Wednesday, October 23, 2013

10 DAYS TO THE DEATH LINE CHAP-7

Posted by Unknown at 10:02 PM

10 days TO the DEAth liNE
CHAP 7
Author : Jihan Kusuma
Cast : Luhan, Shin Ah Cha, and the others support cast^^
Genre : Romance, family, friendship, fantasy
Leght : Chapters
From Author : Mian karena chap lalu sangat singkat. Banyak yg protes u,u karena itu chap ini bakal aku bikin ‘cukup’.
Note : Buat eon Hyemin, itu udah aku sempilin…. ^-^ nyeeeeemmmpill banget, hehe. Tapi entar bakal keluar lagi kok selain di chap ini….
Oh ya, ada lagi. Bayangkan aja music cover untuk FF ini lagu Don’t Forget Me punya Girl’s Day. Jujur aku suka lagu itu meski bukan fans Girl’s Day ^-^ Lagunya sweet dan mungkin akan membantu readers untuk berimajinasi tentang FF ini. Gomawo telah mendengarkan cicitan saya ini….
ChenKaiD.Ot~~~>

Cerita sebelumnya :
“Kita sampai.” ujar Luhan seusai mobil benar-benar berheti. Perlahan kaca mobil itu terbuka dengan mulus menampakkan sebuah bangunan megah. “Wuaah….” pekik Ah Cha pelan sambil melototi tempat yang baru pertama kali dia lihat itu.
“Ayo turun.” Luhan membuka pintu dan mereka berdua mulai melangkah memasuki butik.
“Jangan membuat kekacauan dan…” Luhan menaikkan lengannya sedikit. “Genggam lenganku.” perintah Luhan sembari melirik lengannya sekilas lalu kembali tersenyum pada Ah Cha.

CHAP 7 -- BEGIN

Ah Cha memandang senyuman Luhan dengan polosnya. ‘Menggenggam lengan Luhan?’ kalimat itu terasa mengambang dalam benaknya. Dan tanpa basa-basi lagi, Ah Cha menggenggam lengan Luhan. Kemudian mereka berdua melangkah penuh pesona melewati pintu masuk yang terbuka secara otomatis.
“Wuaa…” pekik Ah Cha ketika mendapati begitu banyak pakaian dan pengunjung butik. “Stt… ingat kata-kataku. Jangan membuatku malu. Bersikaplah layaknya kau ini orang normal.” bisik Luhan. Ah Cha langsung membuyarkan pandangannya dan mengangguk mantap.
“Selamat sore, bisa saya bantu Tuan dan Nona?” sapa seorang pelayan dengan dandanan layaknya seorang waitres hotel dengan rok pendek yang rapi.
“Berikan dress yang manis untuk gadis ini. Jangn terlalu panjang atau pendek. Yang paling penting, aku mau warna yang cerah asal bukan putih.” jawab Luhan dengan tegas.
Pelayan tadi mengangguk mengerti. “Nona, mari ikut dengan saya. Tuan bisa menunggu dulu.” senyumnya sambil mengajak Ah Cha.
Luhan tersenyum balik dan dengan ragu Ah Cha melepaskan genggamannya dari Luhan. Ah Cha memandang Luhan risau. Dan Luhan balas menatap gadis itu seolah mengatakan ‘Kau akan baik-baik saja.’
Ah Cha segera mengikuti pelayan tadi.
Luhan tersenyum sendiri sambil menggeleng-geleng. Apa salahnya membahagiakan Ah Cha walau hanya sekali?
“Nona, silahkan memilih… Anda bisa menentukan pilihan Anda sendiri.” pelayan tadi menunjuk kearah rak yang dipenuhi jajaran dress warna cerah. Tidak bukan cerah, warna itu begitu tampak soft sesuai dengan kepribadian Ah Cha yang polos.
“Aku memilih?...” pikir Ah Cha. Namun kemudian kata-kata Luhan kembali terngiang dikepalanya. Ah Cha tersenyum manis. “Ne, terimakasih…” dia berusaha bersikap sebiasa mungkin layaknya manusia biasa.
Perlahan jemari lentik gadis itu menyentuh ujung kain dress yang tergantung rapi di rak. Kemudian telunjuknya berhenti tepat di dress dengan warna merah jambu, tidak bukan merah jambu itu warna cherry blossom.
“Aku mau yang ini.” celetuk Ah Cha sambil melirik ke pelayan yang sedari tadi terus memperhatikan gerak-geriknya.
Pelayan tersebut langsung meraih gantungan dress dan menariknya dari rak. Terpampanglah sebuah pakaian dengan renda putih diujung lengan dan bagian bawahnya. Manis. Hanya itu. Sangat serasi dengan kulit Ah Cha. Dia akan tampak lebih bersinar jika mengenakannya.
“Silahkan dicoba.” palayan tadi tersenyum.
“Dicoba?..” ulang Ah Cha lirih. “Oh ne, akan kucoba…” dan akhirnya Ah Cha melangkah memasuki ruang ganti yang letaknya memang tepat disamping rak dress.
Luhan yang tadi hanya melihat-lihat menghampiri pelayan itu dan menunggu didepan ruang ganti. “Dia masih mencoba?” tanya Luhan. “Ne, dia memilih pakaian yang cantik… dia juga sangat cantik. Sepertinya bukan orang Korea. Kekasih Anda memang sangat manis dan lemah lebut.” puji pelayan itu.
Luhan tersenyum pada dirinya sendiri. Sedikit ada kebanggan mendengar pelayan tadi mengucapkan kata ‘kekasih’.
Tidak lama pintu ruang ganti terbuka dan menampakkan seorang gadis yang kini benar-benar tampak menyerupai malaikat. Kulit Ah Cha yang putih bersinar semakin tampak mengagumkan dengan pakaian sepanjang lutut itu.
“Ah Luhan-ah, kau sudah disini? Bagaimana dengan pakaian ini? Aku rasa sedikit kekecilan tapi aku suka… um… kalau menurutmu bagaimana?” tanya Ah Cha sambil berputar dihadapan Luhan sehingga dress itu mengembang dengan anggunnya.
Mata Luhan tidak berhenti menatap pemandangan dihadapannya itu. Bagaimanapun Ah Cha berlipat-lipat tampak lebih ceria dan cantik.
“Luhan…?” Ah Cha yang merasa tidak dihiraukan memiringkan kepala dan mengayunkan tangan didepan wajah Luhan. Dan seketika namja tersebut kembali sadar seusai melayang-layang ke surga. “Bagus.” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Ah Cha tersenyum riang dan kembali berputar-putar seperti anak kecil. Ini pertama kalinya membeli pakaian baru.
“Bisakah pakaian ini langsung dia kenakan?” tanya Luhan.
“Tentu saja, biar saya nota dulu.” pelayan tadi pergi dari hadapan Luhan.
“Oh ya, buang saja pakaian lamamu.” celetuk namja itu.
Alis Ah Cha langsung menyatu karena dahinya yang berkerut. “Mwo? Buang? Ah kau kejam sekali! Bagaimanapun pakaian itu tidak boleh dibuang.”
“Terserahlah… sekarang kita ke sana.. aku menemukan pakaian lain untukmu.”
“Pakaian lain?” gumam Ah Cha. “Pakaian lain yang bagaimana?”
“Sudahlah ayo ikuti aku…” ajak Luhan. Dan lagi-lagi gadis itu hanya mampu menuruti apa kata Tuannya. Mereka menyusuri sela-sela rak baju-baju wanita dan sampai di tempat yang Luhan maksudkan.
Ah Cha menatap sekeliling.Banyak sekali pelanggan disini dan suasana tidak seramai di pasar. Kebanyakan pengunjung butik ini memang kaum-kaum ‘ber-uang’ yang rela merogoh dompet mereka dalam dalam demi barang brendit dengan kualitas tinggi disini.
Ah Cha mengerutkan alis begitu melihat beberapa gambar-gambar model yang terpajang di sisi sisi dinding. Seketika yaoja itu bergidik jijik.
“Hei, apa yang kau perhatikan?” tanya Luhan berhasil memecah lamunan yeoja manis itu. Luhan langsung ikut memandang arah pandangan Ah Cha dan ternyata gadis itu sedang melihat….,
“Luhan-ah, mengapa dia telanjang?” tunjuk Ah Cha pada sebuah poster seorang model yang hanya mengenakan pakaian dalam warna hitam di salah satu sudut butik.
Twew..we weww…
 Jelas saja model itu telanjang! Produk yang sedang di sponsorkan memang bertema underwear.
Luhan sesak nafas seketika mendengar pertanyaan menggelikan itu. Dia ingin tertawa sekaligus ingin menangis merutuki kepolosan gadis ini yang seharusnya tidak bertanya se-frontal tadi.
“Dia wanita gila.” jawab Luhan datar sambil menahan asap yang mungkin akan menyembur dari kedua lubang telinganya. “Um,..dia gila..” gumam Ah Cha sambil mengangguk-angguk.
“Sekarang pilih pakaian-pakaian ini.” Luhan menyentuh sebuah rak yang dimana didalamnya tergantung jajaran celana dalam untuk wanita.
Ah Cha mengamati rak itu sejenak dan berfikir dalam. Selanjutnya kedua bola matanya membulat tanda dia mengerti. “Bisakah kau menyingkir?” tanya gadis itu terdengar memaksa.
“Hum, memangnya kenapa?” Luhan memasukkan kedua tangannya kedalam saku jas hitamnya.
Pipi Ah Cha memanas lalu menimbulkan semburat kemerahan. “Aku malu! Bukankah kau memerintahku untuk memilih?” bibir bawahnya tampak berlomba dengan si bibir atas pertanda dia sedang sebal setengah mati pada majikannya ini.
Luhan tersenyum tanpa sepengetahuan Ah Cha “Baiklah, aku akan mencarikan pakaian lain saja…” dengan alis terangkat Luhan melangkah meninggalkan wanita itu.
‘Haha..dasar gadis polos’
»*»
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Luhan mempercepat kelajuan mobil sambil bersiul-siul. Sedangkan Ah Cha terus saja meraba-raba bagian bawah gaun barunya. Luhan melirik yeoja polos tersebut selanjutnya sebuah senyum haru terpasang di bibirnya.
“Kau suka?” tanya namja itu kembali berfokus pada acara menyetirnya.
“Aku suka, hm, padahal aku sangat suka warna putih… dulu ketika aku menjadi kucing aku sangat ingin memiliki bulu warna putih seperti kucing betina yang lain.. entahlah, aku terlahir berwarna hitam.” Ah Cha mengerucutkan mulutnya lucu.
“Warna putih akan membuatmu tampak seperti mayat.” sahut Luhan tanpa tedeng aling-aling. Mendengar penuturan majikannya, Ah Cha menjadi sebal dan cemberut sambil melesakkan punggung dalam-dalam di seat kursi.
Luhan melirik yeoja itu lagi, kemudian tersenyum tampan. Rasanya cukup menyenangkan bisa mengenalkan gadis polos itu pada kehidupan di dunia. Dengan mulusnya roda roda mobil menggelinding diatas jalan raya yang bersih layaknya image kota Seoul. Dengan sabar Luhan memutar kemudi menuju lokasi belanja selanjutnya. Yap mall!
Set! Mobil langsung berhenti begitu Luhan menginjak rem. Kini mereka sudah ada disebuah tempat dengan penerangan minim yang penuh dengan jajaran mobil mewah. “Kita akan turun?” tanya Ah Cha.
“Kau tidak ingin turun? Kau mau sendirian di ruangan pengap seperti ini?” tanya Luhan dingin dan kemudian membuka pintu mobil. Namja itu  kembali membanting pintu seusai dia keluar. Ah Cha yang tidak mengerti apa-apa memutuskan untuk mengikuti apa kata majikannya. Mungkin Luhan akan mengajaknya sedikit berjalan jalan.
‘Brak!’ pintu ditutup oleh Ah Cha. Seketika aroma-aroma asap yang samar tercium oleh inderanya yang tajam. Ini jelas-jelas bau asap kendaraan, mereka sedang di basement mall. Luhan menghampiri gadis itu dan menyodorkan sesuatu berwarna hitam.
“Ikat rambutmu.” pinta namja itu lirih.
“Ikat rambutku?” ulang Ah Cha dengan muka polosnya yang hampir mirip balita sambil memandangi sebuah karet rambut di tangan Luhan. Dia memang benar-benar tindak mengerti apa maksud Luhan.
Luhan tersenyum dalam hati menyadari betapa kental sifat lugu pada gadis ini. Dengan sabar namja itu melangkah lebih dekat lalu melingkarkan tangan ke leher Ah Cha dan menangkup seluruh helaian surai hitam legam tersebut dalam genggamannya. Mata namja itu terfokus pada rambut Ah Cha yang baru kali ini dia bisa sentuh sekaligus menyadari kelembutannya.
Ah Cha melirik wajah tampan Luhan. Ini kali pertama dia bisa memperhatikan wajah majikannya dari jarak seminim ini. Kulit namja itu ternyata tampak begitu jernih dari dekat, tanpa setitik nodapun yang berani mengusik pemandangan indahnya. Aroma maskulin parfum Luhan ditambah bau bau yang menyerupai kayu manis tercium dari tubuhnya, demi apapun itu sangat menenagkan Ah Cha.
Dengan jeli jemari namja itu telah memerangkap rambut Ah Cha yang panjang dengan karet sehingga tergerai diatas punggung. Luhan tersenyum kecil. Namun sedetik kemudian dia sadar bila masih ada segerombol tipis rambut yang belum turut serta terikat disamping telinga Ah Cha. Dengan lebut Luhan meraih rambut Ah Cha lalu memelintir dengan jari telunjuknya sehingga berubah menjadi spiral. Dan disisihkannya rambut spiral itu kebelakang telinga Ah Cha. Gadis itu terlihat lebih manis sekarang.
Luhan kembali dalam posisinya dan mengamati hasil karyanya. Ah Cha masih tampak cengo. “Nah, sekarang wajahmu tampak jauh lebih bersinar kan…” celetuk Luhan. Ah Cha meraba pipinya ‘Bersinar? Apakah maksudnya aku cantik?’ gadis itu tersenyum sendiri. Entah mengapa Ah Cha terasa terbang mendengar pujian itu.
“Jadi begitu caranya mengikat rambut. Iya, leherku rasanya dingin..!” Ah Cha mengibaskan tangan kedepan leher seperti anak kecil.
Luhan tertawa kecil mendapati sikap Ah Cha yang terlalu polos. “Haha, dasar malaikat maut! Ayo, kau masih ingat? Genggam lenganku Nona Shin.” Luhan menyodorkan lengannya dan dengan senang hati Ah Cha menurut.
Mereka melangkah berdua memasuki pintu masuk dan pada saat itulah seluruh pasang mata lelaki maupun perempuan melirik mereka dengan tatapan penuh iri sekaligus kagum atas kecantikan yeoja Barbie yang kini berkencan dengan Luhan.
»*»
“Nah, kurasa kau harus memakai ini.” Luhan mengambil sebuah botol lotion kulit khusus wanita dari rak lalu langsung memasukkannya kedalam troly. Ah Cha yang masih belum mengerti atas perkataan Luhan kembali memungut botol tersebut dan mengamatinya.
“Untuk menghaluskan kulit? Apa ini bisa dimakan?” yeoja itu mengocok-kocok botol dan mendekatkannya ditelinga.
Luhan merebut benda itu segera. “Hei, ini bukan makanan. Ish, kau ini…” namja itu menatap Ah Cha dengan tajam sambil kembali menaruh botol lotion ke troly. Ah Cha balas mencibiri punggung Luhan. Padahal dia kan hanya bertanya…
Kini mereka sampai di bagian alat masak.
“Wah ikaan…” gumam Ah Cha sambil meraba stiker yang tertempel pada sebuah teflon yang tergantung di rak. Telunjuknya meraba-raba gambar ikan itu sambil mengulum bibirnya sendiri tanda dia sedang menginginkan ikan ._.
Langkah Luhan terhenti, Luhan mengapiri Ah Cha dan mengamati apa ang tengah gadis bodoh itu lakukan. ‘Padahal itu hanya gambar ikan…’
“Luhan-ah, apa maksudnya gambar ini ditempelkan disini?” tanyanya polos sambil mengetuk-ketuk permukaan teflon.
“Hum, itu hanya agar kita tergoda untuk membeli benda itu dan menggunakannya dirumah untuk memasak ikan.”
“Apakah kita akan membelinya?” Ah Cha mamandang Luhan dengan iris hijaunya yang cemerlang.
“Tidak, aku tidak mau membuang-buang uangku untuk membeli benda itu. Aku sudah memilikinya.” Luhan kembali mendorong troly.
“O,” Ah Cha manggut-manggut kecil tanda mengerti. Masih baik gadis ini tidak merengek dan memukul-mukul lantai karena ingin dibelikan teflon baru yang bahkan Luhan sudah memilikinya dengan ukuran lebih lebar, oke itu kekanak-kanakan.
Luhan mengambil celemek badan dan melemparnya kedalam troly. “Apa itu yang kau masukkan barusan? Baju?” Ah Cha mengambilnya lagi dan menjinjing banda berwarna merah muda dengan motif bulat bulat putih itu.
“Bukankah kau suka memasak? Nanti akan kutunjukkan cara memakainya.” jawab Luhan tanpa menoleh ke Ah Cha dan terus berjalan penuh kharisma.
Dan sampailah mereka di bagian makanan. Mata Ah Cha berbinar cemerlang begitu melihat jajaran kaleng sarden dan tuna. “Luhan-ah! Aku mau itu, itu..itu.. dan itu.. um, kurasa aku juga mau yang itu!” yeoja itu berjinjit jinjit sambil menujuk beberapa kaleng dengan merk yang berbeda. Ah Cha melihat senyuman manis dari bibir sang majikan. Mungkin hari ini Luhan akan bermurah hati untuk memanjakannya.
“Ambil saja apa yang kau mau.” jawab Luhan enteng. Bagaimanapun Luhan termasuk namja mandiri yang sukses sehingga mau menuruti apapun keinginan Ah Cha. Melihat gadis itu tersenyum riang bagai memberikan kebahagiaan tersendiri dalam dirinya, seolah olah selalu ingin menyaksikan senyuman Ah Cha sepanjang hari.
Ah Cha tersenyum lebar-lebar dan segera meraih satu demi satu kaleng tuna kedalam pelukannya. Senyuman masih senantiasa terpajang diwajah cantiknya yang kali ini tampak lebih cerah dengan rambut yang diikat seperti itu. Tak terasa Luhan melamun memandangi malaikatnya itu sambil terus menyunggingkan senyum tipis.
Hingga akhirnya gadis itu berjinjit-jinjit berusaha mengambil salah satu kaleng. Sesekali dia melompat untuk mengambilnya namun belum juga berhasil. Tanpa diperintah kaki kaki namja itu berjalan menyanding tubuh ramping Ah Cha dan berjinjit mengambilkan benda tersebut. Detik selanjutnya Ah Cha menyadari bila sesuatu telah berada disampingnya. ‘Nafas Luhan. Ini aromua Luhan.’ Dia memutar leher jenjang itu beberapa derajad dan disana terdapat wajah tampan Luhan tepat disampingnya. Luhanpun memandang gadis itu dengan tatapan selembut madu. Kini mereka bisa melihat wajah masing masing dalam bola mata mereka. Bibir Luhan terangkat dengan manis.
“Ini kan yang kau inginkan? Ayo ke area sayuran… aku tidak mau memakan ikan setiap hari.” senyumnya bagai berkilau dimata bulat yeoja itu. Tidak ragu lagi, ternyata Luhan itu sangat tampan.
Luhan memberikan kaleng itu pada Ah Cha, kemudian langsung berlalu menuju troly.
Ah Cha terdiam sesaat dengan bibirnya yang terbungkam. Dia merasakan ini lagi. Jantungnya berdentum lebih kuat ketika Luhan ada disampingnya. Diraba dadanya itu, bahkan dia bisa mendengar datak dalam dada. Rasanya berbeda dari hal sebelumnya ketika dia memeluk Luhan-nya dengan kedua tangan, dan itu juga berbeda ketika Luhan sedang menggenggam tangannya… entah mengapa senyuman namja itu barusan terasa hangat dalam hatinya.
“Ah Cha-ya… ayo..” sahut Luhan.
Nyaris saja yeoja itu tersentak dan menjatuhkan kaleng-kaleng dalam gendongannya.
“Hm, ne.” balasnya manis.
»*»
To be continued….
Haii readers? Masih bernafas?? Apakah masih kependekan? Kurang panjang xD aduuh…. masih ini nih yg bisa saya suguhkan sepada kamu! *tunjuk Eunji* kamu! *tunjuk Hyemin* kamu! *tunjuk Gabriela* Kamu! Yang ngupil itu! *tunjuk Hasanah* Dan kamu kamu lainnnya! *sebar iler Suho*
Maaf deh kalo masih pendekan. Doakan aja imajinasi engga buntet dan bisa bikin scenes romance lainnya ^ - ^
Pokoknya chap depan bakal lebih seru. Dijamin! Iyakk…! Hahaha…
Yasudahlah.. saya mau makan ikan dulu.. paii!!!! ^^]/

0 comments:

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei