Thursday, October 17, 2013

10 Days To The Death Line [Chap.5]

Posted by Unknown at 5:52 AM
10 DAYS TO THE DEATH LINE

CHAP 5
Author : Jihan Kusuma
Cast : Luhan, Shin Ah Cha, and the others support cast^^
Genre : Romance, family, friendship, fantasy
Leght : Chapters
DESCLIMER : Welcome di chap 5! Langsung baca aja yah. Baca dengan tempo yang lambat dan dirasakan baik-baik chingu. ^^ gomawo.

ChenKaiD.Ot-
Cerita sebelumnya :
“Ah Cha, aku mohon kali ini saja, menurutlah padaku… aku ingin kau diam, kalau tidak.. kau tidak akan mendapat ikan lagi dariku..” bisik Luhan dan hanya mendapat balasan anggukan polos dari Ah Cha.
“Ting..tung..”
Luhan segera mengunci pintu lemari dan berlari cepat menuju ruang tamu.

CHAP 5 is beginning 

Seseorang didepan pintu itu mengetukkan kakinya sambil melihat arloji emas berlapiskan berlian yang melingkar anggun di pergelangan tangan keriputnya. Giginya menggertak sebal karena terlalu lama menunggu. Sudah lebih dari tiga kali dia membunyikan bel namun tidak mendapat respons dari pemilik apartement ini.
“Argh… Luhan..!!!” emosinya yang sudah merambat sampai keubun-ubun membuatnya langsung meledak dan mengetuk pintu kayu itu.
“Iya! Halmoni!” sosok namja manis dengan rambut kecoklatan dan babyface muncul seusai membukakan pintu. Luhan tersenyum seriang mungkin didepan neneknya ini –meski sejujurnya senyum itu amat sangat dipaksakan. Bagaimanapun Luhan benci saat-saat orang tua atau keluarganya datang menjenguk. Dia suka sendiri dan ingin mandiri.
“Hmm…h…” wanita bernama lengkap Xi Yun Yi itu menggeleng perlahan sambil menghembuskan nafasnya yang terasa panas sekali bagai uap teh China.
Wanita paruh baya itu tak segan-segan menjewer telinga cucunya yang bandel dengan tarikan yang kuat.
“Aduh..aduh! Nenek, nenek! Sakit..sakit!” rintih Luhan sambil memiringkan kepalanya berusaha agar tarikan itu tidak terlalu parah tapi tetap saja. Nenek luhan bukan orang yang penuh kasih sayang dan pemaaf. Wanita tua itu lebih mirip seorang guru fisika dengan kamata kecil dan alis tebal yang terangkat –yang akan selalu memukul muridnya bila tidak mengerjakan perkerjaan rumah atau terlambat. Parah sekali. Mungkin ini salah satu alasan Luhan ingin jauh dari orang tua dan keluarganya.
Beberapa detik kemudian sang nenek melepaskan telinga cucunya yang sudah memerah itu. Luhan segera mengelus telinganya yang terasa memanjang karena terlalu kuat ditarik. Luhan masih merintih kecil.
Lalu dia memandang neneknya yang killer itu dengan tatapan takut. Sudah besarpun dia tetap diperlakukan seperti seorang bocah yang masih ingusan. Hum, keterlaluan.
Sang nenek hanya mengerucutkan bibir tebalnya. “Beginikah caramu menyambut kedatangan nenekmu yang jauh-jauh datang dari China hum?” tanya nenek Yun.
“Mianhae halmoni… minhae.” Luhan menunduk dengan patuhnya seperti seekor anjing yang tertangkap basah kabur dari rumah majikannya sendiri.
Nenek Yun langsung melangkah memasuki apartement cucunya itu dengan langkah bangsawan era 70-an. Luhan memang berasal dari China dan dilahirkan dikeluarga yang baik-baik dan terdidik. Itu juga salah dua mengapa dia ingin kabur dari China. Luhan benci peraturan yang ketat dan kehidupan glamour yang bermewah-mewahan.
Tanpa dipersilahkan dahulu sang nenek dengan santainya menaruh pantat besarnya diatas sofa merah yang ada diruang tamu. Lalu wanita itu meletakkan tasnya yang berlapiskan payet-payet warna silver diatas meja. Warna payet itu serasi dengan sepatu highheels yang juga dia kenakan. Sangat sesuai dengan imagenya yang awet muda dan babyface –karena itulah Luhan juga memiliki muka cute yang babyface.
Luhan menutup pintu dengan perlahan berusaha agar tidak menimbulkan suara sekecilpun lalu melahkah dan duduk didepan neneknya.
Nenek Yun masih tampak sebal.
“Um, nenek… maafkan Luhan.” ucap Luhan lagi.
Sang nenek memalingkan muka dengan angkuh. “Perlu kau ketahui cucuku, aku kemari karena ingin melihat keadaanmu. Kau belum baca ini?” Nenek Yun menaruh sebuah koran diatas meja ruang tamu. Disana tertera ‘Kecelakaan menghebohkan di pusat Seoul tengah malam’, Oh, bahkan Luhan belum tahu bila hal itu sampai diberitakan dalam surat kabar harian Seoul.
“Ne, halmoni…” balas Luhan seadanya dengan nada yang berusaha agar tidak terlalu keras dari sang nenek tercinta.
“Apakah kepalamu itu mengalami kebocoran yang serius?” nenek Luhan memandang balutan perban yang melingkar tebal dikepala cucunya.
“Um, aniyeo… hanya luka kecil tidak sampai bocor.” Luhan meraba perbannya sambil tersenyum hambar.
“O,..” sang nenek bernafas sejenak menikmati dinginnya AC di ruang tamu itu. “Aku haus, bisa buatkan teh hangat atau semacamnya…” ujarnya terdengar memerintah.
“Tentu saja nenek.” Luhan yang merasa sangat canggung segera menuju dapur dan menjalankan perintah neneknya.
Sang nenek setia menunggu sambil mengangkat kaki dan melihat-lihat sekitar.
»*»
Luhan berkutik di dapur dengan kebingungan. Dia sama sekali tidak tahu teh seperti apa yang sesuai dengan selera neneknya.
‘Hm, apa ya? Apakah gulanya sudah cukup?.... Ah bagaimana jika ini ternyata terlalu panas atau terlalu hangat? Akh…” dia menjambak rambutnya dengan frustasi. Dengan sangat hati-hati Luhan menuangkan gula kedalam cangkir secukupnya lalu diikuti dengan sari teh yang tadi sudah dia saring.
“Um, sekarang apa?” gumamnya.
‘Oh ya! Air!’
Kemudian namja itu menuangkan air panas sampai sebatas setengah dari cangkir. Seusainya dia menuangkan air putih didalamnya. Luhan mengaduk teh itu dan tersenyum senang.
“Hihihi, sudah selesai!” dia menggosokkan kedua tangannya sambil memandangi hasil karyanya itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada piring makan milik Ah Cha yang masih tergeletak diatas meja dengan berantakan.
“Aish, bisa gawat bila nenek tahu! Sebaiknya kubereskan ini dulu…” batinnya.
Disisi lain…
Sang nenek mulai merasa bosan dan mengipaskan tangannya pertanda dia sedang kegerahan. Nenek Yun mulai penasaran dengan apa saja yang ada didalam apartemen cucunya ini. Tanpa sepengetahuan Luhan nenek Yun masuk kedalam kamar cucunya untuk memeriksa kondisi kamarnya.
‘Klek…’ pintu dibuka dan sang nenek masuk. Untung saja pada saat itu kamar Luhan bersih karena dia baru saja pulang dari  rumah sakit dan belum sempat mengotori tempat tidurnya. Nenek Yun melihat-lihat lukisan dan berbagai foto yang terpajang didinding kamar Luhan lalu tangannya bergerak meraba sebuah foto yang disana terdapat gambar Luhan bersama kedua orang tuanya.
“Hum, debu…” ucapnya lirih sambil mengusap foto itu pelan-pelan.
Disisi kedua…
Lemari Luhan sangat bau dan bannyak debu. Tentu saja karena pemiliknya yang terlalu malas sampai tidak pernah membersihkan isi lemarinya. Kini Ah Cha sedikit bingung mengapa baju-baju Luhan tetap bersih meski disimpan ditempat yang ternyata seperti gudang kotoran ini. Berulang kali Ah Cha menahan bersin dan batuk karena telah menghirup debu.
‘Oh, aku harus kuat! Aku harus kuat!’
Tapi sekarang dirasakannya ada debu tebal yang tersangkut ditenggorokannya dan membuat Ah Cha tak tahan.
Dan
“HATCYUUU…”
Disisi Pertama…
‘Akhirnya beres juga!’ gumam Luhan sambil menggosokkan kedua tangannya . Sekarang tugasnya hanya mengantarkan teh itu kepada sang nenek tercinta. Dia keluar dari dapur dengan sebuah nampan kecil ditangan. Tetapi,
‘Heh? Dimana si tua bangka itu?...’ pikirnya kebingungan sambil menamati ruang tamu dari sisi ke sisi.
“Ya TUHAN!!” pekiknya ketika malihat pintu kamar yang terbuka.
Disisi Ketiga…
“Brakk…!” tiba-tiba sesuatu terdengar berisik dari dalam lemari pakaian dan hal itu membuat Nenek Yun memalingkan muka kearahnya.
‘Hm, suara apa itu tadi?’ pikirnya sambil mengerutkan dahi dengan curiga. Tanpa pikir panjang si nenek mendekati lemari dan mengetuk pintu lemari.
“Chiin….brukkk!” sesuatu terdengar lagi dan kali ini lebih keras.
Rasa penasaran kian membesar di benak Nenek Yun dan dengan gerakan cepat dia membuka pintu lemari itu.
»*»
“Tidaak!” jerit Luhan sambil membelalakkan matana lebar-lebar –ketika neneknya membuka pintu lemarinya.
Nenek Yunpun juga tampak sangat shock melihat apa yang ada didalam lewari cucunya. Mereka berdua sama-sama terkejut sampai seolah-olah waktu berhenti untuk turut menyaksikan peristiwa konyol ini.
Mulut Luhan terbuka lebar –masih untung dia tidak menjatuhkan nampan berisi secangkir teh yang dia bawa. Masih baik Luhan tidak terkena serangan struk mendadak lalu mati ditempat. Tetapi nyaris saja….
“Miaaauu…” ucap seekor kucing hitam yang langsung melompat keluar dari lemari begitu sang nenek membuka pintu.
Nenek Yun berbalik lalu menatap cucunya tajam. “Luhan, sejak kapan kau memelihara kucing?” tanya sang nenek sambil memincingkan alisnya.
Darah yang tadinya mengalir deras kekaki kini rasanya beku didalam tubuh Luhan. Demi Tuhan, dia tidak tahu masalah kucing hitam itu. Lalu dimana Ah Cha? pikirnya.
“Luhan-ah?” tanya neneknya sambil memiringkan kepala.
“Ah, eum, sejak… sejak…. ah, belum lama…um, Chanyeol yang memberikannya padaku nek…hehehe…” Luhan nyengir kuda.
“Hm, bukannya kau tidak suka kucing. Kenapa kau mau menerimanya?” tanya sang nenek lagi.
“…Um, sebenarnya aku kasihan sekali pada kucing itu nek… yah, dia kan hewan yang lucu dan menggemaskan..” berbagai alasan yang terbesit dalam pikirannya langsung terlontar keluar begitu saja.
“Lucu.. dan menggemaskan..” gumam Nenek Yun terdengar lebih pada dirinya sendiri.
“Ah, ne! Nenek sebaiknya kita mengobrol di ruang tamu… ini tehnya.” ujar sang cucu dengan senyum palsu ala 24 karat.
Lalu mereka mengobrol diruang tamu lagi.
“Jadi bagaimana hubungan kerjamu dengan Kris?” tanya Nenek Yun sambil mengangkat cangkir lalu menyesap teh buatan Luhan.
“Kami, yah… baik-baik. Layaknya seorang atasan dengan keretarisnya.” jawab Luhan sambil menggaruk tengkuknya kikuk. Untung saja nenek tidak memprotes masalah rasa teh buatannya.
“Janganlah begitu… keluarga kita dengan keluarga Kris itu sudah seperti saudara sejak lama. Seharusnya kau semakin ramah padanya. Sekali-kali ajaklah orang itu makan siang bersama… kalian kan satu kantor.”
Luhan kepayahan menghirup udara usai mendengar saran neneknya yang yang lebih mirip aksi bunuh diri tersebut. Hal itu terdengar jauh lebih horror dari film perang tahun 80an dibanding acara perdamaian. ‘Sebenarnya apa maksud si tua ini?’ batin Luhan.
Nenek Yun kembali meletakkan cangkir diatas meja. “Hm, teh buatanmu enak…” cetusnya lembut.
‘Apa? Apa yang baru saja dia katakan? Enak?... Ah Tuhan terimakasih…’ batin Luhan lagi kali ini terdengar sangat bangga.
“Luhan!” bentak neneknya karena cucunya yang paling bandel itu terus saja melamun. “Ne,…nenek.” balas Luhan cepat.
“Aku harap kau laksanakan perintah nenekmu ini untuk mengajak Kris berteman dekat. Bukankah lebih baik bila atasanmu sendiri akrab denganmu…” ulangnya.
Ekspresi Luhan mendadak down seketika. Namja itu mencerna kata-kata neneknya lagi. ‘Apakah aku harus mengangguk dan berbohong?’ pikirnya.
“Ne nenek, akan kuusahakan.” balas Luhan layaknya seorang cucu yang patuh. Sebenarnya dia tak mau dicap sebagai seseorang yang pembohong apalagi pada neneknya. But, masalahnya Nenek Yun merupakan seseorang yang gemar sekali memaksa orang.
Untuk sesaat Luhan teringat sesuatu. ‘Ah Cha.’ pekiknya dalam hati. Luhan langsung menengok pintu kamar yang terbuka dan sedikit memanjangkan leher demi melihat apakah gadis itu masih didalam kamarnya. Tetapi, kucing hitam tadi tiba-tiba muncul dan melompat naik keatas paha Luhan. Sontak Luhan hampir terkena serangan jantung dan pingsan, selama ini dia belum pernah memiliki seekor kucing sebegai peliharaan.
Kucing itu bergelayut dan menyandarkan kepala didada bidang Luhan dan menggosokkan pipinya dengan manja. Namja itu bergidik dan sedikit merasa geli pada kucing, namun dia terlalu gengsi dan tak mau dipandang aneh oleh neneknya karena telah geli pada kucing sendiri.
Luhan mencoba tersenyum lalu mengelus tubuh si kucing hitam berusaha terlihat sebiasa mungkin. Kucing tersebut mendongak menatap wajah Luhan dan Luhanpun juga tengah memandangnya.
‘Oh tidak!!’ pekik namja itu dalam hati ketika melihat kedua bola mata hijau si kucing yang berkilat dan bening. Lidah Luhan kelu seketika dan jantungnya berdentum tak karuan. ‘Jangn bilang kalau dia…’ batin Luhan sambil terpana.
Si kucing mengedipkan kedua matanya seolah menjawab pertanyaan yang muncul dibenak majikannya itu.
“Ting..ting..ting…” sebuah suara memecahkan insiden saling memandang tersebut. Luhan langsung tersadar dan menoleh kesumber suara yang ternyata dari ponsel milik neneknya. Nenek Yun tampak sedang membuka kunci ponsel mahal miliknya dan membaca pesan.
“Ah, sepertinya aku sudah ditunggu dibawah… aku ada janjian dengan nenek Kris setelah ini.” ucap sang nenek sambil bangkit dari duduk.
“Um, ne… terimakasih atas kunjungan nenek…” Luhan ikut berdiri dan menggendong kucing barunya dengan kedua lengan.
Nenek Yun membuka pintu lalu berbalik menatap cucunya. “jagalah kesehatanmu Luhan, jangan bekerja terlalu keras… rawat dirimu baik-baik.” pesannya. Luhan mengangguk dan tersenyum kecil pada neneknya.
“Hati-hati dijalan nek…” tambahnya.
Dan tamu tak diundang itu akhirnya pulang juga.
Luhan menutup pintu ruang tamu lagi. Dia masih belum percaya akan apa yang terjadi dihari ini. Ah Cha, dia tidak tahu bila gadis itu memiliki kemampuan menyamar menjadi hewan. Luhan menunduk untuk menatap wajah kucing hitamnya.
“Kau kah itu?” tanya Luhan tampak seperti orangg gila yang bicara pada seekor kucing. Tapi benar saja, cahaya putih langsung terpancar menyilaukan dari bulu-bulu hitam si kucing. Dan itu membuat Luhan menutup matanya karena silau. Sedetik kemudian,  kucing tadi terasa lebih berat ditangannya dan membuat Luhan mengeluarkan tenaga lebih demi keseimbangannya.
Lalu diikuti kedua tangan yang terasa sangat lembut bagai kulit bayi melingkar dileher Luhan. Luhan kembali membuka mata dan mengerjap berulang-ulang.
‘Apakah yang kulihat tadi benar-benar sihir?’ pikirnya.
Sekarang tidak ada kucing, yang ada hanya tatapan ceria dari wajah imut Ah Cha. Mata Luhan membulat seketika dan nyaris menjatuhkan tubuh si malaikat itu.
Senyuman Ah Cha tampak di bibir cherrynya menyambut tatapan kagum dari Luhan.
“Luhan-ah…” panggilnya dengan suara manis.
Bahkan sampai sekarang Luhan belum berkedip atas peristiwa aneh barusan. “Ta..tapi, bagaimana bisa?”
Ah Cha malah tertawa kecil mendapati wajah polos sang majikan.
“Hei, mengapa kau malah tertawa? Tidak tahukah dirimu bila aku sangat khawatir padamu!! Aish…” sembur Luhan.
“Hahaha… Luhan-ah, turunkan aku…” pinta Ah Cha.
Baik, saking terkejutnya Luhan sampai lupa akan beban tubuh Ah Cha yang lumayan berat. Dengan muka cengo, Luhan perlahan menurunkan tubuh malaikatnya. Ah Cha masih tersenyum dengan riangnya, dia terlalu bahagia karena sekarang Luhan tahu wujud aslinya yang seperti apa. Yap, Ah Cha sesungguhnya hanya seekor kucing hitam.
Namja itu memandang Ah Cha keheranan, lalu dia melipat kedua tangannya didepan dada. “Ceritakan padaku atas penyamaran itu Ah Cha, kau benar-benar membuatku nyaris kehilangan akal sehatku. Semenjak aku mengenalmu begitu banyak hal tak wajar yang semakin melenceng dari kenyataan… sesungguhnya, ini apa?”
Ah Cha menggigit bibir bawahnya sambil memutar bola mata. ‘Haruskan aku menceritakan ini pada Luhan?’ Pikirnya. “Kau benar-benar ingin mengetahuinya?” tanya Ah Cha.
Luhan berkacak pinggang dan menatap Ah Cha nanar. “Katakan kepada majikanmu… dan je-las-kan!”
Ah Cha menggigit kuku-kuku jarinya dengan bimbang. Dia ingin menceritakan ini semua, tapi sesungguhnya dia juga masih mau menyimpan ini sendirian. “Um, ba..baiklah…”
Ah Cha mulai membuka mulut. “Sebenarnya aku ini hanya seekor kucing yang mati secara tidak wajar. Sebuah truk gandum telah melindasku. Jadi, sesuai perjanjian lagit… Tuhan akan menjadikan binatang yang mati secara tidak layak sebagai malaikat. Dan, beginilah… kurasa aku kucing yang beruntung bisa menjadi malaikat mautmu…”
Nafas Luhan tercekat. Dadanya seperti barusaja dihantam beban berkilo-kilo. Sekali lagi dia hampir terkena struk karena mendengar penjelasan gila ini. Bahkan dia tidak tahu bila Tuhan memiliki perjanjian langit… itu sama sekali tidak dibahas di Bibel dan Alkitab manapun. ‘Apakah gadis ini bicara ngelantur?...’
“Pe-perjanjian langit?!” ulang Luhan.
“Ne” Ah Cha mengangguk seperti anak kecil dengan mata hijaunya yang berkedip indah.
“Jadi, karena ini kau menghabiskan sardenku? Lalu, masalah roti rasa ikan di tempat Suho itu…, jadi karena kau memang seekor kucing?!”
“Hi hi hi…” Ah Cha meringis sambil nyengir anggun.
‘Oh Tuhan, semembingungkan inikah dunia?!’
»*»
(Day Four)

Sang penguasa pagi sudah terbit sejak 30 menit yang lalu. Kini Luhan sedang membenarkan dasinya didepan cermin. Kepalanya yang kemarin terbalut perban kini sudah tidak –meskipun masih ada luka kecil yang tampak disana. Beginilah namja ini, terlalu berkharisma sampai-sampai enggan menutupi lukanya.
Seorang gadis lain tampak duduk di tepi ranjang sambil memandangi namja itu dengan tatapan polosnya. Sesekali kepalanya miring ke kanan dan kekiri mengamati apa yang majikannya lakukan.
Luhan mulai merasa terganggu dengan tatapan watados alias wajah tanpa dosa milik Ah Cha. Tentu saja risih, sejak tadi Ah Cha tak berhenti memandanginya.
“Hei! Kenapa kau ini? Mandi sana.” celetuk Luhan memerintah sambil memandang Ah Cha.
Air muka gadis itu langsung berubah merah padam. “Mandi?...” tanyanya lirih.
“Tentu saja! Bukankah kau belum mandi?”
“Mandi? Pakai air?...” tanya yeoja itu lagi.
“Yak, pakai air tentunya… kau tinggal nyalakan keran.”
Ah Cha bergidik dan tiba-tiba bulu kuduknya meremang hebat. ‘Mandi katanya? Aku disuruh mandi?!’ selama dia menjadi kucing, Ah Cha selalu menghindari sama yang namanya air. Dan sekarang? dia malah disuruh mandi?!
“Aku tidak mau mandi!” Ah Cha memanyunkan bibirnya.
Luhan bingung mendengar jawaban gadis ini. ‘Oh iya.. dia kan kucing… pantas saja takut air.’ pikir Luhan. Tapi kini dia mencoba tegas pada gadis ini. Dia tidak mau apartemennya bau karena Ah Cha yang tidak mau mandi. Setidaknya Luhan itu memang namja yang cinta pada kebersihan –meskipun tidak pernah membersihakan lemarinya -___-.
“Mandi sana! Tidak akan terjadi apa-apa. Aku tidak mau kau menjadi kotoran disini.”
“Aku tidak mau!!” jerit Ah Cha nyaring.
“Apa perlu aku memandikanmu hah? Mandi sana sebelum aku yang bergerak…”
“Aku tidak mau! Tidak mau!! Ti-dak-ma-uu!”
“Satu…” hitung Luhan sambil mengangkat telunjuknya dan memutar bola mata dengan bosan.
“Tidak akan!” Ah Cha memanyunkan bibir sambil melipat tangan.
“Dua…,” Luhan mengangkat sebelah alisnya.
“Aku bilang tidak!” gadis itu kini memajukan bibir dengan sebal.
Luhan menyeringai lebar berniat untuk mengerjai bocah ini. “Ti…,”
“Drrt…drtt….” sebelum hitungan ketiga selesai ponsel Luhan bergetar. Dengan terburu Luhan mengangkat telepon dari Chanyeol.
“Yoboseo?”
“Luhan… apakah kau akan masuk pagi ini?”
“Nde, waeyo?”
“Sepertinya akan diadakan rapat mendadak tentang produk baru. Entah mengapa hari ini Kris datang lebih awal. Ah, sebaiknya kau cepat kemari. Oh ya, bagaimana dengan luka dikepalamu?”
“Um, gwenchana… aku sudah tidak memakai perban itu. Itu memalukan…”
“Baiklah, cepat kemari ne? Aku menunggumu… muahh…”
“Tut…tut…tut…” telepon diputus begitu saja dengan diakhiri oleh kecupan jorok dari Chanyeol. “Aish… dasar!” decih Luhan sembari memandangi layar ponselnya.
“Dari Chanyeol? Sebaiknya kau menuruti apa katanya… berangkat sana! Ayo pergilah!...” Ah Cha mengibaskan tangan seperti seorang ibu-ibu.
Luhan langsung bertolak pinggang dan menatap gadis itu jengkel. “Hei, mungkin ini keberuntunganmu kucing… besok pasti kau sudah berakhir basah didasar bak mandi! Lalu… apakah kau sedang mengusirku hm?”
Ah Cha mengernyit sambil bangun dari duduknya. Dengan tatapan mautnya, gadis ini melangkah sedikit demi sedikit mendekati sang majikan. “Ne! Aku mengusirmu! Sana kerja! Pergilah… aku mau membersihkan kamar dan lemarimu yang seperti sarang vampir ini!...”
Mendengar ucapan Ah Cha barusan Luhan semakin jengkel dan mengeratkan gigi. “Yak, apa katamu?! Sarang vampir!?” Luhan melotot tajam.
“Ne, tersinggung? Sudah, bukankah kau sedang ditunggu? Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu. Kalau iya pasti sekarang mukamu yang kecil itu sudah kucakar-cakar habis. Sana!” Ah Cha memanjangkan tangan menunjuk pintu keluar.
‘Aish… dia ini benar-benar sepeti anak kecil…’ pikir Luhan.
Sambil terus melotot geram pada Ah Cha, Luhan meraih tasnya dan berjalan meninggalkan gadis itu dengan patuh. ‘Huh! Lihat saja! Kusiran pakai air pasti sudah ketakutan!’
“Brak” pintu ditutup kasar.
“Hahaha..ha..ha..ha…” entah mengapa Ah Cha malah tertawa riang setelah berhasil memaki-maki majikannya sendiri.
»*»
“..Produk kali ini dijamin akan laris dipasaran. Selain modelnya yang simple namun terkesan mewah, bahan dari katun dan renda sintetis dapat membuat si pemakai merasa nyaman. Dan… dibagian kiri dan kanannya diberi saku kecil yang bisa menambah sentuhan casual, jadi pengguna bisa bebas memadupadankan dengan hotpants atau celana jeans.” Kris menunjukkan data presentasinya yang telah diputar melalui LCD dengan tongkat. Di layarnya terpampang sebuah sketsa baju wanita dengan bentuk mini dress yang mungkin lebih mirip atasan dengan tanpa lengan dan saku. Semua hadirin rapat dengan fokusnya menyimak segala sesuatu yang Kris utarakan. Begitu juga Luhan yang bersandar santai di kursi sambil menautkan jemarinya dengan penuh kharisma.
“Dan… mungkin kita akan memproduksi produk ini dengan tiga warna. Yaitu cokelat yang bisa dikonsumsi para pekerja kantor. Lalu warna pink muda rosemary yang sedang popular dikalangan ulzzang pasti akan menarik perhatian para remaja dan pelajar sekolah menengah. Dan yang satunya warna merah agar menunjukkan kesan elegant dari produk ini.”
Tidak tahu kenapa tiba-tiba bayangan seorang gadis muncul dibenak Luhan. Kini dia sedang membayangkan seseorang dengan kulit seputih salju di pertengahan musim dingin dengan rambut hitam legam panjang yang terurai bebas dibelakang punggung. Bahu gadis itu rata dan tulangna terlihat tegas. Bibirnya merah merona menunjukkan kilatan bening yang membuatnya semakin manis… kemudian sepasang mata hijau…
‘Yay!! Apa yang kupikirkan! Sepasang mata hijau?..!’
Luhan hampir tersentak dan untung saja itu tidak terjadi. Kalau iya bisa-bisa semua hadirin rapat akan menganggapnya aneh dan membuat Kris tersenyum setan.
Tapi tunggu, kenapa dia bisa begini? Ah Cha. Mengapa harus gadis aneh itu yang melintasi kepalanya. Padahal sebelumnya Luhan hanya membayangkan bagaimana kriteria model yang akan mengenakan pakaian itu untuk promosi. Luhan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau memang Ah Cha yang harus berlenggak-lenggok didepan kamera dan bergaya layaknya model professional. ‘Aish… tidak mungkin!’ Luhan menggeleng cepat.
“Oh ya, karean model pakaian ini yang simple… pengguna bisa bebas menambahkan aksesoris apapun. Mungkin bros atau rompi. Bisa juga dengan kalung warna warni bila ingin tampil fresh…” Kris tersenyum sambil menaruh tongkatnya diatas meja.
“Adakah usul lain? Atau ingin menambahkan sesuatu?”
Jessica mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Ne, silahkan nona Jung…”
“Um, menurutku kita bisa menambahkan bahan baru untuk produk ini. Sebaiknya kita juga memproduksi dengan bahan jeans. Dengan bahan jeans akan laris karena sesuai dengan musim saat ini. Bukankah sebentar lagi akan liburan musim panas, kita bisa mengorek untung lebih banyak lagi…” ujar Jessica sopan.
“Mungkin ada usul lainnya?”
Seseorang kembali mengangkat tangan.
“Ne, Tuan Park…”
“Baik, saya setuju dengan usulan nona Jung. Dengan bahan jeans akan sangat serasi bila digabungkan dengan sepatu tenis atau celana pendek. Itu cocok untuk pakaian ketika liburan. Pengguna bisa menambahkan belt atau pita besar… remaja kini akan sangat tertarik.”
Senyuman langsung tersungging dengan manisnya dibibir Jessica. Usulannya memang selalu menarik karena memang dia seorang yeoja.
“Kalau begitu, kita bisa tambahkan itu ke daftar. Lalu bagaimana dengan pendapatmu Tuan Lu?” Kris menoleh kearah Luhan.
Sontak namja bermarga Lu itu langsung membuyarkan lamunan gilanya tentang Ah Cha.
“Menurutku…. ya itu usulan yang menarik dari nona Jung. Bahan jeans sangat cocok di musim panas. Saya mensetujui itu juga…” jawab Luhan seadanya namun tetap dengan professional.
“Mungkin, sekarang kita butuh seseorang untuk pemasaran…” tiba-tiba kalimat itu lepas dari bibir Luhan. Kini yang ada dalam kepalanya hanya si kucing hitam itu.
“Maksud Tuan?” tanya Kris sambil memincingkan alis.
Luhan nyaris saja gagap dan bingung mau mengeluarkan jawaban macam apa. tadi dia tak sengaja kelepasan. “A, maksud saya… poster, sebuah poster atau sponsor produk baru khusus untuk musim panas. Kita membutuhkan seorang model.” terang Luhan tanpa tedeng aling-aling langsung to the point.
Hadirin disana berpandangan satu sama lain untuk sesaat. Begitu juga Kris yang tempak merenungkan usulan Luhan.
Dan selanjutnya semua peserta rapat tersenyum sambil mengangguk setuju. Luhan langsung tersenyum bangga atas dirinya sendiri.
“Ne, itu ide yang bagus…”
“Yap! Aku rasa benar apa kata tuan Lu…”
“Memang seharusnya begitu bukan…”
Satu-persatu para hadirin membalas usulan Luhan.
“Hum, baik jika itu memang diperlukan. Memang pakaian musim panas patut untuk disponsorkan. Kurasa biaya kita masih mencukupi untuk model dan iklan. Usulan cemerlang Tuan Luhan.” tutur Kris datar.
Semua yang menghadiri rapat dipagi itu bertepuk tangan bangga untuk Luhan. Sebuah senyuman tampan langsung terpasang indah di bibir tipis Luhan. Kini yang ada dipikirannya adalah apakah dia bisa mencalonkan Ah Cha sebagai model untuk produk ini…dan apakah Ah Cha mau menerima tawarannya…
“Kalau begitu, rapat untuk sementara kita akhiri. Terimakasih untuk kerja samanya…”
Semuanya bangkit dari duduk dan menjabat tangan satu-sama lain. Kemudian mereka keluar dari ruangan rapat. Dan ketika Luhan akan melintasi pintu keluar…
“Tuhan Luhan… usulan yang cemerlang.” ujar Kris sembari melangkah mendekati Luhan.
Dengan gentlenya Luhan melempar senyum pada atasannya itu. “Ahm, terimakasih Tuan Wu…”
“Um, bagaimana jika kau yang mencarikan model sponsor produk baru ini. Kurasa kau akan senang melakukannya.” Kris memincingkan alis.
Sesuatu yang dingin seperti baru saja meledak dalam dada Luhan. Dia sama sekali tidak menyangka bila Kris dengan senang hati akan memberi tawaran seperti ini.
“Saya? Yang mencari modelnya?” ulang Luhan.
Kris tertawa kecil lalu meremas pundak kecil sekretarisnya tersebut. “Ne, saya rasa Tuan Luhan merupakan seseorang yang pandai memilih. Saya berikan kepercayaan ini kepada Anda Tuan Lu…”
Entah mengapa rasanya aneh mendengar ucapan Kris yang terlalu formal ini. Luhan bahkan tidak tahu ada apa dibalik ini semua. Apa maksud Kris memberikan kepercayaan padanya untuk memilih model. Pasti ada apa-apa dibalik kilatan mata indah Kris itu. Namun sekarang keadaannya berbeda, Luhan telah menemukan siapa calon itu bahkan sebelum rapat ini berlangsung.
Luhan melirik tangan Kris yang masih menempel di atas bahunya. Lalu dia menarik sebelah bibirnya untuk tersenyum. “Terimakasih… saya akan berusaha melakukan yang terbaik.”
Dan kedua musuh dalam selimut itu saling melemparkan senyuman –dengan maksud masing-masing.
»*»
To be continued…
Bagaimana? Bagaimana? Ini termasuk chap ter-panjang yg aku share. Mohon komentari ff ini ya buat yg udah baca ^-^ maunya komen tentang reaksi kalian tentang baca chap ini dan sedikit basa-basi lah, biar author makin semangatt.. gomawo before^^]/

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei