10 days TO
the DEAD
line

Author : Jihan
Kusuma
Cast : Xi
Luhan, Shin Ah Cha (You), and the others support cast^^
Genre :
Romance, family, friendship
Leght :
Chapters
DESCLIMER : Yo
yo yo.. readers yo! #rapp bareng Chanyeol. Adakah yang masih setia baca ffku
yang ini? *krik..krik*… readers pada sembunyi >< tapi ga popo, saya
ikhlas nulis ff ini demi LUHAAN! *lirik abang Lulu. Okelah chingu, daripada
banyak cing cong mendingan kita go aja buat baca lanjutannya ne? Semoga
sukaaa!! ^^]/
ChenKaiD.Ot~~~
Cerita
sebelumnya :
Tiba-tiba saja seperti ada kucing atau binatang kecil yang melintas saat
mobil itu melaju kencang. Sontak Luhan mumutar kemudi dengan tiba-tiba. Dan
alhasil mobil audy hitam itu terpinggir ke trotoar. Luhan kehilangan kendali.
Kata-kata Ah Cha muncul dalam benaknya.
“Aku sama sekali tidak berdusta.. dalam
sepuluh hari terakhir ini sesungguhnya kau bisa mati kapan saja! Namun, Tuhan
mengirimku untukmu untuk menyelamatkanmu. Aku yang akan melindungimu selama
sepuluh hari sampai hari kesepuluh tiba dan kau akan benar-benar mati!”
Lalu selanjutnya mobil tersebut menabrak lampu traffic light dan kepala Luhan terbentur kemudi sampai mengeluarkan
darah.
Dan dimalam itu, kota Seoul dihebohkan dengan kecelakaan ini.
»*»
[10 Days to The Death Line Chap 3]
(Day Two)
[Saat itu di kastil langit]

Luhan merasakan
rasa ringan disekujur tubuhnya seolah saat ini dia hanya bagian dari angin. Dia
hanya menganakan kain warna putih. Diadapatinya saat ini kakinya tidak sedang
menapak diatas tanah, melainkan diatas awan. Terasa sangat lunak dan lembut.
Luhan
mengangkat tangannya dan memperhatikan salah satu anggota badannya itu.
Transparan dan pucat. Pusing kembali melanda kepala namja itu. Dia ingin
menangis. Dia merasa bukan apa-apa sekarang.
‘Apakah aku
sudah mati? Aku dimana?’ batinnya.
Saat ini dihadapannya
ada dua buah pintu. Yang satu warna putih dan yang satu merah. Pintu warna
merah lebih besar dibanding pintu warna putih. Lalu pada saat yang bersamaan
kedua pintu itu terbuka. Ada dua orang yang keluar dari sana. Yang satu dengan
wajah bersinar, sedangkan satunya bertopeng hitam.
“S-siapa
kalian?” tanya Luhan resah.
“Kami malaikat
dari kastil ini.. Kau Luhan kan?” tanya si malaikat bertopeng.
Luhan semakin
bingung saja. ‘Apakah mereka berkata jujur?’
“Nde…” jawab
Luhan sebisanya. Luhan jadi bingung dari mana mereka tahu namanya.
“Ikut aku..!”
tiba-tiba malaikat bertopeng hitam menghampiri Luhan dan menarik lengan namja
itu. “Hei! Aku mau kaubawa kemana?! Lepaskan aku!” berontaknya. Akan tetapi si
topeng hitam itu tidak menjawab dan terus menyeret tubuh lemah Luhan yang
tinggal sebatang kara itu. “Aku tidak mau!! Aku tak mau!” teriak Luhan
sekencang mungkin sampai-sampai suaranya menggema keseluruh sisi langit.
‘Ya Tuhan , apa
lagi ini? Aku mohon sadarkan aku dari mimpi buruk ini! Aku mau bangun
sekarang!! Aku belum mati! Aku tidak mau mati dulu!!’ batin Luhan memohon.
Diarasakan hawa
panas yang membakar ketika malaikat bertopeng hitam itu menyeretnya masuk ke
pintu merah.
‘Oh Tidak!
Tidak!! Inikah yang namanya neraka?! Aku tidak mauuu!!!!’
Saat ini dia
benar-benar merasa menyesal telah memaki dan menolak tawaran Ah Cha. Dia
sungguh membutuhkan Ah Cha sekarang. Demi apapun dia menyesal.
“Tunggu!”
sebuah suara terdengar dari sisi lain dan menghentikan kegiatan adu tarik
tersebut. Luhan menoleh dan terkejut.
“Ah Cha…”
gumamnya.
“Lepaskan namja
itu! Sesungguhnya ini bukanlah waktunya!” tambah Ah Cha memerintah kepada si
malaikat bertopeng yang ternyata penjaga neraka itu.
Sontak penjaga
neraka melepaskan cengkeramannya dari lengan Luhan. “Baik malaikat pencabut
nyawa..” balas si malaikat penjaga neraka. Kini Luhan percaya akan segalanya.
Dia sadar ini bukanlah mimpi. Ini bukan angan atau khayalannya. Dia bisa
merasakan seberapa panaskah neraka itu dan itu sangat membakar.
“Ah Cha!” Luhan
berlari mendekati Ah Cha lalu berlutut didepan kaki yeoja itu. “Luhan-ssi.. kau
tidak papa?” Ah Cha ikut membungkuk sambil memeriksa keadaan tuannya. “Ani,
aniya.. aku baik-baik saja.... maafkan aku Ah Cha-ssi.” Luhan menciumi kaki
wanita itu.
“Tidak, tidak
Luhan… kau majikanku dan aku penjagamu. Aku mohon bangkitlah. Posisimu lebih
tinggi dibandingkan aku. Aku hanya bawahanmu…” balas Ah Cha lembut seraya
membantu Luhan kembali bangkit.
Luhan sangat
tersentuh atas kebaikan hati malaikat ini. Ditatapnya kedua mata hijau Ah Cha
dalam-dalam. Mata Luhan berkaca-kaca membayangkan andai saja Ah Cha tidak
datang apa yang akan terjadi padanya. Mungkin sekarang dia sudah menjadi daging
presto di dalam neraka sana.
Detik
berikutnya wajah putih Ah Cha menunjukkan seulas senyum dan dia memeluk Luhan
erat-erat.
»*»
Dengan teramat perlahan Luhan berusaha membuka matanya. Oh silau,
pikirnya. Dia telah menemukan seberkas cahaya temaram yang diyakininya berasal
dari lampu. Luhan mengerjap lagi lalu membuka matanya. Ditatapnya langit-langit
kamar yang tampak sangat buram. Selanjutnya muncul sebuah kepala dengan hidung
mancung yang kurang jelas dimata Luhan. Wajah di kepala itu menampilkan
senyuman bahagia.
“Luhan-ah…” panggilnya dengan nada bersyukur.
Kemudian sebuah kepala muncul lagi. Kali ini wajahnya lebih aneh dengan
mata besar dan kaca mata bulat. Wajah itupun tersenyum riang.
“Luhan sudah sadar!!” katanya.
‘Tunggu dulu, aku kenal suara itu!’ pikir Luhan. Dengan susah payah
Luhan berusaha menjernihkan pandangannya yang masih buram. Dan didapatinya dua
orang teman dekatnya yang menangis bahagia.
“Suho Hyung.. Chanyeol…” panggil Luhan lemah.
“Luhan sudah sadar!! Dia mengenal kita!” Suho memeluk Chanyeol dan
mereka berpelukan. “Ne, ya Tuhan!! Terimakasih!” Chanyeol berucap syukur tapi
tak tahu kenapa malah terdengar sangat jenaka.
Luhan celilingan memutar bola matanya. Dia mendapati selang infuse yang
berujung pada punggungg tangannya, lalu rasa nyeri yang berlebihan pada
kepalanya, juga hidungnya yang diplester.
‘Oh jangan katakana bila aku sedang dirumah sakit!!’
Luhan memang sangat membenci tempat ini. Dia sangat takut pada jarum dan
bau obat-obatan. Tapi sekarang bukan itu masalahnya. Luhan sudah sangat
bersyukur bisa kembali lagi didunia mengingat apa yang terjadi pada mimpi
ketika dia koma.
“Hyung, aku mau pulang…” ucap Luhan sambil berusaha duduk.
“Hati-hati..” Chanyeol dengan cekatan membantu temannya itu duduk.
“Hyung, aku harus pulang.. aku tidak suka disini!” ulang Luhan.
“Tidak Luhan, kau itu baru saja kecelakaan. Kau pun baru sadar setelah
semalaman koma. Kau tak bisa pulang sekarang!!” tolak Suho.
“Aniyeo!! Aku tidak suka disini! Pokoknya aku mau pulang!” Luhan nekat
turun dari ranjang pasien namun cepat-cepat dihadang oleh Chanyeol. “Luhan-ah…
kau masih sakit.” timpal Chanyeol. “Tidak! Aku sama sekali tidak sakit! Biarkan
aku turun!!”
“Tidak bisa Luhan!”
“Iya! Masih perlu dirawat disini!” akhirnya Suho ikut turun tangan dalam
mencegah Luhan. Luhan benar-benar ingin menemui Ah Cha sekarang. Dia ingin
berterimakasih dan memeluk gadis oh ralat, malaikat itu.
“Akh…” tiba-tiba Luhan memekik sambil memegangi kepalanya yang terkena
serangan pening. Kedua temannya itu langsung melongo bingung akan berbuat apa.
“Oh tidak, Chanyeol! Cepat panggil dokter!” teriak Suho.
»*»
“Dokter, aku benar-benar ingin pulang. Aku tidak suka disini.” kata
Luhan pada dokter yang tengah memeriksa detak jantungnya melalui selang berkepala
dua bernama stetoskop itu.
Dokter terseyum kecil melihat tingkah namja yang sudah dewasa namun
tetap seperti anak kecil ini. Luhan pun mengerutkan kening. ‘Kenapa dia malah
tersenyum?’
“Tuan Xi Luhan, luka dikepala anda juga belum sembuh dan sangat butuhperawatan
suster. Anda tidak bisa meminta pulang begitu saja.”
“Dokter tidak lihat, saya sudah bisa bergerak seperti ini? saya pun
sudah bisa berteriak-teriak. Saya sudah sehat dok, benar! Saya tidak bohong.”
“Tetapi, Anda harus tetap diinfus dan meminum obat-obatan yang ada
disini. Akan sangat repot jika semuanya dipindahkan kerumah Anda.” jelas dokter
itu.
Kini Luhan juga berpikir bila semua alat kedokteran dipindahkan ke
apartemennya pasti juga akan sangat merepotkan. ‘Akh, aku benci ini semua!’
Ternyata dokter itu juga sudah selesai dengan urusannya. Setelah selesai
merapihkan lagi alat-alat kedokterannya beliau meninggalkan Luhan. “Permisi
tuan Xi…” katanya berpamitan.
Setelah sang dokter keluar dari ruangan kedua teman Luhan kembalis masuk
menemui sahabatnya.
“Luhan-ah, bagaimana keadaanmu?” tanya Chanyeol sambil duduk di tepian
ranjang Luhan.
“Aku sudah sehat.” jawab Luhan keras kepala.
“Jadi beginikah bila sudah sehat?” dengan sengaja Suho menyentuh luka di
kepala Luhan yang masih dibungkus perban.
“Aish, sakit! Kau sengaja sekali melakukannya!” Luhan marah-marah.
“Nah, itu artinya kau belum sehat.” timpal Suho sedangkan Chanyeol hanya
mengangguk-angguk setuju.
Luhan memandang keluar jendela. Ternyata matahari sudah sepenuhnya
muncul meski tak terlalu terik. “Aku bosan dikamar terus.” ucap Luhan lirih
sambil mengerutkan bibirnya.
“O, kau mau jalan-jalan?” tanya Chanyeol.
“Baiklah, akan kami pinjamkan kursi roda.” tukan Suho.
»*»
Udara pagi yang sangat sejuk itu mulai menerpa tubuh Luhan yang sedang
duduk manis diatas kursi rodanya. Kini Luhan merasa sedikit bebas bisa
menghirup udara selain udara dari AC yang ada di kamar pasien.
“Buka mulutnya…” Suho menyendokkan bubur.
Layaknya seekor anjing yang patuh Luhan membuka mulutnya dan menerima suapan
bubur dari Suho.
“Hmm, enak kan?” Suho bertanya pada Luhan seperti bertanya pada seorang
anak kecil.
‘Ais, kalau saja aku tidak sedang sakit pasti aku sudah menendang mukamu
yang menyedihkan itu!’ batin Luhan sambil memandang Suho nanar. Tetapi Suho
hanya menggerling menyebalkan melihat ketidak berdayaan temannya ini. Memang
benar, teman yang jahat.
“A.” Luhan membuka mulutnya lagi dengan muka sebal. Kemudian dengan
senang hati Suho menyuapinya. “Pesawat dataaang,.. A…aaa, aum…”
Tak segan-segan Luhan mencubit pinggang Suho dan memelintirnya. ‘Enak
saja aku diperlalukan seperi anak-anak!’
“Aduhh!” rintih Suho.
“Hahaha!” Chanyeol malah tertawa.
“LUHAN-AH!!” sebuah suara cempreng terdengar.
Ketiga namja itu lagsung menoleh kesumber suara. Ternyata Jessica yang
datang dengan membawa sebuket buah-buahan. Yeoja berpawakan kecil dan berwajah
manis itu mendekati mereka. “Luhan-ah, apakah kau baik-baik saja? Aku sangat
meghawatirkanmu…” ujar Jessica sambil meraba-raba leher dan tubuh Luhan.
“Ish, kenapa kau ini? Aku baik-baik saja!” Luhan menjauhkan tangan
Jessica dari tubuhnya.
“Oh, untung saja… aku tahu kau adalah pria yang kuat Luhan-ah.” Jessica
tersenyum kemayu. “Ini buah-buahannya Chanyeol…” yeoja berambut cokelat ikal
itu memberikan sekeranjang buah pada Chanyeol.
“Sebenarnya tadi aku mengajak Direktur Kris kemari, tapi katanya dia
sedang sangat sibuk… jadi dia menitipkan ini.” Jessica mengeluarkan sepucuk
surat dengan amplop putih lalu memberikannya pada Luhan.
“Apa ini?” tanya Luhan sambil membuka amplop itu.
Luhan-ssi, aku sangat sedih mendengar
berita ini. Aku memutuskan untuk meliburkanmu sampai kondisimu benar-benar
sembuh. Manfaatkan waktumu untuk istirahat.
“Hum, mengapa dia tidak meneleponku atau mengirimiku pesan singkat
saja?” tanya Luhan pada Jessica.
“Memangnya apa isi surat itu?” tanya Jessica.
“Baca saja.” Luhan memberikan surat itu lagi.
Jessica mulai membaca tulisan yang tertera disana. Mata gadis itu
bergerak mengikuti setiap katanya disertai bibir yang ikut menggumam. “Um,
entahlah… dia hanya bilang bila sangat sibuk.” jelas Jessica.
Luhan memang tahu bila Kris memang seperti itu. Bisa saja apa yang
dituliskannya dalam surat sama sekali omong kosong. Pasti Kris sekarang sedang
berhura-hura atau mengadakan pesta atas kecelakaan ini. Oh, mengenaskan sekali.
“Luhan, kepalamu kenapa? Yaampun, apakah terjadi kebocoran?” Jessica
mendekati Luhan. Luhan segera memalingkan kepalanya.
“Oh, tidak! Apa yang terjadi pada hidungmu?” kini yeoja itu menangkup
pipi luhan dikedua tangannya.
“Sica-ya.. aku baik-baik saja..!” Luhan menjauhkan kedua tangan itu
untuk yang kedua kalinya.
“Luhan-ah!” teriak sebuah suara kecil.
Keempat orang itu mencari-cari asal suara dan menemukan seorang gadis
dengan rambut hitam legam yang melengkung-lengkung bergelombang, gadi itu
berkulit putih seputih salju, bibir yang merah bening, juga mata bulat. Gadis
yang tampak seperti boneka itu mengenakan dress hitam yang polos namun terlihan
sangat serasi dengan lekuk tubuhnya yang indah.
Luhan tersenyum bahagia mendapati sosok itu. “Ah Cha!...” panggil Luhan
balik seraya melebarkan senyumnya. Chanyeol melongo mengagumi kecantikan wanita
itu sampai-sampai dia hampir meneteskan liur. Suho yang sudah tahu siapa wanita
itu juga melongo tak percaya bila dia akan bertemu dengan wanita itu lagi.
Sedangkan Jessica malah memandang Ah Cha tanpa berkedip.
‘Omona~ cantik sekali gadis itu…..’ pikir Chanyeol.
‘Oh, lihatlah kaki yang putih dan indah itu….’ batin Suho.
‘Hei! Siapa dia? Sejak kapan Luhan mengenal gadis itu?!’ gumam Jessica
sambil melipat kedua tangan didepan dadanya. Dia merasa sangat cemburu.
Dengan langkah ringan Ah Cha berlari kecil mendekati Luhan dan ketiga
orang yang sedang ber WOW-ria memandanginya.
“Luhan, kau benar-benar kembali!” Ah Cha memeluk leher Luhan dan
disambut oleh tatapan heran ketiga orang itu. Tentu saja Ah Cha adalah sosok
paling cantik yang pernah mereka temui.
Luhan senang sekaligus gengsi kepada dua teman laki-lakinya. Luhan
menyeringai nakal dan berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumbar
kemesraan didepan Jessica. Luhan melirik Jessica. Wanita itu sedang menatap Ah
Cha dengan tatapan sebal sekaligus iri.
‘Jangan bilang bila wanita ini adalah kekasih Luhan! Ah!!’ batin Jessica
‘Hohoho, cantik kan yeojaku ini…’ gumam Luhan penuh kebanggaan sambil
nyengir kuda.
“Iya, Ah Cha… aku sangat merindukanmu.” ucap Luhan sambil mengelus
kepala Ah Cha –saat ini mereka masih berpelukan.
“Um, benarkah Luhan-ah?” tanya Ah Cha dengan suaranya yang kecil lembut.
“Nde.” jawab Luhan manja.
Ah Cha memegang kedua pipi Luhan dan menatap kedua mata namja itu.
Sekarang ganti Luhan yang terhipnotis akan kecantikan Ah Cha. Luhan bahkan bisa
melihat bayangan wajahnya sendiri melalui mata bulat Ah Cha. Namja itu juga
mampu merasakan kelembutan kulit yeoja ini yang yang mulus seperti kulit bayi.
“Hidung Luhan kenapa?” Ah Cha memiringkan kepalanya kekiri dengan
bingung.
Luhan tersenyum simpul. “Tidak papa… kemarin hanya terjadi pendarahan
saja.”
“U..” Ah Cha mengerutkan dahi.
‘Tidak! Oh Tuhan! Aku tidak kuat memandang muka yeoja ini. Kenapa kau
memberikan malaikat maut yang terlalu cantik untukku?’ rutuk Luhan dalam hati.
“Hei wanita genit!!” Jessica melepaskan kedua tangan Ah Cha yang tadinya
menyentuh pipi Luhan.
Ah Cha terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari wanita yang tak
dikenalnya ini. “Siapa kamu?” tanya Ah Cha tampak polos.
“Kenapa kau genit sekali dan berani menyentuh Luhan seperti itu?!”
bentak Jessica sambil melipat tangan.
“Luhan itu majikanku!! Kau siapa?! Dasar wanita genit!” Ah Cha berkacak
pinggang.
“Majikan?” gumam Jessica keheranan.
‘Oh tidak! Aku lupa memberitahu gadis ini bila aku tak mau disebut
majikan! Akan sangat ribut masalahnya bila begini!’
“Hei! Apa maksudmu?!!” timpal Jessica.
“Kau belum menjawabku! Siapa kau
wanita genit!”
“Yak!! Genit katamu?!”
“Bukankah kau juga memanggilku seperti itu!” Ah Cha mengangkat dagu.
“Hei, memang kau yang genit!”
“Suho hyung, sebenarnya siapa wanita cantik itu?” bisik Chanyeol pada
Suho. “Namanya Ah Cha…” balas Suho. “Darimana Luhan mengenalnya? Selama aku
menjadi temannya baru kali ini aku melihat Luhan punya pacar.” timpal Chanyeol.
“Ish, sembarangan! Dia bukan pacarnya Luhan!” potong Suho.
“Aku tidak genit!” cibir Ah Cha.
“Lalu apa maksudmu datang dan memeluk Luhan?!”
“HENTIKAN!” potong Luhan membuat kedua yeoja itu berhenti beradu mulut.
“Jessica, Chanyeol, Suho.. biarkan aku berbicara empat mata dengan Ah
Cha.” ucap Luhan. Ah Cha tersenyum mengejek pada Jessica dan yeoja kecil itu
balas tersenyum sinis.
“Ah Cha, bawa aku.” perintah Luhan lirih.
Ah Cha mengangguk lalu mendorong kursi majikannya menjauh dari ketiga
orang itu.
Jessica berkacak pinggang sambil memanyunkan bibir dengan sebal. Sedangkan
kedua namja dibelakangnya menatap iri pada Luhan. Bisa-bisanya namja itu
mengenal sosok yeoja secantik Ah Cha.
Ketika Jessica berbalik kedua namja itu terus menatap kepergian Ah Cha.
Jessica semakin sebal.
“Hei!! Sedang melihat apa kalian!!?” suara cempreng wanita itu
meledak-ledak. Chanyeol dan Suho
terkaget lalu tersenyum hambar kearah Jessica.
“Bubar!! Bubar!” perintah Jessica dengan suara melengkingnya.
»*»
“Ada apa Luhan-ah?” tanya Ah Cha setelah mereka sampai dibawah pohon
yang tak jauh dari kamar Luhan.
“Aku mau meminta maaf padamu.” ucap Luhan lembut.
TUBERCULOSIS
Hayu readers
lap iler dong… *sodorin handuknya ACE #digamplang Kris oppa
Bagaimana
dengan chapter yang ini? Apakah ada kekurangan? Maaf bila ada kekurangan ne,
jongmal mianhae… semoga semakin penasaran *masalahnya gue juga penasaran mau
dilanjut kaya ngapa >//<*
Ahahaha…
pokoknya
makasih buat semua yang telah membaca ini… arigato gizaimaa!! Muah… ^^

3 comments:
Kajjja lanjutt!!! Makin seru :*
^^]/
lanjut lanjuttttttt
Post a Comment