dengan malas ke kamar.
“Beritahu aku bila makanannya sudah jadi, aku ngantuk.” ucapnya untuk yang
terakhir kali sebelum menghilang dibalik pintu kamar KaiD.O.
D.O tidak menjawab dan malah menggembungkan pipi
karena sebal. “Hum, sebenarnya kemana mereka? Kep a sepi sekali…?” batinnya.
D.O melangkah menuju ruang TV dan ternyata ada
Sehun disana. Seulas senyuman indah terlukis di bibir tebalnya. D.O berjalan
mendekat dan dengan santai menepuk pundak Sehun.
“Sehun, kemana yang lain? Kenapa kau sendirian
disini?” tanya D.O yang masih berdiri dibelakang Sehun.
“Mereka pergi.” jawab Sehun datar tanpa
menolehkan kepala kebelakang.
“Pergi?” tanya D.O lagi.
Kali ini Sehun memutar lehernya dan menatap D.O.
“Ya pergi.” dia tersenyum kaku bak manekin tua yang telah lama tersimpan di
gudang yang penuh dengan gas nitrogen. Senyumnya tampak rapuh dan bibir itu
bagai tidak pernah menyentuh air setetespun.
“Kau sakit?” D.O mulai terbelalak.
Sehun menggeleng dengan senyuman yang sama.
“Kal’au begitu
baiklah, bukakan pintu jika mereka kembali ne? Aku akan sibuk dengan teman-teman
dapurku.” dengan entengnya D.O berlalu meninggalkan Sehun.
Chanyeol side :
“Akhhh!!!” dengan sekuat tenaga Chanyeol
menggenggam mata tombak itu agar tidak benar-benar menusuk matanya. Dia
membelokkan tombak tersebut kembali ke perut setan yang semua seorang gadis
cilik bermuka polos tadi. Dan namja itu berhasil menusuk perut setan untuk yang
kedua kalinya.
“Auuhh… akkkk….!” ternyata bukan perut,
meliankan tepat di jantungnya. Setan tadi tersungkur kebelakang dan ini adalah
kesempatan emas untuk melarikan diri.
Dengan penuh berjuangan bersimbah darah Chanyeol
bangkit dan berjalan pincang. Tidak hanya pincang. Dia harus menarik kakinya
yang patah dengan jari-jarinya yang juga perih bagai baru saja teriris.
“Akh… eugh… akh… euh….” air mata bercampur noda
tanah kering menghiasi wajahnya yang kini tidak tampak tampan lagi. Wajah
seorang pejuang yang dengan tangannya sendiri melawan setan tanpa mata.
Chanyeol terus melangkah tanpa peduli darah yang
terus terkuras karena kakinya patah. ‘Aku akan hidup… aku akan hidup dan tidak
membiarkan semua nyaris berakhir sepertiku…’ bisiknya pada diri sendiri.
Tapi itu sudah
terlambat Chanyeol….,
D.O side :
‘Tuk…tuk….’
Satu persatu kulit cabe itu teriris dengan
tipis. Setelah batang cabe tersebut habis, D.O mengambil cabe yang lainnya dan
kembali mengiris-irisnya menjadi potongan yang tipis-tipis.
‘Tuk..tuk…tuk….’
Keringat mulai menetes di dahinya dan kedua
matanya pedas karena cabe itu.
“Huhss…..” pekiknya sambil mengucek mata. Ah,
betapa cerobohnya bocah ini. Matanya semakin pedas. Dia berkedip-kedip sambil
mengibaskan tangan didepan mukanya. “Ah, pedas… pedas… hus.. ahh….” D.O
melangkah ke wastafel dan mencuci bagian sekitar mata alih-alih memercikkan
beberapa tetes air ke dalam matanya yang memerah. Setelah dirasanya mulai
membaik dia kembali memotong-motong cabe.
‘Tuk..tuk…’
“Aish…’ dikuceknya lagi mata itu dengan punggung
tangannya.
‘Tuk..tuk..tuk…’
Tapi sesuatu membuatnya berhenti dan meletakkan
pisau kembali keatas telenan bersama potongan cabe maupun cabe-cabe utuh lainnya.
Dia melirik ke kanan dan kekiri. Punggungnya terasa panas dan semakin panas
seolah-olah dia sedang memunggungi setumpuk kayu berapi alih-alih api unggun.
Sesuatu terasa menggelitik tengkuk dan area lehernya, rasanya hangat, bahkan
dia berfikir bila sesuatu itu juga bagian dari sesuatu seperti api unggun
dibelakang punggungnya tadi. Nafas D.O terasa hangat dan dadanya mulai naik
turun. Perasaannya sama sekali tidak enak.
Dengan gigi yang menggertak kuat D.O kembali
menggenggam batang pisaunya. dan dalam hitungan detik.
“Aha! Kena kau!...” D.O berbalik sambil
mengacungkan pisau.
Tapi,
Tidak ada siapapun disana kecuali angin yang
bersuhu normal, jauh berbeda dengan rasa panas yang timbul tadi. Dada D.O naik
turun menyadari kebodohannya. Tangannya yang menggenggam pisau tadi turun
perlahan.
Karena situasi yang ternyata baik-baik saja, D.O
kembali meneruskan acaranya mengiris cabe masih dengan rasa was-was.
Setelah cabe-cabe itu habis, D.O menuju kulkas
untuk mengambil mentimun dan paha ayam yang kemarin sudah dia persiapkan. D.O
membuka pintu kulkas dan,
“AA….!” teriaknya sambil kembali membanting
pintu kulkas. Dia melihat sebuah kepala seorang wanita dengan bibir terpotong
yang penuh darah dan mata terpejam. D.O menutup matanya rapat-rapat sambil
kembali mengatur nafas.
‘Benarkah apa yang kulihat itu? Benarkah itu
semua?....’
Dengan segenap keberaniannya, dia kembali
membuka kulkas. Betapa terkejutnya D.O. Disana tidak ada apa-apa seperti yang
baru saja dia lihat. ‘Baik, sekarang aku mlah berhalusinasi… oh Kyung Soo, apa
yang kau fikirkan.. ah…’ D.O segera mengambil kantung plastik warna putih dan
menutup pintu kulkas kembali.
D.O menyalakan kompor dan memsasak air. Setelah
mendidih dia memasukkan bumbu yang telah dihaluskan kedalamnya lalu paha ayam
itu dimasukkan juga agar menghasilkan kaldu dengan rasa ayam asli.
Namja itu meraih pisau dan mengupas timun.
Tiba-tiba “Tok….!” terdengar sesuatu seperti
benda berat yang terjatuh entah dari mana. Langsung saja D.O kaget dan tanpa
sengaja kulit tangannya terkupas dalam. Darah membasahi bagian pisau sementara
yang lainnya menetes diatas lantai kayu.
“Akh… uh,...” D.O mundur sambil memegangi
tangannya yang bersimbah darah. Darah pekat itu menetes ke lengan dan berujung
di siku sampai akhirnya menetes kelantai.
D.O segera meraba lemari atas untuk menemukan
serbet. Dia membuka lemari itu dengan terburu. Namun,
‘Cleb…’ sebuah garpu meluncur dan menancap tepat
di mata kirinya.
“Ahhk….kk….” namja yang bernasib sial tersebut
merasakan sakit yang luar biasa. darah dari matanya menetes dengan deras
melalui rongga matanya. Dia memegang garpu itu dan dengan hati-hati
mencabutnya. ‘Clukk…’ darah mencrat ketika tiga mata garpu tercabut.
Diraba permukaan matanya dan dia melihat
darahnya sendiri. “Ahhk… ahh…” sambil menutupi matanya yang bersimbah darah D.O
melangkah ke kamar mandi. Dia berjalan sambil berpegangan pada dinding dinding
lorong.
Langkahnya tertahan ketika mencium aroma-aroma
tidak menyenangkan. Dia jadi ingin muntah. Baunya seperti darah atau nanah.
Tapi juga tercium seperti air seni yang tertampung sekian lama.
Ruangan lorong menjadi gelap seketika. D.O
merasakan ada benda-benda halus yang menyentuh kepalanya.
“Rambut?” pikirnya sambil meraba benda halus
itu. D.O mendongak keatas untuk memeriksa sebenarnya dari mana asal rambut itu.
“Aaaaa…..”
Mulut D.O yang
menganga lebar disobek seketika dan namja itu telah berakhir….
“Drrt..drttt…” ponsel Kai bergetar dan hal itu
membangunkannya. Kai yang masih keriyipan meraba-raba meja untuk mengambil
ponselnya.
“Oppa….” ocapmu bahkan sebelum Kai mengatakan
‘halo’
“Ne, chagi?” mata Kai yang tadinya masih lengket
langsung terbuka lebar.
“Ahhm.. kau pasti molor dipagi hari ne?” tebakmu
tepat sasaran.
“Ani, siapa bilang?”
“Hahaha, mengaku saja… oh ya, bagaimana dorm
barumu?”
“Hum, biasa… tua dan bau… aku benci berada
disini. Kamar mandinya kumuh dan dapur begitu sempit.” jawab Kai dengan nada
bosan.
“Seburuk itukah, heuh, padahal aku sangat ingin
berkunjung. Bolehkah? Bagaimana jika malam ini?”
“Malam ini? Wah tentu saja, kebetulan koki kami
sedang memasak enak.”
“Koki kalian?”
“Kyungsoo… dia yang selalu memasak..”
“Haha…” terdengar suara tawa yang manis.
“Baiklah, aku nanti akan kesana.. tunggu aku ne.. muah…” kau memberi kissbye
sebelum menutup telepon.
“Muah…” balas Kai. Lalu sambungan terputus.
CHAP 2
Bagaimana? Bagaimana? Apa kurang berasa feelnya?
Bisa protes lewat coment…^^ yang gaterima ya wassalam.. takdir mereka ditangan
author… khekekeke~ :v
Gomawo.. tunggu chap 3nya ne!! Paiii….! ^^]/

4 comments:
Huaaa :'( kenapa suho jadi gitu!!! Ah menakutkan. Aku ga suka hororr rada fiksi kayak gini-,,- huaaa(engga aku lnjutin yak bacanya)
Mian kalo tersinggung... >\\\< ini buat yg punya jiwa phsyco aja ne... jangan dibaca kalo engga kuat ^_^
aku gak tega chinguya.. :'(
kalo ga tega jangan dibaca >_<
Post a Comment