Wednesday, October 23, 2013

Fanfiction DARK EYES CHAP 9 - EPILOGUE

Posted by Unknown at 9:59 PM

DARK EYES
Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog
Desclimer : Its just a fiction and I think it will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
chap 9
NOTE : MIAN SHARE TELAT
Chanyeol side :
Chanyeol terbangun dari tidur panjangnya. Kepalanya pening dan sekujur tubuhnya sakit. “Akh..!” erangnya sambil memijit kakinya yang patah. Didapatinya sebuah kamar dengan pencahayaan yang teramat minim. Jelas dia mengenali betul ini kamar siapa, kamarnya dan Baekhyun. Sesaat Chanyeol lupa mengapa kakinya sakit dan kenapa dia bisa berada di sini. Hingga akhirnya dia mengingat padang ilalang itu, gadis kecil yang tidak memiliki mata, dan kakinya yang dipatah dengan tangan kosong… diliriknya jam dinding, pukul 2 pagi. Chanyeol segera turun dari tempat tidur dan melangkah tertatih tatih sambil perpegangan erat pada dinding.
Kini dia benar-benar mencemaskan keadaan yang lainnya. ‘Dimana Baekhyun? Kenapa dia tidak tidur disampingku? Dan… bukankah saat itu aku melihat Chen dan Tao? Kemana mereka? Lalu dimana anggota yang lain?’
“Akh..akh…”
“Tep..tep..”
Kakinya terseret dan sesungguhnya itu terasa sangat sakit.
“Baekhyun?!” panggilnya.
“Chen!”
“Suho hyung..!”
Tidak satupun dari mereka yang menampakkan batang hidung. Chanyeol mulai frustasi. “Akhh..” dipengagi kepalanya yang semakin berdenyut karena memang perutnya kosong. Dia belum makan siang serta makan malam.
“Akh… Xiumin hyung….!” tubuh namja itu melemas dan dia menumpukan tangan pada meja makan.
Pikiran buruk langsung terbesit di otaknya. ‘Jangan jangan mereka..,’
Chanyeol menyeret kakinya menuju ruang TV dan disana sama saja, hening tak ada seorangpun. “Kai!! Kris! Tao!” panggilnya sambil berpegangan pada dinding. Setelah sadar disana tidak ada siapa siapa Chanyeol memeriksa satu persatu kamar para member.
“Ais, jangan sampai mereka kenapa napa…” desisnya.
Chanyeol sekarang menuju lorong kamar mandi. Lantainya basah dan ada bercak darah dimana mana. Mulutnya menganga bingung, dadanya sesak disertai pikiran pikiran buruk lain. Pintu putih itu terbuka, tidak… tepatnya hancur seperti ada seseorang yang telah memukulinya hingga menjadi kepingan kayu.
“Hs..hs…hs…” deru nafas Chanyeol yang tidak beraturan terdengar menggema dalam keheningan lorong.
Chanyeol mendekati ruangan kosong itu dan masuk ke dalam. Bau bau darah yang tidak sedap memenuhi ruangan dan itu sangat mengganggu pernafasan. Perasaan namja itu semakin tidak enak…
Chanyeol berbalik. Dia membuka satu persatu kamar mandi. Ternyata masih nihil.
“Chen?! Lay?!” panggilnya lagi nyaris berputus asa.
“Mencari siapa?” sebuah suara yang dingin terdengar dari luar. Sehun, bocah itu berdiri ruang makan sambil memandangi Chanyeol yang masih ada di dalam lorong.
“Sehun…” sebuah senyuman terukir di bibir Chanyeol. Namja yang lebih tinggi tersebut berjalan cepat keluar dari lorong menghampiri Sehun. Muka Sehun pucat dan kering namun itu sama sekali tidak dicuriagi oleh Chanyeol…. menemukan satu orang saja di dorm ini selain dirinya sendiri sudah membuat Chanyeol lega.
“Sehun.. Sehun…!” dengan tergopoh namja itu mendekat.
“Kau mencari siapa?” tanya Sehun sedingin es.
“Hei, kemana yang lain? Kita harus cepat cepat mengajak yang lain keluar dari sini!” Chanyeol meremas kedua bahu Sehun dan menggoyangkannya.
“Kau tidak boleh keluar… kamu sudah masuk kesini, tidak akan bisa keluar darinya.” ucap Sehun datar.
Air muka Chanyeol menengang seketika. “Darinya? Maksudmu…,” balasnya gagap.
“Ne!” potong Sehun sambil mengangkat sebuah kapak yang entah dia dapatkan dari mana. Chanyeol langsung menghindar.
“Yaa.. Sehun! Sehun! Jadi kau?...,” mata besar Chanyeol melebar maksimal.
“Ne!” jawab Sehun sambil mengayunkan kapaknya kepada Chanyeol. Untung saja Chanyeol masih bisa menghindar. Namja tinggi itu terus menghindar sampai mereka berdua saling mengejar mengitari meja makan yang tidak terlalu besar.
“Sehun.. Sehun! Sadarlah, aku hyung mu!!” pinta Chanyeol sambil membungkuk kemudian menyeret kakinya lagi menjauhi Sehun.
‘Syut!!... Brak~” mata kapak Sehun terayun dan menghantam lemari makan seketika lemari itu berlubang bagian pintunya. “Ini akibat kau tidak mau pergi dari tempat ini hyung! Kau harus mati…!” ucap Sehun sambil berlari mengejar Chanyeol yang sekarang masuk ke ruang TV.
Dengan nafas yang sudah nyaris habis Chanyeol terus menyeret kakinya meski dia mulai kehabisan darah karena pendarahan di bagian kaki.
“Agh.. agh… Se-Sehun! Aku mohon berhenti!! Sebenarnya apa yang membuatmu begini hah? Kemana yang lain?” tanya namja tersebut sambil melangkah kebelakang sofa. Sehun menyeret kapaknya yang berat sehingga menumbulkan suara tidak mengenakkan pada lantai.
“Mereka mati hyung… mereka sudah mati!” Sehun menyeringai seraya bersiap siap menghujamkan kapaknya pada kepala Chanyeol.
“Syut..~” kapak terayunkan dan kali ini belum juga tepat sasaran.
“Yakh.. agh….” Chanyeol kembali berlari dengan terpincang pincang. Kakinya benar benar sakit sekarang. Dia tidak kuat lagi, dia tidak akan kuat berlari.
“Sehun! Berhenti tolong! Sadarlah..!!” dengan gugup namja tersebut kembali keluar ruang TV dengan jejak darah yang terjun dari luka di kakinya. Chanyeol menuju ruang tamu dan tentu saja Sehun cepat menyusul. “Ashh.. sakit..” pekik namja itu sembari memegangi kakinya yang mungkin sebentar lagi akan lepas dari tubuhnya.
“Sakit hyung…? Sini biar aku yang tangani…”
“Syutt…~” kapak itu terayun ke kaki Chanyeol tetapi untung saja kali ini Chanyeol masih bisa menahan perih di kakinya. Dia segera mundur dan sialnya Chanyeol tersandung kaki meja sehingga dia tersungkur diatas sofa.
“Ahahaa… Masih kuat berjalan rupanya..~”
“Syut..~”
“Jleb…”


Sofa yang empuk itu berlubang pada bagian seatnya sehingga banyak gabus yang termuntahkan keluar. Chanyeol menghindar dengan cara berguling sampai dia jatuh ke lantai.
“Bugh..”
“Ah..” pekiknya ketika punggungnya terbentur dinginnya lantai kayu.
Sehun semakin emosi karena dia belum juga berhasil menempatkan kapak pada sasaran. Dia raihnya lagi kapak itu dan Sehun menatap Chanyeol (yang masih terbaring di lantai) dengan tajam.
“Tidak… tidak… jangan Sehun…” ucap namja itu sambil merangkak mundur menjauhi Sehun yang kian mendekat. Kini kapak itu sudah berada pada genggaman Sehun dan selangkah lagi mungkin Chanyeol akan habis. Tangan Chanyeol meraih raih sesuatu disekitarnya dan dia mendapati kaki meja, segera namja itu masuk ke dalam kolong meja.
Satu,
Dua,
Tiga, Sehun melemparkan kapaknya.
“Bruakk!!!” meja terbelah dua dan sisanya menjadi kepingan yang kecil kecil. Namun disana, Chanyol belum habis… dia masih bernafas dengan kedua tangan yang disilangkan didepan wajah. Dahinya berdarah karena terkena pecahan kayu dan itu sangat perih. Kapak tadi tepat mendarat di samping telinganya.. dia masih selamat.
Mata Chanyeol terpejam erat menunjukkan betapa siapnya dia menghadapi ajal, tapi ternyata itu belum saatnya.
Sehun terbengong dan Chanyeol meliriknya dari sela sela jari tangan.
Sebuah ide melintas di kepala Chanyeol. Namja itu segera bangkit dan mencabut kapak tadi dari lantai. Kini Chanyeol yang menggenggam senjata tersebut. Sehun mundur beberapa langkah kebelakang.
“Baik, akan aku yang menghentikan semuanya… mungkin lebih baik jika kau yang mati!” ‘Syutt..’ Chanyeol mengyunkan benda itu ke leher Sehun dan Sehun cepat-cepat menunduk sebelum kepalanya putus.
“Hyagh…” diayunkannya lagi kapak itu dan belum juga berhasil. Kaki Chanyeol nyaris tidak mampu diajak berjalan lagi karena memang kapak itu begitu berat.
“Hss…hss..” nafas namja tersebut terengah engah.
“Kurasa kau kurang cerdas, Park Chanyeol… kau tidak akan bisa membunuhku.. hahaha!” Sehun berlari ke dapur dan mencari sesuatu disana. Dengan segera Chanyeol mengikuti sambil menyeret kakinya.
Sekarang di tangan Sehun terdapat sebuah gunting dengan ukuran besar dan ujung lancip. Sehun menggenggam gunting itu dan siap-siap melemparkannya pada Chanyeol.
‘Syutt…’ kapak terayun ke arah Sehun. Namun,
“Auhh..!” Sehun  menendang kaki Chanyeol yang patah dan langsung menusukkan gunting tersbut ke punggungnya. ‘Cleb..’ darah mengalir dari punggung Chanyeol. Selanjutnya namja itu menelungkup di lantai kayu karena sakit yang suar biasa hebat.
“Hahaha… mati kau Park Chanyeol!...” Sehun menyeringai kemudian menginjak ujung gunting sehingga semakin menusuk ke dalam tubuh Chanyeol.
“Eghh…” erang Chanyeol ditahan karena dia memang sudah tidak bisa melakukan apa-apa.
Sehun tersenyum setelah mendapati sasarannya itu mati. Dia mengambil lagi kapak yang tergeletak di lantai. Kemudian melangkah pergi denga seringaian setan.
Disamping itu, Chanyeol terus menahan nafas dan pura-pura sudah mati.
‘Tep..tep..tep…’ langkah Sehun menjauh dan semakin jauh.
Chanyeol tersenyum licik sambil menahan sakit.

“Kris.. tarik lagi!! Tari Kris..!” seru Luhan seraya menggenggam tangan Kris erat erat. “Ghh…!” erang Kris sambil menggenggam kedua lengan Luhan. Saat ini celana panjang yang Luhan pakai sudah sobek menjadi potongan yang panjang panjang dan kulit kakina tercabik cabik dengan darah yang mengalir keluar.
Dahi dan sekujur tubuh namja itu berkeringat panas disertai nafas berat. Detak jantungnya berlomba dengan nafas. Tenaganya terkuras habis namun Luhan belum menyerah meski perjuangan ini harus bersimbah darah sekalipun.
Setan tadi menancapkan kuku kukunya lagi dan mengorek daging Luhan hingga putuslah pembuluh darah Luhan.
“Arhh…!” darah mengalir semakin banyak mebanjiri lantai dan sekujur kaki Luhan.
Pegangan tangan Luhan melemah dan semakin melemah. Mata Luhan menjadi sayu, bibirnya memucat, nafasnya melemah dengan perlahan.
“Luhan!! Agh.. jangan pingsan..Lu..!” pekik Kris yang juga telah berpeluh.
Luhan kehabisan banyak darah. Kedua lengannya ngilu karena bergesekan dengan mulut ventilasi yang sempit. Hingga.. “Krish.. Krish.. aku…hs..” mata namja itu terpejam dan tubuhnya tertarik ke dalam kembali hingga jatuh ke lantai.
“Luhan!!!” seru Kris keras sambil menjulurkan tangannya ke ventilasi, tapi terlambat sudah…
“Agh..! Aku harus bagaimana?! Luhan!!! Aish…!” Kris kebingungan dan meremas rambutnya yang pirang dengan semburat cokelat. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang…
Kris mondar mandir sambil sesekali melongokkan kepala ke ventilasi. Dia tidak mau kehilangan Luhan, tapi pasti sebentar lagi dia juga akan menjadi korban. Tiba-tiba saja, jiwa egoisnya tumbuh…
Kris berlari meninggalkan gubuk itu dengan bimbang padahal disana masih ada satu member yang perlu diselamatkan.

Your POV
“Ahh… selesai juga…!” aku tepukkan kedua tanganku yang ternoda oleh tanah. Aku dan Kai oppa telah usai menguburkan semua jasad yang mati pada satu malam ini. Sedari tadi aku melihat wajah Kai oppa yang memerah menahan tangis namun tidak kupertanyakan atau kubahas… aku tahu ini semua menyakitkan. Bukankah ini artinya EXO hancur?
“Kita sudah selesai… ya.. semua selesai…” ujar Kai lirih sambil menatap ketujuh kau nisan yang tertancap diatas tanah. Kulihat air mata menggenang disana. Begitu menyesakkan bagiku melihatnya begini.
Aku mendekat dan menyandarkan kepala di pundak Kai oppa yang lurus.
“Apakah kau tidak lelah chagi?” tanyanya sambil melirikku.
“Ani..” aku menggeleng jujur. Sekarang aku benar-benar tidak merasa lelah atau apapun.. rasanya mati rasa semua. Aku juga tidak merasa senang namun merasa cukup nyaman meski keadaan begini. Yap, EXO… boyband itu berahkir sudah….
“Syut…” tiba-tiba sesuatu melingkar di leherku. Aku tercekik.. dan sesuatu menarikku dengan benda mencekik itu. Tali… yap.. ini tali yang sedang digunakan untuk mencekikku.
“Akhg…Ahgg..!!!” aku tercekik, tertarik, dan terseret kebelakang. kedua tanganku terus kugunakan untuk menggenggam tali itu agar benar-benar tidak menghabisi nyawaku.
“Mina!!” Kai terbelalak dan menoleh kebelakang. Aku menjulurkan sebelah tangan dengan nafas tercekat.
“Sehun? Apa yang kau lakukan pada Mina?!” Kai berlari mengikutiku dan…
‘Sehun oppa?...’
Sebuah memori terlintas pada ingatanku. Ya.. Sehun yang mempersilahkanku masuk, duduk, dan tersenyum kaku bagai es, juga… Sehun yang menghilang secara tiba-tiba.. dan sekarang… Sehun yang mencekikku dengan tali.. ‘Oppa!! Oppa!! Dia bukan Sehun yang sesungguhnya!!!’ aku ingin berteriak tapi apalah daya, untuk bernafas saja sangat susah.
“…Ini semua salahmu Jong In! Kau yang membuat dia kemari…! Ini artinya dia juga harus…,” Sehun menarik lebih kuat tali yang melilit leherku dan menggantung tubuhku di dahan pohon yang entah itu pohon apa. “…Mati” lanjutnya seusai aku benar-benar terangkat hingga di pertengahan batang pohon.
“Ahk.. op..ak… Opp..ahk…” kugerak gerakkan kakiku. Rasa pusing dan ngilu pada kepalaku yang tadinya hilang kini timbul kembali karena penyiksaan ini. Aku tidak bisa bernafas… Paru paruku kering.. oksigen dalam diriku menipis dengan cepat.. Leherku panas dan kurasakan otot-otot leherku tertarik tarik nyaris putus.
Kai oppa yang melihatku segera menghampiri pohon dan berusaha memanjatnya. “Yak Sehun!! Kau bajingan!” pekik Kai oppa sambil mendorong tubuh Sehun. Aku masihberusaha bertahan meski pandangan mengabur secara perlahan. ‘Jangan mati..jangan mati…’
Sehun oppa yang baru saja terdorong malah tersenyum kecil. Dan sesuatu terjadi…  Namja yang seumuran denganku itu menendang tulang kering Kai oppa sehingga kekasihku tersebut terjatuh.. dan saat itulah Sehun oppa mengeluarkan kapak kemudian memotong kaki kiri Kai oppa sampai patah. ‘Cleb!..’ darah berlomba lomba membasahi rerumputan itu dan merembes ditelan tanah yang basah.
Hatiku terasa sakit melihat ini semua… dengan mataku sendiri, kulihat kaki kekasihku berdarah darah.. patah.
“Akhh,” jerit Kai oppa.
Sebutir air mata kepedihan meluncur dari pipiku. Aku yakin dia lebih sakit daripada aku sekarang… Kai oppa lebih sakit. Sehun oppa dengan liciknya tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Kai oppa menyeret tubuhnya sendiri “Se-Sehun… itu..bukan…h.. kau.hhs…” rintih Kai oppa kesakitan.
“Ne, ini memang bukan aku.” dan pada akhirnya.. kapak itu dilemparkan tepat menembus selangkangan dan sebagian perut Kai oppa.
‘Crat..!’ darah meluber keluar membasahi mata kapak dan tanah sekitarnya. Tangisanku pecah. Aku semakin sesak. Aku ingin berteriak sekencang mungkin tapi ini mengerikan, aku tidak bisa mengeluarkan suara. Terlalu berat, terlalu panas, terlalu pedih untuk meneriaki ini semua.
Sehun mencabut lagi kapak itu dan masih kulihat mata Kai oppa sayu, dia masih hidup sebelum…
‘Cleb!!’
“Ah!!..”
‘Cleb..’
“Ahhk!!!”
“Mina…,akh!..”
‘Crat!!’
‘Cleb…!’
Dihujamkannya kapak itu berkali kali di dada dan perut Kai oppa sampai tulang rusuknya remuk menjadi potongan yang pendek pendek. Bagian dalam tubuh Kai oppa keluar semua dengan darah yang memenuhi dirinya.
Aku menangis menyaksikan itu semua. Kai oppa tiada, namja yang paling kucintai itu.. habis dengan keadaan mengenaskan dihadapanku sendiri… dihadapanku… dengan kata terakhirnya, dia menyebut namaku.. Kai oppa menyebut namaku.
“Selanjutnya kau..!”
“Jleb..!”
“Akkh..!”
Darahku, darahku… mengucur menetes melewati kakiku hingga terjun ke tanah. Sakit! Sakit! Jantungku… terbelah dan kurasakan tulang belakangku patah.. nafasku habis. Kapak itu terlempar dan menembus diriku.
Pandanganku memerah…. darah, darah keluar dari mataku dan leher ini tidak mampu lagi tegak.
Aku mati dalam keadaan tergantung disini…
Mina POV is over


Luhan mulai membuka mata dengan perlahan. “Ashh…” desahnya ketika dirasakan linu di bagian tengkuk dan lengannya. Dia membuka mata dan melihat sekitar. Dinding gubuk itu masih utuh.. badannya masih utuh. Namun apa ini?
Tali?
Dia terikat di kursi dengan tambang. Luhan menggerakkan badannya namun “Ashh..” sakit sekali begitu kulit kakinya yang telah mengelupas itu bergesekan dengan tali tambang yang melilit kakinya. Tangannya pun juga terikat ke sisi kanan dan kiri kursi.
“Agh..ahh..!” Luhan bersikeras menggoyangkan tubuh agar benda itu terlepas. Tetapi kakinya yang tidak lagi terlapisi kulit semakin panas dan perih.
“Auh…” pekiknya kesakitan.
Tidak ada siapapun disini selain dirinya. ‘Kemana anak itu?’ entah mengapa kini Luhan malah penasaran.
Tiba tiba terdengar langkah mendekat. Luhan tertegun. Pintu masuk terbuka secara perlahan menampakkan sesosok namja dengan jubah hitam yang kebesaran. Luhan tidak dapat mengenali siapa orang itu karena tudung jubah yang menutupinya. Yang pasti bukan setan kecil tadi.
“S-siapa itu?” tanya Luhan.
Orang tadi mendongakkan kepala. Betapa kagetnya Luhan ketika melihat wajah yang tadinya tersembunyi di dalam jubah.
“Se-Sehun?!” pekiknya dengan mata membulat.
“Ne, aku Sehun…” namja putih itu mengambil sesuatu di lemari kecil yang ada disana. Dan mengeluarkan tiga buah botol berukuran besar yang transparan sehingga tampaklah cairan bening didalamnya.
Luhan tidak bisa memastikan bila itu hany air biasa.
“..Sehun! Lepaskan aku! Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Luhan panik.
Sehun tersenyum sambil membuka penutup salah satu botol. “Pertanyaan konyol…,” dia menuangkan sedikit demi sedikit air itu ke bagian bawah dinding secara mengeliling. “Bukankah kita datang ke tempat ini bersama sama dengan member yang lain..” balasnya sambil terus menuangkan isi botol itu keseluruh bagian bawah sisi dinding di ruangan itu.
“…Sehun! Itukah kau?! Kau…kau.. berbeda, bukan Sehun yang selalu mengabulkan apa kataku.. kubilang lepaskan aku sekarang!” pinta namja itu lagi kali ini lebih terdengar memaksa.
Botol tadi habis dan kini Sehun mengambil botol kedua. Sama. Dia menuangkan isi botol itu. Kali ini dia menuangkannya mengitari Luhan yang sedang terikat di kursi –di tengah ruangan.
“Kau mau aku apa BabyLu? Hm..?” tanyanya pura pura tidak mendengar. Kini air itu sepenuhnya mengelilingi tubuh Luhan.
Luhan mulai sakit hati. Ini benar benar bukan Sehun! Dia sama sekali bukan Sehun! “…F*ck! Lepaskan aku sekarang!! Kau tidak mendengarku hah?!!” perintah Luhan dengan teriakan kencang.
“…Maaf,” Sehun membuka botol ketiga dan menuangkannya ke tubuh Luhan hingga sekujur tubuh namja itu basah.
‘Yak…. ini bukan air.. ini minyak!..’
“Kau meminta pertolongan kepada orang yang salah Luhannie… selamat tinggal…” Sehun mundur sambil merogoh kantung celananya. Sehun mengeluakan korek api.
Luhan bergerak gerak protes dalam tempat duduknya minta dilepaskan. Dia sungguh tidak menyangka jika Sehun yang selama ini sangat akrab dengannya menjadi seperti ini. Kejam.
“Jess…” setitik api timbul di kepala korek. Sehun mendekatkannya kedepan wajahnya sambil tersenyum sendiri.
“Sehun!! Jangan!..!!”
“Dan… sampai bertemu kembali di kehidupan kedua Luhannie.. aku mencintaimu…” dengan liciknya Sehun menjatuhkan korek itu ke tanah tempat minyak tadi tertuang.
“Sehun!!! Sehun!! Aish..!” Luhan bergerak gerak dalam posisinya yang tidak lagi memungkinkan untuk bebas.
Sehun tersenyum untuk yang terakhir kalinya dan menutup pintu, menguncinya dari luar.
Sedikit demi sedikit api mulai menjalar dari sisi ke sisi hingga membentuk lingkarang api dimana Luhan yang berada ditengah tengahnya. Panas dan berasap.
Luhan mengguncangkan kursi sampai kursi itu terguling ke kanan bersama Luhan. Panas semakin terasa memasuki tubuh tak berdayanya. Keringat yang mengicur menunjukkan bila suhu di tempat itu benar-benar memanas hebat.
“Ahhg… Ahhgg…!” Seluruh dinding terbakar dengan cepat namun Luhan masih bernafas didalam sana. Dia berusaha melarikan diri.. tetapi tetap saja tidak mampu. Api semakin besar dan meledak ledak didalam sana. Ruangan dipenuhi asap yang mampu membuat siapapun akan tersedak.
“Aaaaahh!!!!” Kaki Luhan terbakar kejamnya api hingga hanguslah daging bagian dalamnya.
“AAAahh..!!!!” nasibnya habis dimakan kobaran api di pagi itu.

Sungguh terkadang sesuatu yang tidak mungkin terjadi bisa dengan mudahnya muncul didepan mata. Hanya dalam sehari semalam… rumah itu memakan nyaris selusin korban jiwa. Kejam memang.
“Agh..!” tangan Chanyeol terulur kebelakang tepatnya ke punggungnya sendiri dan mencabut benda laknat itu. Perih sekali… sangat mengerikan untuk dibayangkan bagaimana benda itu mampu menembus kulitnya.
Dengan susah payah Chanyeol kembali duduk. Tangannya meraba raba ke permukaan meja mencari sesuatu hingga ditemukannya serbet yang lumayan lebar. Dililitkan serbet itu ke kakinya yang patah untuk penunjangnya agar tetap bisa berjalan. Kemudian diikatkan bagian ujungnya erat erat. “Ash..!” pekiknya menahan sakit.
Dia kembali bangkit dengan badan yang bersimbah darah semacam itu. “Ash..ash..!” rintihnya langkah demi langkah. Dia menuju taman belakang untuk memeriksa situasi.
Tiba tiba tenggorokannya tercekat ketika mendapati tujuh buah nisan dan dua orang mayat disana. Yang satu seorang wanita tergantung dengan badan berdarah di pohon dan satunya hancur tercabik cabik.
Chanyeol kenal betul pada mereka… Chanyeol menangis menumpagkan air matanya. Dia tidak mengira akan seperti ini jadinya. Dia tidak menyangka jika sarapan tadi pagi adalah sesi makan bersama untuk terakhir kalinya bersama sama. Diremasnya rambutnya sendiri… dia tidak memercayai ini kenyataan! Ini mimpi! Ini mimpi!!
Sesuatu muncul dalam benaknya. Giginya menggertak dengan marah dan mata indah Chanyeol melotot. Dia menyeret kakinya kembali masuk lalu menggeledahi laci meja dapur. Ditemukannya sebuah pisau besar.
Nafasnya patah patah disertai keringat.
“Keluar kau dasar anak kecil bajingan! Kau bunuh teman temanku!! Keluar sekarang!!...” dadanya naik turun dengan irama yang berantakan. Dia sangat marah saat ini.
“…Ayo!! Lawan aku! Lawan diriku sekarang juga!! Bunuh aku! Bunuh aku!!” teriaknya dengan suara berat.
Air mata mengucur lagi.
Aroma tidak sedap tercium. Kali ini sangat tidak enak… nanah, darah busuk, bau seperti muntah dan kotoran…. menyeruak ke dapur yang berantakan. Angin dingin terasa tidak menyenangkan bagi kulit. Satu persatu lilin di ruangan atau bahkan di rumah itu mati sehingga gelap gulita.
“Keluar sekarang!!! Ke hadapanku! Lawan aku!! Lawan aku!...” hs..hs…. meski dia nyaris mati namun dalam hati tetap berdiri dengan kokoh.
Terdengar suara seretan kain atau benda. Bisa jadi itu seseorang. Setan itu mendekat dengan menyeret tubuhnya di lantai dan cakar yang mencengkeram lantai kayu. Tubuh Chanyeol meremang seketika namun dia tetap memberanikan diri berhadapan satu lawan satu dengan setan tersebut.
“Srekk…”
“Srek…” suara tadi mendekat dan Chanyeol mengenggak liur dengan susah payah.
“Aku disini… dekati aku… dekati aku,…” namja tersebut mengacungkan pisaunya ke atas untuk bersiap-siap.
Hap… crekk….
Seseorang menangkap kaki Chanyeol yang tidak patah dan mencakar cakar celananya. Dengan cepat Chanyeol menghujamkan pisau itu ke kepala setan dan terdengar teriakan.
“A…..’…” setan tadi berseru karena kepalanya yang sukses tertembus pisau.
“Yak!! Kena kau!!”
“Cleb”
Pisau tersebut dihujamkannya lagi dan terdengar teriakan.
“Kau fikir menyakiti manusia itu hal yang baik!! Hidupmu adalah hidupmu…. hidup mereka… adalah hidup mereka…!!”
“Cleb!!”
“Cleb… Kreakk..”
Bersamaan dengan kuku kuku setan yang mengorek tepat di betis Chanyeol. Chanyeol memekik kesakitan dan terjatuh ke lantai.
Setan itu menancapkan kukunya dalam dalam sehingga daging kaki Chanyeol terkikis dengan tragis.
“AAAAhh…!!” Chanyeol mencakar lantai karena kesakitan.
“Cleb.. kreek…!” sedikit demi sedikit daging kaki Chanyeol habis teriris-iris.
Tangan namja itu meraih –raih sesuatu disekelilingnya. Karena gelap mereka terus beradu dalam kegelapan. Dan Chanyeol menemukan sebuah lampu minyak. Dipukulkannya lampu itu ke tubuh setan dan minyak tumpah ke kepala si setan.
Chanyeol mencari cari sesuatu lagi dan didapatinya korek api.
“Habis kau!”
Api membakar rambut setan itu dan dia kesakitan.
“Arrghh!!! Arghhhhhh!!!!!” dia berguling guling di lantai kayu. Tubuhnya hangus secara perlahan. Dengan sepenuh tenaga yang tersisa, Chanyeol berjalan meninggalkan rumah meski kedua kakinya telah terluka parah.
‘Ini sudah selesai Yeollie! Its over!!’ bisiknya pada diri sendiri.
Namun kemudian sesuatu tergeletak di halaman dorm yang berilalang itu. Seorang namja tinggi tergeletak dengan bekas luka hantaman benda tajam di punggungnya.. Chanyeol menghampirinya dan mendorong tubuh itu hingga terlentang.
“Kris hyung….” gumamnya kaget melihat mayat Kris.
“AAAAAAAAAA’//////” teriakan sadis itu terdengar menggema hingga ke langit.
“Duarr…!!!!!”
Dorm tersebut meledak dan terbakar.
Sebuah senyuman pertanda kesedihan, sakit, tekad, serta bahagia timbul di wajah tampan Chanyeol yang pehun dengan noda. Dia kembali berjalan meneruskan langkahnya dengan sisa tenaga meninggalkan gedung tua itu.
Dia menang dan berjalan ke arah matahari pagi yang mulai timbul dari muka bumi.


EPILOGUE
Cahaya kekuningan timbul dan dengan lembutnya menembus kaca jendela sampai akhirnya jatuh menimpa tubuh lemah Chanyeol. Aroma-aroma obat khas rumah sakit tercium begitu nyawanya telah kembali.
Chanyeol membuka mata besarnya dan mengerjap beberapa kali. Disinilah dia, diatas ranjang pasian dengan kedua kaki. Sebelah kaki diperban dengan rapat dan kaki satunya tergantung dengan gyps.
Dia masih bernafas… hanya dia dari ke 12 elemen abadi itu. Kedua mata colekatnya bergerak memandang cakrawala dari luar jendela. Begitu tentran dan menghangatkan… seukir senyuman yang pedih sekaligus menggembirakan timbul di bibirnya. Disusul oleh setitik air mata bentuk curahan kesendiriannya.
Yap… inilah pagi pertamaku tanpa mereka… mereka yang telah hilang hana dalam satu malam.. itu seperti imimpi, namun itu bukan mimpi. Semua berakhir sudah….

“Belum Yeollie…” sahut sebuah suara merdu.
Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya ke suara itu.
Berasal dari seorang namja dengan tubuh kecil dan mata simpit. Namja kecil itu tersenyum penuh kebahagiaan. Baekhyun. Dia disana dan itu membuat Chanyeol tertegun. Dibelakang namja itu tempak ke sepuluh namja lain dengan senyuman yang sama. Luhan dengan wajah tampannya yang abadi walau dia sudah dimakan api dan terjun ke alam kedua. Kris yang tersenyum jantan. Kai,… namja yang mati secara mengenakan itu mengangkat jempol tangannya pada Chanyeol. Chen menangis bahagia. Lay, Xiumin, dan Tao yang berpelukan satu sama lain sambil tersenyum ke Chanyeol. Suho, leader itu hanya diam ditempat .. dia sesosok orang yang paling dirindukan Chanyeol saat ini. Kyungsoo, yang selalu membuatkannya sarapan disetiap pagi… Sehun yang tersenyum dengan cerahnya. dan disampingnya berdiri seorang yeoja manis dengan rambut panjang, Mina.
“Kalian…,” ujar Chanyeol terputus.
Baekhyun mendekat ke Chanyeol sambil memberikan sebuah handycam.
“Semua belum selesai sebelum kau melihat ini Channie…” ucap Baekhyun.
Chanyeol menerima benda itu dengan ragu.
“Apa ini?”
“Miliknya…” Baekhyun menunjuk luar ruangan tepatnya ke arah balkon kamar Chanyol. Karena pintu dari kaca jadi mereka bisa menyaksikan siapa yang sedang berdiri didepan sana.
Kiran
Wajah manis anak itu tampak dengan senyuman.
“Kau harus melihatnya….” tambah Mina.
Chanyeol memandang handycam yang saat ini ada pada genggamannya. Dan selanjutnya mereka semua menghilang satu persatu kembali ke alam mereka yang jauh ada diatas awan.
Namun Sehun dan Kiran masih ada disana.
“Maafkan aku Chanyeol hyung…” celetuk Sehun. “Dan sekarang aku harus berbiacara pada Kiran….”
Sehun menghampiri Kiran keluar.
Namja itu menggenggam bahu Kiran.
“Ada satu orang lagi yang belum.”
Selanjutnya mereka berdua menghilang dibawa angin.




Malam itu….
Ruangan apartemen yang sepi terasa mencekam. Terdengar suara kertas-kertas yang ditata diatas meja. Namja paruh baya itu, Soo Man ajusshi dia sedang mengurusi berkas berkas yang belum terselesaikan entah apa itu isinya. Dia kembali mengetik dengan fokus.
Hingga tiba tiba pintu apartemen dan jendela terbuka diserang dinginnya angin malam. Gordain beterbangan melambai-lambai.
Layar laptopnya menghitam dan mati begitu saja. Soo Man terkejut. “Aish… kenapa ini?” pekiknya sambil kembali memencet tombol power. Tapi tidak juga mau menyala.
Bau tidak sedap tercium menyeruak keseluruh ruang kerjanya. Soo Man mengendus-endus dengan risih. Bau darah, nanah, dan aroma muntah.. ya, semacam itu.
Dan..,
Dua buah tangan muncul dari bawah meja merambat ke kedua kaki Soo Man. Mencengkeram erat kaki-kaki itu.
“Hyaa.!!”


FIN

SELESAIIIII!!! HOREEE.!!! PANJANG YAKK?
Minta review buat para readers.. ada g tegang? Atau nangis? Atau malah ketawa? XD Minta penjelasan sama apa saja yang telah kalian rasakan pada FFku ini.
Mian kalo ada typo… aku belum sempet baca lagi seusai nge-endingin ini. Jadi mohon pengertian dari para reders tersayang… ^^
Gomawo..gomawo..dan gomawo.. sudah mau membaca FF Dark Eyes ini hingga ENDING.
FF ini jujur aku buar sebenarnya buat iseng, tapi begitu aku post… review dan respons terlalu banyak dan menyuruh author bekerja lebih keras.. sampai akhirnya ENDINGlah Fanfic horror pertamaku ini…!! ^^]/ untuk yang terakhir kalinya… Auhor minta komentarnya readers deul.. :v

Maaf bila ada kesalahan…
WaLuhannieTaofik Walhidayah.. WaChenmuaLaykum…. warrahmatullahi wabaro KaiD.O :v
Ralat : Wasaalammualaikum ^=^
Gomawo…. ^_^
Ppai ppaiiii!!^^]/

1 comments:

Fiyah on March 24, 2015 at 4:35 AM said...

Min takut tahu bacanya. Kenapa mrk bunuh2han begono? Kenapa Nyi Soo Man dibunuh jg?

Post a Comment

 

Fanwindow Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei