10 days TO
the
DEAth liNE
CHAP 7
Author : Jihan Kusuma
Cast : Luhan, Shin Ah Cha,
and the others support cast^^
Genre : Romance, family,
friendship, fantasy
Leght : Chapters
From Author : Mian karena
chap lalu sangat singkat. Banyak yg protes u,u karena itu chap ini bakal aku
bikin ‘cukup’.
Note : Buat eon Hyemin, itu
udah aku sempilin…. ^-^ nyeeeeemmmpill banget, hehe. Tapi entar bakal keluar
lagi kok selain di chap ini….
Oh ya, ada lagi. Bayangkan
aja music cover untuk FF ini lagu Don’t Forget Me punya Girl’s Day. Jujur aku
suka lagu itu meski bukan fans Girl’s Day ^-^ Lagunya sweet dan mungkin akan
membantu readers untuk berimajinasi tentang FF ini. Gomawo telah mendengarkan
cicitan saya ini….
ChenKaiD.Ot~~~>
Cerita sebelumnya :
“Kita
sampai.” ujar Luhan seusai mobil benar-benar berheti. Perlahan kaca mobil itu
terbuka dengan mulus menampakkan sebuah bangunan megah. “Wuaah….” pekik Ah Cha
pelan sambil melototi tempat yang baru pertama kali dia lihat itu.
“Ayo
turun.” Luhan membuka pintu dan mereka berdua mulai melangkah memasuki butik.
“Jangan
membuat kekacauan dan…” Luhan menaikkan lengannya sedikit. “Genggam lenganku.”
perintah Luhan sembari melirik lengannya sekilas lalu kembali tersenyum pada Ah
Cha.
CHAP 7 -- BEGIN
Ah
Cha memandang senyuman Luhan dengan polosnya. ‘Menggenggam lengan Luhan?’
kalimat itu terasa mengambang dalam benaknya. Dan tanpa basa-basi lagi, Ah Cha menggenggam
lengan Luhan. Kemudian mereka berdua melangkah penuh pesona melewati pintu
masuk yang terbuka secara otomatis.
“Wuaa…”
pekik Ah Cha ketika mendapati begitu banyak pakaian dan pengunjung butik. “Stt…
ingat kata-kataku. Jangan membuatku malu. Bersikaplah layaknya kau ini orang
normal.” bisik Luhan. Ah Cha langsung membuyarkan pandangannya dan mengangguk
mantap.
“Selamat
sore, bisa saya bantu Tuan dan Nona?” sapa seorang pelayan dengan dandanan
layaknya seorang waitres hotel dengan rok pendek yang rapi.
“Berikan
dress yang manis untuk gadis ini. Jangn terlalu panjang atau pendek. Yang
paling penting, aku mau warna yang cerah asal bukan putih.” jawab Luhan dengan
tegas.
Pelayan
tadi mengangguk mengerti. “Nona, mari ikut dengan saya. Tuan bisa menunggu
dulu.” senyumnya sambil mengajak Ah Cha.
Luhan
tersenyum balik dan dengan ragu Ah Cha melepaskan genggamannya dari Luhan. Ah
Cha memandang Luhan risau. Dan Luhan balas menatap gadis itu seolah mengatakan
‘Kau akan baik-baik saja.’
Ah
Cha segera mengikuti pelayan tadi.
Luhan
tersenyum sendiri sambil menggeleng-geleng. Apa salahnya membahagiakan Ah Cha
walau hanya sekali?
“Nona,
silahkan memilih… Anda bisa menentukan pilihan Anda sendiri.” pelayan tadi
menunjuk kearah rak yang dipenuhi jajaran dress warna cerah. Tidak bukan cerah,
warna itu begitu tampak soft sesuai dengan kepribadian Ah Cha yang polos.
“Aku
memilih?...” pikir Ah Cha. Namun kemudian kata-kata Luhan kembali terngiang
dikepalanya. Ah Cha tersenyum manis. “Ne, terimakasih…” dia berusaha bersikap
sebiasa mungkin layaknya manusia biasa.
Perlahan
jemari lentik gadis itu menyentuh ujung kain dress yang tergantung rapi di rak.
Kemudian telunjuknya berhenti tepat di dress dengan warna merah jambu, tidak
bukan merah jambu itu warna cherry blossom.
“Aku
mau yang ini.” celetuk Ah Cha sambil melirik ke pelayan yang sedari tadi terus
memperhatikan gerak-geriknya.
Pelayan
tersebut langsung meraih gantungan dress dan menariknya dari rak. Terpampanglah
sebuah pakaian dengan renda putih diujung lengan dan bagian bawahnya. Manis.
Hanya itu. Sangat serasi dengan kulit Ah Cha. Dia akan tampak lebih bersinar
jika mengenakannya.
“Silahkan
dicoba.” palayan tadi tersenyum.
“Dicoba?..”
ulang Ah Cha lirih. “Oh ne, akan kucoba…” dan akhirnya Ah Cha melangkah
memasuki ruang ganti yang letaknya memang tepat disamping rak dress.
Luhan
yang tadi hanya melihat-lihat menghampiri pelayan itu dan menunggu didepan
ruang ganti. “Dia masih mencoba?” tanya Luhan. “Ne, dia memilih pakaian yang
cantik… dia juga sangat cantik. Sepertinya bukan orang Korea. Kekasih Anda
memang sangat manis dan lemah lebut.” puji pelayan itu.
Luhan
tersenyum pada dirinya sendiri. Sedikit ada kebanggan mendengar pelayan tadi
mengucapkan kata ‘kekasih’.
Tidak
lama pintu ruang ganti terbuka dan menampakkan seorang gadis yang kini benar-benar
tampak menyerupai malaikat. Kulit Ah Cha yang putih bersinar semakin tampak
mengagumkan dengan pakaian sepanjang lutut itu.
“Ah
Luhan-ah, kau sudah disini? Bagaimana dengan pakaian ini? Aku rasa sedikit
kekecilan tapi aku suka… um… kalau menurutmu bagaimana?” tanya Ah Cha sambil
berputar dihadapan Luhan sehingga dress itu mengembang dengan anggunnya.
Mata
Luhan tidak berhenti menatap pemandangan dihadapannya itu. Bagaimanapun Ah Cha
berlipat-lipat tampak lebih ceria dan cantik.
“Luhan…?”
Ah Cha yang merasa tidak dihiraukan memiringkan kepala dan mengayunkan tangan
didepan wajah Luhan. Dan seketika namja tersebut kembali sadar seusai
melayang-layang ke surga. “Bagus.” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Ah
Cha tersenyum riang dan kembali berputar-putar seperti anak kecil. Ini pertama
kalinya membeli pakaian baru.
“Bisakah
pakaian ini langsung dia kenakan?” tanya Luhan.
“Tentu
saja, biar saya nota dulu.” pelayan tadi pergi dari hadapan Luhan.
“Oh
ya, buang saja pakaian lamamu.” celetuk namja itu.
Alis
Ah Cha langsung menyatu karena dahinya yang berkerut. “Mwo? Buang? Ah kau kejam
sekali! Bagaimanapun pakaian itu tidak boleh dibuang.”
“Terserahlah…
sekarang kita ke sana.. aku menemukan pakaian lain untukmu.”
“Pakaian
lain?” gumam Ah Cha. “Pakaian lain yang bagaimana?”
“Sudahlah
ayo ikuti aku…” ajak Luhan. Dan lagi-lagi gadis itu hanya mampu menuruti apa
kata Tuannya. Mereka menyusuri sela-sela rak baju-baju wanita dan sampai di
tempat yang Luhan maksudkan.
Ah
Cha menatap sekeliling.Banyak sekali pelanggan disini dan suasana tidak seramai
di pasar. Kebanyakan pengunjung butik ini memang kaum-kaum ‘ber-uang’ yang rela
merogoh dompet mereka dalam dalam demi barang brendit dengan kualitas tinggi
disini.
Ah
Cha mengerutkan alis begitu melihat beberapa gambar-gambar model yang terpajang
di sisi sisi dinding. Seketika yaoja itu bergidik jijik.
“Hei,
apa yang kau perhatikan?” tanya Luhan berhasil memecah lamunan yeoja manis itu.
Luhan langsung ikut memandang arah pandangan Ah Cha dan ternyata gadis itu sedang
melihat….,
“Luhan-ah,
mengapa dia telanjang?” tunjuk Ah Cha pada sebuah poster seorang model yang
hanya mengenakan pakaian dalam warna hitam di salah satu sudut butik.
Twew..we
weww…
Jelas saja model itu telanjang! Produk yang
sedang di sponsorkan memang bertema underwear.
Luhan
sesak nafas seketika mendengar pertanyaan menggelikan itu. Dia ingin tertawa
sekaligus ingin menangis merutuki kepolosan gadis ini yang seharusnya tidak
bertanya se-frontal tadi.
“Dia
wanita gila.” jawab Luhan datar sambil menahan asap yang mungkin akan menyembur
dari kedua lubang telinganya. “Um,..dia gila..” gumam Ah Cha sambil
mengangguk-angguk.
“Sekarang
pilih pakaian-pakaian ini.” Luhan menyentuh sebuah rak yang dimana didalamnya
tergantung jajaran celana dalam untuk wanita.
Ah
Cha mengamati rak itu sejenak dan berfikir dalam. Selanjutnya kedua bola
matanya membulat tanda dia mengerti. “Bisakah kau menyingkir?” tanya gadis itu
terdengar memaksa.
“Hum,
memangnya kenapa?” Luhan memasukkan kedua tangannya kedalam saku jas hitamnya.
Pipi
Ah Cha memanas lalu menimbulkan semburat kemerahan. “Aku malu! Bukankah kau
memerintahku untuk memilih?” bibir bawahnya tampak berlomba dengan si bibir
atas pertanda dia sedang sebal setengah mati pada majikannya ini.
Luhan
tersenyum tanpa sepengetahuan Ah Cha “Baiklah, aku akan mencarikan pakaian lain
saja…” dengan alis terangkat Luhan melangkah meninggalkan wanita itu.
‘Haha..dasar
gadis polos’
»*»
Mobil
melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Luhan mempercepat kelajuan mobil
sambil bersiul-siul. Sedangkan Ah Cha terus saja meraba-raba bagian bawah gaun
barunya. Luhan melirik yeoja polos tersebut selanjutnya sebuah senyum haru
terpasang di bibirnya.
“Kau
suka?” tanya namja itu kembali berfokus pada acara menyetirnya.
“Aku
suka, hm, padahal aku sangat suka warna putih… dulu ketika aku menjadi kucing
aku sangat ingin memiliki bulu warna putih seperti kucing betina yang lain..
entahlah, aku terlahir berwarna hitam.” Ah Cha mengerucutkan mulutnya lucu.
“Warna
putih akan membuatmu tampak seperti mayat.” sahut Luhan tanpa tedeng
aling-aling. Mendengar penuturan majikannya, Ah Cha menjadi sebal dan cemberut
sambil melesakkan punggung dalam-dalam di seat kursi.
Luhan
melirik yeoja itu lagi, kemudian tersenyum tampan. Rasanya cukup menyenangkan bisa
mengenalkan gadis polos itu pada kehidupan di dunia. Dengan mulusnya roda roda
mobil menggelinding diatas jalan raya yang bersih layaknya image kota Seoul.
Dengan sabar Luhan memutar kemudi menuju lokasi belanja selanjutnya. Yap mall!
Set!
Mobil langsung berhenti begitu Luhan menginjak rem. Kini mereka sudah ada
disebuah tempat dengan penerangan minim yang penuh dengan jajaran mobil mewah.
“Kita akan turun?” tanya Ah Cha.
“Kau
tidak ingin turun? Kau mau sendirian di ruangan pengap seperti ini?” tanya Luhan
dingin dan kemudian membuka pintu mobil. Namja itu kembali membanting pintu seusai dia keluar.
Ah Cha yang tidak mengerti apa-apa memutuskan untuk mengikuti apa kata
majikannya. Mungkin Luhan akan mengajaknya sedikit berjalan jalan.
‘Brak!’
pintu ditutup oleh Ah Cha. Seketika aroma-aroma asap yang samar tercium oleh
inderanya yang tajam. Ini jelas-jelas bau asap kendaraan, mereka sedang di
basement mall. Luhan menghampiri gadis itu dan menyodorkan sesuatu berwarna
hitam.
“Ikat
rambutmu.” pinta namja itu lirih.
“Ikat
rambutku?” ulang Ah Cha dengan muka polosnya yang hampir mirip balita sambil
memandangi sebuah karet rambut di tangan Luhan. Dia memang benar-benar tindak
mengerti apa maksud Luhan.
Luhan
tersenyum dalam hati menyadari betapa kental sifat lugu pada gadis ini. Dengan
sabar namja itu melangkah lebih dekat lalu melingkarkan tangan ke leher Ah Cha
dan menangkup seluruh helaian surai hitam legam tersebut dalam genggamannya.
Mata namja itu terfokus pada rambut Ah Cha yang baru kali ini dia bisa sentuh
sekaligus menyadari kelembutannya.
Ah
Cha melirik wajah tampan Luhan. Ini kali pertama dia bisa memperhatikan wajah
majikannya dari jarak seminim ini. Kulit namja itu ternyata tampak begitu
jernih dari dekat, tanpa setitik nodapun yang berani mengusik pemandangan
indahnya. Aroma maskulin parfum Luhan ditambah bau bau yang menyerupai kayu
manis tercium dari tubuhnya, demi apapun itu sangat menenagkan Ah Cha.
Dengan
jeli jemari namja itu telah memerangkap rambut Ah Cha yang panjang dengan karet
sehingga tergerai diatas punggung. Luhan tersenyum kecil. Namun sedetik
kemudian dia sadar bila masih ada segerombol tipis rambut yang belum turut
serta terikat disamping telinga Ah Cha. Dengan lebut Luhan meraih rambut Ah Cha
lalu memelintir dengan jari telunjuknya sehingga berubah menjadi spiral. Dan
disisihkannya rambut spiral itu kebelakang telinga Ah Cha. Gadis itu terlihat
lebih manis sekarang.
Luhan
kembali dalam posisinya dan mengamati hasil karyanya. Ah Cha masih tampak
cengo. “Nah, sekarang wajahmu tampak jauh lebih bersinar kan…” celetuk Luhan.
Ah Cha meraba pipinya ‘Bersinar? Apakah maksudnya aku cantik?’ gadis itu
tersenyum sendiri. Entah mengapa Ah Cha terasa terbang mendengar pujian itu.
“Jadi
begitu caranya mengikat rambut. Iya, leherku rasanya dingin..!” Ah Cha
mengibaskan tangan kedepan leher seperti anak kecil.
Luhan
tertawa kecil mendapati sikap Ah Cha yang terlalu polos. “Haha, dasar malaikat
maut! Ayo, kau masih ingat? Genggam lenganku Nona Shin.” Luhan menyodorkan
lengannya dan dengan senang hati Ah Cha menurut.
Mereka
melangkah berdua memasuki pintu masuk dan pada saat itulah seluruh pasang mata
lelaki maupun perempuan melirik mereka dengan tatapan penuh iri sekaligus kagum
atas kecantikan yeoja Barbie yang kini berkencan dengan Luhan.
»*»
“Nah,
kurasa kau harus memakai ini.” Luhan mengambil sebuah botol lotion kulit khusus
wanita dari rak lalu langsung memasukkannya kedalam troly. Ah Cha yang masih
belum mengerti atas perkataan Luhan kembali memungut botol tersebut dan
mengamatinya.
“Untuk
menghaluskan kulit? Apa ini bisa dimakan?” yeoja itu mengocok-kocok botol dan
mendekatkannya ditelinga.
Luhan
merebut benda itu segera. “Hei, ini bukan makanan. Ish, kau ini…” namja itu
menatap Ah Cha dengan tajam sambil kembali menaruh botol lotion ke troly. Ah
Cha balas mencibiri punggung Luhan. Padahal dia kan hanya bertanya…
Kini
mereka sampai di bagian alat masak.
“Wah
ikaan…” gumam Ah Cha sambil meraba stiker yang tertempel pada sebuah teflon
yang tergantung di rak. Telunjuknya meraba-raba gambar ikan itu sambil mengulum
bibirnya sendiri tanda dia sedang menginginkan ikan ._.
Langkah
Luhan terhenti, Luhan mengapiri Ah Cha dan mengamati apa ang tengah gadis bodoh
itu lakukan. ‘Padahal itu hanya gambar ikan…’
“Luhan-ah,
apa maksudnya gambar ini ditempelkan disini?” tanyanya polos sambil
mengetuk-ketuk permukaan teflon.
“Hum,
itu hanya agar kita tergoda untuk membeli benda itu dan menggunakannya dirumah
untuk memasak ikan.”
“Apakah
kita akan membelinya?” Ah Cha mamandang Luhan dengan iris hijaunya yang cemerlang.
“Tidak,
aku tidak mau membuang-buang uangku untuk membeli benda itu. Aku sudah
memilikinya.” Luhan kembali mendorong troly.
“O,”
Ah Cha manggut-manggut kecil tanda mengerti. Masih baik gadis ini tidak
merengek dan memukul-mukul lantai karena ingin dibelikan teflon baru yang
bahkan Luhan sudah memilikinya dengan ukuran lebih lebar, oke itu
kekanak-kanakan.
Luhan
mengambil celemek badan dan melemparnya kedalam troly. “Apa itu yang kau
masukkan barusan? Baju?” Ah Cha mengambilnya lagi dan menjinjing banda berwarna
merah muda dengan motif bulat bulat putih itu.
“Bukankah
kau suka memasak? Nanti akan kutunjukkan cara memakainya.” jawab Luhan tanpa
menoleh ke Ah Cha dan terus berjalan penuh kharisma.
Dan
sampailah mereka di bagian makanan. Mata Ah Cha berbinar cemerlang begitu
melihat jajaran kaleng sarden dan tuna. “Luhan-ah! Aku mau itu, itu..itu.. dan
itu.. um, kurasa aku juga mau yang itu!” yeoja itu berjinjit jinjit sambil
menujuk beberapa kaleng dengan merk yang berbeda. Ah Cha melihat senyuman manis
dari bibir sang majikan. Mungkin hari ini Luhan akan bermurah hati untuk
memanjakannya.
“Ambil
saja apa yang kau mau.” jawab Luhan enteng. Bagaimanapun Luhan termasuk namja
mandiri yang sukses sehingga mau menuruti apapun keinginan Ah Cha. Melihat
gadis itu tersenyum riang bagai memberikan kebahagiaan tersendiri dalam
dirinya, seolah olah selalu ingin menyaksikan senyuman Ah Cha sepanjang hari.
Ah
Cha tersenyum lebar-lebar dan segera meraih satu demi satu kaleng tuna kedalam
pelukannya. Senyuman masih senantiasa terpajang diwajah cantiknya yang kali ini
tampak lebih cerah dengan rambut yang diikat seperti itu. Tak terasa Luhan
melamun memandangi malaikatnya itu sambil terus menyunggingkan senyum tipis.
Hingga
akhirnya gadis itu berjinjit-jinjit berusaha mengambil salah satu kaleng.
Sesekali dia melompat untuk mengambilnya namun belum juga berhasil. Tanpa
diperintah kaki kaki namja itu berjalan menyanding tubuh ramping Ah Cha dan
berjinjit mengambilkan benda tersebut. Detik selanjutnya Ah Cha menyadari bila
sesuatu telah berada disampingnya. ‘Nafas Luhan. Ini aromua Luhan.’ Dia memutar
leher jenjang itu beberapa derajad dan disana terdapat wajah tampan Luhan tepat
disampingnya. Luhanpun memandang gadis itu dengan tatapan selembut madu. Kini
mereka bisa melihat wajah masing masing dalam bola mata mereka. Bibir Luhan
terangkat dengan manis.
“Ini
kan yang kau inginkan? Ayo ke area sayuran… aku tidak mau memakan ikan setiap
hari.” senyumnya bagai berkilau dimata bulat yeoja itu. Tidak ragu lagi,
ternyata Luhan itu sangat tampan.
Luhan
memberikan kaleng itu pada Ah Cha, kemudian langsung berlalu menuju troly.
Ah
Cha terdiam sesaat dengan bibirnya yang terbungkam. Dia merasakan ini lagi.
Jantungnya berdentum lebih kuat ketika Luhan ada disampingnya. Diraba dadanya
itu, bahkan dia bisa mendengar datak dalam dada. Rasanya berbeda dari hal
sebelumnya ketika dia memeluk Luhan-nya dengan kedua tangan, dan itu juga
berbeda ketika Luhan sedang menggenggam tangannya… entah mengapa senyuman namja
itu barusan terasa hangat dalam hatinya.
“Ah
Cha-ya… ayo..” sahut Luhan.
Nyaris
saja yeoja itu tersentak dan menjatuhkan kaleng-kaleng dalam gendongannya.
“Hm,
ne.” balasnya manis.
»*»
To be continued….
Haii readers? Masih
bernafas?? Apakah masih kependekan? Kurang panjang xD aduuh…. masih ini nih yg
bisa saya suguhkan sepada kamu! *tunjuk Eunji* kamu! *tunjuk Hyemin* kamu!
*tunjuk Gabriela* Kamu! Yang ngupil itu! *tunjuk Hasanah* Dan kamu kamu
lainnnya! *sebar iler Suho*
Maaf deh kalo masih pendekan.
Doakan aja imajinasi engga buntet dan bisa bikin scenes romance lainnya ^ - ^
Pokoknya chap depan bakal
lebih seru. Dijamin! Iyakk…! Hahaha…
Yasudahlah.. saya mau makan
ikan dulu.. paii!!!! ^^]/

0 comments:
Post a Comment