Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog
Desclimer : Its just a fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
chap 7
“Kreskk…. kreskk….” terdengar sebuah suara dalam kegelapan loteng. “Blam…” petir untuk yang kesekian kalinya ikut meramaikan suasana. Keempat namja yang masih berdiri ditempat itu terdiam sejenak dan menajamkan indera mereka.
“Kressk….” kali ini suara itu terdengar seperti seseorang yang sedang mengaduk sebuah laci yang penuh dengan barang-barang.
Bulu kuduk Chen meremang hebat. Detak jantung Tao terdengar seperti orang yang baru saja berlari. Sedangkan Lay dan Xiumin gemetar sembari menebarkan pandangan kesekitar. Bau tidak enak tercium semakin tajam.
“Itu suara apa?” bisik Tao.
“Aku tidak tahu. Halo, apakah ada orang disitu?” tanya Lay.
“Hisk…hisk…” terdengar isakan anak perempuan disekitar mereka.
“Mina? Kaukah itu?” tanya Xiumin dengan gugup.
“Isk… hiks….” tangisan itu terdengar semakin dekat. Dan tidak lama kemudian seorang anak kecil dengan dress bunga bunga dan rambut panjang tampak menutupi wajah dengan kedua tangan. Bahu anak itu naik turun karena terisak dalam. Sontak keempat namja tadi kaget dan sempat tak yakin. Dari mana datangnya anak ini?
“Dongsaengi…?” panggil Tao sambil membungkukkan badan berusaha mengintip wajah anak itu. Tetapi tetap saja gadis itu menangis dalam dalam.
Chen berpandangan sejenak dengan Tao dan mereka sama sama mengendikkan bahu. Chen berlutut didepan anak tersebut sambil menggenggam kedua bahu si gadis.
“Saengi?... Kenapa kamu menangis?..... Halo? Dongsaeng?....” ucap namja kecil itu lemah lembut layaknya seorang ibu kepada puterinya.
Tetapi, tidak lagi….
Anak itu membuka kedua tangannya dan tampaklah darah bercucuran dari lubang matanya yang masih tertutup. Dia menangis darah… dia mengeluarkan darah dari rongga matanya.
“Eh.” Chen tersentak kebelakang begitu juga tiga namja lain yang berdiri dibelakangnya.
“Kenapa kamu belum pergi?... kenapa kamu belum pergi…?” tanya gadis itu disela sela tangisannya yang kian menjadi. Darah mengalir melewati pipinya dan menetes ke lantai. Baunya tidak sedap sama sekali.. sangat tidak enak.
“Hah..? Hah…?” Chen melangkah kebelakang dengan kedua tangannya. Namun entah mendapat benda itu dari mana, si gadis misterius langsung mengangkat sebuah pisau lipat dan menancapkannya ke mata Chen.
“Akhh…!” pekik namja itu keras sambil tersungkur kebelakang dan dia memegangi mata kanannya yang berhasil hancur. Tao dan Lay yang mengetahui itu berlari menghindar. Saat ini tidak ada setitikpun niat untuk menolong. Mereka harus menyelamatkan diri sendiri. Air mata dan darah mengucur dari mata Chen dan nafasnya tersendat sendat. Mulutnya menganga lebar usai mendapati darahnya sendiri. Rahang namja itu kaku dan bergetar. Semua sendi dalam dirinya terasa mati.
“Chen!! Chen! Lari Chen!!” ujar Lay di lain arah. Namun Chen tidak mampu bergerak.
Xiumin yang menyaksikan adegan berbahaya tersebut didepan matanya sendiri secara live langsung terpaku. Dia ingin berlari tapi kaki kakinya tidak mampu diajak kompromi. Kedua telapak kakinya menempel erat di lantai kayu. Mata Xiumin melebar maksimal tanpa berkedip, telunjuknya terangkat menunjuk setan dengan mulut bergetar seperti orang kedinginan. “Ka-kam-m-mu…. se-t…ta..n…” ucapnya gemetaran.
Anak gadis tanpa mata itu mencabut pisau lipat dari mata Chen dan langsung saja mata namja itu ikut tercabut menancap di ujung pisau. Dengan mengerikan anak tadi menjilat mata pisau dan mengunyah mata Chen tanpa rasa jijik sedikitpun.
Chen berusaha bangkit dengan tergesa-gesa. Kakinya terasa tidak berfungsi untuk berlari…. semuanya kaku, dia merangkak secepatnya tapi kaki kirinya ditarik oleh anak itu… dan…
‘Cleb..’
‘Cleb..’
‘Cleb….’
“Aaaaahhh!!!!’
Pisau tadi ditusukkan berkali kali ke kaki Chen hingga kulit namja itu tercabik cabik mengeluarkan darah segar.
‘Cleb..’
‘Cleb…’
‘Cleb…’
‘Cleb..!’
Dengan mata yang masih bercucuran darah anak tadi mengiris satu persatu jemari kaki Chen. “Aah!!! Ah!!!!” Chen berteriak teriak mencakar lantai kayu. Dia berusaha melepaskan kakinyya tetapi anak itu terlalu kuat.
Lay yang masih bimbang harus melakukan apa mengambil kayu panjang dan dengan segenap keberaian. ‘Buaggh!!!!!’ dia memukulkannya tepat di pundak si anak setan. ‘Bugh….!!!’ dia memukulkan lagi dengan lebih keras, tapi tidak ada reaksi apapun… anak itu tidak terluka. Dengan pelan, gadis setan tersebut menolehkan kepala kepada Lay…
“Dibelakangmu……” bisiknya.
Dan, ‘Craat…!’
Kepala Lay terlempar putus dari tubuhnya. Seseorang di belakang Lay yang mengenakan jubah hitam dengan tudung kepala itu memutuskan tulang leher Lay dengan kapak besar yang dia genggam. Dan seketika tubuh Lay tinggal ambruk diatas darahnya sendiri. Orang itu berjalan kearah Tao….
Tao gemetaran setengan mati. Orang berjubah tersebut berjalan menyeret kapaknya mendekat. “Tidak.. tidak…” Tao menggeleng cepat dan segera berlari menuju tangga. Langkahnya terganggu karena barang barang bekas itu berserakan.
Orang tak dikenal tersebut melangkah mendekati Tao sambil mengayunkan kapaknya. “Jangan..jangan aku…!!” Tao yang nyaris menangis sempat tersandung. Dan dia terduduk diatas barang-barang bekas.
Orang berjubah tersebuat melempar kapaknya kearah Tao dan
‘Jreb…’
Kapak menancap dialantai kayu. Tao berhasil menghindar dengan gerakan cepat. Namja bermata panda itu mencari sesuatu untuk menyerang tapi karena situasi yang gelap dia tidak bisa menangkap benda apapun dalam pandangannya.
Setan perempuan kecil tadi masih setia memegangi kaki Chen. Kali ini dia mengambil paku dan menusukkan tepat ditengah telapak kaki namja itu. “Ahkk..!” pekik Chen kesakitan. Dengan tenaganya yang besar gadis tersebut memukul mukulkan tangannya pada kepala paku hingga tembus melewati tulang kaki namja tersebut….dan sukseslah, kaki Chen terpaku dengan kuat disana, di lantai kayu.
Orang dengan jubah hitam merasa kesal karena lemparannya meleset. Dengan susah payah dia meraih gagang kapak dan mancabutnya dari lantai kayu. Tao segera merangkak melewati barang-barang rosokan. Bajunya sudah basah karena keringat dingin yang terus mengucur.
Dan selanjutnya. ‘Jleb’ sesuatu berhasil menembus tulang punggungnya dan menancap pada tubuhnya bagian belakang. Tao terdiam sejenak dalam keadaan berdiri. Sedikit demi sedikit darah merah pekat langsung muncrat dari dalam tubuhnya meluncur dimata kapak, hingga menetes ke lantai. Kemudian namja tersebut ambruk dengan bola mata yang masih melotot. Sakit sekali, rasanya seperti terbelah dua.
Tao terbaring menelungkup dengan kepala yang menoleh ke kanan. Mulutnya terbuka mengeluarkan darah, seolah olah dia sedang muntah darah… darah itu dengan derasnya meluncur keluar meleleh keatas lantai.
Chen yang merasakan sakit luar biasa kembali menangis tersedu sedu menyadari ketidak berdayaannya. Sedangkan Xiumin gemetaran dengan mata membulat lebar. Dia berkeringat dan kedua lututnya bergetar takut. “Ta..Ta…Tao….” ucapnya dengan rahang yang juga gemetar.
Anak kecil yang ternyata setan tadi bangkit dan berjalan menyeret kakinya yang melepuh. Kini wajah gadis itu berbeda. Bibirnya tampak luka tergunting dan terus mengeluarkan darah berbau tidak enak. Kini matanya terbuka dengan lubang warna merah pekat, itu darah… bukankah sudah kujelaskan jika dia tidak memiliki sepasang mata. Kulit wajahnya luka basah dengan nanah. Mengerikan. Sampai-sampai Xiumin terdiam tidak mempu berbuat apa-apa.
“Ja-ja-…jangan….!! Jangan b-bunuh… a-“ terlambat lah sudah. Jemari setan tadi yang memang memiliki kuku panjang telah menembus kulit perut Xiumin. Tangannya masuk dan mematahkan tulang rusuk namja itu dengan tega. ‘Klek..!’ dan selanjutnya setan itu meremas jantung Xiumin hingga hancur, dan darah muncrat melalui mulut namja tersebut.
Nafas Xiumin sesak, dia kesusahan mengambil nafas… jantungnya teremas remas dan itu sakit luar biasa. ‘Grep…’ tubuhnya yang telah tidak bernyawa ambruk ditumpukan rosok.
Jadi sekarang? Hanya tinggal Chen. Dia terus saja mengeluarkan air serta darah mata dengan muka merah. Teman-teman yang dia sayangi telah mati didepan matanya sendiri. Dia sudah tidak mampu apa apa sekarang. Ingatan tentang kebersamaan mereka yang menyanyi diatas panggung, mereka yang makan bersama, tertawa, bermain kartu, menangis bersama…. itu semua sudah hancur. Chen kembali mengingat tentang Suho, Baekhyun, dan Kyungsoo. ‘Apakah mereka juga mengalami hal ini? Benarkah itu?...’ pikirnya sambil menyakar lantai kayu. Pedih telah menguasai hatinya.
Kini yang dia harapkan malah mati saja, dia ingin mati. Tidak adil rasanya jika member lain merasa sesakit itu hingga kehilangan nyawa, sedangkan dia? Dia juga ingin mati saat ini.
“B-bunuh aku…! Bunuh aku sekarang juga..!” pekiknya keras dengan otot leher yang menonjol menunjukkan betapa marahnya dia.
“Aku bilang bunuh aku sekarang!” teriaknya untuk yang kedua kali, dan mungkin akan jadi yang terakhir dalam hidupnya. Karena kini orang berjubah itu sudah berdiri disamping Chen dengan mengangkat kapak siap menancapkan pada Chen.
Namun, namja kecil itu terdiam begitu melihat wajah si pria berjubah hitam.
“Sehun?”
‘Cratt!!!’ darah keluar dari punggung Chen begitu orang tadi menghujamkannya tepat di tulang belakangnya. Dan loteng lebih tampak seperti tempat pembantaian manusia manusia tidak bersalah.
Your POV
“Augh…” erangku sambil berusaha membuka mata. Kepalaku masih pusing. Kukedipkan mata sambil mengatur bola mata yang bagai susah dikontrol. Kudapati tempat gelap dengan cahaya temaram. Ada dua buah lilin menyala, lilin lilin itu hampir habis dan sisanya telah meleleh diatas meja. Disebelahnya ada lemari pakaian, dan disebelahnya lagi ada tempat tidur. Aku duduk di sofa. Kucoba untuk mengembalikan ingatan.
“Kai oppa?..” renungku sambil meraba sisi sofa disampingku. Tidak ada, Kai oppa tidak ada disini. Aku mulai panik dan menolehkan kepala kesana kemari. Tapi kamar ini kosong tidak ada siapa-siapa selain diriku.
“Jam berapa sekarang?” pikirku sambil melongok kea rah jam dinding. Tepat tengah malam, yap! Pukul dua belas tepat.
Kupijat kepalaku yang rasanya berdenyut heboh. Darah sudah berhenti namun rasa pusing terus menderu. Dengan penuh hati hati dan berpegangan pada meja aku mulai bangkit. Aku keluar dari kamar menuju ruang makan. Tidak ada siapa-siapa disini. Lalu dimana Tao, Lay, Xiumin, dan Chen oppa?
Dengan tertatih tatih dan menumpu pada dinding kulangkahi lantai kayu ini ke ruang TV. Nihil. Tidak ada siapa-siapa selain suara hujan yang masih sederas tadi. Rupanya disini hanya ada satu lilin jadi penerangan sangat minim, nyaris saja aku menabrak meja. Tapi tunggu, apa itu?
Sesuatu tergeletak dibawah meja. Kusimpitkan mata berusaha menangkap cahaya semaksimal mungkin. Kuraih benda itu. Sebuah handycam. ‘Milik siapa ini? Ini sudah ketinggalan jaman.. tidak mungkin jika oppa oppa EXO memiliki benda semacam ini.’ batinku sembari menyingkirkan beberapa helai rambut kebelakang telingaku. Kuputar putar benda tersebut dalam genggamanku. Stiker merknya pun tidak ada, hologram, atau semacamnya… benda itu sudah nampak tua.
Kucoba memencet tombol power dan ternyata itu masih berfungsi.
Oh apa ini? Proyektor? Ternyata kamera itu dilengkapi proyektor. Proyektor menyala dengan sendirinya dan dengan segera kutaruh benda itu diatas meja. Cahaya langsung tersorot ke tembok yang memang tidak putih bersih lagi tapi cukup jelas untuk layar proyektor.
Tampak di proyektor…. menampilkan sebuah bangunan tua dengan papan nama disana. Itu sebuah rumah sakit… tepatnya rumah sakit jiwa. Aku yang berdiri tidak jauh dari tembok mulai melangkah mendekat mengamati dengan seksama apa yang terjadi disana…
Luhan and Kris side :
Luhan terus berlari menghindari kejaran Kris. Lututnya sudah terasa akan patah dan paru parunya terlalu kering karena menghirup oksigen dengan terengah engah. Gerak kaki namja itu melemah dan semakin lambat. Hingga akhirnya dia berhenti sambil menumpukan badan pada lutut. Luhan mengatur lagi nafasnya yang semakin berat. ‘Hss..hs..’ deru nafas itu turut menyatu dengan suara hujan.
Tapi ketika dia mendongakkan kepala, tampaklah sebuah gubuk tua dengan genteng jerami kering yang tampak telah tidak terurus. Gubuk itu semakin terlihat kumuh dengan letaknya yang berada ditengah tengah ilalang.
Terdengar suara langkah cepat dari belakang tubuh Luhan. Tidak lain tidak bukan itu Kris. Namja tersebut juga tampak kelelahan. “Jangan berlarihh..lagih..hsh…hssh…” dada Kris naik turun dengan heboh. Luhan terbatujk batuk beberapa kali. “Aku mohonh… janganh.. kejar akuhh lagihs….hss…”
Mata tajam si namja tinggi tertuju pada gubuk tersebut. “Hei… sebuah gubuk…” ucapnya.
“Akuh tauh…hss..hossh…” balas Luhan.
“Bagaimana jika kita masukh? Kita carih… mereka didalam sana… siapa tahu ada…” Kris mulai melangkah kesana dengan penuh keyakinan. Luhan yang tidak ingin pertengkaran terjadi lagi hanya mengikuti Kris.
Your POV
Setelah gambar rumah sakit itu menghilang kini ganti terlihat sebuah ruangan dengan cat serba putih. Bisa diperkirakan saat itu camera diletakkan diatas meja di sisi ruangan. Ruangan tersebut bersih tanpa ada satu benda apapun… kecuali sebuah kursi besi yang tengah diduduki seorang wanita. Ibu ibu tepatnya. Wanita itu duduk ditengah tengah ruangan diatas kursi besi. Dia berkulit putih susu tanpa ada sedikitpun noda. Bisa kuperkirakan bila kamera tengah diletakkan siatas meja di salah satu sisi ruangan tersebut. Yeoja ibu ibu tersebut mengenakan atasan kombroh warna putih dan celana senada yang juga tampak kebesaran. Mungkin beliau salah satu pasien disini. Rambutnya diikat satu kebelakang dengan berantakan. Wajahnya yang putih bersih tertutupi oleh sebagian anak rambut yang tergerai di sisi kanan dan kiri pipinya. Namun kuyakini wanita ini cantik.
“…Apa yang kau lihat disana?” tanya sebuah suara dingin yang terdengar tidak jernih mungkin karena kameranya yang tua. Suara itu berat, sudah pasti dari seorang namja yang duduk dibelakang meja tempat kamera ini diletakkan jadi sosoknya tidak tertangkap kamera.
Wanita tadi tidak bergeming dan terus menunduk ke kiri tanpa bergerak.
“Apa yang kamu lihat pada puterimu waktu itu?” tanya namja tidak diketahui tersebut. Mungkin dia dokter jiwa atau psikolog.
Aku semakin focus menatap layar proyektor yang tepatnya tembok.
“…Dia…dia… disiksa. Puteriku lahir dengan kulitnya yang putih seputih susu di pertengahan musim salju. Dia berambut hitam lurus sepertiku, cantik dan lincah… itulah Ki Ran. Namun, pada suatu hari di usianya yang ke 9 tahun… Ki Ran mengalami demam, bukan demam biasa.. kulitnya…kulitnya melepuh dengan sendirinya… setiap malam dia berteriak teriak keras kesakitan… aku sudah memanggil dokter hingga tabib… tapi, itu semua tidak berhasil. Hingga, Ki Ran tampak seperti monster….” tutur wanita itu dengan muka datar dan bibir pucat sepucat warna bunga melati. Jelas bila wanita iu mengalami gangguan jiwa. Dia bahkan tidak menangis ketika menceritakan aib puterinya.
“Kemudian? Apa yang terjadi pada Ki Ran?” tanya namja itu lagi kali ini dengan nada tertarik.
“….orang orang desa berlarian sambil membawa obor… mereka menghampiri rumah kami yang berada di Bussan.. ya, di sebuah gedung dengan lantai kayu dan pekarangan luas…”
Aku langsung menutup mulutku dengan tangan. Apa katanya? Jadi dorm ini…,?
“… Mereka menggebrak pintu dan melabrak Kiran tanpa perasaan!! Orang-orang gila itu!!! Mereka! Mereka..!!... Mereka menuduh anakku monster! Mereka membawa Kiran secara bersama sama dan menyiksa anakku yang sakit!! Aku menangis berusaha mencegahnya tetapi, mereka terlalu banyak!!!” wanita tersebut berteriak teriak.
“Apa yang mereka lakukan pada anakmu?”
“….Mereka menyeter Kiran ke kamar mandi dan menyiram anak itu dengan air panas. Mereka menyiksa anakku!! Anakku!! Puteriku satu satunya! Kiran berteriak kesakitan. Kulitnya yang sudah melepuh mengeluarhan nanah… Tetapi warga desa mengeroyoknya dengan membawa beberapa benda tajam. Mereka.. mereka mencolok mata Kiran dengan tangan mereka! Kiran menangis!! Kiran berteriak saat itu!!!” dia menangis tersedu sedu.
Tidak terasa air mataku telah mengalir dengan deras dan kutelan ludahku bulat bulat.
“Sebelum mereka membunuh Kiran… Kiran dibawa kesebuah gubuk. Mereka memasungnya disana! Hingga kaki anak itu membusuk dan nyaris patah!! Kiran meminta tolong padaku, tapi dengan kejamnya warga desa mengasingkan aku kesini!!! Kesini!! Mereka bilang aku orang tidak waras… tidak punya otak!!! Tetapi aku waras! Aku tidak gila…!!” kini anehnya wanita itu tertawa sambil menangis. Dia tertawa terbahak bahak hingga nyaris jatuh dari kursi.
Dahinya berkeringat dengan mata melotot seolah begitu menghayati ceritanya. Dan bisa kurasakan sendi-sendi dalam tubuhku melemas… aku hampir ambruk dari posisi berdiri. ‘Kiran….?’
“Sampai pada akhirnya Kiran mati! Kiran mati di gubuk itu!! Dan aku bermimpi tentang dia. Dia bilang, dia akan membenci siapapun,…. siapapun selain aku. Dia akan membunuh siapapun yang mengusik kediamannya.. oh Kiranku yang malang…. dia telah menganggap semua orang jahat! Dia bilang dia benci dunia ini.. Dan akan melakukan… balas.. dendam…. dia akan mengambil mata orang yang mengusiknya, dan menjadikan salah satu diantara mereka sebagai alat balas dendam… yah… seorang dari mereka….”
Layar langsung buram dan kurasa rekaman selesai.Tulang belakangku yang lemas dan tidak kuat lagi, membuatku terduduk diatas lantai kayu dengan air mata berlinang.
Luhan and Kris side :
Mereka berdua memasuki teras gubuk itu. Terdapat sebuah tempat duduk dari kayu yang telah keropos dibagaian kaki kakinya. Dan didepan tempat duduk itu ada meja kosong dengan sebuah mangkok dari batok kelapa yang juga tidak berisi apa apa. Hampa.
Kris mengetuk pintu kayu yang tinggi daunnya jauh lebih rendah dari tinggi tubuhnya. “Kurasa tidak ada apa apa didalam…” bisik Kris. Perasaan Luhan sudah tidak enak sejak tadi, tepatnya sejak mereka berniat memasuki gubuk ini.
“Kris, tidak ada orang disana kan? Kembali saja..” ucap Luhan.
Kris mendorong pintunya dan ternyata tidak terkunci. “Tidak dikunci… coba kita masuki.!” Kris dengan entengnya berkata sedemikian. Kaki panjangnya mulai melangkah menembus gubuk tersebut. Dan begitu juga Luhan.
Dingin dan gelap. Tidak ada lantai kayu, hanya tanah yang sama seperti diluar tadi… hanya bedanya tanah ini gundul, tidak ada ilalang diatasnya.
Kris dan Luhan memasuki lebih dalam. Dan tiba tiba terdengar isak tangis seseorang. Terdengar seperti anak kecil. “Siapa? Siapa disana?” tanya Kris penuh rasa penasaran.
“Hisk…isk…isk…” isak anak itu terus. Hingga akhirnya kedua namja itu bertemu dengan seorang gadis kecil.
“Saengi?” panggil Luhan terkejut ketika mendapati anak itu duduk bersandar di dinding gubuk dengan kedua kaki terpasung dan ada lalat-lalat mengerubunginya. Kaki anak itu melepuh dan bau. Kedua tangannya digunakan untuk menutupi wajah. Dia menangis tersedu sedu.
“Saengi? S-siapa kamu? Bisakah kami membantu…?” tanya Kris sambil mendekat.
TBC
Ahahaha!!! Ayo telen tuh penasarannya bullet bullet. *author terlalu kejam* :v
Gimana dengan chap ini? Misteri terkuak!! Ye ye!! Ye yeye! *joget sama Kris*
*readers mlongo, atur napas*
Ayo pada coment yak!! Sangat saya tunggu!!! khekhekhe~ :v

0 comments:
Post a Comment