Saturday, October 26, 2013

"My Tinkerbell" [Sehun Ver]

Posted by Unknown at 8:05 PM 1 comments


“MY TINKERBELL”
 
Author : Jihan Kusuma
Cast : Lee Kyung Ra, Oh Sehun
Genre : Romance
Rating : PG-15
Legth : ONESHOOT
DESCLIMER : Lee Kyung Ra hanya OC dan Sehun seratus persen punyanya SMent ^^. FF ini khusus aku bikin buat magnae kita Oh Sehun yang mulai beranjak dewasa! \^^/. Jangan copy sembarangan, jiplak, ataupun meniru, komen sangat author butuhkan demi kelangsungan hidup readers (?).^^
Selamat Membaca FFku semuanya!!
ChenKaiD.Ot®
»©»
Hari ini adalah hari ulang tahunku. Sudah sejak tadi pagi para pembantu dirumahku sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan untuk pesta ulang tahunku yang akan diselenggarakan mala mini, pukul 8 malam.
Aku sudah bilang kepada namja chinguku, Oh Sehun untuk menghadiri pesta ini. Aku ingin menjadikannya sebagai orang pertama yang mendapat potongan kue ulang tahunku yang ke 18 tahun ini.
Kutatap bayangan diriku dicermin. Oh, lihatlah tak terasa aku sudah sebesar ini, pikirku. Padahal rasanya baru kemarin aku merayakan ulang tahun ke 12. Aku sangat bersyukur karena aku dianugerahi kedua orang tua yang begitu menyayangiku dan seorang kekasih yang selalu mengerti diriku. Tuhan, kau memang terlalu baik padaku sampai-sampai aku tidak percaya bila inilah hidupku.
‘Tok..tok…’ kudengar sebuah ketukan kecil dari pintu kamar. Lalu suara deritan pintu yang dibuka oleh seseorang. Eommaku sedang tersenyum padaku.
“Sudah siap? Sebentar lagi acara akan dimulai sayang.” kata eomma sambil menunjukkan senyum terhangatnya mala mini. Aku menoleh kearah jam dinding untuk beberapa detik. Sudah pukul 8 kurang 10 menit. Kemudian aku mengangguk dan tersenyum pada eomma. Eomma menutup pintu dan berlalu.
Sesaat kemudian aku menatap cermin lagi untuk memastikan bila aku sudah cukup sempurna untuk malam ini.
“Arraso Kyung Ra-ya… kau sudah 18 tahun mulai hari ini…” gumamku seraya tersenyum sekilas pada bayangan di cermin.
»©»
“Tiup lilinnya!...” semua tamu undangan dari kalangan teman dan kerabatku bersorak semeriah mungkin. Mereka bertepuk tangan dengan gembira. Aku sangat bingung apakah harus meniupnya sekarang. Satu hal yang membuatku bimbang. Sehun belum hadir. Aku tidak mau melewatkannya tetapi juga tak ingin mengecewakan semua tamu.
Jadi dengan terpaksa kutiup lilin-lilin yang sudah tertancap dikue tart tersebut. Sorak sorai semakin ramai dan eomma mencium keningku dengan penuh syukur. Aku membalas dengan senyum palsu dan memeluk eomma. Bukan ini yang kuharapkan, aku ingin Sehun hadir dalam acara ulang tahunku yang ke-18. Oh Tuhan, apakah dia melupakannya? Aku sangat kecewa.
“Ayo potong kuenya! Potong kuenya!...” teriakan terdengar lagi seusai semua lilin sukses padam. Bagaimanapun aku ingin semua terlaksana dengan sempurna bersama Sehun tapi…
Baiklah, aku mengalah dan mencoba tetap menikmati pesta ini.
»©»
Pesta telah usai sejak 15 menit yang lalu dan aku masih gelisah karena Sehun belum juga menunjukkan batang hidungnya. Kulihat hadiah yang sudah bertumpuk gunung diatas meja ruang tamu. Biasanya aku akan sangat bahagia dan tak sabar membukanya satu-satu, tapi sekarang rasanya beda. Bahkan aku malas membuka itu semua. Yang kuharapkan sekarang adalah kedatangannya, hanya itu!
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam dan aku mulai mengantuk. Kuputuskan untuk menuju kamar lalu tidur saja.
»©»
Sehun POV
“Argh..” umpatku sebal sambil memukul kendali mobil. Sial sekali! Kenapa juga hari ini harus ada rapat dan aku jadi tidak bisa datang ke pesta ulang tahun Kyung Ra. Oh Tuhan, semoga saja dia tidak marah…
Kulirik jam digital yang ada di mobil. Hah? Pukul 11 malam?! Baiklah, sekarang aku benar-benar terlambat bahkan mungkin pestanya sudah selesai! Sial! Sial! Sial!!
Dengan tak sabaran kutambah kecepatan mobil ini dan menginjak gas dalam-dalam. Tak lama kemudian aku sampai juga di depan rumah Kyung Ra. Penjaga rumah langsung membukakan pagar begitu tahu mobilku terparkir didepannya. Seluruh anggota keluarga Kyung Ra memang sudah benar menganal siapa aku karena hampir 3 tahun aku berpacaran dengannya.
Setelah memarkirkan mobil aku segera turun dan memencet bel rumah.
Jantungku berpacu secepat mungkin  menunggu pintu dibukakan. Bagaimanapun aku sangat takut bila Kyung Ra marah dan tak mau memaafkanku. Aku sudah kenal betul bagaimana sifat gadis itu.
Beberapa detik kemudian pintu dibuka.
“Sehun… kenapa kau baru datang?” sapa eommanya Kyung Ra.
“Eomma, maaf… aku sungguh minta maaf.. apakah Kyung Ra ada?” tanyaku seraya melirik ke dalam rumah.
“Dia tampaknya sangat marah dan mengurung diri di kamarnya, aku juga belum tahu apakah dia sudah tidur atau belum… aku sangat cemas.. dia tidak mau bicara sejak pesta berakhir..” tutur eomma dengan raut muka masam.
Oh benar! Pasti dia marah padaku!
“Eomma, bolehkah aku masuk?”
“Ne, tentu saja….” pintu dibukakan lebih lebar dan aku memasuki ruang tamunya. Kutatap setumpuk kado dengan bungkus warna-warni dan pita-pita yang memenuhi meja. bahkan mereka tampak sama sekali belum tersentuh. Bukankah Kyung Ra suka sekali hadiah? Pasti ada alasannya dia tidak mau membuka ini semua.
“Kau mau minum apa Sehun?” tanya Eomma.
“Ani, ah… bolehkah aku bertemu Kyung Ra?” tanyaku cemas sekaligus to the point.
“Tentu saja, aku harap kau bisa membuatnya kembali tersenyum…” balas eomma.
“Terimakasih eomma…” ucapku lalu segera masuk lebih dalam menuju kamar kekasihku itu.
»©»
Kubuka pintu kamar Kyung Ra dengan amat perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dia tampak sedang berbaring dengan selimut yang memenuhi tubuhnya. Oh, aku khawatir bila dia sedang menangis mengingat bila gadisku ini mudah sekali meneteskan air mata dan aku tidak suka itu. Apalagi dia menangis karena aku. Ah, Tuhan! Bunuh saja aku!
Setelah aku masuk, pintu kembali kututup.
Dengan langkah tanpa suara kudekati ranjangnya. Aku tak bisa memastikan bila gadis ini sudah tidur atau belum. Dia tidur dengan posisi miring membelakangiku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Tiba-tiba aku kehilangan akal.
Yasudah, kunaiki ranjangnya dan tidur disampingnya.
“Mau apa kau kemari?!” sebuah suara terdengar tajam menusuk pendengaranku. Yak, itu suara Kung Ra. Jadi dia belum tidur? Lalu kenapa bisa tahu bila aku yang datang.
Aku terdiam seribu bahasa bingung mau menjawab dengan cara apa.
“Kenapa kau datang Oh Sehun!!? Pulang sana!” celetuknya dengan kasar dan suara bergetar. Baiklah ternyata semua yang kukhawatirkan benar tejadi! Kyung Ra marah besar padaku!
“Kyungie, maafkan aku… mianhae…” aku mencoba untuk memeluknya tapi dengan segera dia menampik tanganku.
“Kau jahat! Aku tidak mau memaafkanmu!” ucapnya lalu menaikkan selimut sampai ke kepalanya rapat-rapat.
“Kyung Ra-ya… jongmal mianhae ne? Apakah kau sudah tidak mencintaiku?” aku mendekatinya.
“Ani, aku tidak mencintaimu!” jawabnya dengan suara teredam karena memang seluruh kepalanya sedang tersembunyi dibalik selimut. Aku tahu itu bukan yang terjadi sebenarnya. Kyung Ra pasti masih mencintaiku. Dia hanya terluka.
“Ya… maafkanlah aku… semarah itukah kau padaku?”
“Pulang sana! Ini sudah malam!”
“Aku tidak akan pulang sebelum kau memaafkanku…”
“Aku memang tidak akan memaafkanmu bodoh!” umpatnya.
‘Aish, apa yang harus kulakukan sekarang?!’ aku benar benar bingung. Aku tahu aku salah, tapi… bukankah dia yang tidak mau memaafkanku. Oh Tuhan! Tolonglah aku!
Aku membuka sedikit selimutnya akan tetapi gadis itu masih menggenggam tepi selimut dengan kuat. “Kyungie...” panggilku.
“Berhenti memanggilku seperti itu. Pulang. Aku sudah bilang sebaiknya kau pulang saja. Percuma kau ada disini. Aku tetap tidak mau memaafkanmu!”
“Aku minta maaf...” bisikku kali ini terdengar dipenuhi rasa penyesalan. “Aku salah. Aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan melupakanmu. Aku benar-benar minta maaf Kyung Ra. Aku menyesal atas apa yang telah kulakukan.” tuturku. Aku tidak mampu mengontrol air mata agar tidak menetes dan akhirnya setitik cairan bening turun melongsori pipiku.
“Kyung Ra...” panggilku lagi. Gadis itu belum juga menjawab.
Author POV
Sehun menghapus air matanya lalu memeluk Kyung Ra tanpa izin. Dia memeluk yeojanya dari belakang. Kyung Ra nyaris berjingkat dari tempatnya berbaring. Dia merasakan kehangatan dari tubuh Sehun. Dia ingin menolak karena masih marah, namun sesuatu yang entah apa itu membuatnya terus tinggal dalam posisi ini. Ini terlalu sulit untuk ditolak dan Kyung Ra menikmati saat-saat Sehun memeluknya.
“Chagi...” panggil Sehun lirih.
“M,mwo?”
“Kenapa kau tidak membentakku lagi?” tanya Sehun.
“Mwo?”
“Apakah kau yakin aku harus pergi sekarang? Meninggalkan tubuhmu yang dingin tanpa aku?” tanya namja itu lagi. Ucapan Sehun yang lembut dan cenderung kekanak-kanakan itu selalu mampu membuat hati Kyung Ra luluh. Disetiap kebersamaan mereka Kyung Ra selalu terlihat seperti kakak dari Sehun dan membimbing namja itu, padahal sebenarnya Sehunlah yang dua tahun lebih tua dari Kyung Ra.
“Kau tidak menjawab lagi... semarah itukah kau padaku? Baik, aku akan pergi.” tangan Sehun yang tadinya melingkar di pinggang Kyung Ra lepas seketika membuat si yeoja merasa kehilangan. Mata Kyung Ra melebar. Rasanya hampa dan kosong.
“Selamat tidur chagi...”
“Ani!” Kyung Ra langsung berbalik dan menahan lengan namja itu.
Sehun kaget akan reaksi tiba-tiba tersebut. Kyung Ra menggenggam lengannya terlalu erat sebelum Sehun menurunkan kaki dari ranjang. Kini mereka berhadapan dan saling memandang. Situasi ini membuat kedua orang itu terjebak dalam perasaan masing-masing.
“Jangan pulang.” ujar Kyung Ra lirih.
Sehunpun bingung. Tadi Kyung Ra membentak dan mengusir, namun sekarang? Gadis itu malah mencegahnya agar tidak pulang. “Oppa...” panggil si yeoja sambil memeluk Sehun dengan erat. Wajahnya tenggelam didada bidang Sehun. Dia terisak kecil. Kyung Ra sangat menyayangi Sehun, dia cinta dan tidak mau kehilangannya, tapi gadis itu hanya kecewa pada Sehun walaupun itu semua terjadi bukan karena disengaja. Keadaanlah yang memaksa ini semua agar terjadi.
Sehun mengusap kepala Kyung Ra dengan lembut. Namja itu hanya diam dan membiarkan gadisnya menangis disana. Biar air mata itu tumpah membasahinya karena memang itu pantas. Sehun yang bersalah disini. Dia telah menyakiti Kyung Ra bahkan dihari ulang tahun Kyung Ra sendiri.
“Mianhae... mianhae chagi.”
“Oppa... hiks... kenapa kau lakukan ini? Waeyo?” isak yeoja itu lirih.
“Mian, aku tidak menginginkan ini terjadi. Maafkan aku Kyung Ra.” Sehun merenggangkan pelukannya lalu menangkup pipi gadis itu dikedua tangannya. Mata sipit gadis itu masih berair dan pipinya basah. Dengan penuh kasih sayang Sehun mengusapnya hingga air mata itu kering.
“Oppa-“
“Mianhae...” sahut Sehun lalu mengecup kelopak mata Kyung Ra. Tak tahu kenapa bibir Sehun terasa hangat disana. Kyung Ra menjadi sedikit rileks. Dia mempererat pelukannya. Gadis itu sudah kecanduan dengan aroma Sehun yang khas. Berbau seperti cokelat dan sedikit ada madu di tubuh namjanya.
“Tidak akan kuulangi. Jangan menangis ne...” bisik Sehun terdengar menenangkan.
Kyung Ra mengangguk lemah.
Sehun meraih kepala Kyung Ra lalu menyatukan bibir mereka. Ciuman itu seolah sudah mengatakan isi hati masing-masing. Ciuman yang tulus tanpa ada nafsu setitik pun. Hanya kasih sayang. Sehun memang bukan tipe namja yang demikian –yang suka memanfaatkan yeoja. Dia selalu menghargai wanita dan enggan menyakiti hati yeoja. Seperti Kyung Ra. Gadis itu hanya keras dan cerewet diluarnya saja, akan tetapi didalam... sesungguhnya sangat perasa dan mudah menangis. Sama seperti telur yang keras dibagian cangkang dan lunak dibagian dalam.
“Selamat ulang tahun.” ujar Sehun lirih sembari tersenyum samar.
Kyung Ra membalas senyuma itu dengan lengkungan manis dari bibir tipisnya. “Gomawo. Saranghae.” kini ganti yeoja itu yang melahap bibir Sehun dan mengulumnya sebentar.
“Kau harus tidur sekarang. Aku akan pulang. Aku tidak ingin mengganggu.”
“Ani, kau harus menginap malam ini... itu hukuman karena telah membuatku menangis.”
Sehun tertawa. Suasana sudah kembali hangat seperti semula. Namja itu mengacak poni Kyung Ra dengan gemas. “Kau bisa berikan hukuman lain padaku, tapi untuk sekarang... izinkan aku pulang dan membiarkanmu istirahat.”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi.” gadis itu menggenggam erat kemeja yang Sehun kenakan sehingga kusut. “Tidurlah disini.”
Sehun kembali tertawa. Kali ini tawa itu terdengar begitu jenaka. Bila menginginkan sesuatu Kyung Ra selalu memaksa dan keras kepala, namun justru itulah titik yang paling Sehun sukai. Melihat gadisnya merajuk selalu memberi kesenangan tesendiri.
Kyung Ra melirik Sehun dengan pipi menggembung lucu. Dan jujur saja itu membuat Sehun ingin menelan yeoja itu bulat-bulat. “Baiklah, baiklah, kau menang... aku aka tidur disini.”
“Ne? Benarkah?” senyuman lebar menghiasi bibir Kyung Ra.
“Ne chagi....” balas Sehun dengan senyum yang serupa.
“Saranghae Sehun...”

TAMAT
Selesaiiiii... hoyeee!!! ^^
Gimana dengan seri yang ini? Engga kalah sweet sama versi Luhan kan? kkkkk~
Semoga reders suka yaa.... pamit! Pai paiii ^^]/
 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei