Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog
Desclimer : Its just a fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
chap 8
Your POV
Aku mencari orang itu kemana mana. Dimana Kai oppa? Bukankah sudah sangat malam? Tidak, ini sudah pagi. Sudah kukelilingi seluruh dorm dan tidak ada. Sampai akhirnya kucari dia di taman belakang. Benar saja! Kai oppa disana.
“Oppa!” panggilku sambil berlari kearahnya. Kai menoleh kearahku dengan mukanya yang merah, dia tampak kelelahan. Posisi Kai oppa sedang membungkuk dan dia menggenggam sebuah cangkul dengan ukuran yang tidak teralu besar namun tampak kuat. Mata cangkulnya lebar.
Aku mengerutkan dahi memandang Kai oppa. “Oppa.. apa yang baru saja kau lakukan?” tanyaku lirih. Oppa tidak menjawab, dia menaruh kembali cangkul tersebut dan menempuk nepukkan kedua telapak tangan yang kotor. Aku mulai menatap ke sisi lain. Itu, disamping Kai oppa terlihat tiga buah papan kayu yang diberdirikan disela sela tanah. Disana tertulis nama, sehingga papan itu menyerupai nisan. ‘Kyungsoo, Baekhyun, dan Suho’ ketiga nama itu tertera di masing masing papan. Baik, kini aku mengerti… aku tahu apa yang barusan Kai oppa lakukan.
Kai oppa terduduk dan menyembunyikan wajahnya disela sela lututnya yang tertekuk sedikit lebar. Namja yang selama ini kukenal dengan image seorang yang jantan dan tangguh…. dia menangis. Lengan dan bahu Kai oppa bergetar disertai suara isakan kecil yang ditahan. Dia telah merasakan sakit dalam hatinya. Kehilangan ketiga teman yang sangat dia sayangi, lalu dia mengubur jasad mereka dengan tangannya sendiri… itu terasa beribu ribu lipat lebih menyakitkan. Angin malam dengan hujan yang kian mereda membuat rambut yang kugerai berkibar. Kudekati namja yang paling kucintai tersebut. Kujatuhkan lututku tepat didepannya. Dia masih menangis dalam. Aku tahu, Kai oppa tidak akan mau menampakkan wajahnya yang sedang menagis seperti ini dihadapanku. Namun ini berbeda… masih memiliki nyali untuk mengubur mayat sahabatnya sendiri merupakan tindakan paling jantan yang kutemui seumur hidup, itu bukan sebuah kelemahan.
“Oppa….” panggilku lirih.
Kai oppa masih menangis tanpa suara, yang kuyakini dia menahan itu semua karena ada aku disini. Dia pernah berjanji akan selalu tersenyum dan tidak akan meneteskan sebutir air matapun dihadapanku. Tapi aku tidak sejahat itu oppa,… bukan berarti kau tidak boleh menangis selamanya.
“Oppa… menangislah, jangan kau tahan!... Aku tahu kau ingin menangis!” entah mengapa kini aku membentak dalam keheningan. Udara dingin bukan lagi halangan sekarang, karena ada yang lebih panas.. jiwa kami. Rasanya seperti terbakar hingga hangus…
“Mianhae chagi…. mianhae….” isaknya masih tanpa mengangkat wajah. Namun suaranya yangbergetar seperti itu benar-benar belum pernah kudengar.
“Kau tidak memiliki salah padaku… simpan saja maafmu oppa! Simpan saja maafmu….” dua butir air mata meluncur di pipiku, rasanya hangat dan mencelos hingga ke jantung.
“Aku melihat mereka.. aku melihatnya….. Kyungsoo, matanya hilang…. dia dibunuh! Aku yakin itu… Kyungsoo yang setiap hari selalu membangunkanku dan melipat selimutku, dia yang membuatkanku makanan meski ditengah malam… yang menjagaku jika aku demam! Orang pertama yang selalu mencemaskanku… tidak ada lagi….. seseorang telah mencuri senyumnya… dia tidak bernyawa lagi Mina! Dia mati!...!!” Kai oppa terlihat sangat frustasi dan mecakar tanah kuburan Kyungsoo oppa.
Air mataku terus mengalir dengan deras mendengat kata kata menyakitkan tersbut. Kini terdengar seperti syair kematian pertama yang pernah dilontarkan Kai oppa disertai keringat dan air mata yang tumpah bersamaan.
“Baekhyun…. orang itu… senyuman matahari senja itu, menghilang dari muka bumi. Mungkin sekarang tidak akan pernah ada lagi matahari sore seindah dirinya… bumi akan hampa Mina!... Tulang leher namja itu patah dan dia juga kehilangan mata!....”
“….Suho hyung, kutemukan tangannya… dan badannya yang telah hancur dengan darah yang masih basah…. Tidak kutemukan kepalanya… tapi, cincin di jemarinya, itu milik Suho hyung…. Sebenarnya ada apa dengan tempat ini?! EXO hancur sudah!!” cetus Kai oppa dengan tangis yang menjadi jadi.
“Kiran….” nama itu lolos tanpa sengaja dari mulutku.
“Kiran?” ulang Kai dengan bingung. Kai oppa memandangku dengan penuh tanya.
“Aku bisa tunjukkan rekamannya padamu!! Aku baru saja melihatnya! Tapi sebaiknya kita cari dulu Chen, Tao, Lay, dan Xiumin oppa.” kuremas lengan Kai oppa. Tapi ekspresi namja itu sudah berubah lagi.
“Sebaiknya kau bantu aku menguburkan mayat keempat orang itu….,”
“Mayat…?”
Kris and Luhan side :
Anak itu menunduk sambil menunjuk tungku api yang terletak di pojokan. Kris dan Luhan berpandangan beberapa detik namun kemudian menuruti apa isyarat bocah tersebut. Kris melangkah mendekati tungku api yang tidak menyala tersebut dan melihat ada apa disana. Ternyata ada sebuah kunci didalam panci. Dan itu pastinya kuci pembuka pasungan.
Kris mengambil kunci tersebut. “Kau mau aku membukakan pasungan itu untukmu?” tanyanya.
Si anak tadi mengangguk dengan posisi masih menunduk. “Bukakan!” jawabnya singkat.
Luhan sempat menggeleng kepada leader Mandarin sub grub itu. Kris menatap Luhan dan si anak tadi bergantian. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memenuhi permintaan si anak kecil.
“Klek…” pasungan terbuka dan Kris menyingkirkan kayu bagian atas pasungan. Tampaklah kedua pergelangan kaki anak itu yang membusuk dan ditumbuhi bebetapa ekor belatung. Bau dan menjijikkan. Kris langsung tersungkur kebelakang sedangkan Luhan menutup hidung. Aroma nanah dan darah yang menyatu mulai menyeruak keseluruh ruangan.
“Ka-kakimu…,” ucap Kris terpotong karena dia tengah gugup.
Kedua tangan anak itu mengepal kuat. Dan..,
“Brakk!!!”
“Brakk!!!”
“Brakk!”
Dua buah jendela yang terbuka di sisi kanan dan kiri gubuk langsung tertutup dengan sendirinya. Begitu juga pintu keluar sekaligus pintu masuk tadi terbanting dengan keras.
Kris dan Luhan gemetaran disertai keringat dingin yang menuruni pelipis mereka. Kris menebarkan pandangan kesana kemari dengan jantung yang berdetak diatas tingkat kenormalan.
“Ap-apa yang terjadi S-saeng?” tanya namja tinggi tadi dengan suara lirih.
Anak itu mengangkat wajahnya dan. Tuhan! Ampuni kedua orang ini! Wajah anak itu sepenuhnya hancur dengan darah mengucur di setiap sisinya. Hancur seperti keeping-keping pecahan kaca. Kedua rongga mata itu kosong.. hanya darah.. hanya darah yang keluar dari sana.
“K-Kris!...” panggil Luhan gemetar sambil menarik lengan Kris yang masih terduduk didepan anak itu. Kris terpaku, dia bahkan tidak bisa mempercayai jika ini nyata dan bukan mimpi.
“K-Kris!! Kita harus pergi!” ajak Luhan.
Gadis yang ternyata setan itu bangkit dari posisinya. Wajahnya menoleh pada Luhan seolah (andai dia memiliki sepasang mata) pasti sedang menatap Luhan.
Kris segera bangun dan kedua namja tadi mundur secara perlahan menjauh. Mereka bergerak menuju pintu dan berusaha membukanya. Namun, tidak… pintu itu terkunci, tepatnya terkunci dari luar dengan sendirinya. Kris sadar bila tadi itu bukan tindakan yang tepat. Anak itu bukan manusia! Dia bukan manusia!!
Luhan mendobrak pintu dengan lengannya secara terburu buru sebelum anak tadi melangkah mendekat. ‘Prak!! Prak!’ tetap saja tidak bisa terbuka. Kini ganti Kris yang bersikeras mendorong pintu sambil mencongkel gagangnya. Tetap saja tidak mampu dibuka.
‘Srek..srek…’
Gadis itu berjalan pincang sambil menyeret kakinya yang kanan. Dia melangkah mendekati Kris dan Luhan secara perlahan. Kris semakin gencar mencongkel pintu seolah olah ingin mematahkannya. Luhan yang dibelakangnya juga mendobrak pintu lebih keras sampai lengannya linu. Suara dobrakan pintu dan gagang yang terus digedor membuat situasi semakin panas. Masih untung jantung Luhan tidak melompat keluar.
‘Srek..srek…’ suara kaki telanjang itu terdengar lagi.
Mendekat dan terus mendekat…. sampai Luhan menemukan pintu lain diruangan itu. Yap.. di sisi lain ada satu pintu lain , mungkin itu juga sebuah ruangan.. kamar mandi, bisa jadi.
“Kris!” panggil Luhan sambil menarik lengan Kris menjauh menuju pintu tadi. Benar! Pintu itu tidak tertutup. Mereka memasukinya dengan terburu dan menutup pintu itu kembali. Luhan menahannya dengan sebuah kayu yang langsung terhubung dengan pengait. Itu bukan lamar mandi… melainkan sebuah ruangan kosong dengan tali tali dan kayu kayu bakar.
“Anak itu!... kita harus cari jalan keluar dari sini!!” dengan nafas terengah Kris mengamati ruangan kosong itu. Keringat mengalir dari pelipisnya.
“Itu!” Luhan menunjuk sebuah jendela kecil tanpa pintu. Bukan jendela, itu ventilasi!
“Benar! Cepat!!”
Pintu digedor dan didobrak beberapa kali tapi tidak bisa terbuka karena memang sudah dikunci.
‘Srak..! Srak!!’ terdengar cakaran kuku dari pintu kayu. Tidak lain pasti setan itu berusaha membukanya. ‘Srak.. Krak!!’ sedikit demi sedikit kulit kayu berhasil dia kelupas dan tidak lama lagi pintu pasti akan hancur.
Luhan bergerak cepat dan berlutut dibawah jendela ventilasi.
“Naik bahuku! Cepat! Setelah kau keluar tarik aku!!” ucap Luhan dengan gemetar tapi terdengar begitu menly.
Tanpa banyak bicara Kris menurut saja apa kata Luhan. “Kau yakin?” tanya Kris sebelum menapakkan kakinya di bahu Luhan.
‘Srak!! Krak!! Krekk! Srak!....”
“Srak…”
“Srak..!!”
Semakin lama cakaran itu semakin cepat.
“Kris! Cepatlah!!” pinta Luhan.
Kris segera menaiki kedua bahu Luhan dan menggenggam pinggiran jendela. Dengan sekuat tenaga Luhan menaikkan bahu dan Kris menarik badannya keatas. “Augh!!!!” erang Luhan sambil menggertakkan giginya kuat kuat.
“Srak!! Krek!!”
Kini ada beberapa celah lubang pada pintu kayu. Dan suara cakaran semakin menjadi.
“Eughh!!” Kris berhasil memasukkan setengah badannya keluar jendela namun jendela itu sangat sempit sehingga sangat susah baginya untuk melepaskan diri. Luhan mendorong tubuh namja itu sekuat tenaga.
“Srak!!!”
“Kreek!!”
Bagian atas pintu sudah geripis dan tangan setan tadi tampak menyakar nyakar daun pintu.
“Eugh!!!”
“Bruk!!” Kris telah keluar dari sana dan kini tinggal Luhan.
Luhan berancang-ancang untuk melompat. Dia mundur beberapa kali, lalu melangkah maju, dan mundur lagi.. ditarik nafasnya panjang panjang sampai Luhan berlari kecil dan melompat pada jendela.
“Srak!!”
“Kret!!”
Setengan bagian pintu sudah berlubang. Luhan tidak berani menoleh kebelakang. Kris mengulurkan tangan dan menarik lengan Luhan. Kepala namja itu berhasil keluar dan sebagian besar tubuhnya masih menggantung didalam.
“Srakk!!!” kayu terkelupas lagi.
Kris terus menarik tangan Luhan. Lengan Luhan semakin sakit karena pinggiran jendela namun dia kerahkan seluruh tenaganya.
“Kraak!!!” Pintu telah berlubang besar. Dan setan itu melangkah memasuki ruangan. Luhan tidak menoleh kebelakang. Tapi tiba tiba genggaman tangan Kris terlepas secara tidak sengaja. Luhan kembali jatuh kedalam sana.
Nafas Luhan terengah engah disertai detak jantung yang tidak beraturan…. dia terus merutuki dalam hati ‘Aku belum bisa mati sekarang!.. Itu hanya setan! Itu bukan tandinganmu Luhan! Kau kuat!! Kau bisa…!’
Luhan kembali naik dan kakinya memanjat dinding gubuk dengan susah payah.
“Kris!!!” panggil Luhan.
Kris mengulurkan tangan dan Luhan menggenggam lengan Kris. Tarik menarik terjadi lagi… sialnya anak yang telah berubah menjadi setan itu menangkap kaki Luhan dan menancapkan kuku kukunya disana….
“Agh!!!” pekik Luhan kesakitan.
To be continued……….
HUWEEE… aku gemeter ngetik part ini!!! Ah! Sial!! Sial!! Waktu partnya KrisLu pake ada orang gedor pintu secara tiba tiba.. kaget sumpah! Aku jingkat!! Adehh..hadehh…. jadi ga berani baca ulang, so maaf kalo ada typo atau huruf kembar siam yang sengga semestinya… ~T_T~
Mian, part ini pendek!! Aku gemeter! SUER!!!! Keputusan di ketiak(?) author.. readers no bash!!
Gomawo buat yg udah baca… coment DITUNGGU…

0 comments:
Post a Comment