CHAP 6
Author : Jihan Kusuma
Cast : Luhan, Shin Ah Cha, and the others support cast^^
Genre : Romance, family, friendship, fantasy
Leght : Chapters
Kicauan author : Readers-deul!!!! ^ - ^ Welcome di chap 6. Mian baru share, maklum author banting otak(?) nggarap ini FF.. hehe tapi jangan khawatir, im always fine *amiin* yasudah, dari pada dengerin cicitanku yang kurang bermakna ini… langsung simak aja ne chap 6 ->>>
ChenKaiD.Ot -~-~->
Cerita sebelumnya :
Luhan melirik tangan Kris yang masih menempel di atas bahunya. Lalu dia menarik sebelah bibirnya untuk tersenyum. “Terimakasih… saya akan berusaha melakukan yang terbaik.”
Dan kedua musuh dalam selimut itu saling melemparkan senyuman –dengan maksud masing-masing.
NOW, CHAP 6 IS BEGINNING…
*Luhan’s apartement – Afternoon*
“Hei, tidak. Maaf aku juga orang susah. Kau tidak bisa seenaknya meminta sumbangan seperti itu kan?” gerutu Luhan kepada seseorang yang kini bearada diujung kawat telepon sana.
“Tapi, kami hanya meminta seikhlasnya tuan. Kami sangat membutuhkan bantuan Anda,..”
“Kau dengar tidak aku bicara? Sebenarnya kau ini mau meminta sumbangan atau merampok sih? Aish…!” alis namja itu berkerut marah.
Tiba-tiba seseorang mendekati Luhan sambil berkacak pinggang dan tatapan maut. Luhan menatap Ah Cha yang kini berdiri didepannya.
“Mwo?” bisik Luhan dengan gigi menggertak sebal.
“Luhan-ah, kau tidak ingat bila dosamu masih sangat melimpah… kau berbohong Luhan! Kau mau masuk kedalam lubang neraka hah?” tutur Ah Cha.
Sesaat Luhan menjadi sadar dan kembali mengingat apa saja yang telah dialaminya beberapa malam lalu. Dia tidak mau dan tidak akan pernah lagi bersedia masuk ke pintu neraka bersama malaikat penjaga neraka ang entah siapa namanya.
“Berbaik hatilah…” tambah Ah Cha.
“Halo? Halo…”suara dalam telepon terdengar menuntut untuk dijawab.
“Um, berapa maumu? Akan kubayar…” ucap Luhan lebih lembut.
“Bukankah kami sudah bilang bila terserah tuan asalkan Anda ikhlas.”
“Aish, baiklah baiklah… berikan aku nomor rekeningnya. Nanti sore akan segera kukirimkan..”
“Kau harus ikhlas Luhan-ah… dari hatimu.” bisik Ah Cha. Dan Luhan malah menatap gadis itu dengan death glare yang seolah mengatakan ‘Ya! Aku tau pabbo!’.
Orang tadi membacakan nomor rekening dan Luhan mencatatnya, tak lama kemudian telepon ditutup.
“Kau puas? Aku sudah mensetujuinya.” kata Luhan.
Dahi gadis itu berkerut sampai kedua alisnya saling bertautan. “Yak, kau ikhlas tidak?! Kalau tidak, seharusnya tolak saja dengan baik-baik… aku hanya kasihan kepada orang tadi. Kau mengatakan hal kasar kepadanya bahkan dalam telepon. Sungguh tidak sopan!”
“Hei! Bukankah kau yang memaksaku untuk memberikan orang tadi sumbangan.?! Mengapa sekarang kau yang marah marah!? Aku sudah turuti apa keinginanmu kan?”
“Aku hanya mau menyelamatkanmu!! Bukankah kau takut neraka namja bodoh!!” jerit Ah Cha.
“Yak!! Apa katamu? Aku apa?” emosi Luhan membuncah dan tanpa dia sadari mendorong Ah Cha sampai punggung gadis itu menabrak dinding. Luhan mendekat sehingga kini tubuh ramping Ah Cha terperangkap antara dinding dan Luhan.
Tangan kanan namja itu menempel di sisi dinding.
“Ma…mau apa kau?” tanya Ah Cha lirih.
Baru kali ini Luhan melihat gadis ini lemah dihadapannya. ‘Oh lihatlah kulit itu yang begitu lembut seperti bayi. Rambut hitamnya yang legam dan tampak halus. Ah, lehernya jenjang dan putih. Bibir itu…pasti sangat nikmat…’ Luhan melumat bibirnya sendiri.
‘Matanya hijau bulat, ah cantik sekali mahluk ini…’
‘Yaaaak! Apa yang kupikirkan!!’ dengan segera Luhan mengedipkan matanya. Walau bagaimanapun Luhan merupakan laki-laki dewasa yang normal. Kalau begini terus bisa saja Luhan kebablasan atau melakukan hal lain. ‘Ah Tuhan! Kuatkan aku!...’
“Argh!!” namja itu mengumpat dan meninggalkan Ah Cha yang masih mematung didekat dinding. Luhan melangkah menuju ranjang dan membaringkan diri disana sambil memijat keningnya. Tinggal berdua saja bersama seorang gadis cantik yang berstatus ‘bawahan’ memang cobaan yang berat bagi namja.
“Sebaiknya kau istirahat… bukankah kau lelah.” ujar Luhan sambil memejamkan mata –masih dengan memijati keningnya yang semakin panas saja.
Tanpa menjawab ucapan majikannya itu, Ah Cha keluar dari kamar dengan segera.
Gadis itu menutup pintu dan menyandarkan diri dibalik pitu kamar Luhan. Dipegangi dadanya yang berdetak dengan tidak normal seperti biasanya. Baru kali ini dirasakannya sensasi seperti ini –selama dia menjadi kucing maupun malaikat.
“Perasaan apa ini…” Ah Cha mendekap dadanya.
Luhan menatap langit-langit dan menerawang perasaannya sendiri.
“Tuhan… perasaan apakah ini?”
»*»
Luhan maupun Ah Cha sama-sama tidak bisa memejamkan mata setelah kejadian sepele yang menghipnotis itu. Mereka berdua merasakan sensasi aneh begitu berdekatan dan saling menatap. Ini sungguh berbeda dari sebelumnya.
Dengan langkah ragu Luhan membuka pintu dan keluar dari kamar. Dia celilingan mancari gadis itu.
“Eoh, dimana gadis aneh itu?” pikirnya sambil memutar bola mata.
Tiba-tiba hidungnya menghirup aroma-aroma saus dan bawang. Dari dapur juga terdengar suara khas pertemuan antara minyak,air, dan api. ‘Cessh..cesh…’ terdengar seseorang sedang memanggang makanan yang berlemak.
“Ah Cha?” alis Luhan berkerut.
Dia segera menuju dapur untuk memastikan. Dan benar saja. Gadis itu berdiri didepan panggangan sambil membolak-balik ikan.
“Luhan?!” tanya Ah Cha tiba-tiba. Sontak Luhan kaget. Tentu saja, Ah Cha bahkan belum menolehkan kepala dan Luhan pun sama sekali belum mengucapkan sepatah kata. ‘Darimana gadis ini menyadari kedatanganku?’
Luhan terpaku.
Gadis itu menoleh sambil tersenyum ala bocah cilik yang bersih dari dosa. “Luhan-ah? Kau belum mandi ne?” Ah Cha mengendus-endus.
‘Oh pantas saja..’ pikir Luhan. Bukankah Ah Cha memiliki indera penciuman seekor kucing…
Namja yang masih terpaku diambang pintu itu langsung mengendus endus tubuhnya sendiri. Dan ternyata tidak diragukan lagi penciuman kucing memang begitu tajam.
“Ahahaha.. mandi sana. Setelah itu kita makan! Aku buatkan ikan bakar…!” Ah Cha bersorak seperti anak kecil.
Luhan tetap tak peduli. “Terserah saja.” dan dia melangkah menjauhi Ah Cha, tepatnya meninggalkan dapur. Ke kamar mandi mungkin…
“U, apa yang salah?...” gumam Ah Cha. Wajah imutnya mengerut sejenak. “Ah Oh ya, salmonku.” dia kembali membolak balik ikan bakar itu.
»*»
Dentingan sumpit terdengar dari sisi Luhan. Sedangkan Ah Cha makan dengan tangan. Luhan sangat menikmati masakan Ah Cha, ini sudah sangat enak bahkan dari hasil masakan seekor kucing yang sudah mati. Kini namja itu mempertanyakan dalam hati, adakah kursus memasak bagi malaikat di atas awan sana? Ah itu cukup gila. Tapi demi apapun ini sangat enak.
Ah Cha memakan masakanna sendiri sambil sesekali menjilati jemarinya ang berlumuran saus. Sehingga daerah rawan noda disekeliling mulutnya ikut terkena saus tanpa dia sadari. Luhan ingin tertawa melihat gadis itu yang begitu polos namun juga tampak sangat manis di saat bersamaan. Namja tersebut tidak menghiraukan dan malah menyantap ikan lagi.
Tetapi, sesuatu terbesit diotaknya yang ber-IQ tinggi itu.
“Hei….” gumam Luhan.
Mata bulat Ah Cha langsung mengarah kenamja yang duduk didepannya itu.
“Dari mana kau mendapat salmon ini?” ekspresi penuh tanya sekaligus beku tampak samar diwajah Luhan. “Jangan jangan kau mencuri! Oh tidak, apakah kau memungutnya dari tong sampah?” namja itu tengah bersiap-siap untuk memuntahkan isi perutnya.
Ah Cha tertawa ringan. “Kau ingin tahu? Benar?” alis malaikatnya terangkat dengan anggun. “Katakan padaku…” balas Luhan.
“Aku menemukan uang dan membeli ikan ini dengan uang itu.”
“Heuh?”
“Nde, aku menemukan lima ribu won dibawah kulkas, dua belas won dibawah sofa, dan beberapa receh yang tersembunyi disela-sela gordain apartemen ini.” balas Ah Cha terang-terangan sambil memainkan jemarinya yang berlumuran saus.
“Ne? Jinjja?” sebuah senyuman menggembang di wajah tampan Luhan.
Ah Cha mengangguk seraya mengedipkan mata indahnya. “Gadis pintar!” tanpa Luhan sadari dia mengacak rambut Ah Cha dan seketika gadis itu menatap Luhan dengan kosong seolah tidak menyangka bila majikannya akan memujinya dengan seperti ini.
Kemudiann Ah Cha tersenyum malu-malu dan kembali memakan ikannya.
“Oh ya, kau sudah mandi?” tanya Luhan perhatian.
“Man…di?”
“Nde, jangan bilang kau takut pada air lagi. Aish, bukan seperti itu caranya hidup di dunia manusia.”
“Dunia… manusia?” ulang Ah Cha sepolos kanvas yang sama sekali belom ternoda meski hanya setetes cat putih.
“Tentu saja. Ini akan berbeda rasanya. Memang ketika kau dalam wujud kucing akan takut dengan air karena memiliku bulu, coba dengan wujud yang sekarang… air bukan lagi musuh untukmu.”
Selama ini Ah Cha memang sangat memimpikan hidup seperti manusia pada umumnya tapi kenapa harus air? “Oke, aku akan mandi setelah ini… akan kucoba.” balas Ah Cha dengan seulas senyuman kecil.
Luhan membalas senyuman Ah Cha, namun kemudian dia teringat akan sesuatu. Luhan memandang pakaian gadis itu. ‘Risih juga melihat dia yang sepanjang hari hanya menggunakan pakaian itu. Walaupun dia tidak berkeringat tetap saja pakaian itu membuatnya tampak membosankan.’ Luhan bergidik membayangkan kalau saja dia harus mengenakan pakaian yang sama setiap hari.
“Setelah mandi aku akan mengajakmu kesebuah tempat. Kau harus ikut.” celetuk Luhan kemudian seraya mengambil segelas air dan meneguknya sekali.
“Aku?” gadis polos itu berkedip sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Ne,…cucikan piringnya. Makananmu enak. Aku suka… mungkin kita juga akan berbelanja ikan…” senyuman Luhan tampak sangat manis seiring langkahnya meninggalkan ruang makan. Kemudian namja itu menghilang seusai melintasi ambang pintu.
‘Aku berbelanja dengan Luhan?... Aku berbelanja dengan majikanku sendiri….’ Ah Cha terdiam seribu bahasa sambil mengulang ulang kalimat itu dalam benaknya. Sesuatu terasa meledak-ledak dalam dirinya. Rasa senang yang membuncah semakin tinggi. Dan kemudian bibir gadis itu melengkung dengan ceria.
»*»
Ini kali pertamanya Ah Cha duduk disamping Luhan, di mobil namja itu sendiri. Walaupun acara mandi pertamanya yang kurang menyenangkan karena dia belum terlalu akrab dengan air, tapi entah mengapa sangat bahagia rasanya ‘dipedulikan’ oleh majikan sendiri.
“Ehmm…” Luhan berdeham sambil terus memutar-mutar kendali mobil dengan santai. Ah Cha melirik namja itu dengan hati-hati. Namja itu terlihat menly dengan setelan jas hitam tanpa dasi sedangkan dua kancing atasnya dibiarkan terbuka. Untuk sesaat Ah Cha sangat senang mendapat manjikan sebaik Luhan.
“Jangan memandangiku seperti itu, aku tahu aku ini tampan. Tapi setidaknya jangan terpesona seperti itu.” ujar Luhan tiba-tiba.
“Eoh?” mata gadis yang sedari tadi memandanginya tersebut membulat kaget. “U, siapa juga yang memandangimu.” balas Ah Cha sambil melipat tangan dan melesakkan kepala ke sandaran kursi. Dia membuang muka kejendela seolah olah memang benar tidak melakukannya.
Luhan menoleh dan tersenyum dibalik Ah Cha. Melihat gadis polos ini bertingkah benar-benar membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak tapi untung saja dia berkharisma tinggi, Jadi tawa itu masih bisa ditelan bulat-bulat meski sulit dilakukan.
“Kau mau kemana dulu?” tanya Luhan yang sudah kembali fokus pada jalan.
“Kemana dulu?” Ah Cha menatap Luhan dengan bingung.
“Iya, kemana dulu? Toko sepatu? Baju? Aksesoris?” tanya Luhan lagi semakin membuat gadis itu memutar otak kucingnya dengan kebingungan.
“Apa maksudmu bertanya seperti itu heuh?” bibir Ah Cha mengerucut.
“Hahaha… tentu saja membelikanmu pakaian. Kau fikir aku tidak bosan terus saja melihatmu mengenakan pakaian akhirat seperti itu. Bukankah itu telah lama kau kenakan dan pastinya bau…”
Mendegar penuturan Luhan yang mungkin ada benarnya Ah Cha langsung mengakat ketiaknya sedikit dan menghirup aromanya yang tidak sedap. Permukaan hidung gadis itu langsung berkerut dengan lucu mendapati kondisinya yang memang sesuai seperti apa kata majikannya. Menyedihkan.
“Benar kan? Sebaiknya kita membeli pakaian dulu.”
Mobil mewah milik Luhan melaju dengan kecepatan normal mengikuti jalur dan mulai melambat ketika mendekati sebuah butik besar.
“Kita sampai.” ujar Luhan seusai mobil benar-benar berheti. Perlahan kaca mobil itu terbuka dengan mulus menampakkan sebuah bangunan megah. “Wuaah….” pekik Ah Cha pelan sambil melototi tempat yang baru pertama kali dia lihat itu.
“Ayo turun.” Luhan membuka pintu dan mereka berdua mulai melangkah memasuki butik.
“Jangan membuat kekacauan dan…” Luhan menaikkan lengannya sedikit. “Genggam lenganku.” perintah Luhan sembari melirik lengannya sekilas lalu kembali tersenyum pada Ah Cha.
To be continued…
Ahahaha!!!
Reders pada kecewa ama TBCnya? Mian, cumin mau ngerjain readers. Jangan marah ne? Bakal cepet aku post kok… >///< maaf kalo ada kesalahan.
Harap coment!!!^^]/

0 comments:
Post a Comment