DARK EYES
Author : Jihan Kusuma
Genre : Family and Horor
Cast : EXO members and YOU as Hwang Mina
Leght : Prolog, Chapters, and Epilog
Desclimer : Its just a fiction and I think it
will be hurt. Becarefull with your eyes….
Thanx
chap
9
NOTE
: MIAN SHARE TELAT
Chanyeol side :
Chanyeol terbangun dari tidur panjangnya. Kepalanya pening
dan sekujur tubuhnya sakit. “Akh..!” erangnya sambil memijit kakinya yang
patah. Didapatinya sebuah kamar dengan pencahayaan yang teramat minim. Jelas
dia mengenali betul ini kamar siapa, kamarnya dan Baekhyun. Sesaat Chanyeol
lupa mengapa kakinya sakit dan kenapa dia bisa berada di sini. Hingga akhirnya
dia mengingat padang ilalang itu, gadis kecil yang tidak memiliki mata, dan
kakinya yang dipatah dengan tangan kosong… diliriknya jam dinding, pukul 2
pagi. Chanyeol segera turun dari tempat tidur dan melangkah tertatih tatih sambil
perpegangan erat pada dinding.
Kini dia benar-benar mencemaskan keadaan yang lainnya.
‘Dimana Baekhyun? Kenapa dia tidak tidur disampingku? Dan… bukankah saat itu
aku melihat Chen dan Tao? Kemana mereka? Lalu dimana anggota yang lain?’
“Akh..akh…”
“Tep..tep..”
Kakinya terseret dan sesungguhnya itu terasa sangat sakit.
“Baekhyun?!” panggilnya.
“Chen!”
“Suho hyung..!”
Tidak satupun dari mereka yang menampakkan batang hidung.
Chanyeol mulai frustasi. “Akhh..” dipengagi kepalanya yang semakin berdenyut
karena memang perutnya kosong. Dia belum makan siang serta makan malam.
“Akh… Xiumin hyung….!” tubuh namja itu melemas dan dia
menumpukan tangan pada meja makan.
Pikiran buruk langsung terbesit di otaknya. ‘Jangan jangan
mereka..,’
Chanyeol menyeret kakinya menuju ruang TV dan disana sama
saja, hening tak ada seorangpun. “Kai!! Kris! Tao!” panggilnya sambil
berpegangan pada dinding. Setelah sadar disana tidak ada siapa siapa Chanyeol
memeriksa satu persatu kamar para member.
“Ais, jangan sampai mereka kenapa napa…” desisnya.
Chanyeol sekarang menuju lorong kamar mandi. Lantainya basah
dan ada bercak darah dimana mana. Mulutnya menganga bingung, dadanya sesak
disertai pikiran pikiran buruk lain. Pintu putih itu terbuka, tidak… tepatnya
hancur seperti ada seseorang yang telah memukulinya hingga menjadi kepingan
kayu.
“Hs..hs…hs…” deru nafas Chanyeol yang tidak beraturan
terdengar menggema dalam keheningan lorong.
Chanyeol mendekati ruangan kosong itu dan masuk ke dalam.
Bau bau darah yang tidak sedap memenuhi ruangan dan itu sangat mengganggu
pernafasan. Perasaan namja itu semakin tidak enak…
Chanyeol berbalik. Dia membuka satu persatu kamar mandi.
Ternyata masih nihil.
“Chen?! Lay?!” panggilnya lagi nyaris berputus asa.
“Mencari siapa?” sebuah suara yang dingin terdengar dari
luar. Sehun, bocah itu berdiri ruang makan sambil memandangi Chanyeol yang
masih ada di dalam lorong.
“Sehun…” sebuah senyuman terukir di bibir Chanyeol. Namja
yang lebih tinggi tersebut berjalan cepat keluar dari lorong menghampiri Sehun.
Muka Sehun pucat dan kering namun itu sama sekali tidak dicuriagi oleh
Chanyeol…. menemukan satu orang saja di dorm ini selain dirinya sendiri sudah
membuat Chanyeol lega.
“Sehun.. Sehun…!” dengan tergopoh namja itu mendekat.
“Kau mencari siapa?” tanya Sehun sedingin es.
“Hei, kemana yang lain? Kita harus cepat cepat mengajak yang
lain keluar dari sini!” Chanyeol meremas kedua bahu Sehun dan menggoyangkannya.
“Kau tidak boleh keluar… kamu sudah masuk kesini, tidak akan
bisa keluar darinya.” ucap Sehun datar.
Air muka Chanyeol menengang seketika. “Darinya? Maksudmu…,”
balasnya gagap.
“Ne!” potong Sehun sambil mengangkat sebuah kapak yang entah
dia dapatkan dari mana. Chanyeol langsung menghindar.
“Yaa.. Sehun! Sehun! Jadi kau?...,” mata besar Chanyeol
melebar maksimal.
“Ne!” jawab Sehun sambil mengayunkan kapaknya kepada
Chanyeol. Untung saja Chanyeol masih bisa menghindar. Namja tinggi itu terus
menghindar sampai mereka berdua saling mengejar mengitari meja makan yang tidak
terlalu besar.
“Sehun.. Sehun! Sadarlah, aku hyung mu!!” pinta Chanyeol
sambil membungkuk kemudian menyeret kakinya lagi menjauhi Sehun.
‘Syut!!... Brak~” mata kapak Sehun terayun dan menghantam
lemari makan seketika lemari itu berlubang bagian pintunya. “Ini akibat kau
tidak mau pergi dari tempat ini hyung! Kau harus mati…!” ucap Sehun sambil
berlari mengejar Chanyeol yang sekarang masuk ke ruang TV.
Dengan nafas yang sudah nyaris habis Chanyeol terus menyeret
kakinya meski dia mulai kehabisan darah karena pendarahan di bagian kaki.
“Agh.. agh… Se-Sehun! Aku mohon berhenti!! Sebenarnya apa
yang membuatmu begini hah? Kemana yang lain?” tanya namja tersebut sambil
melangkah kebelakang sofa. Sehun menyeret kapaknya yang berat sehingga
menumbulkan suara tidak mengenakkan pada lantai.
“Mereka mati hyung… mereka sudah mati!” Sehun menyeringai
seraya bersiap siap menghujamkan kapaknya pada kepala Chanyeol.
“Syut..~” kapak terayunkan dan kali ini belum juga tepat
sasaran.
“Yakh.. agh….” Chanyeol kembali berlari dengan terpincang
pincang. Kakinya benar benar sakit sekarang. Dia tidak kuat lagi, dia tidak
akan kuat berlari.
“Sehun! Berhenti tolong! Sadarlah..!!” dengan gugup namja
tersebut kembali keluar ruang TV dengan jejak darah yang terjun dari luka di
kakinya. Chanyeol menuju ruang tamu dan tentu saja Sehun cepat menyusul.
“Ashh.. sakit..” pekik namja itu sembari memegangi kakinya yang mungkin
sebentar lagi akan lepas dari tubuhnya.
“Sakit hyung…? Sini biar aku yang tangani…”
“Syutt…~” kapak itu terayun ke kaki Chanyeol tetapi untung
saja kali ini Chanyeol masih bisa menahan perih di kakinya. Dia segera mundur
dan sialnya Chanyeol tersandung kaki meja sehingga dia tersungkur diatas sofa.
“Ahahaa… Masih kuat berjalan rupanya..~”
“Syut..~”
“Jleb…”
Sofa yang empuk itu berlubang pada bagian seatnya sehingga
banyak gabus yang termuntahkan keluar. Chanyeol menghindar dengan cara berguling
sampai dia jatuh ke lantai.
“Bugh..”
“Ah..” pekiknya ketika punggungnya terbentur dinginnya
lantai kayu.
Sehun semakin emosi karena dia belum juga berhasil
menempatkan kapak pada sasaran. Dia raihnya lagi kapak itu dan Sehun menatap
Chanyeol (yang masih terbaring di lantai) dengan tajam.
“Tidak… tidak… jangan Sehun…” ucap namja itu sambil
merangkak mundur menjauhi Sehun yang kian mendekat. Kini kapak itu sudah berada
pada genggaman Sehun dan selangkah lagi mungkin Chanyeol akan habis. Tangan
Chanyeol meraih raih sesuatu disekitarnya dan dia mendapati kaki meja, segera
namja itu masuk ke dalam kolong meja.
Satu,
Dua,
Tiga, Sehun melemparkan kapaknya.
“Bruakk!!!” meja terbelah dua dan sisanya menjadi kepingan
yang kecil kecil. Namun disana, Chanyol belum habis… dia masih bernafas dengan
kedua tangan yang disilangkan didepan wajah. Dahinya berdarah karena terkena
pecahan kayu dan itu sangat perih. Kapak tadi tepat mendarat di samping
telinganya.. dia masih selamat.
Mata Chanyeol terpejam erat menunjukkan betapa siapnya dia
menghadapi ajal, tapi ternyata itu belum saatnya.
Sehun terbengong dan Chanyeol meliriknya dari sela sela jari
tangan.
Sebuah ide melintas di kepala Chanyeol. Namja itu segera
bangkit dan mencabut kapak tadi dari lantai. Kini Chanyeol yang menggenggam
senjata tersebut. Sehun mundur beberapa langkah kebelakang.
“Baik, akan aku yang menghentikan semuanya… mungkin lebih
baik jika kau yang mati!” ‘Syutt..’ Chanyeol mengyunkan benda itu ke leher
Sehun dan Sehun cepat-cepat menunduk sebelum kepalanya putus.
“Hyagh…” diayunkannya lagi kapak itu dan belum juga
berhasil. Kaki Chanyeol nyaris tidak mampu diajak berjalan lagi karena memang
kapak itu begitu berat.
“Hss…hss..” nafas namja tersebut terengah engah.
“Kurasa kau kurang cerdas, Park Chanyeol… kau tidak akan
bisa membunuhku.. hahaha!” Sehun berlari ke dapur dan mencari sesuatu disana.
Dengan segera Chanyeol mengikuti sambil menyeret kakinya.
Sekarang di tangan Sehun terdapat sebuah gunting dengan
ukuran besar dan ujung lancip. Sehun menggenggam gunting itu dan siap-siap
melemparkannya pada Chanyeol.
‘Syutt…’ kapak terayun ke arah Sehun. Namun,
“Auhh..!” Sehun
menendang kaki Chanyeol yang patah dan langsung menusukkan gunting
tersbut ke punggungnya. ‘Cleb..’ darah mengalir dari punggung Chanyeol.
Selanjutnya namja itu menelungkup di lantai kayu karena sakit yang suar biasa
hebat.
“Hahaha… mati kau Park Chanyeol!...” Sehun menyeringai
kemudian menginjak ujung gunting sehingga semakin menusuk ke dalam tubuh
Chanyeol.
“Eghh…” erang Chanyeol ditahan karena dia memang sudah tidak
bisa melakukan apa-apa.
Sehun tersenyum setelah mendapati sasarannya itu mati. Dia
mengambil lagi kapak yang tergeletak di lantai. Kemudian melangkah pergi denga
seringaian setan.
Disamping itu, Chanyeol terus menahan nafas dan pura-pura
sudah mati.
‘Tep..tep..tep…’ langkah Sehun menjauh dan semakin jauh.
Chanyeol tersenyum licik sambil menahan sakit.
“Kris.. tarik lagi!! Tari Kris..!” seru Luhan seraya
menggenggam tangan Kris erat erat. “Ghh…!” erang Kris sambil menggenggam kedua
lengan Luhan. Saat ini celana panjang yang Luhan pakai sudah sobek menjadi
potongan yang panjang panjang dan kulit kakina tercabik cabik dengan darah yang
mengalir keluar.
Dahi dan sekujur tubuh namja itu berkeringat panas disertai
nafas berat. Detak jantungnya berlomba dengan nafas. Tenaganya terkuras habis
namun Luhan belum menyerah meski perjuangan ini harus bersimbah darah
sekalipun.
Setan tadi menancapkan kuku kukunya lagi dan mengorek daging
Luhan hingga putuslah pembuluh darah Luhan.
“Arhh…!” darah mengalir semakin banyak mebanjiri lantai dan
sekujur kaki Luhan.
Pegangan tangan Luhan melemah dan semakin melemah. Mata
Luhan menjadi sayu, bibirnya memucat, nafasnya melemah dengan perlahan.
“Luhan!! Agh.. jangan pingsan..Lu..!” pekik Kris yang juga
telah berpeluh.
Luhan kehabisan banyak darah. Kedua lengannya ngilu karena
bergesekan dengan mulut ventilasi yang sempit. Hingga.. “Krish.. Krish..
aku…hs..” mata namja itu terpejam dan tubuhnya tertarik ke dalam kembali hingga
jatuh ke lantai.
“Luhan!!!” seru Kris keras sambil menjulurkan tangannya ke
ventilasi, tapi terlambat sudah…
“Agh..! Aku harus bagaimana?! Luhan!!! Aish…!” Kris
kebingungan dan meremas rambutnya yang pirang dengan semburat cokelat. Dia
benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang…
Kris mondar mandir sambil sesekali melongokkan kepala ke
ventilasi. Dia tidak mau kehilangan Luhan, tapi pasti sebentar lagi dia juga
akan menjadi korban. Tiba-tiba saja, jiwa egoisnya tumbuh…
Kris berlari meninggalkan gubuk itu dengan bimbang padahal
disana masih ada satu member yang perlu diselamatkan.
Your POV
“Ahh… selesai juga…!” aku tepukkan kedua tanganku yang
ternoda oleh tanah. Aku dan Kai oppa telah usai menguburkan semua jasad yang
mati pada satu malam ini. Sedari tadi aku melihat wajah Kai oppa yang memerah
menahan tangis namun tidak kupertanyakan atau kubahas… aku tahu ini semua menyakitkan.
Bukankah ini artinya EXO hancur?
“Kita sudah selesai… ya.. semua selesai…” ujar Kai lirih
sambil menatap ketujuh kau nisan yang tertancap diatas tanah. Kulihat air mata
menggenang disana. Begitu menyesakkan bagiku melihatnya begini.
Aku mendekat dan menyandarkan kepala di pundak Kai oppa yang
lurus.
“Apakah kau tidak lelah chagi?” tanyanya sambil melirikku.
“Ani..” aku menggeleng jujur. Sekarang aku benar-benar tidak
merasa lelah atau apapun.. rasanya mati rasa semua. Aku juga tidak merasa
senang namun merasa cukup nyaman meski keadaan begini. Yap, EXO… boyband itu
berahkir sudah….
“Syut…” tiba-tiba sesuatu melingkar di leherku. Aku
tercekik.. dan sesuatu menarikku dengan benda mencekik itu. Tali… yap.. ini
tali yang sedang digunakan untuk mencekikku.
“Akhg…Ahgg..!!!” aku tercekik, tertarik, dan terseret
kebelakang. kedua tanganku terus kugunakan untuk menggenggam tali itu agar
benar-benar tidak menghabisi nyawaku.
“Mina!!” Kai terbelalak dan menoleh kebelakang. Aku
menjulurkan sebelah tangan dengan nafas tercekat.
“Sehun? Apa yang kau lakukan pada Mina?!” Kai berlari
mengikutiku dan…
‘Sehun oppa?...’
Sebuah memori terlintas pada ingatanku. Ya.. Sehun yang
mempersilahkanku masuk, duduk, dan tersenyum kaku bagai es, juga… Sehun yang
menghilang secara tiba-tiba.. dan sekarang… Sehun yang mencekikku dengan tali..
‘Oppa!! Oppa!! Dia bukan Sehun yang sesungguhnya!!!’ aku ingin berteriak tapi
apalah daya, untuk bernafas saja sangat susah.
“…Ini semua salahmu Jong In! Kau yang membuat dia kemari…!
Ini artinya dia juga harus…,” Sehun menarik lebih kuat tali yang melilit
leherku dan menggantung tubuhku di dahan pohon yang entah itu pohon apa.
“…Mati” lanjutnya seusai aku benar-benar terangkat hingga di pertengahan batang
pohon.
“Ahk.. op..ak… Opp..ahk…” kugerak gerakkan kakiku. Rasa
pusing dan ngilu pada kepalaku yang tadinya hilang kini timbul kembali karena
penyiksaan ini. Aku tidak bisa bernafas… Paru paruku kering.. oksigen dalam
diriku menipis dengan cepat.. Leherku panas dan kurasakan otot-otot leherku
tertarik tarik nyaris putus.
Kai oppa yang melihatku segera menghampiri pohon dan
berusaha memanjatnya. “Yak Sehun!! Kau bajingan!” pekik Kai oppa sambil
mendorong tubuh Sehun. Aku masihberusaha bertahan meski pandangan mengabur
secara perlahan. ‘Jangan mati..jangan mati…’
Sehun oppa yang baru saja terdorong malah tersenyum kecil.
Dan sesuatu terjadi… Namja yang seumuran
denganku itu menendang tulang kering Kai oppa sehingga kekasihku tersebut
terjatuh.. dan saat itulah Sehun oppa mengeluarkan kapak kemudian memotong kaki
kiri Kai oppa sampai patah. ‘Cleb!..’ darah berlomba lomba membasahi rerumputan
itu dan merembes ditelan tanah yang basah.
Hatiku terasa sakit melihat ini semua… dengan mataku
sendiri, kulihat kaki kekasihku berdarah darah.. patah.
“Akhh,” jerit Kai oppa.
Sebutir air mata kepedihan meluncur dari pipiku. Aku yakin
dia lebih sakit daripada aku sekarang… Kai oppa lebih sakit. Sehun oppa dengan
liciknya tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Kai oppa menyeret tubuhnya
sendiri “Se-Sehun… itu..bukan…h.. kau.hhs…” rintih Kai oppa kesakitan.
“Ne, ini memang bukan aku.” dan pada akhirnya.. kapak itu
dilemparkan tepat menembus selangkangan dan sebagian perut Kai oppa.
‘Crat..!’ darah meluber keluar membasahi mata kapak dan
tanah sekitarnya. Tangisanku pecah. Aku semakin sesak. Aku ingin berteriak
sekencang mungkin tapi ini mengerikan, aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Terlalu berat, terlalu panas, terlalu pedih untuk meneriaki ini semua.
Sehun mencabut lagi kapak itu dan masih kulihat mata Kai
oppa sayu, dia masih hidup sebelum…
‘Cleb!!’
“Ah!!..”
‘Cleb..’
“Ahhk!!!”
“Mina…,akh!..”
‘Crat!!’
‘Cleb…!’
Dihujamkannya kapak itu berkali kali di dada dan perut Kai
oppa sampai tulang rusuknya remuk menjadi potongan yang pendek pendek. Bagian
dalam tubuh Kai oppa keluar semua dengan darah yang memenuhi dirinya.
Aku menangis menyaksikan itu semua. Kai oppa tiada, namja
yang paling kucintai itu.. habis dengan keadaan mengenaskan dihadapanku
sendiri… dihadapanku… dengan kata terakhirnya, dia menyebut namaku.. Kai oppa
menyebut namaku.
“Selanjutnya kau..!”
“Jleb..!”
“Akkh..!”
Darahku, darahku… mengucur menetes melewati kakiku hingga
terjun ke tanah. Sakit! Sakit! Jantungku… terbelah dan kurasakan tulang
belakangku patah.. nafasku habis. Kapak itu terlempar dan menembus diriku.
Pandanganku memerah…. darah, darah keluar dari mataku dan
leher ini tidak mampu lagi tegak.
Aku mati dalam keadaan tergantung disini…
Mina POV is over
Luhan mulai membuka mata dengan perlahan. “Ashh…” desahnya
ketika dirasakan linu di bagian tengkuk dan lengannya. Dia membuka mata dan
melihat sekitar. Dinding gubuk itu masih utuh.. badannya masih utuh. Namun apa
ini?
Tali?
Dia terikat di kursi dengan tambang. Luhan menggerakkan
badannya namun “Ashh..” sakit sekali begitu kulit kakinya yang telah mengelupas
itu bergesekan dengan tali tambang yang melilit kakinya. Tangannya pun juga
terikat ke sisi kanan dan kiri kursi.
“Agh..ahh..!” Luhan bersikeras menggoyangkan tubuh agar
benda itu terlepas. Tetapi kakinya yang tidak lagi terlapisi kulit semakin
panas dan perih.
“Auh…” pekiknya kesakitan.
Tidak ada siapapun disini selain dirinya. ‘Kemana anak itu?’
entah mengapa kini Luhan malah penasaran.
Tiba tiba terdengar langkah mendekat. Luhan tertegun. Pintu
masuk terbuka secara perlahan menampakkan sesosok namja dengan jubah hitam yang
kebesaran. Luhan tidak dapat mengenali siapa orang itu karena tudung jubah yang
menutupinya. Yang pasti bukan setan kecil tadi.
“S-siapa itu?” tanya Luhan.
Orang tadi mendongakkan kepala. Betapa kagetnya Luhan ketika
melihat wajah yang tadinya tersembunyi di dalam jubah.
“Se-Sehun?!” pekiknya dengan mata membulat.
“Ne, aku Sehun…” namja putih itu mengambil sesuatu di lemari
kecil yang ada disana. Dan mengeluarkan tiga buah botol berukuran besar yang
transparan sehingga tampaklah cairan bening didalamnya.
Luhan tidak bisa memastikan bila itu hany air biasa.
“..Sehun! Lepaskan aku! Kenapa kau bisa ada disini?” tanya
Luhan panik.
Sehun tersenyum sambil membuka penutup salah satu botol.
“Pertanyaan konyol…,” dia menuangkan sedikit demi sedikit air itu ke bagian
bawah dinding secara mengeliling. “Bukankah kita datang ke tempat ini bersama
sama dengan member yang lain..” balasnya sambil terus menuangkan isi botol itu
keseluruh bagian bawah sisi dinding di ruangan itu.
“…Sehun! Itukah kau?! Kau…kau.. berbeda, bukan Sehun yang
selalu mengabulkan apa kataku.. kubilang lepaskan aku sekarang!” pinta namja
itu lagi kali ini lebih terdengar memaksa.
Botol tadi habis dan kini Sehun mengambil botol kedua. Sama.
Dia menuangkan isi botol itu. Kali ini dia menuangkannya mengitari Luhan yang
sedang terikat di kursi –di tengah ruangan.
“Kau mau aku apa BabyLu? Hm..?” tanyanya pura pura tidak
mendengar. Kini air itu sepenuhnya mengelilingi tubuh Luhan.
Luhan mulai sakit hati. Ini benar benar bukan Sehun! Dia
sama sekali bukan Sehun! “…F*ck! Lepaskan aku sekarang!! Kau tidak mendengarku
hah?!!” perintah Luhan dengan teriakan kencang.
“…Maaf,” Sehun membuka botol ketiga dan menuangkannya ke
tubuh Luhan hingga sekujur tubuh namja itu basah.
‘Yak…. ini bukan air.. ini minyak!..’
“Kau meminta pertolongan kepada orang yang salah Luhannie…
selamat tinggal…” Sehun mundur sambil merogoh kantung celananya. Sehun
mengeluakan korek api.
Luhan bergerak gerak protes dalam tempat duduknya minta
dilepaskan. Dia sungguh tidak menyangka jika Sehun yang selama ini sangat akrab
dengannya menjadi seperti ini. Kejam.
“Jess…” setitik api timbul di kepala korek. Sehun
mendekatkannya kedepan wajahnya sambil tersenyum sendiri.
“Sehun!! Jangan!..!!”
“Dan… sampai bertemu kembali di kehidupan kedua Luhannie..
aku mencintaimu…” dengan liciknya Sehun menjatuhkan korek itu ke tanah tempat
minyak tadi tertuang.
“Sehun!!! Sehun!! Aish..!” Luhan bergerak gerak dalam
posisinya yang tidak lagi memungkinkan untuk bebas.
Sehun tersenyum untuk yang terakhir kalinya dan menutup pintu,
menguncinya dari luar.
Sedikit demi sedikit api mulai menjalar dari sisi ke sisi
hingga membentuk lingkarang api dimana Luhan yang berada ditengah tengahnya.
Panas dan berasap.
Luhan mengguncangkan kursi sampai kursi itu terguling ke
kanan bersama Luhan. Panas semakin terasa memasuki tubuh tak berdayanya.
Keringat yang mengicur menunjukkan bila suhu di tempat itu benar-benar memanas
hebat.
“Ahhg… Ahhgg…!” Seluruh dinding terbakar dengan cepat namun
Luhan masih bernafas didalam sana. Dia berusaha melarikan diri.. tetapi tetap
saja tidak mampu. Api semakin besar dan meledak ledak didalam sana. Ruangan
dipenuhi asap yang mampu membuat siapapun akan tersedak.
“Aaaaahh!!!!” Kaki Luhan terbakar kejamnya api hingga
hanguslah daging bagian dalamnya.
“AAAahh..!!!!” nasibnya habis dimakan kobaran api di pagi
itu.
Sungguh terkadang sesuatu yang tidak mungkin terjadi bisa
dengan mudahnya muncul didepan mata. Hanya dalam sehari semalam… rumah itu
memakan nyaris selusin korban jiwa. Kejam memang.
“Agh..!” tangan Chanyeol terulur kebelakang tepatnya ke
punggungnya sendiri dan mencabut benda laknat itu. Perih sekali… sangat
mengerikan untuk dibayangkan bagaimana benda itu mampu menembus kulitnya.
Dengan susah payah Chanyeol kembali duduk. Tangannya meraba
raba ke permukaan meja mencari sesuatu hingga ditemukannya serbet yang lumayan
lebar. Dililitkan serbet itu ke kakinya yang patah untuk penunjangnya agar
tetap bisa berjalan. Kemudian diikatkan bagian ujungnya erat erat. “Ash..!”
pekiknya menahan sakit.
Dia kembali bangkit dengan badan yang bersimbah darah
semacam itu. “Ash..ash..!” rintihnya langkah demi langkah. Dia menuju taman
belakang untuk memeriksa situasi.
Tiba tiba tenggorokannya tercekat ketika mendapati tujuh
buah nisan dan dua orang mayat disana. Yang satu seorang wanita tergantung
dengan badan berdarah di pohon dan satunya hancur tercabik cabik.
Chanyeol kenal betul pada mereka… Chanyeol menangis
menumpagkan air matanya. Dia tidak mengira akan seperti ini jadinya. Dia tidak
menyangka jika sarapan tadi pagi adalah sesi makan bersama untuk terakhir
kalinya bersama sama. Diremasnya rambutnya sendiri… dia tidak memercayai ini
kenyataan! Ini mimpi! Ini mimpi!!
Sesuatu muncul dalam benaknya. Giginya menggertak dengan
marah dan mata indah Chanyeol melotot. Dia menyeret kakinya kembali masuk lalu
menggeledahi laci meja dapur. Ditemukannya sebuah pisau besar.
Nafasnya patah patah disertai keringat.
“Keluar kau dasar anak kecil bajingan! Kau bunuh teman
temanku!! Keluar sekarang!!...” dadanya naik turun dengan irama yang
berantakan. Dia sangat marah saat ini.
“…Ayo!! Lawan aku! Lawan diriku sekarang juga!! Bunuh aku!
Bunuh aku!!” teriaknya dengan suara berat.
Air mata mengucur lagi.
Aroma tidak sedap tercium. Kali ini sangat tidak enak…
nanah, darah busuk, bau seperti muntah dan kotoran…. menyeruak ke dapur yang
berantakan. Angin dingin terasa tidak menyenangkan bagi kulit. Satu persatu
lilin di ruangan atau bahkan di rumah itu mati sehingga gelap gulita.
“Keluar sekarang!!! Ke hadapanku! Lawan aku!! Lawan aku!...”
hs..hs…. meski dia nyaris mati namun dalam hati tetap berdiri dengan kokoh.
Terdengar suara seretan kain atau benda. Bisa jadi itu
seseorang. Setan itu mendekat dengan menyeret tubuhnya di lantai dan cakar yang
mencengkeram lantai kayu. Tubuh Chanyeol meremang seketika namun dia tetap
memberanikan diri berhadapan satu lawan satu dengan setan tersebut.
“Srekk…”
“Srek…” suara tadi mendekat dan Chanyeol mengenggak liur
dengan susah payah.
“Aku disini… dekati aku… dekati aku,…” namja tersebut
mengacungkan pisaunya ke atas untuk bersiap-siap.
Hap… crekk….
Seseorang menangkap kaki Chanyeol yang tidak patah dan
mencakar cakar celananya. Dengan cepat Chanyeol menghujamkan pisau itu ke
kepala setan dan terdengar teriakan.
“A…..’…” setan tadi berseru karena kepalanya yang sukses
tertembus pisau.
“Yak!! Kena kau!!”
“Cleb”
Pisau tersebut dihujamkannya lagi dan terdengar teriakan.
“Kau fikir menyakiti manusia itu hal yang baik!! Hidupmu
adalah hidupmu…. hidup mereka… adalah hidup mereka…!!”
“Cleb!!”
“Cleb… Kreakk..”
Bersamaan dengan kuku kuku setan yang mengorek tepat di
betis Chanyeol. Chanyeol memekik kesakitan dan terjatuh ke lantai.
Setan itu menancapkan kukunya dalam dalam sehingga daging
kaki Chanyeol terkikis dengan tragis.
“AAAAhh…!!” Chanyeol mencakar lantai karena kesakitan.
“Cleb.. kreek…!” sedikit demi sedikit daging kaki Chanyeol
habis teriris-iris.
Tangan namja itu meraih –raih sesuatu disekelilingnya.
Karena gelap mereka terus beradu dalam kegelapan. Dan Chanyeol menemukan sebuah
lampu minyak. Dipukulkannya lampu itu ke tubuh setan dan minyak tumpah ke
kepala si setan.
Chanyeol mencari cari sesuatu lagi dan didapatinya korek
api.
“Habis kau!”
Api membakar rambut setan itu dan dia kesakitan.
“Arrghh!!! Arghhhhhh!!!!!” dia berguling guling di lantai
kayu. Tubuhnya hangus secara perlahan. Dengan sepenuh tenaga yang tersisa,
Chanyeol berjalan meninggalkan rumah meski kedua kakinya telah terluka parah.
‘Ini sudah selesai Yeollie! Its over!!’ bisiknya pada diri
sendiri.
Namun kemudian sesuatu tergeletak di halaman dorm yang
berilalang itu. Seorang namja tinggi tergeletak dengan bekas luka hantaman
benda tajam di punggungnya.. Chanyeol menghampirinya dan mendorong tubuh itu
hingga terlentang.
“Kris hyung….” gumamnya kaget melihat mayat Kris.
“AAAAAAAAAA’//////” teriakan sadis itu terdengar menggema
hingga ke langit.
“Duarr…!!!!!”
Dorm tersebut meledak dan terbakar.
Sebuah senyuman pertanda kesedihan, sakit, tekad, serta
bahagia timbul di wajah tampan Chanyeol yang pehun dengan noda. Dia kembali
berjalan meneruskan langkahnya dengan sisa tenaga meninggalkan gedung tua itu.
Dia menang dan berjalan ke arah matahari pagi yang mulai
timbul dari muka bumi.
EPILOGUE
Cahaya kekuningan timbul dan dengan lembutnya menembus kaca
jendela sampai akhirnya jatuh menimpa tubuh lemah Chanyeol. Aroma-aroma obat
khas rumah sakit tercium begitu nyawanya telah kembali.
Chanyeol membuka mata besarnya dan mengerjap beberapa kali.
Disinilah dia, diatas ranjang pasian dengan kedua kaki. Sebelah kaki diperban
dengan rapat dan kaki satunya tergantung dengan gyps.
Dia masih bernafas… hanya dia dari ke 12 elemen abadi itu.
Kedua mata colekatnya bergerak memandang cakrawala dari luar jendela. Begitu
tentran dan menghangatkan… seukir senyuman yang pedih sekaligus menggembirakan
timbul di bibirnya. Disusul oleh setitik air mata bentuk curahan
kesendiriannya.
Yap… inilah pagi pertamaku tanpa mereka… mereka yang telah
hilang hana dalam satu malam.. itu seperti imimpi, namun itu bukan mimpi. Semua
berakhir sudah….
“Belum Yeollie…” sahut sebuah suara merdu.
Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya ke suara itu.
Berasal dari seorang namja dengan tubuh kecil dan mata
simpit. Namja kecil itu tersenyum penuh kebahagiaan. Baekhyun. Dia disana dan
itu membuat Chanyeol tertegun. Dibelakang namja itu tempak ke sepuluh namja
lain dengan senyuman yang sama. Luhan dengan wajah tampannya yang abadi walau
dia sudah dimakan api dan terjun ke alam kedua. Kris yang tersenyum jantan.
Kai,… namja yang mati secara mengenakan itu mengangkat jempol tangannya pada
Chanyeol. Chen menangis bahagia. Lay, Xiumin, dan Tao yang berpelukan satu sama
lain sambil tersenyum ke Chanyeol. Suho, leader itu hanya diam ditempat .. dia
sesosok orang yang paling dirindukan Chanyeol saat ini. Kyungsoo, yang selalu
membuatkannya sarapan disetiap pagi… Sehun yang tersenyum dengan cerahnya. dan
disampingnya berdiri seorang yeoja manis dengan rambut panjang, Mina.
“Kalian…,” ujar Chanyeol terputus.
Baekhyun mendekat ke Chanyeol sambil memberikan sebuah
handycam.
“Semua belum selesai sebelum kau melihat ini Channie…” ucap
Baekhyun.
Chanyeol menerima benda itu dengan ragu.
“Apa ini?”
“Miliknya…” Baekhyun menunjuk luar ruangan tepatnya ke arah
balkon kamar Chanyol. Karena pintu dari kaca jadi mereka bisa menyaksikan siapa
yang sedang berdiri didepan sana.
Kiran
Wajah manis anak itu tampak dengan senyuman.
“Kau harus melihatnya….” tambah Mina.
Chanyeol memandang handycam yang saat ini ada pada
genggamannya. Dan selanjutnya mereka semua menghilang satu persatu kembali ke
alam mereka yang jauh ada diatas awan.
Namun Sehun dan Kiran masih ada disana.
“Maafkan aku Chanyeol hyung…” celetuk Sehun. “Dan sekarang
aku harus berbiacara pada Kiran….”
Sehun menghampiri Kiran keluar.
Namja itu menggenggam bahu Kiran.
“Ada satu orang lagi yang belum.”
Selanjutnya mereka berdua menghilang dibawa angin.
Malam itu….
Ruangan apartemen yang sepi terasa mencekam. Terdengar suara
kertas-kertas yang ditata diatas meja. Namja paruh baya itu, Soo Man ajusshi
dia sedang mengurusi berkas berkas yang belum terselesaikan entah apa itu
isinya. Dia kembali mengetik dengan fokus.
Hingga tiba tiba pintu apartemen dan jendela terbuka
diserang dinginnya angin malam. Gordain beterbangan melambai-lambai.
Layar laptopnya menghitam dan mati begitu saja. Soo Man
terkejut. “Aish… kenapa ini?” pekiknya sambil kembali memencet tombol power.
Tapi tidak juga mau menyala.
Bau tidak sedap tercium menyeruak keseluruh ruang kerjanya.
Soo Man mengendus-endus dengan risih. Bau darah, nanah, dan aroma muntah.. ya,
semacam itu.
Dan..,
Dua buah tangan muncul dari bawah meja merambat ke kedua
kaki Soo Man. Mencengkeram erat kaki-kaki itu.
“Hyaa.!!”
FIN
SELESAIIIII!!! HOREEE.!!! PANJANG YAKK?
Minta review buat para readers.. ada g tegang? Atau nangis?
Atau malah ketawa? XD Minta penjelasan sama apa saja yang telah kalian rasakan
pada FFku ini.
Mian kalo ada typo… aku belum sempet baca lagi seusai
nge-endingin ini. Jadi mohon pengertian dari para reders tersayang… ^^
Gomawo..gomawo..dan gomawo.. sudah mau membaca FF Dark Eyes
ini hingga ENDING.
FF ini jujur aku buar sebenarnya buat iseng, tapi begitu aku
post… review dan respons terlalu banyak dan menyuruh author bekerja lebih
keras.. sampai akhirnya ENDINGlah Fanfic horror pertamaku ini…!! ^^]/ untuk
yang terakhir kalinya… Auhor minta komentarnya readers deul.. :v
Maaf bila ada kesalahan…
WaLuhannieTaofik Walhidayah.. WaChenmuaLaykum….
warrahmatullahi wabaro KaiD.O :v
Ralat : Wasaalammualaikum ^=^
Gomawo…. ^_^
Ppai ppaiiii!!^^]/

1 comments:
Min takut tahu bacanya. Kenapa mrk bunuh2han begono? Kenapa Nyi Soo Man dibunuh jg?
Post a Comment